Air Mata Petani Kendeng dan Prinsip "Sedulur Sikep" Menjaga Ibu Bumi 
http://nasional.kompas.com/read/2017/03/23/06450991/air.mata.petani.kendeng.dan.prinsip.sedulur.sikep.menjaga.ibu.bumi?page=all
 Kamis, 23 Maret 2017 | 06:45 WIB

 

 Patmi berkerudung biru (48 tahun) salah seorang petani perempuan asal kawasan 
Pegunungan Kendeng yang melakukan aksi mengecor kaki di depan Istana Negara, 
Jakarta, meninggal dunia pada Selasa (21/3/2017) dini hari. Patmi mengalami 
serangan jantung dan meninggal dalam perjalanan dari kantor LBH Jakarta menuju 
Rumah Sakit St. Carolus, Salemba, Jakarta Pusat.

 JAKARTA, KOMPAS.com
 
  - "Kalau melihat apa yang dikatakan beliau Pak Jokowi, rasanya saya sudah 
kehilangan Bapak," ujar Gunarti kepada wartawan usai bertemu Presiden Joko 
Widodo http://indeks.kompas.com/tag/jokowi di kompleks Istana, Rabu (22/3/2017).
 
 Gunarti, perwakilan petani di kawasan Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng, akhirnya berhasil menemui 
Presiden Jokowi untuk menyampaikan protes terkait keberadaan pabrik semen yang 
dinilai merusak lingkungan.
 Dia mengeluhkan sikap Gubernur Jawa Tengah 
http://indeks.kompas.com/tag/jawa.tengah Ganjar Pranowo 
http://indeks.kompas.com/tag/ganjar.pranowo yang menerbitkan izin baru bagi PT 
Semen Indonesia  http://indeks.kompas.com/tag/pt.semen.indonesia.untuk 
melakukan operasi penambangan di wilayah Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng.
 Ia menganggap, izin itu bertolak belakang dengan janji yang disampaikan Jokowi 
kepada petani Kendeng, Agustus 2016 lalu. Namun, pertemuan itu hanya 
menghasilkan kekecewaan dan air mata bagi Gunarti.
 (Baca: Bertemu Jokowi, Petani Kendeng Ini Menangis Tuntutannya Tak Dipenuhi 
http://nasional.kompas.com/read/xml/2017/03/22/15154681/bertemu.jokowi.petani.kendeng.ini.menangis.tuntutannya.tak.dipenuhi)
 
 KOMPAS.com/IHSANUDDINGunarti, salah satu petani di wilayah Kendeng, usia 
bertemu Jokowi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (22/3/2017). 

 "Pak Jokowi bilang, 'ya itu kalau mengenai izin harus tanyanya sama Gubernur. 
Selama ini sudah komunikasi sama Gubernur atau belum?' Bukan hanya komunikasi, 
kami itu sampai melakukan apapun, jangan sampai Pak Ganjar itu mengeluarkan 
izin dulu," ucap Gunarti.
 
 Tangis pilu Gunarti tampaknya menjadi akumulasi antara kepedihan dan 
kehilangan sejak mendaraskan doa untuk Patmi.
 Sehari sebelumnya, Selasa (21/3/2017), Patmi (48), seorang petani perempuan 
dari kawasan Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng, wafat usai melakukan aksi 
unjuk rasa di depan Istana.
 Hampir sepekan, Patmi bersama 49 petani lainnya melakukan aksi protes mengecor 
kaki dengan semen.
 Aksi tersebut menjadi simbol kehidupan mereka yang terbelenggu oleh keberadaan 
pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng.
 Kultur Perlawanan
 Komunitas adat Sedulur Sikep, atau dikenal dengan masyarakat Samin, memiliki 
peran penting dalam perjuangan para petani menolak keberadaan pabrik semen.
 Masyarakat yang mendiami Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng sejak ratusan tahun lalu itu 
memegang prinsip dalam menjaga kelestarian alam. Mereka menganggap bumi 
layaknya ibu yang harus dilindungi sebagai pemberi kehidupan. Ibu Bumi yang 
harus dijaga agar tetap lestari.
 Dalam setiap aksinya pun para petani Kendeng selalu melantunkan tembang Ibu 
Bumi. “Ibu bumi wis maringi, ibu bumi dilarani, ibu bumi kang ngadili,” yang 
artinya "Ibu bumi sudah memberi, ibu bumi disakiti, ibu bumi akan mengadili."
 Kultur perlawanan masyarakat Sedulur Sikep memiliki sejarah yang panjang. 
Mereka meyakini bentuk perlawanan terhadap sebuah otoritas yang menindas dapat 
dilakukan tanpa kekerasan.
 Bagi orang Jawa yang masih mengikuti laku dan tata cara orang Jawa, kemarahan 
memiliki tingkatan masing-masing. Salah satu sikap marah yang sudah mencapai 
puncaknya dan sulit diurai adalah ketika mereka sudah mulai berani menyakiti 
diri sendiri, bukan menyakiti atau membuat kekerasan kepada orang lain.
 
 KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGPetani dari kawasan Pegunungan Kendeng, 
Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, kembali melakukan aksi protes dengan menggelar 
aksi mencor kaki dengan semen di depan Istana Negara, Jakarta, Kamis 
(16/3/2017). Pada aksi hari keempat ini, petani yang mengecor kakinya terus 
bertambah menjadi 41 orang, sebelumnya diketahui berjumlah 20 orang. Aksi 
tersebut mereka lakukan sebagai bentuk protes terhadap izin lingkungan baru 
bagi PT Semen Indonesia yang diteken Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. 

 Mengutip artikel "Kultur Berlatar Gerakan Perlawanan" yang ditulis oleh Indira 
Permanasari di Harian Kompas http://indeks.kompas.com/tag/harian.kompas, 25 
Oktober 2009, cikal bakal komunitas Sedulur Sikep berasal dari putra dari Raden 
Surowidjojo bernama Samin Surontiko.
 
 Surowidjojo ibarat Robinhood yang mencuri dari Belanda 
http://indeks.kompas.com/tag/belanda kemudian dibagikan kepada orang miskin. Ia 
lalu mendirikan kelompok "Tiyang Sami Amin". Pergerakan dilanjutkan Putra 
Surowidjojo, priyayi Raden Kohar, yang konon mengganti namanya menjadi Samin 
Surontiko.
 Antropolog Amrih Widodo melalui tulisannya, Samin In The Order: The Politics 
of Encounter and Isolation, berpendapat gerakan Samin dimulai 1890-an akibat 
penetrasi berlebihan dari pemerintah kolonial Belanda 
http://indeks.kompas.com/tag/belanda.
 Amrih menulis, pengikut gerakan Samin saat itu mengucilkan diri, tidak tunduk 
pada Belanda http://indeks.kompas.com/tag/belanda dan pegawai desa terutama 
dalam membayar pajak. Pada tahun 1900-an ajaran Samin menyebar dengan cepat 
dari wilayah Blora ke Bojonegoro, Grobogan, Ngawi, Pati, Rembang, dan Madiun. 
Tahun 1907 dilaporkan bahwa pengikutnya mencapai 3.000 orang.
 (Baca: YLBHI: Pemerintah Harusnya Malu dengan Aksi Petani Kendeng 
http://nasional.kompas.com/read/xml/2017/03/22/11342341/ylbhi.pemerintah.harusnya.malu.dengan.aksi.petani.kendeng)
 Samin kemudian ditangkap di Rembang karena tersebar rumor akan melakukan 
pemberontakan. Oleh pemerintah kolonial Samin dibuang ke luar Jawa dan akhirnya 
meninggal di Padang, Sumatera Barat, tahun 1914.
 Namun, aktivitas para pengikut Samin tidak terhenti dan mencapai puncaknya 
1914. Para pengikut Samin menolak membayar pajak, berani berbicara dalam bahasa 
berlevel rendah (ngoko) kepada pegawai Belanda 
http://indeks.kompas.com/tag/belanda atau priayi.
 Mereka juga tidak mengacuhkan otoritas ulama agama yang memimpin upacara 
perkawinan dan penguburan tetapi buntutnya minta bayaran. Amrih Widodo 
mengungkapkan, Saminisme adalah fenomena sosial yang paling lama di Asia 
Tenggara.
 "Ketika gerakan Samin sangat gencar, pengikutnya tidak lebih dari 3.000, 
sangat kecil dibanding pemberontakan petani di Banten 
http://indeks.kompas.com/tag/banten. Gerakan pengikut Samin bertahan begitu 
lama karena dianggap tidak mengancam negara," paparnya.
 Menjaga Ibu Bumi
 Protes masyarakat atas keberadaan pabrik semen di Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng telah berlangsung selama 
bertahun-tahun. Harian Kompas mencatat, warga Kendeng sudah mengalami kekerasan 
sistemik sejak tahun 2006.
 Gunretno, salah satu tokoh muda komunitas Sedulur Sikep menuturkan, aksi 
protes yang dilakukan oleh petani Kendeng tidak semata bertujuan untuk 
mempertahankan hak hidup petani yang ada di Kabupaten Rembang saja, melainkan 
demi kelestarian alam di Jawa Tengah http://indeks.kompas.com/tag/jawa.tengah.
 Aktivitas penambangan di kawasan karst, kata Gunretno, memiliki dampak yang 
merusak bagi keberadaan sumber air di bawah Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng. Sementara, para petani di 
Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan bergantung pada sumber air dari pegunungan 
itu.
 (Baca: Patmi Tidak Mau Pulang karena Ingin Tetap Berjuang untuk Kendeng... 
http://nasional.kompas.com/read/xml/2017/03/21/18083131/patmi.tidak.mau.pulang.karena.ingin.tetap.berjuang.untuk.kendeng.)
 "Jawa Tengah http://indeks.kompas.com/tag/jawa.tengah seharusnya menjadi 
lumbung pangan karena daya tampung pulau Jawa itu tidak lagi mendukung untuk 
kegiatan eksploitasi seperti pabrik semen," ujar Gunretno dalam sebuah diskusi 
di kantor Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu 
(19/3/2017).
 Dalam wawancara dengan jurnalis senior Harian Kompas Maria Hartiningsih pada 
Agustus 2014, Gunretno mengatakan, menolak tambang dan pembangunan pabrik semen 
di wilayah di Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng Utara adalah perjuangan 
mempertahankan Tanah Air, yang artinya menjaga tanah dan air, demi kehidupan.
 Perjuangan itu juga bisa dibaca sebagai upaya merebut kembali otoritas diri 
(dan komunitas), beserta seluruh definisinya. Komunitas Sedulur Sikep tidak 
silau oleh iming-iming ”kemakmuran dan kesejahteraan” dari pemodal.
 Bagi mereka, kemakmuran dan kesejahteraan tidak dihitung dari nilai materi, 
seperti pangkat, derajat, uang, kuasa, tetapi seger-waras dan kemandirian 
sebagai petani. Artinya, faktor produksi yang mendukung pertanian, terutama 
air, tanah, dan manusianya, harus dijaga dan dirawat.
 Merunut sejarah, perjuangan komunitas itu selalu terkait dengan kedaulatan 
hidup.
 Pada November 2015, warga dari sejumlah desa yang tergabung dalam Jaringan 
Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng (JMPPK) menggelar aksi berjalan 
kaki sejauh 122 kilometer dari Sukolilo, Kabupaten Pati menuju Kota Semarang 
http://indeks.kompas.com/tag/semarang, Jawa Tengah 
http://indeks.kompas.com/tag/jawa.tengah.
 (Baca: Gubenur Jateng Utus Staf Temui Keluarga Mendiang Patmi Petani Kendeng 
http://regional.kompas.com/read/xml/2017/03/21/21061071/gubenur.jateng.utus.staf.temui.keluarga.mendiang.patmi.petani.kendeng)
 Aksi berjalan kaki yang ditempuh selama dua hari itu dimaknai sebagai wujud 
perjuangan mencari keadilan saat menghadiri sidang putusan dalam gugatan atas 
izin pertambangan PT Sahabat Mulia Sakti, anak perusahaan PT Indocement 
http://indeks.kompas.com/tag/pt.indocement.
 Di tahun yang sama mereka juga pernah melakukan aksi membunyikan lesung 
sebagai tanda "bahaya" di depan Istana Kepresidenan. Tujuan mereka adalah agar 
bisa berdialog dengan Presiden Jokowi.
 Kemudian pada 12 April 2016, sembilan petani perempuan yang kerap disebut 
"Kartini http://indeks.kompas.com/tag/kartini Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng";, mendatangi Jalan Medan 
Merdeka Barat, seberang Istana Negara. Mereka mengecor kaki dengan semen 
sebagai bentuk protes terhadap pendirian pabrik semen PT Semen Indonesia  
http://indeks.kompas.com/tag/pt.semen.indonesia.di Rembang.
 Sembilan "Kartini http://indeks.kompas.com/tag/kartini Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng"; tersebut merupakan para petani 
yang berasal dari Rembang, Pati, Blora, dan Grobogan.
 (Baca: Jokowi Belasungkawa atas Meninggalnya Seorang Petani Kendeng 
http://nasional.kompas.com/read/xml/2017/03/21/19275351/jokowi.belasungkawa.atas.meninggalnya.seorang.petani.kendeng)
 Secercah harapan sempat muncul ketika Presiden Jokowi mengundang sembilan 
Kartini http://indeks.kompas.com/tag/kartini Kendeng untuk berdialog di Istana 
Negara, Selasa (2/8/2016). Dari pertemuan itu, pemerintah berjanji akan 
melakukan kajian lingkungan hidup http://indeks.kompas.com/tag/lingkungan.hidup 
strategis (KLHS) di Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng. Selama kajian dilakukan, 
pabrik semen dilarang untuk beroperasi.
 Kajian dilakukan di bawah koordinasi Kepala Staf Kepresidenan dengan 
melibatkan berbagai instansi, mulai dari Kementerian lingkungan hidup 
http://indeks.kompas.com/tag/lingkungan.hidup dan Kehutanan, Kementerian ESDM, 
hingga pemerintah daerah setempat.
 Namun, Gubernur Jawa Tengah http://indeks.kompas.com/tag/jawa.tengah Ganjar 
Pranowo http://indeks.kompas.com/tag/ganjar.pranowo justru mengeluarkan izin 
baru untuk PT Semen Indonesia  
http://indeks.kompas.com/tag/pt.semen.indonesia.di wilayah Pegunungan Kendeng 
http://indeks.kompas.com/tag/pegunungan.kendeng bernomor 660.1/6 Tahun 2017 
tertanggal 23 Februari 2017.
 Terbitnya izin lingkungan baru membuat Petani Kendeng kembali melakukan aksi 
mengecor kaki pada Senin (13/3/2017) hingga Senin (20/3/2017). Jumlahnya pun 
bertambah mencapai 50 orang. Sayangnya, sampai aksi itu berujung pada wafatnya 
Patmi, tuntutan para petani Kendeng tidak terpenuhi.
 Kompas TVDemo "Cor Kaki" Tolak Semen Berlanjut
 

 

Kirim email ke