https://nasional.tempo.co/read/news/2017/04/07/173863710/11-tahun-tanpa-kabar-di-riyadh-tkw-
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/04/07/173863710/11-tahun-tanpa-kabar-di-riyadh-tkw-ini-pulang-mengenaskan>
ini-pulang-mengenaskan
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/04/07/173863710/11-tahun-tanpa-kabar-di-riyadh-tkw-ini-pulang-mengenaskan>
11 Tahun Tanpa Kabar di Riyadh, TKW Ini
Pulang Mengenaskan
Jum'at, 07 April 2017 | 15:11 WIB
* share facebook
* share twitter
* share google+
* share pinterest
11 Tahun Tanpa Kabar di Riyadh, TKW Ini Pulang Mengenaskan
Ilustrasi. outlookindia.com <http://outlookindia.com>
*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Mataram* - Cerita muram seolah masih
enggan menjauh dari nasib Tenaga Kerja Wanita (TKW) Indonesia. Kisah
mengenaskan kali ini menimpa K, 24, warga Desa Puyung, Lombok Tengah.
Setelah merantau ke Riyadh, Arab Saudi pada 2006 silam, K kembali ke
kampung halamannya dengan wajah dan tubuh yang penuh luka, Rabu 29 Maret
2017. Belum ada penjelasan resmi mengenai penyebab sakit yang dideritanya.
"Sejak dia pergi, sama sekali tidak ada kabar, saya sudah usaha minta
dihubungkan sama sponsor yang memberangkatnya, tapi tetap saja saya
tidak bisa saya ngomong sama anak saya," kata Amaq Nadi saat ditemui di
luar ruang perawatan K di RSUD NTB, Kamis 6 April 2017.
*Baca:* TKW Asal Lombok Ini Kehilangan Ginjal di Qatar
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/02/27/058850613/tkw-asal-lombok-ini-kehilangan-ginjal-di-qatar>
Nadi sama sekali tidak membayangkan anaknya akan pulang dalam keadaan
mengenaskan. Saat berangkat putri pertamanya itu dalam keadaan sehat.
Dia menuturkan, saat pulang wajah K bengkak. Kedua bibirnya terkatup
karena luka. K bahkan harus dibopong dari mobil yang membawanya. Tak
banyak cerita yang bisa diserap Nadi dari putrinya, termasuk tentang
penyebab sakit yang dideritanya. "Dia hanya bilang lelah dan di sana
kerjanya keras sekali," tutur Nadi.
Nadi menceritakan anaknya berangkat ke Riyadh saat umurnya sekitar 15
tahun. K berangkat melalui sebuah perusahaan. Untuk memuluskan
perjalanan K mengadu nasib sebagai pembantu rumah tangga di Riyadh, Nadi
mengaku mengeluarkan biaya sebesar Rp 3 Juta. Mimpi mengubah nasib
keluarganya belum sempat diwujudkan. Selama 11 tahun bekerja tidak
sepeserpun kiriman yang sempat dterima keluarganya. Tak hanya itu kabar
beritanya juga seolah hilang ditelan bumi.
*Baca:* Sepanjang 2016 KBRI Riyadh Selamatkan Rp 30 Miliar Gaji TKI
<https://dunia.tempo.co/read/news/2017/01/22/115838691/sepanjang-2016-kbri-riyadh-selamatkan-rp-30-miliar-gaji-tki>
Berdasarkan data yang dihimpun Perkumpulan Panca Karsa (PPK) sebuah LSM
pemerhati buruh migran di NTB, K diduga kuat sebagai korban perdagangan
manusia. Dia diberangkatkan menjadi TKW dengan pemalsuan identitas usia
dan alamat. Umur K dalam dokumennya diubah 9 tahun lebih tua dari umur
aslinya, begitu pula dengan alamat rumahnya.
Halwati melanjutkan, selain pemalsuan identitas, PPTKIS yang
memberangkatkan K semestinya memantau kontrak yang telah habis.
"Jangankan untuk bertanggungjawab memantau dan memulangkan TKW yang
rekrut tepat waktu, ini malah dibiarkan sampai 11 tahun tanpa kabar,"
kata Halwati.
Halwati menambahkan, dari penuturan K, selama 10 tahun di Riyadh dia
bekerja hanya pada satu orang majikan yang kerap memperlakukannya secara
kasar. "K menuturkan dia sering mengalami kekerasan fisik bahkan
kekerasan seksual yang dilakukan oleh majikan laki-laki dan anaknya,"
kata Halwati.
*Baca:* Safe Travel, Terobosan Kemlu Lindungi WNI di Luar Negeri
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/01/11/078834636/safe-travel-terobosan-kemlu-lindungi-wni-di-luar-negeri>
Tak hanya itu, Halwati melanjutkan, K juga mengaku beberapa kali dibawa
ke rumah sakit di Riyadh. K dipaksa untuk menggugurkan kandungannya.
Selain mengugugurkan kandungannya, K mengaku sempat mejalani operasi
pembedahan pada bagian perut sebelah kanan dan pahanya.
"Bekas luka jahitan masih terihat di bagian perut ke pinggangnya, K
tidak tahu kenapa dia dioperasi," kata Halwati.
Untuk mengungkap sejumlah kejanggalan yang dialami K, pihak PPK meminta
PPTKIS dan pemerintah memberikan penjeasan jenis penyakit dan
sebab-sebabnya, termasuk apa yang dialami K selama bekerja di Riyadh.
PPK mendesak pemerintah memberikan penjelasan terkait sejumlah jahitan
di tubuh K dan memastikan kelengkapan organ tubuhnya.
*Baca: Keluarga Kehilangan Kontak dengan TKI Ini Selama 19 Tahun
<https://nasional.tempo.co/read/news/2016/11/24/078822861/keluarga-kehilangan-kontak-dengan-tki-ini-selama-19-tahun>*
PPK juga mendesak pemerintah menindak tegas majikan yang diduga
melakukan pelecehan seksual dan penyiksaan terhadap K serta menuntut
PPTKIS menjamin biaya pengobatan K hingga pulih dan asuransinya.
*ABDUL LATIEF
*