Sengkarut Pilkada DKI Pada Jenazah Nenek Hindun 
https://tirto.id/sengkarut-pilkada-dki-pada-jenazah-nenek-hindun-ckBb# Reporter 
Tirto mendatangi keluarga dan warga sekitar untuk mengurutkan detail bagaimana 
Hindun tidak disalatkan di musala.
 Sengkarut Pilkada DKI Pada Jenazah Nenek Hindun 
https://tirto.id/sengkarut-pilkada-dki-pada-jenazah-nenek-hindun-ckBbSebelum 
Menolak Menyalati Jenazah, Belahlah Dadany ... 
https://tirto.id/sebelum-menolak-menyalati-jenazah-belahlah-dadanya-cjtgRohbaniah
 Tak Ikut Nyoblos tapi Jenazahnya Ditolak ... 
https://tirto.id/rohbaniah-tak-ikut-nyoblos-tapi-jenazahnya-ditolak-disalati-ckBkPendapat
 Muhammadiyah dan Ansor soal Spanduk Tolak ... 
https://tirto.id/pendapat-muhammadiyah-dan-ansor-soal-spanduk-tolak-jenazah-ckBo

 
 

 Reporter: Andrian Pratama Taher 
https://tirto.id/author/andriantaher?utm_source=internal&utm_medium=topauthor & 
Felix Nathaniel 
https://tirto.id/author/felix?utm_source=internal&utm_medium=topauthor
 13 Maret, 2017dibaca normal 8 menit

 TPS 14 tempat tinggal almarhum Hindun adalah mayoritas pendukung pasangan 
Anies-Sandi Ustaz menolak menyalatkan jenazah Hindun di musala karena cuaca 
mendung dan waktu mepet menjelang malam
    
mailto:?subject=Sengkarut%20Pilkada%20DKI%20Pada%20Jenazah%20Nenek%20Hindun&body=https://tirto.id:443/sengkarut-pilkada-dki-pada-jenazah-nenek-hindun-ckBb
 1.1k Shares

 Reporter Tirto mendatangi keluarga dan warga sekitar untuk mengurutkan detail 
bagaimana Hindun tidak disalatkan di musala.

 tirto.id https://tirto.id/?utm_source=internal&utm_medium=Article - Sejak 
akhir pekan lalu, sebuah keluarga yang tinggal di rumah petak sempit, di sebuah 
gang di Jakarta Selatan, menjadi bahan omongan media. Muasalnya, demikian 
menurut pemberitaan awal, jenazah bernama Hindun, usia 77 tahun, ditolak oleh 
seorang ustaz untuk disalatkan di sebuah musala. Alasannya, Hindun memilih 
Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama - Djarot Syaiful Hidayat dalam putaran perdana 
Pilkada Jakarta, 15 Februari silam. Ia seketika bikin ramai orang berkomentar 
di media sosial.

Tetapi bagaimana persisnya peristiwa tersebut?

Keluarga Hindun tinggal di salah satu gang di pinggir Jalan Karet Karya II. 
Rumahnya hanya seukuran 3x4 meter, berbatasan langsung dengan jalan kampung. 
Seluruh perkakas dijejalkan dalam kamar petak tersebut. Ada televisi menghadap 
pintu; ada sekat yang membikin ruang tidur di samping kiri pintu. Ada partisi 
dari tripleks membagi ruang tengah dan dapur dan kamar mandi di pojok kanan 
kamar. 

Jumat sore (10/3), reporter Tirto mendatangi rumah keluarga almarhum Hindun. 
Ada lima orang tengah duduk di dalam rumah petak. Ada Sudarsih (60), Arnisah 
(57), Neneng (46)--ketiganya anak Hindun--dan Yeni (30), cucu Hindun. Mereka 
bercerita bagaimana akhirnya Hindun disalatkan di rumah. 

Neneng mengisahkan, ia meminta ustaz Syafii, tokoh masyarakat dan pemuka agama 
di Karet, agar mengobati Hindun dengan cara mendoakan air minum untuk Hindun, 
sehari sebelum meninggal. Pada Selasa pagi (7/3), Hindun sempat bilang kepada 
Neneng agar tidak pergi bekerja ke penguburan umum Karet Bivak. Neneng bekerja 
sebagai tenaga lepas harian di sana. 

Hindun juga meminta Neneng untuk memanggil semua anggota keluarga. Usai semua 
berkumpul, dan menyerahkan perawatan kepada Arnisah, Neneng tetap pergi 
bekerja. 

Usai zuhur, Hindun berkata ia mengantuk. Itu momen terakhirnya. Ia meninggal 
sekitar pukul 13.30. 

Mendengar ibunya tiada, Neneng segera ke rumah. Ada sedih dan murung. Tetapi ia 
mesti mengurus proses pemakaman. Ustad Syafii dan sejumlah warga ikut 
membantunya. Mereka menyiapkan keranda dan peralatan mandi jenazah. Warga 
memandikan Hindun. Surat kematian diproses oleh pengurus RT. 

Apa yang disebut "menolak menyalatkan jenazah" muncul saat Neneng menginginkan 
jasad ibunya disalatkan di musala. 

Sekitar pukul 17.30, Neneng berbicara dengan ustaz Syafii. Obrolannya, ia minta 
jenazah Hindun disalatkan di musala terdekat, musala Al Mu’minun. Syafii 
menolak permintaan tersebut. Alasannya, tidak ada jemaah di musala pada jam 
tersebut.

“Pak ustaz ini gimana? Bisa enggak disalatin di musala? Pak ustaz bilang, 
'Enggak usah, Neng. Percuma. Enggak ada orang. Sudah di rumah saja,'” ujar 
Neneng. Jenazah Hindun akhirnya disalatkan di rumah. 

Neneng membantah kabar kalau jenazah Hindun tidak disalatkan di musala karena 
cuaca hujan. Ini dikuatkan oleh Sudarsih, anak almarhum Hindun, yang mengatakan 
alasan karena hujan "tidaklah tepat."

“Hujan itu sesudah di tempat pemakaman,” tegas Sudarsih.

“Hujan itu posisinya sudah sampai makam,” sahut Yeni, cucu alamarhum Hindun.

‎Neneng juga membantah bila ia diminta buru-buru oleh pihak pemakaman. Ia 
diberitahu pihak TPU yang menunggu jenazah. Akan tetapi, kepala TPU Karet 
Bivak, tempat Neneng bekerja sebagai pekerja lepas di sana, sudah bilang kepada 
Neneng akan membantu pemakaman sang ibu apabila penguburan larut. 

"‎Untuk cepat-cepat, enggak, ya. Kita dikasih waktu karena yang ngurusin dari 
Kepala TPU dari Bivak. Dia bilang, pokoknya jam 6 masih bisa. Si kepala TPU 
bilang, 'Kalau ada masalah, ngomong sama saya, Neng,'” ujar Neneng.

Kejanggalan yang dirasakan Neneng sesudah ia tidak mendapatkan mobil jenazah. 
Umumnya, keluarga jenazah dibantu ambulans dari pihak RT untuk mengantar ke 
lokasi pemakaman. Justru Neneng mendapatkan ambulans dari RW tetangga, yakni RW 
07. 

“RT enggak ngomong apa-apa. Ketua RW sebelah ngomong ke saya, menawarkan 
(bantuan),” katanya.

Ambulans tersebut dari kubu Anies-Sandi karena mobil jenazah lain tidak 
tersedia.

“Saya enggak tahu-menahu itu mobil punya siapa karena Pak RT Salman (RT 8/RW 7) 
nawarin mobil dari Golkar tapi katanya dari Golkar enggak ada,” kata Neneng.

Jenazah Hindun disalatkan di rumah petaknya. Ia menghadap televisi sebagai arah 
kiblat. Ustaz Syafii yang menjadi imam. Karena ukuran rumah kecil, hanya ada 11 
jemaah yang ikut salat jenazah. Baris pertama dan kedua ada 4 orang; baris 
ketiga, dekat pintu, ada 3 orang.

Usai memandikan dan menyalati jenazah, para pelayat, dengan jenazah diantar 
oleh ambulans dari kubu Anies-Sandi, mengantar warga ke liang lahat di TPU 
Menteng Pulo. Proses pemakaman berjalan lancar. Neneng bahkan mendapat uang 
santunan dari para ketua RT sebesar Rp1,1 juta. Sampai reporter Tirto bertemu 
dengannya, Neneng tetap merasa kesal bahwa almarhum ibunya tidak disalatkan di 
musala Al Mu’minun, dengan alasan faktor cuaca dan waktu.

“Kenapa?” ujar Neneng.
 Jawaban dari Ketua RT dan Ustaz SyafiiKetua RT 09/RW 05 Abdurrahman membantah 
soal kabar penolakan menyalati almarhum Hindun lantaran pilihan politiknya 
mencoblos Ahok. Semua proses pemakaman berjalan normal sesuai ketentuan.

“Saya rasa mah enggak. Biasa saja. Enggak ada unsur-unsur politik,” katanya 
saat saya menemuinya di dekat pos warga, Jumat sore (10/3).

Ia mengatakan, setiap warga yang meninggal tetap diperlakukan sebagaimana 
mestinya dengan cara saling membantu sesama warga. Proses pemakaman Hindun 
terkesan dipercepat dengan menyalatinya di rumah karena waktu yang mepet, 
menjelang malam. Ia menegaskan, mereka memilih untuk tidak menyalati jenazah 
Hindun di musala karena tak banyak warga di sana. 

Ustaz Syafii, mendengar kabar dari pemberitaan bahwa dirinya menolak menyalati 
jenazah Hindun, berkata kaget. Ia sedih dengan kabar tersebut. Apalagi omongan 
orang yang berkomentar di media sosial berpatokan pada poster penolakan jenazah 
"pembela dan pendukung penista agama", yang terpasang di musala Al Mu’minun. 

Baginya, komentar tersebut, tanpa mengetahui duduk perkaranya, sudah tergolong 
sebagai fitnah. Pria yang tinggal di RT 08/RW 05 ini "agak menyesal" menangani 
jenazah Hindun bila ternyata kejadian berikutnya justru memojokkan dirinya. 

“Gue kalau tahu begini mending enggak usah aja gue urusin,” tegas Syafii saat 
ditemui di musala Al Mu’minun, Jumat (10/3).

Syafii berkata, ia tetap menangani Hindun dan warga lain apabila ada yang 
meninggal tanpa melihat latar belakang. Apalagi Hindun ialah salah satu 
orangtua di kampungnya dan sudah dianggap ibu sendiri. Ia menangani Hindun 
sebaik mungkin termasuk kabar dirinya terpaksa menyalatkan di rumah.

Syafii menuturkan, Nenek Hindun sudah menjelang ajal pada Senin (6/3/). Neneng 
menemui dirinya untuk meminta air doa. Ia lantas mengambil segelas air dan 
membacakan surat Al-Fatihah. Ia menyarankan kepada Neneng agar diobati juga 
dengan daun kelor. Keluarga menyetujui. Sayang, kurang dari 24 jam, Hindun 
meninggal dunia.

“Saya juga yang digedor pintunya,” kata Syafii.

Syafii membawa semua perlengkapan memandikan jenazah begitu mendengar kabar 
Hindun meninggal. Warga sekitar juga segera membantu proses pemakaman. Beberapa 
warga ada yang membeli papan, bendera kuning, kamper dan kapas, dan memanggil 
Ketua RT Abdurrahman untuk mengurus surat pemakaman ke TPU Menteng Pulo. Syafii 
membeli kafan. Liang lahat juga sudah disiapkan.

Syafii tetap melakukan empat kewajiban umat lslam terhadap seorang muslim yang 
meninggal. Ia memandikan, mengafani, menyalati, dan menguburkan jenazah Nenek 
Hindun sesuai syariat. Ia membenarkan adanya proses penyalatan di rumah Hindun. 

"Pas salat, gue jadi imam dan (memimpin doa) sampai kuburan. Istilahnya gue 
urus sampai selesai," kata Syafii.

Keputusan jenazah Hindun akhirnya disalatkan di rumah lantaran cuaca dan waktu 
menjelang malam. 

“Langit sudah hitam banget. (Jenazah) jam 5 harus sudah sampai ke kuburan. Jam 
5 masih dimandiin,” katanya.

Usai dimandikan, keluarga Hindun mendapatkan ambulans dari kelompok 
Anies-Sandi. Syafii berkata bahwa ambulans ini merupakan bantuan dari RW 07. 
Sekitar pukul 17.30, jenazah Hindun dibawa ke TPU Menteng Pulo. Ia berada di 
mobil jenazah bersama keluarga dan beberapa pelayat mengiringinya.

Perihal jenazah Hindun disalatkan di rumah, lantaran cuaca mendung dan waktu 
menjelang malam, dibenarkan oleh warga sekitar. 

Sutedjo, 40 tahun, yang rumahnya di seberang rumah Nenek Hindun, mengatakan 
bahwa warga memutuskan untuk menyalatkan almarhum di rumah karena masalah waktu.

“Memang waktu itu sore, nguber waktu, mau hujan, sudah mau magrib,” katanya 
kepada saya.

Ia menuturkan, ustaz Syafii yang memandikan jenazah Hindun dan menjadi imam 
salat jenazah. Ia juga turut melayat. Menurutnya, keputusan Syafii "sudah 
tepat" mengingat hujan turun deras ketika pelayat tiba di pemakaman.

 share infografik

 Pesan Pendek Bikin Keluarga Almarhum KesalMasalah tidak akan runyam, atau 
hanya jadi persoalan kampung biasa, bila tidak ada pesan singkat yang sampai ke 
ponsel Neneng, anak Hindun. Sehari setelah pemakaman, Rabu (8/3), Neneng 
menerima pesan tentang pernyataan menolak pendukung orang kafir.

"Satu hari ibu sudah selesai. Abai (anak Yeni) sekolahnya di PAUD. Setelah itu, 
malamnya kita dikirimin seperti ini," ujar Neneng sambil menunjukkan pesan 
singkat tersebut.

‎Pesan singkat itu memuat pernyataan bahwa para pemuka agama yang mewakili 
"umat muslim" (ditulis "segenap ulama, habib, kyai, ustaz, ustazah se-DKI") 
"menolak hadir di semua majelis/acara/maulid dan lain-lain di kampung yang 
warganya memenangkan Ahok (lihat daftar TPS yang memenangkan Ahok)." 

"Tindakan ini," demikian isi pesan tersebut, "berlaku mulai hari ini hingga 
putaran kedua Pilkada, 19 April 2017."

"Bila dalam putaran kedua, kampung-kampung tersebut masih tetap memenangkan 
Ahok, kami akan MENOLAK HADIR selama 5 tahun ke depan. 

Kami juga bersepakat untuk tidak akan mengurus kematian, menyalatkan, dan 
mendoakan warga yang nyata-nyata memilih Ahok. Hal ini berlaku di seluruh 
kampung di Jakarta." 

Pernyataan "menolak menyalatkan pendukung dan pembela penista agama" disertai 
pula dengan penegasan surat Alquran, salah satunya Surat At-Taubah ayat 84.

Tendensi rasial meruncing dari pernyataan itu di bagian para pemilih cuma 
dibagi oleh basis agama, antara Kristen plus Tionghoa dan Islam, dengan 
menyebut bahwa "... Kampung-kampung berpenduduk muslim justru banyak yang 
munafik dan menjual akidahnya dengan murah" karena memilih Ahok-Djarot dalam 
putaran perdana Pilkada Jakarta.

Dengan mengutip ayat Alquran, penyeru dari pernyataan itu hendak membingkai 
pandangan bahwa Rasulullah melarang mereka, para pemuka umat Islam, "... untuk 
mengurus, menyalatkan, dan mendoakan orang-orang munafik (pemilih Ahok) saat 
meninggal." 

Tulisan itu mengungkapkan agar para pemilih Ahok diminta "bertobat sebelum ajal 
menjemput."

Selain pesan singkat itu, Neneng juga menerima meme pocong, yang mengandung 
pesan bahwa jenazah tidak diterima di surga karena memilih "tidak mengikuti 
Al-Maidah ayat 51". Surat ini dipakai oleh para penyeru anti-Ahok memperkarakan 
gubernur petahana itu dalam kasus pidana penodaan agama.

"Dikirimin seperti ini panaslah saya semua," kata Neneng. "Kan berarti dia 
tambah enggak menghargai kita." 
 Muasal Pemberitaan tentang Jenazah Nenek HindunUsai berduka, menantu Arnisah 
bernama Sugiharto mendengar cerita saat melawat tentang kesulitan almarhum 
Hindun disalatkan di musala. Pembicaraan berawal saat Sugiharto menyinggung 
adanya gerakan anti-Ahok di lingkungan rumah Neneng. Akhirnya, satu keluarga 
bercerita kepada sang menantu. Menantunya bilang akan menolong. 

Sugiharto, yang bekerja di Kementerian Kelautan dan Perikanan, berkata punya 
kenalan salah satu wartawan, dan punya kenalan di Rumah Lembang, salah satu 
basis kampanye pemenangan Ahok-Djarot.

Keluarga Neneng mengiyakan saja. Arnisah bercerita, si wartawan menelepon 
Neneng. Neneng mengisahkan bagaimana prosesi pemakaman almarhum ibundanya. 

“Diceritainlah apa adanya,” kata Arnisah.

“Tahu-tahu malam ditelepon wartawan itu,” tutur Neneng.

Berita yang muncul kemudian bahwa jenazah Nenek Hindun ditolak karena ia 
memilih Ahok. Anggapan ini makin ditegaskan lewat spanduk di musala Al Mu’minun 
yang menolak menyalati "pembela dan pendukung penista agama."

Bagian paling akurat dari pemberitaan tersebut adalah Nenek Hindun mendukung 
Ahok-Djarot. Bagian yang kurang menangkap detail adalah konklusi bahwa 
pembenaran Nenek Hindun mendukung Ahok-Djarot dipakai sebagai basis utama 
jenazahnya tidak disalatkan di musala terdekat. Kenyataannya, sebagaimana 
detail yang dikisahkan Neneng dan ustaz Syafii sendiri, jenazah Nenek Hindun 
akhirnya disalatkan di rumah karena cuaca mendung dan waktu pemakaman menjelang 
malam. 

"Kita kan bicara apa yang terjadi itu. Walaupun saya tahu (berita) itu 
simpang-siur enggak keruan," kata Neneng.
 Almarhum Hindun Pendukung Ahok-DjarotKeluarga almarhum Hindun membenarkan 
bahwa Hindun memilih Ahok-Djarot. Keluarga Hindun bahkan jadi pendukung loyal 
pasangan Ahok-Djarot. Beberapa anggota keluarga Hindun adalah relawan 
Ahok-Djarot. Suami Yeni, Susanto adalah relawan tim sukses Ahok-Djarot di Rumah 
Lembang. 

Sudarsih, anak Hindun, juga berkata seorang keponakannya bekerja sebagai 
relawan setia Ahok-Djarot. Bahkan Hindun saat sakit pernah datang ke Rumah 
Lembang dan mendapat hadiah kursi roda dari Ahok. 

Almarhum memilih pasangan Ahok-Djarot dalam putaran perdana Pilkada DKI 
Jakarta, 15 Februari silam. Pemilihan ini diketahui publik karena Hindun tidak 
menggunakan hak pilih di bilik TPS 14. Ia menyoblos di rumah karena sudah 
lumpuh. Panitia pelaksana pemilu TPS 14 membantu Hindun untuk menggunakan hak 
pilihnya dengan mendatangi rumah Hindun. Di saat tersebut, Ketua RT 9 RW 5 
Abdurrahman dan saksi TPS mengetahui pilihan Hindun.

Di TPS 14 itu pasangan Ahok-Djarot kalah oleh pasangan Anies-Sandi, 141 suara 
berbanding 246 suara. Pasangan lain, Agus-Sylvi yang terlempar dari putaran 
kedua, meraup 119 suara. 

Hasil itu tidak berdampak pada kehidupan keluarga Hindun di kampung tersebut. 
Sampai kemudian sentimen anti-Ahok makin terasa setelah ada spanduk di musala 
Al Mu’minun. Efeknya baru meruncing setelah Nenek Hindun meninggal.

Neneng berkata, keluarganya tidak perlu pindah. Pemilik kontrakan berkata 
kepada Neneng supaya tetap tinggal di rumah petak itu hingga ada penggusuran.

‎Namun, lantaran masalah penolakan jenazah pembela dan pendukung Ahok, sikap 
Neneng menjadi lebih tertutup. Anak-anak keluarga Hindun sebelumnya mengaji di 
musala. Kini, usai kejadian itu, Neneng menarik anaknya dari pengajian yang 
diasuh oleh ustaz Syafii.

"‎Lagian anak saya sudah enggak ngaji di tempat itu karena anak saya les," 
lanjut Neneng.

"Ya, saya emosi. Ada kiriman seperti itu (tulisan meme pocong)," tegas Neneng.

Ustaz Syafii mengatakan spanduk anti-Ahok di musala Al Mu’minun dipasang oleh 
pengurus masjid Al-Jihad, masjid di kawasan Karet. Dan spanduk itu tidak ada 
hubungannya dengan alasan dirinya tidak menyalatkan jenazah Hindun di musala, 
kata Syafii.

“Anak-anak remaja masjid yang nempelin,” kata Syafii.

Mengapa tidak dicopot spanduk tersebut? 

Syafii berujar, spanduk itu dipasang karena "desakan warga." Ia justru 
mempersilakan spanduk dipasang hingga selesai gelaran Pilkada Jakarta. Ia 
berkata, bila ada keluhan soal spanduk, sebaiknya diarahkan ke masjid Al-Jihad.

Syafii menambahkan, masjid Al-Jihad berisi orang-orang Muhammadiyah dan ia 
sendiri adalah orang NU. 

“Muhammadiyah di situ doang. Kita mah NU,” kata Syafii.
‎
Mardani Ali Sera, ketua tim sukses Anies-Sandi, saat dikontak via telepon pada 
Minggu (12/3), mengatakan bahwa relawan Anies-Sandi tidak pernah menolak 
mendoakan Hindun. Mereka justru menolong.

"Sebetulnya memang enggak ada yang nolak. Teman-teman PKS di daerah Karet, 
belakang Setiabudi, yang menolong," katanya.

Ia berkata Anies tidak perlu membuat pernyataan khusus soal penolakan jenazah. 
Kubu kandidat Anies-Sandi juga tidak pernah menggunakan kampanye hitam 
berdasarkan agama, kata Mardani. Apabila ada yang menggunakan metode tersebut, 
ujar Mardani, bukan bagian dari Anies-Sandi.

‎"Kalau ada ya, bukan relawan kami," katanya. 

Baca juga artikel terkait SHALAT JENAZAH 
https://tirto.id/q/shalat-jenazah-g6h?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword 
atau tulisan menarik lainnya Andrian Pratama Taher  
https://tirto.id/author/andriantaher?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor
 (tirto.id - thr/fhr)
 



 

Kirim email ke