From: B.DORPI P. 
Sent: Wednesday, March 22, 2017 6:37 AM


Bung Derek . . .

Apa itu SEJARAH . . .
SEJARAH adalah Senantiasa HIS STORY dan Bukan HISTORY . . .

Dunia dan Kebenaran senantiasa berpihak kepada Yang Berkuasa . . . kini . . .
L'hidtoire toujours se repete . . . [sejarah senantiasa berulang] . . .

BADU SejarahwanAmatir





http://www.rmol.co/read/2017/03/17/284153/Bambang-Tri,-Pendiri-RCTI,-Tersingkir-Atau-Disingkirkan-Hary-Tanoe-

 
JUM'AT, 17 MARET 2017 , 11:37:00 WIB
Bambang Tri, Pendiri RCTI, Tersingkir Atau Disingkirkan Hary Tanoe?
OLEH: DEREK MANANGKA 



"COBA kau lihat ini", berkata Jongkie Sugiarto sambil memperlihatkan sebuah 
'batu' persegi berdiameter sekitar 15 cm. Yang diperlihatkannya sebuah batu 
prasasti yang menandai persemian gedung PT Bimantara Citra atau lasim dikenal 
Bimantara. 

     
Bimantara sendiri merupakan perusahaan swasta yang didirikan oleh Bambang 
Trihatmodjo atau Bambang Tri. Bambang adalah salah seorang putera penguasa Orde 
Baru, Jenderal Besar Soeharto - Presiden ke-2 RI.

Sementara Jongkie, merupakan orang kepercayaan Bambang Tri. 

Bambang antara lain dikenal sebagai pengusaha swasta yang berada di balik 
berdirinya Rajawali Citra Televisi Indonesia  (RCTI), televisi swasta pertama 
Indonesia.

Bimantara berdiri tahun 1982, sedangkan RCTI tahun 1989.  Bimantara pernah 
masuk di pasar modal sebagai perusahan publik.

Bimantara dan RCTI lahir berkibar di era masa jayanya pemerintahan Orde Baru. 
Kedua perusahaan dianggap sebagai unit usaha yang patut ditiru kinerjanya.

Itu sebabnya kehadiran Bambang Tri sebagai pendiri Bimantara dan RCTI, seakan 
menjadi salah satu simbol keberhasilan pengusaha swasta.

Sekalipun tidak dinyatakan secara eksplisit, tetapi pada tatanan tertentu 
Bambang Tri dianggap mewakili kalangan pengusaha pribumi. Yah, tidak pernah 
dinyatakan demikian, karena pada era itu penyebutan pribumi dan non-pribumi, 
secara resmi dilarang. Tujuannya untuk mencegah terjadinya polarisasi di 
masyarakat berdasarkan pembatas SARA.

Keterwakilan Bambang Tri dirasakan sebagai sebuah pergeseran dalam dunia bisnis 
swasta, sebab pada saat itu dominasi kalangan pengusaha non-pri dinilai relatif 
sudah demikian kuat.

Oleh sebab itu sekalipun ada semacam ketidaksukaan atau kecemburuan atas 
suksesnya seorang anak Presiden di dunia bisnis, tetapi diam-diam keberhasilan 
Bambang Tri disambut baik. Seakan ada yang ikut mengibarkan bendera Bimantara 
dan RCTI setinggi mungkin, walaupun yang mengibarkan bendera, bukanlah pemilik.

Jadi Bimantara dan RCTI menjadi semacam simbol kebangkitan konglomerat pribumi.

Simbol kebangkitan ini secara diam-diam memang tetap mendapat kritikan. 
Terutama dari sejumlah kalangan yang hanya melihat Presiden Soeharto dan 
keluarganya secara hitam atau putih.

Presiden Soeharto yang berkuasa 1966-1998, dianggap memberikan konsesi yang 
begitu banyak kepada kroni-kroninya yang kebanyakan non-pri.

Belum berhenti anggapan itu, perlakuan istimewa Soeharto sudah beralih kepada 
anggota keluarganya, Bambang Tri.

Akhirnya di kalangan masyarakat berkembang semacam persepsi yang sifatnya 
ambigu.

Senang melihat Bambang Tri berhasil, tapi tidak suka dengan ayahnya sebagai 
Presiden yang memiliki kewenangan untuk berpihak.

Jongkie memperlihatkan prasasti Bimantara Citra, dalam rangka mengekspresikan 
kekecewaannya terhadap sikap Hary Tanoe.

Jongkie dan Hary Tanoe, sama-sama non-pri. Keduanya juga pemeluk agama Nasrani 
dan rajin ke gereja. Tapi banyak hal yang membedakan keduanya. Karakter mereka 
kontradiktif.

Jongkie seorang terbuka dan blak-blakan, Hary Tanoe tidak demikian.

Jongkie merupakan seorang pengabdi tulen kepada Bambang Tri, berdasarkan latar 
belakang profesional.

Di perusahaan milik Bambang Tri yang dijalankan Jongkie, rekrutmen karyawan 
yang dilakukannya secara multi ras, multi etnis dan multi keyakinan. 

Sarjana teknik lulusan Jerman (sebelum Jerman Barat dan Jerman Timur bersatu) 
itu merupakan seorang ahli mesin mobil. Khususnya mobil Mercedes.

Keahlian dalam bidang otomotif bercampur dengan kemitmen, loyalitas dan 
kejujurannya, membawa Jongkie dipercaya oleh keluarga Presiden Soeharto.

Kepercayaan ini meluas, menjadi kepercayaan negara, khususnya Paspampres 
(Pasukan Pengamanan Presiden) dan Sekretariat Negara.

Sebab pada akhirnya Jongkie dipercaya negara untuk merawat semua kendaraan 
Mercedes yang digunakan Presiden Soeharto, termasuk pengganti Soeharto: 
Habibie, Gus Dur dan Megawati.

Penilaian baik tidaknya kondisi kendaraan yang digunakan Presiden, bukan 
ditentukan oleh Paspampres, tetapi oleh Jongkie.

Jeep Komando yang biasa digunakan untuk melakukan pemeriksaan defile,  boleh 
tidaknya dikendarai oleh Presiden dan Panglima ABRI atau TNI, ditentukan 
Jongkie Sugiarto.

Merawat kendaraan RI-1, sama artinya dengan menjaga keselamatan orang tua dan 
eyang dari semua anggota keluarga Cendana.

Dengan posisi tersebut, Jongkie tak ubahnya dengan seorang pengawal pribadi Pak 
Harto.

Dari sana kepercayaan dan empati seorang Pak Harto sebagai Presiden, turun ke 
Jongkie. Hal mana kemudian 'ditangkap' oleh Bambang Tri sebagai anak Pak Harto. 

Hanya saja Jongkie termasuk orang yang lebih suka berada di belakang layar. 
Tidak mau menonjol apalagi menjadi publik figur.

Hary Tanoe, sebaliknya seorang pengusaha baru yang tiba-tiba melejit 
ketenarannya, gara-gara mengakusisi Bimantara dan RCTI - paling sering 
gambarnya muncul di media sendiri.

Peran Jongkie lainnya - sebagai orang kepercayaan Bambang Tri, dialah yang 
menjadi mediator atas penjualan RCTI dan Bimantara. 

Ibarat 'mat comblang' dalam perjodohan. Jongkie-lah yang mempertemukan investor 
yang membeli Bimantara dan RCTI. Setelah terjadi kesepakatan antara investor 
dan Bambang Tri, dari sana baru investor tersebut menunjuk Hary Tanoe sebagai 
tenaga pelaksana di lapangan.

Bahwasanya ada investor yang menggelontorkan dana dan Hary Tanoe hanya sebagai 
pelaksana, sejauh ini ditutupi oleh Jongkie termasuk Bambang Tri.

Tidak diungkapnya oleh Jongkie, siapa investor sesungguhnya, semata-mata untuk 
sebuah "gesture" dalam bisnis yang berdasarkan kepercayaan total.

Sekaligus untuk memberi pembobotan kredibilitas dan akuntabilitas kepada Hary 
Tanoe.

Yang pasti menurut Jongkie antara investor dan Hary Tanoe serta investor 
sahabatnya, terdapat kesepakatan. Pada satu saat yang tidak begitu lama, ada 
saat, dimana Hary Tanoe wajib 'mengembalikan' RCTI kepada Bambang Tri.

Jadi secara implisit Jongkie Sugiarto paham apa yang "the don't" dan mana yang 
boleh dilakukan Hary Tanoe dalam mengelola RCTI dan Bimantara.

Namun inilah yang tidak terjadi.

Sepanjang yang dipahami Jongkie misalnya, tak ada niat sama sekali dari si 
investor yang membantu Hary Tanoe untuk menghapus jejak Bambang Tri sebagai 
pendiri Bimantara dan pelopor berdirinya RCTI. 

Oleh karena itu ketika prasasti Bimantara dihancurkan di era Hary Tanoe, 
Jongkie bereaksi.

Tindakan itu dianggapnya sebagai sebuah usaha menghilangkan jejak dan fakta 
sejarah.

Jongkie kuatir, imbas dari tindakan mengghancurkan prasasti tersebut, bisa 
lebih luas dan melebar. Bisa menyentuh hal-hal sensitif yang sejauh ini coba 
dirawat dan dijaganya.

Rasa kecewa dan marah Jongkie terhadap Hary Tanoe masih ditambah oleh 
tindakan-tindakan lainnya dari pengusaha asal Surabaya ini.  

Di mata Jongkie, Hary Tanoe secara etika atau "gentleman", pria sejati,  telah 
mengabaikan komitmen.

Bahwasanya secara legal tindakan Hary Tanoe mengabaikan komitmen itu, sah-sah 
saja. Tapi secara moral dan etis, itulah yang jadi persoalan.

Bagi Jongkie, moral dan etis, maknanya dalam kehidupan melebihi segala-galanya. 

Yang pasti bagi Jongkie, tindakan bos baru Bimantara dan RCTI tersebut, semakin 
mempertegas bahwa Hary Tanoe bukanlah seorang "a friend in need and a friend 
indeed". 

Dalam kasus ini Jongkie akhirnya melihat Hary Tanoe sebagai sosok yang tidak 
bisa dipegang komitmennya.

Setelah itu Jongkie melakukan "flashback".

Pada tahun 2005, Jongkie dan saya diduetkan oleh Hary Tanoe sebagai direksi 
untuk mempersiapkan penerbitan harian "Seputar Indonesia" atau 'SINDO'. 
Suratkabar ini diharapkan akan menjadi perluasan bisnis RCTI.

Jongkie sebagai Presiden Direktur sementara saya sebagai salah seorang Direktur.

Jongkie dipilih sebagai orang nomor satu di perusahaan media itu, antara lain 
karena dia orang kepercayaan Bambang Tri, pendiri RCTI.

Saya dimasukkan sebagai salah seorang Direktur antara lain karena saat itu saya 
menduduki posisi Pemimpin Redaksi RCTI.

Sebelum itu, di akhir 2004, ketika Hary Tanoe memutuskan untuk menerbitkam 
"Seputar Indonesia", Presdir RCTI itu meminta masukan dari saya tentang untung 
ruginya RCTI memiliki suratkabar harian. Saya beri kajian singkat dan dia paham.

Tapi proyek itu, di tengah jalan dibatalkan secara mendadak. Sementara peran 
Jongkie dan saya, secara sepihak dihilangkan begitu saja.

Secara profesional ataupun kemanusiaan, Hary Tanoe mempermalukan kami berdua. 
Caranya dengan melempar aib bahkan kotoran ke baju bersih kami.

Kami diam dan Hary Tanoe pura-pura tidak melakukan sesuatu yang tidak santun 
terhadap kami.

"Seputar Indonesia" akhirnya diam-diam diterbitkannya tanpa pemberitahuan 
kepada kami.

Termasuk calon karyawan yang sudah sempat kami test, ditelantarkan.

Sementara tim yang mengelola "Seputar Indonesia", semuanya serba baru.

Peluncuran "Seputar Indonesia" dilakukan secara besar-besaran di Gedung Legiun 
Veteran, Plasa Semanggi. Antara lain ditandai dengan siaran langsung oleh RCTI.

Kami sebagai "pelopor" tidak diberi tahu apalagi diundang. Kami tidak kuat 
menonton acara peluncuran "Seputar Indonesia" itu. Sebab di sana ada semacam 
panggung sandiwara.

Kami tersinggung, tapi malu mengaku. Ketersinggungan kami makin tak ada 
artinya, karena Hary Tanoe sudah berubah menjadi seorang figur terkemuka di 
dunia industri media. Hary Tanoe tak ubahnya dengan Ted Turner, pendiri CNN 
atau Ruppert Murdoch konglomerat media: cetak dan broadcasting yang menjadi 
"selebriti".

Kami makin tersisih sedangkan Hary Tanoe makin berkibar. Kekuasaan, khususnya 
di pemerintahan SBY, makin menempatkan Hary Tanoe sebagai pemilik media 
melebihi Jakob Oetama (Kompas Grup), Dahlan Iskan (Jawa Pos Grup) apalagi cuma 
Surya Paloh.

Pada satu periode, Hary Tanoe memperlihatkan kebolehannya melobi Istana. 
Kemanapun Presiden SBY terbang, Hary Tanoe hampir selalu bersama Orang Nomor 
Satu di Indonesia itu.

Inilah yang kemudian menjadi semacam obat penawar rasa malu dan disisihkan oleh 
Hary Tanoe.

Karena Jongkie dan saya tiba-tiba tersadar, berada di sekitar Istana, terlihat 
dekat dengan Presiden atau kekuasaan, ternyata merupakan tujuan dari segala 
agenda Hary Tanoe.

Sementara bagi kami, hal itu seperti ungkapan orang Prancis: "De Ja Vu . Kami 
sudah lihat.

Atau kata orang Yunani - "Gegrapha", kami sudah menulis!

Hanya memang, untuk sementara waktu kami seperti merasakan sebagai 'Orang 
Soeharto' yang sedang dibelakangi dengan bokong. Sebab yang berkuasa di 
Indonesia adalah orang-orang reformis.

Kenangan disingkirkan dari peran awal di "Seputar Indonesia" itu mengingatkan 
Jongkie atas apa yang dialami oleh Bambang Tri dalam kepemilikan Bimantara dan 
RCTI.

Bambang Tri juga disingkirkan dan jejak kakinya dihapus oleh Hary Tanoe.

Selama sekian tahun berteman, bekerja sama, baik langsung atau tidak, kami 
tidak terbiasa dengan budaya singkir menyingkir seperti itu. 


[***]

Penulis adalah wartawan senior











Kirim email ke