Ahok Tertawa, Anies Menyengat dalam Debat Cagub Mata Najwa 
https://tirto.id/ahok-tertawa-anies-menyengat-dalam-debat-cagub-mata-najwa-clJH 
Basuki Tjahaja Purnama menyampaikan pendapatnya dalam Debat Cagub Mata Najwa, 
Senin, (27/3). Tirto.id/Andrey Gromico 225 Shares    
mailto:?subject=Ahok%20Tertawa,%20Anies%20Menyengat%20dalam%20Debat%20Cagub%20Mata%20Najwa&body=https://tirto.id:443/ahok-tertawa-anies-menyengat-dalam-debat-cagub-mata-najwa-clJH
 Basuki Tjahaja Purnama https://tirto.id/m/basuki-tjahaja-purnama-f
 Anies Rasyid Baswedan https://tirto.id/m/anies-rasyid-baswedan-hQ
 Najwa Shihab https://tirto.id/m/najwa-shihab-e6


 Reporter: Arman Dhani 
https://tirto.id/author/armandhani?utm_source=internal&utm_medium=topauthor
 28 Maret, 2017dibaca normal 5:30 menit

 Ahok percaya diri menanggapi beragam kritik dari Anies Debat soal rumah yang 
terjangkau bagi pekerja kelas menengah jadi poin panas
 Format debat yang dekat dan hangat menghasilkan perbincangan bermutu tentang 
program-program pembangunan Jakarta.

 
 tirto.id https://tirto.id/?utm_source=internal&utm_medium=Article - Pertemuan 
Basuki "Ahok" Tjahaja Purnama 
https://tirto.id/q/basuki-tjahaja-purnama-ahok-cEt dan Anies Baswedan 
https://tirto.id/q/anies-baswedan-bc1 dalam Debat Cagub Mata Najwa 
https://tirto.id/q/debat-cagub-mata-najwa-hlX kemarin malam (27/3) bisa 
menyodorkan pemahaman lebih mendalam tentang sejumlah program calon pemimpin 
(pemilih) Jakarta. Tidak hanya keduanya mengupas program dan keberpihakan, tapi 
juga bisa melihat bagaimana Ahok dan Anies memandang permasalahan Jakarta 
secara lebih mendetil. (Lihat dokumentasi kami soal lalu-lalang debat mereka 
dalam "Duel di Kedoya https://tirto.id/duel-di-kedoya-clET";)

Ini penting mengingat selama tiga kali debat resmi oleh KPU DKI 
https://tirto.id/q/debat-cagub-dki-2017-gv6 dalam putaran perdana Pilkada 
Jakarta https://tirto.id/dki, dengan durasi waktu terbatas serta keriuhan para 
pendukung, kita memang baru disodorkan pengenalan program. Sesudah hasil 
putaran pertama menyingkirkan Agus Harimurti Yudhoyono 
https://tirto.id/q/agus-harimurti-yudhoyono-e5U serta menyisakan Ahok dan 
Anies, debat permulaan non-resmi dalam acara 'Mata Najwa' menghadirkan 
pertanyaan dan konfirmasi atas pelbagai program para kandidat dalam salah satu 
Pilkada 2017 terlama, yang sudah berjalan selama enam bulan terakhir. Meski, 
berdasarkan pantauan kami di Twitter, respons warga internet datar saja 
https://tirto.id/respons-datar-netizen-di-debat-cagub-mata-najwa-clFT betapapun 
sempat jadi tren percakapan.

Ahok memulai debat dengan mengklaim prioritasnya memimpin Jakarta untuk membuat 
warga Jakarta terpenuhi kebutuhan dasarnya. “Bagaimana membuat orang Jakarta 
itu otak, perut, dompetnya penuh,” katanya. Artinya, tidak hanya membuat warga 
pintar, tapi juga tidak kelaparan dan memiliki pendapatan yang tetap. Komitmen 
ini juga dilanjutkan dengan membuat perbaikan dalam birokrasi Jakarta. Ahok 
menilai tidak mungkin program di Jakarta akan berjalan dengan baik bila tidak 
memiliki jajaran PNS yang bersih. 

Konsistensi Ahok-Djarot dalam memprioritaskan reformasi birokrasi berulang kali 
ia ucapkan dalam sejumlah kesempatan. Salah satunya saat debat perdana 
cagub-cawagub oleh KPU DKI di Auditorium Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat 
(13/1/2017). Djarot saat itu menyebutkan 
https://tirto.id/transkrip-debat-perdana-pilgub-dki-jakarta-segmen-satu-cgXk 
birokrasi adalah motor pembangunan. "Birokrasi harus bersih, transparan, dan 
profesional. Dengan cara itu kami akan mampu mencapai sasaran kami untuk 
membangun manusia Jakarta," ujar Djarot.

Ahok sendiri pada 3 Agustus 2016 menetapkan Pergub DKI Jakarta 156 
http://jdih.jakarta.go.id/uploads/default/produkhukum/PERATURAN_GUBERNUR_NO.156_TAHUN_.2016_.pdf
 tentang cetak biru reformasi birokrasi tahun 2015-2019. Peraturan ini 
dimanfaatkan sebagai pedoman untuk perbaikan manajemen pemerintahan berbasis 
kinerja dan percepatan proses reformasi birokrasi di lingkungan Pemerintah 
Provinsi DKI Jakarta. Ahok mengklaim adanya perbaikan reformasi birokrasi ini 
telah banyak membantu. 

Pada debat sebelumnya, ia mengklaim bahwa perbaikan birokrasi telah membantu 
banyak warga Jakarta dalam pelayanan kesehatan dan pendidikan. “Siapa zaman 
sekarang yang kalau orang tuanya sakit harus pinjam ke perusahaan? Sudah enggak 
ada sekarang,” klaim Ahok di 'Mata Najwa'. Klaim ini susah diverifikasi: 
Benarkah tak ada satu pun warga Jakarta yang meminjam uang di perusahaan 
lantaran layanan kesehatan sudah membaik atau telah terjangkau oleh asuransi 
kesehatan yang disediakan perusahaan itu sendiri?

Untuk program Kartu Jakarta Pintar 
https://tirto.id/ahok-dan-anies-adu-program-kjp-dan-kjp--clFo, Ahok mengklaim 
bahwa KJP Plus yang disodorkan oleh Anies tidak mendidik anak-anak. Ia 
menganggap, anak jangan diminta sekolah dengan iming-iming uang, tapi mereka 
mesti mau sekolah dengan keinginan sendiri dan uang ada untuk membantu 
mewujudkan itu. Maka, ketika ada usul bahwa mereka yang tak sekolah juga 
mendapat bantuan KJP, ini akan mengganggu dan mengubah perilaku siswa. 

“Kami tidak mau anak-anak berpikir: tanpa sekolah pun saya dapat uang. Uang 
harus mendidik. Bagi saya, KJP plus merusak mental anak sekolah,” katanya. 

Saat ini Pemerintah DKI Jakarta pada 2016 menganggarkan Rp2,5 triliun untuk 
program Kartu Jakarta Pintar (KJP). Adapun jumlah penerima KJP pada 2016 
mencapai 692.002 murid. Jumlah anggaran maupun penerima KJP tiap tahun 
mengalami peningkatan. Data Badan Pusat Statistik DKI Jakarta menunjukkan angka 
buta huruf penduduk usia 10 tahun ke atas di ibukota turun menjadi 0,39 persen 
pada 2015 dari 0,86 persen pada 2012. Dari hasil Sensus Nasional 2001-2015, 
angka buta huruf di Jakarta menunjukkan tren penurunan.

Najwa Shihab sesudahnya mempertanyakan tentang konsep kepemimpinan kedua 
kandidat 
https://tirto.id/debat-cagub-mata-najwa-ahok-amp-anies-adu-konsep-kepemimpinan-clFr.
 “Bagaimana menggambarkan gaya kepemimpinan Anda yang berbeda dari lawan?” 
katanya. Ahok mengatakan figur Gubernur DKI Jakarta harus jadi model bagi semua 
bawahannya. Karena itu, selama memimpin DKI Jakarta, Ahok mengaku berusaha 
berperilaku bersih, transparan, dan memegang prinsip melayani publik dengan 
empati. 

“Lalu sistem tak boleh berpihak dan terima suap. Ini standar. Kalau enggak mau 
menurut, silakan mundur. Kalau profesional, pasti anda (bawahan Ahok) patuh. 
Itu yang selama ini hasilkan produk (program) di Jakarta,” kata Ahok yang 
menerima giliran pertama untuk mendeskripsikan gaya kepemimpinan idealnya di 
DKI Jakarta. 

Pernyataan ini lantas diserang oleh Anies, yang menganggap pemimpin harus 
merangkul semua pihak. Seorang pemimpin, demikian Anies, hadir dari keteladanan 
dan bukan sekadar kata-kata, melainkan melayani dalam tindakan. Ahok menjawab, 
ia menolak merangkul semua orang. Ia tak mau merangkul orang yang korup. 
“Mimpin Jakarta simpel sajalah: Kalau orang enggak bisa diajak maju bersama, ya 
sudah, ditinggal saja,” tegas Ahok.

Setidaknya 27 kali Anies menyerang Ahok 
https://tirto.id/debat-cagub-mata-najwa-anies-agresif-mencecar-ahok-clFW dengan 
pelbagai hal seperti kata-kata yang kasar, keengganan merangkul bawahan, dan 
fokus pembangunan yang bertumpu pada bangunan fisik. Menariknya, terlepas dari 
klaim bahwa Ahok adalah sosok yang emosional, sepanjang debat kemarin Ahok 
terlihat sangat santai dan menikmati momen itu. Seperti saat Anies menyerang 
Ahok dengan tuduhan bahwa penolakan menyalati jenazah pendukung Ahok bersumber 
dari pernyataan Ahok. 

Ahok sendiri menjawab tuduhan itu nyaris tanpa emosi dan berkata bahwa kandidat 
yang tidak memiliki program jelas, lebih sering memainkan isu agama. 

Di lain kesempatan, Anies menyindir ruang kreatif Ahok 
https://twitter.com/TirtoID/status/846360096598704129 yang hanya bisa diakses 
oleh kelas menengah. Menurutnya, keberadaan ruang itu jelas bias kelas karena 
tak bisa diakses oleh pedagang siomay dan kelompok rentan lain. Menariknya, 
Ahok balik menjelaskan dengan mengklaim Pemda DKI telah melakukan pendampingan 
Kelompok Usaha Kecil dan mendampingi lebih dari 20 ribu pengusaha kecil. (Baca: 
Saling Klaim Program Wirausaha di Mata Najwa 
https://tirto.id/anies-dan-ahoknbspsaling-klaim-program-wirausahanbspdi-mata-najwa-clFR)

Di sesi lain, saat kedua kandidat membahas tentang transportasi massal 
https://tirto.id/ahok-dan-anies-adu-gagasan-soal-angkot-clFv, dan Anies 
berjanji akan mengintegrasikan transportasi bus dengan angkutan kota, Ahok 
mengatakan operasional angkot selama ini tak memiliki layanan standar minimum. 
"Makanya," kata Ahok, "kerjasama kita (dengan angkot) akan ubah sebagai bus 
sedang. TransJakarta membantu angkot meremajakan armada."
 Meneladani Soeharto dan Meributkan KPRDua topik yang paling jadi omongan media 
sosial dalam debat 'Mata Najwa' kemarin malam adalah pandangan masing-masing 
calon terhadap sosok Soeharto 
https://tirto.id/debat-cagub-mata-najwa-ahok-amp-anies-satu-suara-soal-suharto-clFu
 dan program kepemilikan rumah 
https://tirto.id/adu-klaim-ahok-amp-anies-soal-rumah-untuk-rakyat-clFw. 

Anies berkata, “Pak Harto itu stabil, tak emosional, sehingga mampu memetakan 
masalah dengan baik. Dia juga rekrut semua pakar.”

“Bisa jadi kita setuju atau tak setuju (dengan kebijakan Soeharto)," kata Anies 
menambahkan. "Tapi, pendekatannya sangat stabil. Jakarta butuh pendekatan 
pemimpin yang stabil dan tidak labil.”

Anies menilai Soeharto mampu menanggapi setiap pertanyaan di ruang publik 
dengan "respons yang membuat suasana teduh dan tidak memantik masalah." 

“Ojo dumeh (jangan mentang-mentang), itu filosofinya (Soeharto)," kata Anies.

Sementara Ahok mengakui meneladani Soeharto. Ia satu suara dengan Anies soal 
kestabilan yang bisa menjadi pelajaran dari penguasa otoriter Orde Baru itu. 
Namun, Ahok lebih berfokus ke perkara teknis. 

“Pelajaran dari Pak Harto itu soal caranya jaga kestabilan harga sembako,” kata 
Ahok.

Ahok menjawab, satu hal yang bisa dipelajari dari Soeharto adalah stabilnya 
harga pangan dan bagaimana mengendalikan harga dengan tepat. 

Ini tentu menarik, mengingat selama ini banyak pendukung Ahok (juga Anies) yang 
membela bahwa jagoannya tidak punya ketertarikan dengan Orde baru. 

(Catatan: redaksi Tirto bersikap kritis atas "peringatan 51 tahun Supersemar 
dan haul Soeharto, 11 Maret silam. Baca: "Jika Supersemar Palsu, Apakah Orde 
Baru Tidak Sah? 
https://tirto.id/jika-supersemar-palsu-apakah-orde-baru-tidak-sah-ckvU"; dan 
"Haul Soeharto, Kaum Bersejarah, dan Kaum Tuna Sejarah 
https://tirto.id/haul-soeharto-kaum-bersejarah-dan-kaum-tuna-sejarah-ckv3";)

 share infografik


Sesi lain mengenai program rumah murah, Ahok sepakat tapi dengan nada kritis 
atas pernyataan Anies soal pemerintah seharusnya jadi mediator atas masalah 
kesenjangan harga rumah dan kemampuan warga membeli rumah di Jakarta. Menurut 
Ahok, menyediakan tempat tinggal mestilah realistis.

"Saya sepakat dengan pendapat Pak Anies, makanya kita kasih rusun. Pengertian 
sewa rusun itu salah. Orang dengan gaji Rp3 juta pun, dia tidak sanggup bayar 
pemeliharaan. Karena harga jual rumah sudah mencapai Rp1 miliar di tengah kota, 
gimana mau beli rumah ukuran 50 meter persegi sudah Rp300 juta? Jadi, warga tak 
bisa beli rumah di tengah kota. Kita usulkan, bagi mereka yang punya gaji 
Rp7-10 juta yang beli tanah di pinggiran Jakarta ... kos di apartemen," ujar 
Ahok.

"Makanya dia (warga) sewa dulu, bisa menabung untuk beli rumah di pinggiran, 
sebagai investasi," tambah Ahok.

Anies menimpali dengan mengatakan warga Jakarta memiliki kesempatan memiliki 
rumah. Anies menawarkan bantuan pembiayaan rumah.

"Warga memiliki kesempatan memiliki rumah mereka. Kami memberikan bantuan 
pembiayaan rumah. Rumah dengan angka Rp350 juta itu banyak, bukan hanya di 
pinggiran kota, di tengah kota banyak. Pemerintah harus menyelesaikan supply 
and demand," terang Anies. 

Ahok menyanggah pernyataan Anies: menyediakan rumah bagi warga dengan rata-rata 
harga Rp300 juta itu terlalu memberatkan dan tidak realistis.

“Tadi, kan, bilang orang mau jual rumah Rp300 juta, pemerintah mau menolong 
dia. Nah, untuk sediakan 100 rumah dengan harga Rp300 juta ya perlu Rp300 
miliar. Uang dari mana itu?” tegas Ahok.

“Tadi, kan, bilang ada jutaan anak milenial yang butuh rumah, terus (katanya) 
rakyat mau jual rumah. Saya anggap orang mau jual rumah nih, bapak-ibu mau jual 
rumah Rp300 juta, ini enggak usah bunga, ini (uang muka) sama pemerintah. Kalau 
(harga rumah) Rp350 juta kali satu juta rumah (sama dengan) Rp350 triliun. Itu 
uang dari mana? Ngomong gampang: banyak yang mau jual rumah, tapi enggak ada 
duit buat beli,” sanggah Ahok.

Anies menanggapi, “Pilihannya sederhana: gubernur yang putus asa melihat 
kenyataan itu atau gubernur yang mau mencari solusi melihat kenyataan itu?” 
Menurut Anies, ada solusi untuk masalah yang dipaparkan Ahok. “Artinya bisa 
diselesaikan, karena itu ada perbankan, karena itu ada mekanisme keuangan 
modern, jadi jangan terlalu khawatirlah kalau soal begitu,” Anies masih percaya 
diri.

“Kalau APBN Rp2.000 triliun, terus mau beli rumah Rp350 triliun, terus mau 
bangun apa lagi nanti?” Ahok tertawa.

Ahok tetap bersikukuh bahwa bank tidak akan mengizinkan pemberian kredit rumah 
tanpa uang muka, jadi solusi yang diberikan pemerintah untuk warga dengan gaji 
Rp3 juta itu diberikan rumah susun, sedangkan gaji Rp7-10 juta dapat membeli 
rumah di pinggiran Jakarta, dan kos di apartemen di tengah kota.

“Saya enggak suka bohongin orang untuk menarik simpati,” ujar Ahok saat Anies 
menilai program yang dinyatakan Ahok belum menunjukkan keberpihakan kepada 
rakyat. 

Baca juga artikel terkait DEBAT CAGUB MATA NAJWA 
https://tirto.id/q/debat-cagub-mata-najwa-hlX?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword
 atau tulisan menarik lainnya Arman Dhani  
https://tirto.id/author/armandhani?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor
 (tirto.id - dan/fhr)

 

 

Kirim email ke