Anies Baswedan, Sosok Kompromistis Bermimpi Memimpin Jakarta
https://seword.com/politik/anies-baswedan-sosok-kompromistis-bermimpi-memimpin-jakarta/
BY BENI GUNTARMAN ON MARCH 20, 2017POLITIK


Anies Baswedan, sebelumnya kerap menjadi referensi publik sebagai sosok 
intelektual yang cerdas, reformis, dan memahami keberagaman Indonesia yang 
rentan tercabik-cabik karena faktor-faktor beragam suku, agama, ras, dan antar 
golongan. Namun kini, demi ambisinya meraih kekuasaan, dalam proses politik di 
Pilkada DKI Jakarta 2017, citra itu bertolak belakang dengan kenyataan. Kini ia 
tengah terperosok dalam kubangan lumpur politik  yang menghisap, menghalalkan 
segala cara untuk ambisi menjadi orang nomor satu di Propinsi DKI Jakarta.

Sebelum terjun ke kancah politik perebutan kursi DKI1,  sering terdengar 
pernyataan Anies di beberapa forum, penuh motivasi untuk merawat tenun 
kebangsaan. Sosok yang dikira santun itu ternyata berubah menjadi wujud 
sejatinya, dengan menutup mata ia merapat ke ormas semacam FPI, GNPF, dan Forum 
Umat Islam yang kian terkenal sebagai organisasi penggerak kekerasan, pemaksaan 
kehendak, kelompok pelanggar kebebasan beragama di Indonesia. Hanya demi 
kepentingan sesaat, Anies Baswedan dengan tega mengkhianati cita-cita damai 
dalam keberagaman Indonesia. Anies Baswedan hanya mengkhianati hati nuraninya 
sendiri. Dengan menggandeng kekuatan FPI dan jaringan Keluarga Cendana, semakin 
jelas bahwa misi “merawat tenun kebangsaan” hanyalah sebuah pemikiran dangkal 
bagi seorang Anies Baswedan. Sebagai sebuah pemikiran dangkal yang jauh dari 
kesadaran, wajar bila kemudian berubah-rubah, tunduk pada kekuatan 
penyokongnya.  Di manakah Anies Baswedan berpihak ketika tragedi Mei 1998 
terjadi?

Tenun kebangsaan yang robek oleh tangan Anies Baswedan sendiri, membiarkan 
spanduk provokatif kelompok pendukungnya di masjid-masjid, membutakan diri 
terhadap kewajiban fardhu kifayah yang disalahgunakan oleh mereka yang 
mengatasnamakan dirinya sebagai pembela umat Islam. Membiarkan perbuatan 
menolak men-salat-kan jenazah pendukung Basuki-Djarot yang dilakukan oleh 
pendukungnya menunjukkan bahwa Anies Baswedan tidak peka dengan suara hati 
nurani dan cenderung tunduk pada nafsu kekuasaan belaka. Anies tidak sendiri, 
pendamping dan juga partai pengusungnya mengalami amnesia yang sama seperti 
yang dialami oleh Anies Baswedan.

Anies Baswedan terlihat telah mengkhianati komitmennya sebagai pengusung Islam 
yang menolak kekerasan dan penjaga kebhinekaan. Dalam sebuah artikel di Kompas 
(12/09/2012), Anies pernah menulis: “Menjaga tenun kebangsaan dengan membangun 
semangat saling menghormati serta toleransi itu baik dan perlu. Di sini 
pendidikan berperan penting. Namun, itu semua tidak cukup dan takkan pernah 
cukup. Menjaga tenun kebangsan itu juga dengan menjerakan setiap perobeknya. 
Bangsa ini dan pengurus negaranya mempermalukan diri sendiri di hadapan penulis 
sejarah, bahwa bangsa ini gagah memesona saat mendirikan negara bhineka tetapi 
lunglai saat mempertahankan negara bhineka,”. Apakah Anies masih konsisten 
dalam pemikiran untuk “menjerakan” setiap perobek tenun kebangsaan? Mana 
mungkin ia mampu menjaga tenun kebangsaan sementara dengan tangannya sendiri 
Anies ikut juga merobeknya. Apakah kita masih berharap pada pemimpin yang tidak 
konsisten seperti ini?

Sejak kasus nenek Hindun menjadi gunjingan, sosok Anies Baswedan terkesan 
mengerikan. Entah idealisme seperti apa yang ada di dadanya. Mungkin nurani 
telah mati, mungkin juga Anies tengah  membayangkan atau berkhayal tentang 
manisnya buah hasil hasutan provokatif di rumah-rumah ibadah, demi 
menyingkirkan lawan politiknya, dan kekuasaan itu dikiranya akan segera 
diraihnya dengan mudah.

Isu yang selalu dihembuskan oleh kelompok perusak tenun kebangsaan itu bahwa 
gaya kepemimpinan Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok beresiko membawa Jakarta ke 
dalam konflik yang berkepanjangan. Mereka beralasan bahwa penolakan terhadap 
Ahok tidak hanya terjadi di tingkat warga, tetapi juga pada birokrasi, partai 
politik, dan lembaga legislasi daerah.  Tetapi mereka lupa bahwa kekhawatiran 
itu adalah provokasi politik yang sengaja dihembus oleh organisasi semacam FPI 
yang berkolaborasi dengan para pembegal APBD DKI Jakarta.  Para penebar 
kebencian, nafsu serakah para politisi, dan tikus-tikus anggaran yang selama 
ini menikmati APBD DIKI Jakarta dengan riang gembira sambil bernyanyi, menari, 
dan berpuisi tiba-tiba saja merasa khawatir karena kehadiran Ahok yang terkenal 
disiplin dan amanah dalam menjaga uang rakyat.

Mereka penebar provokasi itu kecewa ketika pada putaran pertama Pilkada DKI 
Jakarta 2017 ternyata Ahok tetap lebih dipercaya publik ketimbang Anies 
Baswedan.  Pemilih rasional di Jakarta ternyata tidak mudah diperdaya dengan 
manuver-manuver politik kelompok “asal bukan Ahok”.  Kompleksitas permasalahan 
Jakarta  membutuhkan ketegasan, dan juga tanggung jawab yang besar bagi 
pemimpinnya. Sulit membayangkan apa jadinya Jakarta bila dipimpin oleh Anies 
Baswedan, sosok yang sanggup mengkhianati hati nuraninya sendiri demi sebuah 
kekuasaan. Kompromi dengan para begal APBD dan tikus-tikus anggaran akan 
terjadi, dan Jakarta akan menjadi adem anyem.  Namun diam-diam rayap 
menggerogoti pilar-pilar bangunan  Balai Kota DKI Jakarta.  Anies Baswedan 
bukanlah sosok yang tepat untuk membenahi keboborokan mental penyelenggara 
pemerintahan DKI Jakarta.  Sikap kompromistis adalah cermin ketidakberdayaan 
seorang pemimpin untuk menghadapi tekanan para pengidap “penyakit korup” yang 
sok nasionalis, sok agamais namun kenyataannya tidak jauh dari urusan duit dan 
selangkangan.

*****


Kirim email ke