https://dunia.tempo.co/read/news/2017/03/17/115856903/unhcr-iran-paling-ramah-terhadap-p
<https://dunia.tempo.co/read/news/2017/03/17/115856903/unhcr-iran-paling-ramah-terhadap-pengungsi>
engungsi
<https://dunia.tempo.co/read/news/2017/03/17/115856903/unhcr-iran-paling-ramah-terhadap-pengungsi>
UNHCR: Iran, Paling Ramah terhadap
Pengungsi
Jum'at, 17 Maret 2017 | 12:03 WIB
* share facebook
* share twitter
* share google+
* share pinterest
UNHCR: Iran, Paling Ramah terhadap Pengungsi
Seorang perempuan asal Mosul menggendong anaknya Riyad (1), yang lahir
tanpa memiliki dokumen kelahiran dari pemerintah Irak saat berada di
kamp pengungsi Debaga, Irak, 10 November 2016. REUTERS/Zohra Bensemra
*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Teheran* - Komisi Tinggi Pengungsi
Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNHCR menyatakan Iran sebagai negara
paling ramah terhadap pengungsi.
"Kepemimpinan yang ditunjukkan pemerintah Iran menjadi contoh dalam
menerima pengungsi dan membiarkan perbatasan mereka terbuka. Ini adalah
kisah yang tidak diceritakan secara menyeluruh," kata ketua tim UNHCR,
Sivanka Dhanapala, di Teheran.
*Baca juga:* Bahas Pengungsi, Trump Mengamuk Tutup Telepon PM Australia
<https://m.tempo.co/read/news/2017/02/02/116842373/bahas-pengungsi-trump-mengamuk-tutup-telepon-pm-australia>
Iran melindungi sekitar sejuta pengungsi terdaftar Afghanistan selama
hampir empat dekade. LSM memperkirakan ada dua juta pengungsi lainnya
yang tinggal di Iran. "Ini adalah jumlah pengungsi keempat paling banyak
di dunia," ujar UNHCR.
Memberi tempat kepada pengungsi, Iran malah menjadi sasaran larangan
perjalanan dikeluarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Pekerja LSM asing menyatakan larangan terhadap Iran merupakan sesuatu
yang sangat tidak masuk akal. Iran telah menjadi rumah bagi pengungsi
yang melarikan diri dari negara dilanda konflik akibat campur tangan
Amerika Serikat.
*Baca juga* :Maret, Malaysia Izinkan Pengungsi Rohingya Bekerja
<https://m.tempo.co/read/news/2017/02/02/118842505/maret-malaysia-izinkan-pengungsi-rohingya-bekerja>
Dhanapala mengacu petunjuk pada tahun 2015 yang dikeluarkan pemimpin
tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang mengarahkan sekolah
menerima semua siswa Afghanistan, tanpa terkecuali. Mengikuti petunjuk
itu, pemerintah terpaksa menambah 15,000 kelas baru.
Banyak warga Afghanistan berada di Iran untuk bekerja dan merupakan
pemandangan yang biasa terjadi di pinggiran Teheran ketika mendapati
pengungsi menjadi buruh bangunan, tukang parkir dan pemungut sampah.
Namun beberapa laporan menuding bahwa Iran memanfaatkan pemuda
Afghanistan untuk direkrut sebagai milisi untuk turut serta dalam
konflik di beberapa wilayah di Timur tengah, termasuk Yaman dan Suriah.
Iran membantah ada paksaan atau sukungan pemerintah dan mengatakan
milisi itu adalah sukarelawan, meskipun keluarga mereka yang tewas
diberikan hak-hak istimewa.
*CHANNEL NEWS ASIA|DW|YON DEMA
*