Apakah 'video keberagaman' Ahok-Djarot memojokan umat Islam? 
http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39551931 Christine FranciskaBBC 
Indonesia
 8 jam lalu

 Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru Bagikan artikel ini dengan 
Facebook http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39551931#  Bagikan artikel ini 
dengan Twitter http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39551931#  Bagikan 
artikel ini dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39551931#  
Bagikan artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Ftrensosial-39551931
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-39551931#share-tools




 
 Hak atas fotoFACEBOOK / BASUKI TJAHAJA PURNAMA Video kampanye Ahok-Djarot yang 
diklaim mempromosikan keberagaman menuai kritik dari berbagai pihak karena 
dianggap menyudutkan umat Islam.
 Dirilis Minggu (09/04), video berdurasi dua menit itu memperlihatkan adegan 
unjuk rasa anarkis dan juga ancaman bom - sepertinya mengacu pada serangan bom 
Thamrin yang Januari 2016- sebagai tantangan yang dihadapi ibukota Jakarta.
 Pesan keberagaman ditekankan dalam narasi berkobar-kobar disertai klip-klip 
profil warga Jakarta dari berbagai suku, agama, dan latar belakang.
 Dan, dengan mengubah kutipan terkenal Presiden Amerika Serikat John F. 
Kennedy, video itu ditutup dengan ajakan. "Jangan tanyakan darimana kau 
berasal, jangan tanyakan apa agamamu, tapi tanyakan apa yang telah kauperbuat 
untuk Jakarta."
 Isu SARA meningkat di Pilkada DKI Jakarta, salah siapa? 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39372353 Politik ekstrem kanan: Brexit, 
Trump, Wilders, dan Pilkada Jakarta? 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39303427 Kelompok Advokat Cinta Tanah 
Air (ACTA) melaporkan video tersebut ke Bawaslu, Senin (10/04) karena video ini 
dianggap menyalahi aturan kampanye.
 Yang dipersoalkan adalah potongan gambar berdurasi lima detik yang 
"menggambarkan beberapa orang berpeci hitam dan putih sedang berdemo, dengan 
latar belakang spanduk putih bertuliskan 'gayang Cina'," jelas anggota ACTA, 
Novel Bamukmin.
 Dalam penggambaran demo itu, ada pula orang dengan sorban yang dililit, yang 
menurut Novel, adalah simbol ulama atau tokoh agama Islam.
 "Ide (keberagaman) itu bagus, tetapi kan bisa tanpa gambar itu. Cuma karena 
ini permasalahan detik ke-08 sampai 13, itu jelas menyerang Islam," sambungnya.
 'Gambaran realitas' Eva Sundari, bagian dari tim sukses Ahok Djarot, 
mengatakan video itu menggambarkan "realitas-realitas yang divisualkan" dan 
"Ahok serta pendukungnya adalah korban politisasi SARA."
 "Intimidasi dan kekerasan itu realitas," katanya. "Situasi lapangan selama 
Pilkada merupakan pengalaman pahit bagi kita, bagaimana Jakarta tersobek isu 
SARA. Politisasi agama jelas membahayakan kita semua."
 Dia mencontohkan kasus penistaan agama yang menimpa Ahok dan juga sejumlah 
spanduk-spanduk 'Gayang Cina' -yang dalam konteks lebih luas- banyak ditemukan 
dalam unjuk rasa.
Hak atas fotoFACEBOOK / BASUKI TJAHAJA PURNAMAImage captionDalam menit 01.17, 
video itu juga menampilkan sejumlah pemimpin agama, termasuk Islam, Buddha, dan 
Kristen dengan balutan dengan nuansa keberagaman. Eva menolak jika video itu 
dianggap sebagai propaganda. "(Ahok-Djarot tidak punya track record politisasi 
SARA, justru menjadi korban politisasi SARA dengan kriminalisasi penistaan 
agama yang di pengadilan," tambahnya.
 Namun demikian, pihaknya mengatakan akan tetap mematuhi arahan pemegang 
otoritas, terutama Bawaslu terkait laporan ACTA tersebut.
 'Merebut gelar paling toleran' Video yang dibagikan lebih dari ribuan kali ini 
https://www.facebook.com/AhokBTP/videos/1478217008864655/ juga mendapat 
pro-kontra di media sosial.
 Pengguna Facebook, Felly Jendri menganggap video ini "mendeskreditkan golongan 
tertentu, dan berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan".
 Tapi lainnya tidak setuju karena menilai video ini justru "inspiratif dan 
menggetarkan". "Bagi saya majunya Ahok dan Djarot merupakan perwakilan 
kebhinnekaan dan suatu ujian akan falsafah hidup Bhinneka Tunggal Ika di 
masyarakat Jakarta," kata satu pengguna.
 "Merinding sekali saya melihatnya. Sadarlah wahai teman-temanku bahwa kita 
adalah satu, jika bersatu akan kuat, tetapi kalau terkoyak-koyak maka akan 
lemah kita," kata Sri Rochayati.
Hak atas fotoFACEBOOK / ANIES BASWEDANImage captionAnies-Sandi juga mengangkat 
tema kebhinnekaan dalam video kampanyenya. Terlepas dari kontroversi ini, 
pengamat politik Ray Rangkuti melihat dua pasang calon, baik Ahok-Djarot dan 
Anies-Sandi, memang tengah berlomba-lomba merebut gelar kandidat paling toleran 
dan paling merangkul keberagaman.
 Seperti diketahui, Anies-Sandi juga beberapa kali merilis video bertemakan 
Bhinneka Tunggal Ika 
https://www.facebook.com/aniesbaswedan/videos/1267079259995724/ dan 
mempopulerkan konsep Tenun Kebangsaan.
 "Sekarang berlomba-lomba ke tengah lagi. Dicoba diawal-awal putaran kedua itu 
isu SARA ternyata tanggapannya negatif," katanya. "Awalnya dianggap sentimen 
agama masih kuat, tetapi ternyata sudah stagnan. Di luar itu ternyata banyak 
yang tidak mempersoalkan agama."
 Apalagi, lanjutnya, dua partai Islam PKB dan PPP (kubu Romahurmudzy) 
dikabarkan akan mendukung paslon nomor urut dua, sehingga isu agama sudah tak 
masalah lagi. "Mau tidak mau harus ditarik ke tengah, di sinilah citra sebagau 
pluralis dan pengusung toleransi," jelas Ray.

 

Kirim email ke