Teror terhadap demokrasi

Jumat, 14 April 2017 11:16 WIB | 760 Views

Oleh M Sunyoto




Sejumlah aktivis berunjuk rasa memberi dukungan kepada penyidik KPK Novel 
Baswedan di Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (11/4/2017). (ANTARA/Adwit B 
Pramono)



Teror adalah bentuk kekejaman yang hendak melumpuhkan nyali publik dalam 
meneguhkan nilai-nilai keutamaan dalam proses politik. Semakin keji bentuk 
kebengisan itu, semakin tinggilah efektivitasnya dalam melumpuhkan nyali 
masyarakat.

Dalam film-film tentang gerombolan mafia yang diciptakan Hollywood, The 
Godfather misalnya, aneka kekejaman yang brutal itu dipertontonkan.

Penonton dibuat terhenyak dalam kengerian saat menyaksikan adegan ini: 
seseorang yang bangun dari tidurnya, ketika menyibakkan selimut yang 
dikenakannya, didapatinya sepenggal kepala kuda yang disanyanginya. 

Teror yang lahir dari perseteruan antarkelompok mafia mungkin berhenti pada 
perebutan lahan bisnis.

Namun teror terhadap pejabat atau aparat publik punya jangkauan implikasi yang 
tak berhenti pada perkara materi. Meski dalang di balik teror terhadap aparat 
itu tak menyadarinya, implikasi yang serius dari teror semacam itu adalah 
runtuhnya bangunan demokrasi yang diperjuangkan dengan darah dan air mata.

Itulah spekulasi yang kira-kira bisa ditarik dari tragedi penyiraman air keras 
ke wajah penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan oleh 
penjahat yang kini sedang dikutuk semua orang yang waras.

Penyiram pastilah cecunguk yang menjalankan perintah dari penjahat lebih tinggi 
yang sedang terancam oleh kerja KPK yang telah diwujudkan dengan memuaskan oleh 
sang penyidik.

Presiden Joko Widodo langsung melontarkan kutukan terhadap aksi teror itu. 
Seluruh percakapan media sosial mengkristal untuk menyatakan bahwa polisi harus 
menangkap pelaku penyiraman itu.

Warga dunia maya saling berbagi analasis bahwa teror terhadap KPK bisa 
diasumsikan dilakukan oleh mereka yang merasa terancam dengan kegigihan dan 
keahlian penyidik KPK dalam menangani kasus-kasus korupsi.

Logika yang secara terang benderang dimaklumi publik adalah: Novel Baswedang 
sedang menangani skandal raksasa korupsi dana pembuatan Kartu Tanda Penduduk 
(KTP) elektronik senilai Rp2,3 triliun.

Dengan demikian teror itu ditujukan untuk menghentikan penyidikan kasus 
korupsi. Namun, Ketua KPK Agus Rahardjo secara sigap mengeluarkan pernyataan 
setelah terjadinya teror terhadap Novel Baswedang bahwa KPK tak gentar dan akan 
meneruskan penanganan terhadap kasus-kasus korupsi, termasuk korupsi KTP 
elektronik yang mungkin akan menyeret para politisi berpengaruh.

Dalam menemukan pelaku penyiraman air keras, polisi boleh jadi akan mengalami 
kesulitan menemukan penjahat itu. Setidaknya, tak semudah membekuk teroris yang 
tak melibatkan banyak politisi sebagai dalang teror. Juga tak semudah menemukan 
penjahat pembantai nyawa satu keluarga.

Kenapa demikian? Karena sangat mungkin akan ada kekuatan di dalam sistem 
institusional yang akan bermain untuk menghadang kerja dalam pencarian terhadap 
peneror aparat KPK itu.

Sesulit apa pun pekerjaan menemukan penjahat penyiram air keras itu, publik 
tetap menuntut polisi sanggup menemukan sang penjahat. Syukur-syukur, dalaing 
di balik penyiraman itu juga terkuak.

Namun, dengan pernyataan bahwa KPK tak gentar dengan teror yang dilakukan 
terhadap penyidiknya, satu langkah penyelamatan terhadap demokrasi sudah 
terlewati.

Teror yang dilakukan oleh koruptor terhadap institusi pemberantas korupsi jelas 
muaranya kepada penghancuran nilai-nilai demokrasi.

Masih ingat bagaimana korupsi di era Orde Baru yang berkorelasi dengan nihilnya 
nilai-nilai demokrasi? Karena korupsi merajalela, para elite di zaman itu tak 
perlu berlomba melakukan kebaikan pada publik untuk menjadi pemimpin politik. 
Kekuasaan saat itu tak perlu diraih dengan membuktikan kerja politisi buat 
rakyat.

Dengan korupsi, suara rakyat dalam pemilu dapat dibeli dengan uang hasil 
korupsi. Proses politik di masa itu adalah rangakaian peristiwa institusional 
yang sarat dengan korupsi. Teror, yang dijalankan oleh politisi yang berkuasa, 
memperburuk keadaan sehingga yang terjadi adalah penindasan elite politik yang 
berkuasa terhadap mayoritas warga yang tak bisa menjadikan suara mereka 
bermakna.

Itulah korelasi antara teror dan demokrasi. Perbedaannya antara teror yang 
terjadi di era Orba dan sekadang hanya di sisi konteks pelaku. Jika di masa 
Orba pelakunya adalah politisi penguasa dengan korban rakyat, di masa kini 
pelakunya kemungkinan besar adalah kelompok yang terancam oleh kinerja aparat 
pemberantas korupsi.

Efek terakahirnya adalah kerugian yang dirasakan rakyat sebagai salah satu 
pemangku kepentingan paling utama demokrasi. Itu sebabnya dapat dimengerti jika 
rakyat saat ini di media sosial dengan aklamasi menuntut polisi segera 
menemukan peneror penyidik KPK.

Reaksi Agus Rahardjo dan para komisoner KPK yang tak gentar terhadap teror 
agaknya pelu didukung dengan semakin tingginya kewaspadaan polisi dalam menjaga 
para aparat pemberantas rasuah itu. 

Jangan sampai nyali aparat pemberantas korupsi yang berkobar itu tak diimbangi 
dengan perlindungan terhadap mereka dari ancaman teror yang mungkin akan 
menimpa mereka.

Kontinuitas perlindungan dan pengawalan terhadap aparat pemberantas korupsi 
harus menjadi program tetap kepolisian. Sikap lengah atau mengendorkan 
pengawalan terhadap mereka akan menjadi celah bagi penjahat yang akan meneror 
mereka.

Publik, sebagaimana terbaca dalam percakapan di media sosial, tampaknya juga 
tak keberatan jika aparat pemberantas korupsi diberi fasilitas yang dapat 
digunakan untuk membela diri ketika menghadapi penyerangan seperti yang dialami 
oleh Novel Baswedan. 



Editor: Heppy Ratna





Wisatawan China ingin pengembangan daya tarik Bali

Jumat, 14 April 2017 05:31 WIB | 1.867 Views

Pewarta: M Irfan Ilmie




Bendera Indonesia dan China. (crossed-flag-pins.com)



Beijing (ANTARA News) - Para wisatawan di China menginginkan pengembangan daya 
tarik objek wisata di Pulau Bali agar tidak monoton pada keindahan alam dan 
budaya saja.

"Keinginan wisatawan di sini mengenai Bali sudah saya sampaikan kepada 
pemerintah daerah di Bali agar dikembangkan lebih lanjut," kata Duta Besar RI 
untuk Tiongkok merangkap Mongolia, Soegeng Rahardjo, di Beijing, Jumat.

Jika masih ingin mendapatkan kunjungan dari wisatawan mancanegara, termasuk 
asal China, maka pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata di Bali harus 
berpikir cerdas dan inovatif.

Sebagai parameter keindahan objek wisata Nusantara, Bali harus bisa mewakili 
keindahan seluruh wilayah di Indonesia.

"Bali harus memberikan kesempatan kepada UMKM (usaha mikro, kecil, dan 
menengah) di seluruh Indonesia untuk memasarkan produk-produknya. Kalau bisa 
semua kerajinan dan masakan khas daerah di seluruh pelosok Nusantara harus ada 
di Bali agar bisa diketahui oleh masyarakat dunia," ujar Soegeng.

Selain itu, dia menyarankan agar Bali bisa membangun rumah sakit bertaraf 
internasional sehingga orang datang ke Pulau Dewata itu tidak hanya bertujuan 
wisata melainkan juga keperluan perawatan kesehatan seiring dengan makin 
meningkatnya kesadaran masyarakat dunia mengenai pentingnya kesehatan dan 
kebugaran.

"Dan, yang tidak kalah pentingnya adalah Bali juga harus bisa mengembangkan 
diri sebagai pusat penelitian ilmu pengetahuan," katanya menambahkan.

Jumlah wisatawan mancanegara asal negeri Tirai Bambu itu yang berkunjung ke 
Bali menunjukkan tren peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.

Pada bulan Januari 2017 jumlah wisatawan China ke Bali telah mencapai angka 
194.975 orang, jauh melampaui target Kementerian Pariwisata RI yang hanya 154 
ribu orang dan lebih tinggi dibandingkan kunjungan pada periode yang sama tahun 
lalu yang hanya 108.563 orang.

Kunjungan wisatawan China ke Indonesia pada bulan Januari 2017 juga melampaui 
beberapa negara lain di kawasan Asia-Pasifik.

Pada 2016, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara asal daratan Tiongkok itu 
tercatat sebanyak 1.452.971 orang atau meningkat 27,31 persen dibandingkan 
kunjungan pada 2015 yang tercatat 1.141.330 orang.

Untuk merealisasikan target tersebut Kementerian Pariwisata gencar menggelar 
pameran wisata di beberapa daerah di daratan Tiongkok. Pada tahun ini tercatat 
beberapa pameran digelar Kemenpar, di antaranya promosi paket wisata golf di 
Langfang, Provinsi Hebei, Kamis (6/4). Jajaran Pemkab Badung, Bali, juga 
memasarkan pariwisata Bali di Tianjin dan Mongolia Dalam pada pekan ini.

Dalam Forum Boao Asia yang digelar di Provinsi Hainan menjelang akhir bulan 
lalu, Wakil Perdana Menteri China Zhang Gaoli menyebutkann bahwa 700 juta 
warganya akan melakukan perjalanan wisata ke luar negeri selama lima tahun ke 
depan.

Hal ini menunjukkan bahwa pihaknya membuka pintu yang seluas-luasnya bagi 
warganya yang hendak berwisata ke luar negeri, termasuk ke Indonesia, seiring 
makin meningkatnya taraf hidup masyarakat Tiongkok tersebut. 

(T.M038/B/T007)

Editor: Ruslan Burhani




Kirim email ke