Dalam tulisan ini ada tertulis: “ini adalah masalah kemanusiaan”. Saya tidak mengerti masalahnya.
Saya lihat dari garis besarnya. Kalau ini adalah masalah kemanusiaan artinya ini bukan hanya masalah ideologi. Itu saja. Silahkan dilihat dari sisi kemanusiaannya. Silahkan dikritik pemerintahnya. Hanya saja kalau sudah dibawah keranah ideologi artinya sudah mengkebiri artinya kemanusiaan itu. Seakan2 hanya orang kiri saja yang peduli dengan masalah kemanusiaan. Ini yang saya tidak setuju. Ini salah. Kalau bicara ttg kemanusiaan, itu urusan manusia bukan manusia kiri, manusia tengah atau manusia kanan. Itu saja point saya. Jadi kalau bawa2 analisa kelas, koloborasi, musyawarah dll itu utk menekankan hebatnya gerakan kiri, itu salah. Sekurang2nya inilah pendapat saya. Jadi bukannya saya tidak melihat penderitaan orang miskin, penderitaan ibu2 dicor dll. Yang saya kritisi pendapat bung adalah: kerap kali ketika bung berjuang membela orang miskin itu seakan2 itu miliknya orang kiri. Bung bunuh orang tengah dan orang kanan. Sekali lagi sedangkan masalah kemanusiaan itu adalah masalah semua manusia. Makanya saya sudah berulang2 kali mengatakan silahkan bung jadi diri bung sendiri. Hanya saja sekali lagi jangan mengklaim perjuangan bung itu adalah dan hanyalah orang kiri yg bisa lakukan. Disini biasnya bung. Bung tidak sadar telah menempatkan orang miskin sbg objek dan orang kaya sbg subjek. Sedangkan baik orang miskin maupun orang kaya itu bisa berperan sebagai objek maupun subjek. Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Tuesday, March 14, 2017 9:27 AM To: Yahoogroups <[email protected]>; DISKUSI FORUM HLD <[email protected]>; GELORA_In <[email protected]> Cc: Jonathan Goeij <[email protected]>; Lusi.D <[email protected]>; Roeslan <[email protected]>; Daeng <[email protected]>; Rachmat Hadi-Soetjipto <[email protected]>; Gol <[email protected]>; Harry Singgih <[email protected]>; Mitri <[email protected]>; Lingkar Sitompul <[email protected]>; Ronggo A. <[email protected]>; Ajeg <[email protected]>; Farida Ishaja <[email protected]>; Marsiswo Dirgantoro <[email protected]>; Billy Gunadi <[email protected]>; [email protected]; [email protected]; Karma I Nengah [PT. Altus Logistic Service Indonesia] <[email protected]>; C. Manuputty <[email protected]>; [email protected]; Oman Romana <[email protected]>; [email protected]; [email protected] Subject: [GELORA45] Panggilan Solidaritas Petani Dibelenggu Bagaimana komentar para pendukung Jokowi yang menghimbau "kerja sama...,musyawarah....". Saya bertanya-tanya sendiri apa orang ini sedang hidup di "surga"?? Lha wong keputusan MA dengan terang-terangan dikentutin oleh pejabat pemerintah bahkan oleh presiden, kok masih bisa menuntut kepada rakyat supaya "kerja sama...musyawarah".. Ini orang tidak lihat bagaimana bedil, gas air mata, dan pentung adalah jawaban yang diterima massa ketika mereka menolak kebijakan pemerintah...Mengertilah kita banyak orang tidak punya waktu untuk mengikuti perjuangan petani Kendeng. Kalau begitu, tahu dirilah, jangan ngomong asal ngomong menjajakan teori sosdem "kolaborasi kelas". Tidak mau pakai kata kolaborasi, boleh, pakailah kata "kerja sama kelas". Yang penting hakekat dan intinya sama: kolaborasi adalah sinonim dari kerja sama. <https://pbs.twimg.com/media/C6yMH0UVsAACytE.jpg> "Tentang Suara Sumbang Menyikapi Aksi Dipasung Semen 2" Ini adalah masalah kemanusiaan Ketika saudara kita telah berjuang sampai taraf nekad kalau boleh dibilang, maka berarti penguasa tengah pongah. Menyemen kaki adalah gambaran tentang terpasungnya keadilan dan nurani kemanusiaan. Perlawanan terhadap tirani penguasa dalam berbagai kasus telah membuahkan berbagai kenekadan. Dalam konteks demokrasi, saat melawan kita tidak harus menenteng senjata dan berperang untuk saling bunuh-bunuhan. Revolusi di Tunisia terjadi ketika seorang warga membakar dirinya sendiri karena ketidakadilan yang terus dipertontonkan penguasa. 13 November 1970, ada seorang Chun Tae-il, buruh pabrik garmen di kota Seoul, yang membakar diri di depan aksi. ‘Stop eksploitasi buruh! Jangan biarkan kematianku sia-sia!’ teriaknya sesaat sebelum api menjilat tubuhnya. Amarah massa segera mengguncang Korea Selatan. Di Irlandia, tercatat nama Bobby Sands, pejuang kemerdekaan Irlandia. Berulangkali masuk tahanan, ia tak pernah menyerah. Di ujung protesnya, ia nekat mogok makan. Di hari 65, tubuhnya terjungkal. Ia meninggal 5 Mei 1980, di usia 26 Lebih memilukan, nyawa Rachel Corrie yang rebah di tengah padang Gaza pada 2003. Di tengah desingan peluru militer Israel, gadis pemberani yang datang jauh dari Amerika Serikat sebagai relawan itu berlari menyongsong tank yang hendak robohkan rumah-rumah warga. Ia berdiri tegak. Buldoser merangkak perlahan. Orang berteriak-teriak dan melambaikan tangan. Buldoser tetap merangkak, melindas tubuh Corrie. Berkali-kali, hingga luluh lantak. Pada 07 Desember 2011, seorang buruh berlari ke depan Istana Negara Jakarta dengan tubuh terlalap api untuk menuntut keadilan, penyelesaian pelanggaran HAM, dan persoalan kemiskinan. Sondang Hutagalung dia namanya. Kini, untuk kedua kalinya. Warga dari Pegunungan Kendeng melakukan aksi nekad dengan menyemen kakinya. Mereka adalah warga dari Rembang, Pati, dan Blora yang tengah berjuang atas nama alam, ruang hidup, dan kemanusiaan untuk menolak pendirian dan penambangan pabrik semen di wilayah mereka. Bagi sebagian orang beranggapan bahwa aksi-aksi nekad itu adalah kekonyolan dan keputusasaan yang tidak akan merubah apa-apa. Sebagian berseru bahwa mereka adalah korban dari propaganda dari para aktivis. Yang lebih sinis menganggap bahwa aksi tersebut adalah bagian dari kerja untuk mencari uang. Ada juga yang meminta pihak aparat menghukum dan menghakimi penanggungjawab atau pemimpin aksi, karena menilai aksi tersebut sangat membahayakan. Disisi yang lain ada sebagian orang yang menasbihkan dirinya peduli lingkungan dan menolak pabrik semen tapi menyinyiri setiap ada saudaranya yang tengah berjuang, sambil sesekali bertanya kok para pimpinannya tidak ikut menyemen kaki? Mereka yang memandang remeh, sinis, membully, dan menertawakan aksi nekad menyemen kaki tersebut, terlintas dibenakku sedang menyeduh teh atau kopi, sambil duduk ongkang-ongkang memijit-mijit ponselnya untuk update status di Facebook atau Twitter. Atau mungkin bersikap nyinyir untuk mendapat perhatian penguasa atau pabrik semen agar diberi jatah uang makan atau pulsa untuk jadi buzzer Atau mungkin berbuat seperti itu karena sedari awal telah menjilat-jilat pantat penguasa atau perusahaan agar tetesan CSR tetap mengalir. Sementara disisi yang lain para petani Pegunungan Kendeng sedang menahan sakit, amarah, dan duka tatakala semen yang semakin mengeras memasung kakinya. Amarah dilontarkan terhadap pola penguasa yang tidak mau mendengar suara rakyatnya. Sementara duka mengalir dilautan ketidakadilan yang tengah dipertontonkan. Mereka yang memasung kaki dan dituduh untuk mendapat pundi-pundi uang dan dimanfaat oleh para aktivis sebagai ladang pekerjaan adalah cara berpikir yang dangkal. Itu adalah cara berpikir penguasa yang kemudian memaksa masyarakat dipasung kemanusiaannya. Aku tak yakin yang mengatakan seperti itu pernah meluangkan waktunya untuk bertanya pada mereka yang dipasung tentang latar belakang perlawanannya. Cara berpikir seperti itu juga melihat bahwa masyarakat itu bodoh, tak memiliki prinsip, dan seperti benda mati yang dapat digerak-gerakan kesana kemari. Semoga yang berpikir seperti itu lekas taubat, karena bisa jadi sambil mengatakan seperti itu tangannya tengah menunjuk mukanya sendiri. Keteguhan perlawanan yang mampu bertahan lama tidak akan terbayar dengan pundi-pundi uang. Sikap itu dibentuk oleh kesadaran. Mereka yang selalu bersentuhan dengan alam menyadari akan bahaya pendirian dan penambangan pabrik semen. Mereka yang hanya memiliki sebidang tanah untuk rumah dan pertanian menyadari kekejaman industri pertambangan semen ini. Itu yang membuat perlawanannya mekar berseri. Tidak pernah layu walaupun berbagai niat buruk berdatangan silih berganti. Perlawanan itu tidak akan pernah terbeli oleh sekarung emas atau bahkan iming-iming CSR sekalipun. Dia tidak akan pernah mati. Akan berlipat ganda. Menjadi palu gada yang akan menghancurkan kesewenang-wenangan dan membangun kembali sistem yang peduli pada kemanusiaan. Mari kita bangunkan diri kita kemudian berdiri dan berjalan untuk turut berjuang dalam barisan perlawanan. Ditulis oleh Lintang Selatan <https://scontent-arn2-1.xx.fbcdn.net/v/t1.0-9/17264933_398954473800029_2645925355575290745_n.jpg?oh=5b5592400350fb5e2310cb7a82fb768f&oe=596F7247>
