karena tidak nyoblos? orang tuanya khan nyoblos coba saja usulkan bung Karma, itu program bagus bisa mengurangi penyakit kurang gizi.
---In [email protected], <inengahk@...> wrote : Kanyaknya seponsornya tidak ada, karena balita tidak menguntungkan pak From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Thursday, March 23, 2017 2:15 PM To: [email protected] Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Re: Berbahagialah Lansia di Jakarta ‘Dimanjaka n’ susu, telur, dll utk balita itu bagus sekali. usulkan bung karma ---In [email protected] mailto:[email protected], <inengahk@... mailto:inengahk@...> wrote : tidak adakah promosi susu, vitamin dll pada balita. Sepertinya tidak ada sebab mereka tidak punya KTP untuk memilih. Jadi KTP perlu banget dong, sudah tahu KTP perlu kok KTP elektronik di kong kalikongin. Kalau menurut saya, saat ini pemerintah mesti kucurkan dana untuk Lansia, Balita, orang cacat, yatim piatu. Caranya gampang banget supaya tidak menguras APBN dan APBD dengan membuatkan mereka bank sampah. Atau pemerintah kucurkan dana pada koperasi yang telah mereka buat, lalu suruh mereka membuat UMKM. Dan uang yang mereka pinjam harus dikembalikan dengan cara mencicil dengan bunga ringan From: [email protected] mailto:[email protected] [mailto:[email protected] mailto:[email protected]] Sent: Thursday, March 23, 2017 1:23 PM To: [email protected] mailto:[email protected] Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Berbahagialah Lansia di Jakarta ‘Dimanjakan’ Berbahagialah Lansia di Jakarta ‘Dimanjakan’ http://poskotanews.com/2017/03/23/berbahagialah-lansia-di-jakarta-dimanjakan/ Kamis, 23 Maret 2017 — 7:17 WIB BERBAHAGILAH jadi manusia lansia (lanjut usia) di Jakarta. Sejak tahun 2016 benar-benar ‘dimanjakan’, mendapat pelayanan serba gratis dari Pemprov DKI. Naik busway, asal tahan capek, bisa gratis hanya dengan tunjukkan KTP. Sekarang ditambah lagi, kakek nenek usia 60 tahun ke atas bakal dapat Kartu Jakarta Lansia (KJL) dengan santunan Rp 600.000 per bulan. Selamat ya Yangkung Yangti…! Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan, tak bisa dicegah dengan ilmu dan tolak bala apapun. Ketika masih muda cantik seperti artis, setelah tua tetap saja kampong peot pipi kempot. Secara pelan tapi pasti, mulailah penyakit 4 B (beser, budeg, buyutan, blawur) mulai menyerang. Paling menyedihkan, makin tambah usia makin susut pendapatan. Paling ideal adalah, tua yang sehat kantong dan sehat badan. Sehat orangnya, sehat pula kantongnya. Tapi kebanyakan, badan sehat, tapi kantongnya kritis. Paling celaka, sudah kantong kritis, kesehatan kritis pula. Akhirnya di rumah dia hanya bisa menikmati ketuaan itu dengan penuh kemasygulan. Lebih mengenaskan lagi, bila anak-anak atau menantu, tak bisa menghargai dirinya sebagai manula. Pemprov DKI rupanya menangkap keluhan para manula di Ibukota. Lewat Cawagub Djarot beberapa hari lalu diwartakan, mulai April mendatang setiap manula di Jakarta bakal dapat tunjangan Rp 600.000 lewat KJL. Tentu saja tak semua manula, melainkan lansia dari kalangan si miskin, yang tidak memperoleh jaminan kesejahteraan dari keluarganya. Cuma masalahnya, jumlahnya kok tanggung amat? Rp 600.000 sebulan, berarti sehari hanya Rp20.000. Di Jakarta apakah masih bisa belanja makanan per porsi Rp6.500? Dengan dana itu, paling-paling hanya bisa beli nasi bubur dengan kuah ayam. Kondisi sehari-hari saja sudah lemes. Dengan tiap hari makan bubur, makin lemes lagi. Tapi namanya bantuan dan santunan, berapa pun jumlah nominalnya, harus disyukuri. Di daerah lain, belum tentu begitu. Ingat, Firman Allah: Barang siapa tak bisa bersyukur di muka bumi, siksa Allah amatlah pedih. – gunarso ts
