Pudarnya Akal Sehat dalam Pilkada DKI Jakarta 

10 April 2017  12:27:46 sumber: liputan6.com 

http://www.kompasiana.com/famajiid/pudarnya-akal-sehat-dalam-pilkada-dki-jakarta_58eb12866523bdc06576991a






Tulisan ini mungkin akan kurang disukai oleh pendukung fanatik kedua pasang 
calon. Akan tetapi, tampaknya penting bagi kita untuk kembali pada prinsip yang 
diteguhkan bersama, yakni keadilan. Menempatkan sesuatu sesuai dengan porsi dan 
peruntukannya, serta tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. 



Menyaksikan fenomena pemilihan umum DKI Jakarta tahun ini seperti melihat 
sebuah ledakan yang telah diprediksikan sebelumnya. Bagaimana ekskalasi 
perwujudan ketidakpuasan terhadap petahana oleh banyak masyarakat Jakarta 
diperlihatkan bahkan sejak tahun yang lalu. Parahnya lagi, media massa menarik 
isu ini menjadi sebuah isu nasional yang tidak berkesudahan, sebab keuntungan 
memang tak bisa dielakkan. Akan tetapi, bila situasi ini terus didiamkan, akan 
kembali terjadi sebuah fragmentasi besar di pilkada lain di masa mendatang. 
Terkhusus pada pemilu presiden 2019. Maka, perlu kita pahami akar masalah dan 
mengapa bisa terasa sangat dahsyat seperti saat ini. 



Masalah terbesar yang menjadi penyebab keriuhrendahan pada pemilu Jakarta tahun 
ini adalah klaim masing-masing pendukung. Memang wajar bila pada masa kampanye 
setiap pasang calon dan tim sukses memoles citra sedemikian hebat. Hanya saja, 
saat ini hal itu bergeser menjadi klaim sepihak yang menegasikan kelompok di 
seberang. 



Klaim paling parah pada tiap pendukung ialah dua hal. Pada pendukung Ahok, 
klaim “paling Bhinneka” itu yang menjadi ancaman pada kebhinnekaan itu sendiri. 
Sementara pada pendukung Anies, klaim “paling mewakili suara umat Islam” itu 
pula yang akan berbahaya pada nilai keislaman yang selama ini terwujud di 
Indonesia. 



Klaim Pendukung Ahok 



Klaim menjadi kelompok yang paling menghargai kebhinnekaan sebenarnya sebuah 
hal yang fatal. Apalagi jika disertai dengan klaim lanjutan bagi siapapun yang 
menolak dan mengkritisi Ahok adalah ancaman bagi kebhinnekaan. Hal semacam ini 
tidak sehat, sebab kebhinnekaan Indonesia jauh lebih luas perspektifnya 
dibandingkan yang dibayangkan oleh kelompok ini. 



Bhinneka Tunggal Ika, semboyan kebanggaan negeri kita direduksi menjadi 
seolah-olah bahwa mendukung golongan minoritas adalah perwujudan dari hal itu. 
Padahal, menghargai adanya perbedaan tidak selalu dapat tecermin dari dukungan 
pada kelompok minoritas. Memang, dalam beberapa kasus kelompok minoritas 
menjadi termarjinalkan. Dukungan yang diberikan seharusnya mengarah pada 
bagaimana cara untuk menyelesaikan diskriminasi. Bukan dengan menggeneralisir 
bahwa ketika seseorang dari kelompok minoritas menjadi calon Gubernur, lantas 
harus didukung. Argumentasi semacam ini akan menjadi sama saja dengan yang 
mendukung calon semata-mata karena alasan primordial. 



Ahok, dalam hal ini secara identitas memang masuk ke dalam kelompok minoritas 
ganda. Dia berasal dari kalangan non-muslim dan berketurunan Tiongkok. Bila 
memang ingin memberikan dukungan pada kelompok minoritas tersebut, bukan dengan 
mengklaim jika mendukungnya sama dengan mendukung Bhinneka dan jika tidak 
mendukungnya sama dengan menolak Bhinneka. Dukunglah mereka dengan memastikan 
hak dan kewajibannya sama dengan yang dirasakan oleh kelompok lain, terlepas 
dari minoritas atau mayoritas. Sebab, jumlah bukanlah penentu dari kepantasan 
untuk mendapatkan dukungan. 



Argumentasi lain dari kelompok ini terlihat ketika mereka melakukan klaim bahwa 
mendukung Ahok sama dengan menolak ideologi radikal. Bila mau menggali lebih 
jauh, permasalahan radikalisme ada pada setiap ideologi. Akan ada sekelompok 
kecil dalam spektrum pemahaman atas sebuah ideologi yang berjuang mati-matian 
idenya diwujudkan. Tidak hanya terbatas pada kelompok Islamis, seperti yang 
selama ini sering dituduhkan. Dan jika ingin dilihat dengan bijak, kelompok 
yang amat kuat memegang ideologinya, apapun itu, ada di balik kedua calon. 
Sehingga, tidak tepat jika menyatakan yang demikian. 



Lebih parah lagi ialah ketika muncul pula klaim Ahok adalah simbol dari 
kebhinnekaan tersebut. Hanya karena ia berasal dari golongan minoritas. Siapa 
pun, dari golongan mana pun, tidak berhak menjadi simbol sebuah kebhinnekaan. 
Sebab, kebhinnekaan itu terletak pada keragamannya, bukan pada golongan 
tertentu. 



Klaim Pendukung Anies 



Masalah klaim sepihak ini juga muncul di kalangan sebagian pendukung Anies. 
Sebagian pendukungnya mengklaim, jika mendukung Anies sama dengan membela 
Islam. Klaim ini sebenarnya mereduksi makna pembelaan atas Islam yang memiliki 
spektrum yang luas. Ia terbentang dari membela melalui doa hingga dengan nyawa. 
Bukan hanya dibatasi pada masalah pilihan pada pilkada. 



Klaim ini pun dilanjutkan dengan klaim bila tidak mendukung Anies sama saja 
dengan tidak mendukung Islam, atau dengan terma yang sedang populer saat ini, 
menista agama. Padahal, apa yang dibawa dalam visi, misi, dan program kerja 
Anies pun tidak berdasarkan atas agama Islam. Gagasan Anies, bila mau membaca 
lebih, ialah soal “Tenun Kebangsaan”, yakni mempertemukan semua kelompok yang 
berbeda agar bersinergi dalam bingkai Indonesia. Memang, Islam masuk di 
dalamnya, namun tidak terbatas pada kelompok Islam saja. Sehingga, tidak tepat 
rasanya bila hal itu diklaim secara sepihak oleh sebagian pendukung kelompok 
ini saja. 



Hal lain yang sering diklaim ialah, bila tidak mendukung Anies, sama saja 
mendukung penista agama. Memang, calon lain, yakni Ahok sedang terjerat dalam 
kasus penistaan agama. Namun, tidak semua pendukung Ahok mendukungnya 
semata-mata karena menganggap apa yang dilakukannya tidak menista agama. Ada 
pula sebagian kelompok pendukung Ahok yang mendukung berdasarkan kinerja yang 
mereka nilai baik. Tentu, akan sulit bila Ahok telah terbukti menista agama 
secara hukum untuk mendukung. Sampai saat ini, bukti bahwa Ahok menista agama, 
berasal dari sikap MUI, yang tidak semua orang setuju pada sikap tersebut. 



Mengenai dukungan FPI 



Ada pula hal menarik lain yang terlihat pada dinamika pilkada Jakarta ini, 
yakni mengenai dukungan FPI. Selama ini, FPI disitgmakan sebagai kelompok yang 
berpandangan radikal dan intoleran. Tentu, stigma ini ditolak mentah-mentah 
oleh anggotanya dan simpatisannya. Adanya stigma ini pun tidak terlepas dari 
pemberitaan media yang sering meliput aksi FPI yang berujung kekerasan. 
Pembelanya pun bermunculan setelah aksi 212 yang terbukti damai dan dihadiri 
oleh Presiden Jokowi. 



Kecenderungan dukungan FPI ini pun dipandang berbeda oleh kedua kelompok. 
Kelompok pendukung Ahok menilai, dukungan FPI kepada Anies adalah bukti bahwa 
Anies didukung oleh kelompok intoleran. Sementara itu, kelompok Anies melihat 
bahwa dukungan ini adalah sebuah bukti bahwa mereka tidak sepenuhnya menolak 
demokrasi, sebagaimana yang dilabeli selama ini. 



Selain itu, dari sikap kedua kandidat ini kepada FPI dapat terlihat bagaimana 
cara memperlakukan kelompok ini. Pendukung Ahok, melakukan pendekatan yang 
koersif. Terang-terangan menolak dan menganggap FPI sebagai kelompok yang 
intoleran, seperti stigma yang ada. Sementara, kelompok Anies, justru 
merangkulnya. Meski mungkin ada juga pendukung Anies yang menganggap FPI 
sebagai kelompok yang intoleran, mereka berharap, dengan dukungan ini aksi 
intoleransi yang mungkin terjadi di masa yang akan datang dapat dicegah. Bisa 
pula sebagai pendidikan politik demokrasi bagi yang selama ini dianggap tidak 
setuju dengan konsep demokrasi. 



Menghindari mudharat, mendatangkan maslahat 



Sikap yang seharusnya kita ambil dalam menghadapi pilkada Jakarta ini adalah 
menghindari mudharat dan mengupayakan mendatangkan maslahat. Pilkada Jakarta 
menjadi cerminan bagaimana seharusnya kita secara bijak mengelola masalah. 
Permasalahan pada pilkada ini memang kompleks. Mulai dari ketidakpuasan pada 
kinerja petahana, kasus penistaan agama yang menjerat petahana, hingga fenomena 
banjir bandang arus informasi yang tidak terkendali. Seharusnya masalah ini 
menyadarkan kita untuk tidak menggeneralisasi masalah dengan melakukan klaim 
kebenaran sepihak dan klaim kesalahan pada pihak yang berseberangan. 



Dapat dirasakan sendiri dampak dari klaim-klaim semacam ini. Pertama, 
memudarnya akal sehat. Dapat dilihat bahwa gagal pikir dan sesat pikir banyak 
terjadi pada proses pilkada ini. Bagaimana bisa, permasalahan yang sedemikian 
kompleks diselesaikan melalui perang meme. Gagasan pulau reklamasi dibalas 
melalui meme, begitu pula gagasan DP rumah 0% dibantah melalui meme. Hasilnya, 
bukan pencerdasan atas program yang ditawarkan, tetapi justru penghinaan pada 
kelompok yang di seberang. 



Kedua, terkurasnya energi bangsa secara tidak produktif. Banyaknya komentar 
yang tidak perlu untuk situasi di Jakarta, akhirnya hanya memperkeruh suasana. 
Adanya sebuah kekurangan di pihak lawan dieksploitasi melalui berita hoax, pun 
kelebihan di pihaknya juga diagung-agungkan melalui berita hoax. Padahal, 
modalnya hanya pelintiran pernyataan seseorang dan screenshot percakapan di 
WhatsApp. Isu lain yang lebih penting, seperti petani Kendeng yang 
memperjuangkan tanahnya, penyelesaian masalah Freeport, hingga kejahatan perang 
di Suriah, menjadi luput dari fokus pemberitaan dan perhatian publik. Semua 
hanya berkutat pada masalah di Jakarta, sembari meragukan pula validitas berita 
yang dibaca. Hasilnya justru hanya berlelah tanpa bukti nyata. 



Ketiga, munculnya keretakan di masyarakat. Dari dahulu, perbedaan pendapat 
merupakan kewajaran di negeri yang amat beragam seperti Indonesia. Di awal 
berdirinya, perbedaan pendapat antara Soekarno dan Natsir mengenai perlukah 
Islam menjadi dasar negara tidak membuat keduanya hilang rasa saling hormat. 
Kemudian, kita pun sudah terbiasa hidup berdampingan dengan berbeda pilihan 
pada pemilu semenjak masa reformasi. Sayangnya, saat ini hal itu sulit 
ditemukan hanya karena ada perbedaan. Masayarakat yang seharusnya bisa bersama, 
justru dipecah oleh perbedaan pilihan. 



Keempat, timbul pula slogan pribumi dan non-pribumi. Hal semacam ini, 
sebenarnya sangat aneh jika muncul dalam pilkada Jakarta. Sebab, kedua calon 
gubernur memiliki keturunan “asing” di dalam darahnya. Ahok berketurunan 
Tiongkok, Anies berketurunan Arab. Baru mungkin kalau mau dilihat yang murni 
pribumi ada pada wakilnya. Djarot berasal dari Jawa, dan Sandiaga berasal dari 
Minang. Selain itu, isu pribumi dan non-pribumi pun tidak lagi relevan pada 
saat ini. Ancaman itu tidak selamanya datang dari luar pada masa sekarang. Dari 
dalam pun, dapat muncul ancaman dari orang yang tidak menghargai satu dengan 
yang lain. 



Terakhir, kita kehilangan esensi yang terpenting, yakni memilih pemimpin 
Jakarta melalui pilkada yang merupakan produk demokrasi. Seharusnya, perdebatan 
lebih mengarah pada bagaimana gagasan kedua calon dapat relevan bagi kemajuan 
Jakarta, baik secara fisik maupun non fisik. Selain itu, terdapat pula 
pendidikan berpolitik yang baik agar bisa memilih pilihannya dengan alasan yang 
tepat dan menghormati alasan orang lain untuk memilih. Jika ada yang ingin 
memilih berdasarkan keyakinan agama tak perlu dipermasalahkan, juga yang ingin 
memilih bukan berdasarkan keyakinan agama pun dipersilakan. Alangkah lebih baik 
bila kedua alasan itu didukung oleh argumentasi dari visi, misi, dan program. 



Pada akhirnya, pilkada Jakarta ini membuka mata kita untuk memperbaiki bangsa 
kita. Terus menerus memperbaiki diri dan mendorong perbaikan harusnya 
dikedepankan. Jangan sampai, kita berlelah-lelah untuk sesuatu yang tidak 
tepat. Berbeda pandangan itu tidak masalah, asalkan tidak sampai menzhalimi 
kelompok yang berlainan. Jangan pula mencitrakan diri yang paling baik dan 
lawan itu paling buruk. Mendewasalah, bahwa tidak ada manusia yang sempurna. 



Pesan untuk para pemilik hak pilih, gunakanlah secara bertanggung jawab hak 
kita. Di hari kemudian, akan ada pertanggungjawaban atas hak tersebut. Di 
samping itu, kita pun bertanggungjawab pada warga lain selama lima tahun. 
Jangan sampai, pilihan kita membawa pada pemimpin yang tidak menyejukkan. 
Jangan pula membawa pada permasalahan lain, baik dari segi hukum, ekonomi, dan 
kerukunan. Kita perlu berubah, menjadi bangsa Indonesia yang lebih dewasa dalam 
bersikap. Serta tidak tergesa dalam bertindak. Dapat menjadi teladan, baik 
dalam segi kebijakan, perbuatan, dan ucapan. 



Kita memang punya hak untuk memilih. Tapi jangan lupa, kita harus bertanggung 
jawab atas hak untuk memilih tersebut. 



Selamat berpesta demokrasi Jakarta. Semoga Gubernur Jakarta dapat membawa 
Ibukota menjadi tempat yang baik, adil, dan beradab.  

Selengkapnya : 

http://www.kompasiana.com/famajiid/pudarnya-akal-sehat-dalam-pilkada-dki-jakarta_58eb12866523bdc06576991a


Kirim email ke