Pada Rabu, 5 April 2017 21:26, "Jonathan Goeij [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Said Aqil Siradj: Jangan Gunakan Agama untuk Tujuan Politik
|
|
|
| | |
|
|
|
| |
Said Aqil Siradj: Jangan Gunakan Agama untuk Tujuan Politik
By Liputan6.com Said Aqil Siradj mengupas berbagai hal, mulai politisasi agama
hingga merawat persatuan ala NU. | |
|
|
Ridho Insan Putra 05 Apr 2017, 18:45 WIB
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj. (Liputan 6
SCTV)
Liputan6.com, Jakarta - Sangat berbahaya bila masalah agama dibesar-besarkan,
bahkan dijadikan faktor penyekat atau pemisah bagi warga sebangsa dan setanah
air. Padahal, founding fathers atau para pendiri bangsa yang di dalamnya
termasuk beberapa ulama dan pemuka agama telah sepakat menjadikan Indonesia
sebagai negara kebangsaan. Hal ini dikemukakan Ketua Umum Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama (PBNU) Said Aqil Siradj.
"Mereka sepakat bahwa Indonesia itu nation atau negara kebangsaan atau dalam
Bahasa Arab, Darussalam, negara yang damai. Semua warga bangsa diberlakukan
sama tidak pandang agama dan sukunya apa, semuanya adalah saudara satu bangsa
satu warga," ucap Said Aqil Siradj berbincang dengan reporter Liputan 6 SCTV
Realino Oscar di Kantor PBNU, Jakarta, beberapa hari lalu.
Kiai yang kini berusia 63 tahun itu pun mengingatkan jangan menggunakan agama
untuk tujuan politik. "Mari kita gunakan politik untuk memperkuat agama.
Memperkuat agama bukan harus menghantam yang lain."
Said Aqil yang saat ini memimpin organisasi massa Islam terbesar di Indonesia
untuk periode kedua itu mencontohkan pada dirinya sendiri. Ia menjadikan agama
sebagai nilai yang selalu mewarnai kehidupan sehari-hari dalam menjalankan
tugas politik.
"Tidak usah negara Islam, tidak usah politik Islam, tapi Islam jadikan
nilai-nilai universal basic dasar perpolitikan. Akhlak kita, moral kita, budaya
kita," ujar profesor bidang akidah dan filsafat Islam lulusan Universitas Umm
al-Qura, Kota Mekah, Arab Saudi.
Pembina sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Kyai Haji Aqiel Siroj (KHAS) Kempek
Cirebon ini juga menyoroti isu agama ditunggangi kepentingan politik yang
berembus selama proses Pilkada DKI Jakarta. Beberapa demonstrasi tersebut
terkait kasus dugaan penistaan agama yang sedang dihadapi calon petahana Basuki
Tjahaja Purnama alias Ahok.
"Yang tidak senang Ahok, ya jangan milih Ahok. Yang tidak senang Anies, ya
jangan milih Anies. Sudah titik, selesai. Anda senangnya siapa? Anies, ya sudah
pilih Anies. Anda milih siapa? Ahok, ya pilih Ahok. Enggak usah demo tiga juta
orang," Said Aqil menekankan.Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
Said Aqil Siradj. (Liputan 6 SCTV)Apalagi, menurut dia, berbagai demonstrasi
seperti itu tidak membuahkan hasil apa-apa. "Waktu, energi, uang, pikiran
minimal tiga hari persiapan. Itu kalau digunakan dengan hal yang lain sangat
positif sekali."
Terlebih salat Jumat di kawasan Monas, Jakarta Pusat. "Saya atau kita salat di
masjid dengan niat tulus ibadah saja belum tentu kualitasnya seperti apa. Belum
tentu kualitasnya baik."
"Saya salat di masjid niat salat karena Allah Ta'ala, tidak tahu diterima oleh
Allah SWT. Apalagi, niat salat dari rumah bertujuan untuk berpolitik," ia
menambahkan.
Visi NU Merawat Persatuan
Menyoal arah organisasi kaum nahdiyin yang dipimpinnya, Said Aqil menekankan
mengenai garis perjuangan NU. Ia mengatakan, visi dirinya dan NU tidak pernah
berubah dari dulu sampai sekarang dan seterusnya.
"Katakanlah kalau sekarang Empat Pilar ya, kalau zaman Gus Dur (Presiden ke-4
RI Abdurrahman Wahid) dulu enggak ada. Bahwa NKRI dan Pancasila sudah final.
Pada 1926 (Khitah NU) saya katakan tadi. Kemudian dikuatkan lagi, dimantapkan
lagi ketika Gus Dur jadi Ketua PBNU 1984 di Jawa Timur.
Ketika itu, menurut dia, NU menerima asas Pancasila sebagai satu-satunya
kebinekaan di Indonesia. "Jadi mimpi untuk untuk mendirikan Negara Islam
tertutup rapat. Karena ketika ada peluang sekecil apa pun, memberikan peluang
untuk radikalisme."
"Maka, NU mengatakan pada tahun 1984 pada zaman Kaii Ahmad Sidiq dan Gus Dur,
mimpi mengubah untuk Indonesia menjadi negara Islam sudah tertutup
rapat-rapat," Said Aqil membeberkan.
Adapun demi memupuk semangat persatuan dan kesatuan sejak dini, ia menyarankan
pendidikan formal Pancasila dan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila) dihidupkan kembali.
"Bukan semangat mempertahankan penguasa. Dulu zaman Pak Soeharto semangatnya
untuk mempertahankan penguasa. Kalau ini enggak. Dengan semangat mempertahankan
negara Indonesia," Said Aqil menyarankan.
Lalu, bagaimana imbauan Ketua Umum PBNU tersebut terhadap kaum muslim di Tanah
Air? Simak selengkapnya video wawancara Liputan 6 SCTV dengan Said Aqil Siradj
berikut ini.
#yiv0953710748 #yiv0953710748 -- #yiv0953710748ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-mkp #yiv0953710748hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-mkp #yiv0953710748ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-mkp .yiv0953710748ad
{padding:0 0;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-mkp .yiv0953710748ad p
{margin:0;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-mkp .yiv0953710748ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-sponsor
#yiv0953710748ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-sponsor #yiv0953710748ygrp-lc #yiv0953710748hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-sponsor #yiv0953710748ygrp-lc .yiv0953710748ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0953710748 #yiv0953710748actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0953710748
#yiv0953710748activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0953710748
#yiv0953710748activity span {font-weight:700;}#yiv0953710748
#yiv0953710748activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0953710748 #yiv0953710748activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0953710748 #yiv0953710748activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0953710748 #yiv0953710748activity span
.yiv0953710748underline {text-decoration:underline;}#yiv0953710748
.yiv0953710748attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0953710748 .yiv0953710748attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0953710748 .yiv0953710748attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0953710748 .yiv0953710748attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0953710748 .yiv0953710748attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0953710748 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0953710748 .yiv0953710748bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0953710748
.yiv0953710748bold a {text-decoration:none;}#yiv0953710748 dd.yiv0953710748last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0953710748 dd.yiv0953710748last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0953710748
dd.yiv0953710748last p span.yiv0953710748yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0953710748 div.yiv0953710748attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0953710748 div.yiv0953710748attach-table
{width:400px;}#yiv0953710748 div.yiv0953710748file-title a, #yiv0953710748
div.yiv0953710748file-title a:active, #yiv0953710748
div.yiv0953710748file-title a:hover, #yiv0953710748 div.yiv0953710748file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0953710748 div.yiv0953710748photo-title a,
#yiv0953710748 div.yiv0953710748photo-title a:active, #yiv0953710748
div.yiv0953710748photo-title a:hover, #yiv0953710748
div.yiv0953710748photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0953710748
div#yiv0953710748ygrp-mlmsg #yiv0953710748ygrp-msg p a
span.yiv0953710748yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0953710748
.yiv0953710748green {color:#628c2a;}#yiv0953710748 .yiv0953710748MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0953710748 o {font-size:0;}#yiv0953710748
#yiv0953710748photos div {float:left;width:72px;}#yiv0953710748
#yiv0953710748photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0953710748
#yiv0953710748photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0953710748
#yiv0953710748reco-category {font-size:77%;}#yiv0953710748
#yiv0953710748reco-desc {font-size:77%;}#yiv0953710748 .yiv0953710748replbq
{margin:4px;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-mlmsg select, #yiv0953710748 input, #yiv0953710748 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-mlmsg pre, #yiv0953710748 code {font:115%
monospace;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-mlmsg #yiv0953710748logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-msg
p#yiv0953710748attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-reco #yiv0953710748reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-sponsor
#yiv0953710748ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-sponsor #yiv0953710748ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-sponsor #yiv0953710748ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0953710748 #yiv0953710748ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0953710748
#yiv0953710748ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0953710748