Hehehehe “ngenyek anies” tidak sama dengan “memuji ahok”? Tapi koq bisa objektif = memuji; waras = memuji; tidak personal = memuji?
Logika? Hehehehehe jadi ketawa terpingkal2. Otak ente itu gak nyampe. Kunyuk aja bisa lihat ini! Nesare From: [email protected] [mailto:[email protected]] Sent: Wednesday, March 22, 2017 10:33 AM To: Yahoogroups <[email protected]> Subject: RE: [GELORA45] Memalukan jika Anies sampai kalah duh... logikanya..., ha ha ha ha ha ha kasihan amat. ---In [email protected] <mailto:[email protected]> , <nesare1@... <mailto:nesare1@...> > wrote : Hahahahahaha yg dilihat "Sekarang juga Anies sudah memalukan” = ngenyek Anies. Sampai segini aja logikanya ya dan ketawa? Ya bener sekali kalau lihat suatu masalah harus jelas. Tetapi moso’ ente yg begitu pinter gak bisa lihat “kalau anies memalukan” = memuji ahok. Kan mereka lagi pilkada sekarang ini? Kalau ente menyerang anies, memangnya bukan memuji ahok? Kalau bukan, kenapa ane bilang anhar gonggong waras, tidak personal, objektif, ente nuduh ane memuji anhar gonggong? Kan ane berpendapat anhar gonggong anti komunisme dan ngawur menyamakan semua negara komunisme kalau menang bunuh2 juga. Hahahahahahaha maunya menuduh, kalau dituduh gak mau?!!! Kalau menuduh melabel kunyuk. Kalau dituduh tertawa. Kaya’ kunyuk yg tertawa saja! Nesare From: [email protected] <mailto:[email protected]> [mailto:[email protected]] Sent: Tuesday, March 21, 2017 5:45 PM To: Yahoogroups <gelora45@yahoogroupscom> Subject: RE: [GELORA45] Memalukan jika Anies sampai kalah ha ha ha ha ha ha kata2 "Sekarang juga Anies sudah memalukan." itu bukan memuji Ahok, lebih tepatnya ngenyek Anies. Orang itu harus bisa melihat permasalahan dgn jelas, juga bukan selalu pro atau selalu anti, mesti dilihat dalam hal apa. Dalam hal kampanye pilkada ini, saya bukan hanya ngeyek Anies tetapi lebih parah lagi memandang rendah, terutama karena pemakaian issue agama yg dijual secara sedemikian murah dan rendahan. ---In <mailto:[email protected]> [email protected], < <mailto:nesare1@...> nesare1@...> wrote : Oh jadi ente memuji ahok? Oh jadi ente pendukung sejati ahok? Koq bisa ya ente memuji dan jadi pendukung sejati ahok yang tukang gusur? Ente sudah berubah ya? Nesare From: <mailto:[email protected]> [email protected] [ <mailto:[email protected]> mailto:[email protected]] Sent: Tuesday, March 21, 2017 1:29 PM To: Yahoogroups < <mailto:[email protected]> [email protected]> Subject: [GELORA45] Memalukan jika Anies sampai kalah Sekarang juga Anies sudah memalukan. --- <http://rimanews.com/nasional/politik/read/20170321/320504/Memalukan-jika-Anies-sampai-kalah> Memalukan jika Anies sampai kalah Memalukan jika Anies sampai kalah By PT. Rima News Indonesia OPINI – Sampai saat ini, hanya Pilkada DKI yang di dalamnya penggunaan berbagai cara tampak legal untuk memenang... 16.1K DILIHAT / 5 SHARE / 06:00 21 MAR 2017 <http://cdn.rimanews.com/bank/antarafoto-debat-kedua-cagub-dki-270117-hma-9.jpg> OPINI – Sampai saat ini, hanya Pilkada DKI yang di dalamnya penggunaan berbagai cara tampak legal untuk memenangkan calon, terutama permainan isu SARA. Dalam situasi penuh konflik seperti ini, kubu Ahok segera mencitrakan diri sebagai tokoh protagonis, sedangkan kubu Anies-Sandi tampak dikesankan antagonis alias pencipta konflik dalam sebuah drama. Saat pemilu putaran pertama, kelompok antagonis terbagi dua, yakni membela Agus-Sylviana dan Anies-Baswedan. Karena Pilkada kini hanya menyisakan dua pasang kandidat, mereka lebih kompak untuk mendukung Anies, asal bukan Ahok. Ahok dijadikan sasaran mulai dari demo mengawal fatwa MUI terkait dugaan penistaan oleh Ahok hingga gerakan Tamasya Al Maidah yang akan digelar saat pencoblosan. Pendukung Ahok pun diancam tidak disalatkan jenazahnya jika meninggal. Untuk menarik simpati massa dari kubu anti-Ahok, Anies pun harus repot-repot memberikan klarifikasi, terutama kaitannya dengan Islam liberal. Sebagaimana diketahui, pegiat Islam liberal banyak berdiri di belakang Ahok, kecuali Ulil Abshar Abdalla yang berpihak pada Agus Harimurti Yudhoyono. Di hadapan massa FPI, Anies mengaku sebagai orang yang melakukan "bersih-bersih" paham tersebut di Universitas Paramadina kala menjabat rektor. Untuk memperkokoh kakinya, Anies pun harus membuka tangan untuk berangkulan dengan keluarga Cendana. Hal itu ditegaskan saat peringatan Supersemar di masjid Attin, TMII, Jaktim 11 Maret lalu. Sebelumnya, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto secara terang-terangan mengaku harus berseberangan dengan Partai Golkar, yang dalam Pilkada kali ini mendukung Ahok. Keluarga Cendana saat ini mempunyai tunggangan politik baru bernama Partai Berkarya, yang digawangi Hutomo Mandala Putra atau Tommy Soeharto. Partai ini memanfaatkan emosi yang sering bernostalgia dengan Orde Baru yang menurut mereka sebagai era yang murah, aman dan stabil. Selain itu, Anies juga tampak berubah sikap terkait reklamasi. Dalam kampanye maupun debat pada putaran pertama, Anies mengaku menolak reklamasi karena dinilai bentuk ketidakadilan. Namun, belakangan, Anies mengendur Terakhir, Anies Baswedan mengaku akan mengikuti peraturan perundang-undangan yang ada dalam mengambil setiap kebijakan, termasuk soal reklamasi. Dia menegaskan akan taat pada putusan pengadilan dan peraturan pemerintah karena reklamasi bukan proyek pribadi Di atas kertas, Anies-Sandi untuk sementara unggul. Lembaga penelitian Lingkaran Survei Indonesia (LSI) milik Denny Januar Ali merilis laporan survei elektabiltas kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang akan mengikuti pemilihan putaran kedua 7 Maret lalu. Pasangan Anies-Sandi meraih suara 49,7 persen atau unggul sekitar 9 persen dibanding pasangan Ahok-Djarot yang mendapat 40,5 persen, sedangkan sisanya masih ragu-ragu. Data didapat dari survei tatap muka yang digelar LSI pada 27 Februari sampai 3 Maret 2017. LSI mewawancarai 440 responden yang tersebar di seluruh Jakarta dan Kepulauan Seribu. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dengan tingkat margin error sebesar 4,8 persen. Sebanyak 63,3 persen pendukung Agus-sylvi akan beralih ke pasangan Anies-Sandi. Hanya 12,3 persen pendukung Agus yang beralih ke pasangan Ahok-Djarot. Dari survei tersebut diketahui jumlah pemilih Muslim Jakarta yang mendukung Ahok hanya 36 persen. Lalu, dibandingkan dengan pemilih non-Muslim, pasangan Ahok-Djarot unggul 86,58 persen dan pasangan Anies-Sandi mendapat 3,65 persen. Dari rekam jejak di atas, tentu sangat memalukan jika Anies sampai kalah—terlalu banyak yang sudah dikorbankan. Emosi warga pun, tak hanya di Jakarta, sangat terkuras gara-gara pertarungan politik di DKI ini.
