Ikhtiar Anies-Sandiaga Merebut Pilkada Kedua DKI Jakarta 
https://tirto.id/ikhtiar-anies-sandiaga-merebut-pilkada-kedua-dki-jakarta-cmQ6 
Anies-Sandiaga berfokus membersihkan isu negatif dan menjaring basis pemilih 
berdasarkan ikatan daerah.
 Ahok-Djarot Menjaring Pemilih Muslim di Putaran Ke ... 
https://tirto.id/ahok-djarot-menjaring-pemilih-muslim-di-putaran-kedua-cmQ4Ikhtiar
 Anies-Sandiaga Merebut Pilkada Kedua DKI J ... 
https://tirto.id/ikhtiar-anies-sandiaga-merebut-pilkada-kedua-dki-jakarta-cmQ6

 
 Anies Baswedan-Sandiaga Uno https://tirto.id/m/anies-baswedan-sandiaga-uno-Jq


 Reporter: M. Ahsan Ridhoi 
https://tirto.id/author/mahsan?utm_source=internal&utm_medium=topauthor
 17 April, 2017dibaca normal 7 menit

 Tim Anies-Sandiaga sampai perlu bikin situsweb buat menjernihkan kampanye 
negatif Kampanye tim sukses Anies-Sandiaga difokuskan di Jakarta Barat dan 
Jakarta Utara
    
mailto:?subject=Ikhtiar%20Anies-Sandiaga%20Merebut%20Pilkada%20Kedua%20DKI%20Jakarta&body=https://tirto.id:443/ikhtiar-anies-sandiaga-merebut-pilkada-kedua-dki-jakarta-cmQ6
 4 Shares

 Anies-Sandiaga berfokus membersihkan isu negatif dan menjaring basis pemilih 
berdasarkan ikatan daerah.

 tirto.id https://tirto.id/?utm_source=internal&utm_medium=Article - Dua hari 
setelah masa kampanye putaran kedua Pilkada DKI Jakarta https://tirto.id/dki 
dimulai, 9 Maret lalu, di hadapan sejumlah warga RT 11 RW 06, Grogol Utara, 
Anies Baswedan https://tirto.id/q/anies-baswedan-bc1 menyatakan bila ia 
terpilih semua program milik petahana akan tetap dilanjutkan, bahkan 
ditingkatkan. Salah satu program itu adalah Kartu Jakarta Pintar (KJP) yang 
menurutnya akan ditingkatkan menjadi KJP Plus. 

Pernyataan yang sama disampaikan Anies di tempat lain, di antaranya di Jati 
Pulo (Jakarta Barat) pada 15 Maret dan di Kamal Muara (Jakarta Utara) pada 19 
Maret. Menurutnya, pernyataan itu untuk mengklarifikasi adanya isu yang beredar 
di masyarakat bila Anies-Sandiaga terpilih, seluruh program petahana akan 
diberhentikan. 

“Isunya banyak di Utara. Selatan juga ada. Disebarkan dari mulut ke mulut,” 
kata Anies saat itu. 

Isu negatif yang menerpa kandidat Anies dan Sandiaga Uno 
https://tirto.id/q/sandiaga-uno-k8 ini rupanya sempat bikin basis pemilihnya 
ragu-ragu buat mencoblosnya lagi di putaran kedua.

Furqon, 45 tahun, warga Jati Pulo, memilih pasangan Anies-Sandiaga 
https://tirto.id/m/anies-baswedan-sandiaga-uno-Jq. Tetapi, gara-gara isu 
negatif itu, ia bilang sempat goyah buat mencoblos kandidat yang sama. Furqon 
cerita, beberapa hari sesudah pencoblosan putaran pertama, 15 Februari lalu, 
beredar kabar di wilayahnya bila KJP dan Kartu Jakarta Sehat (KJS) akan 
dihentikan bila Anies-Sandiaga terpilih.

“Di sini basis Anies-Sandiaga. Kemarin menang di TPS sini," kata Furqon. "Ya, 
banyak yang dengar isu itu. Tapi kan kita enggak tahu bener atau enggak." 

"KJP dan KJS itu sangat membantu. Anak saya sekolah pakai KJP. Setelah dengar 
kata Pak Anies, sekarang Insyaallah pilih dia lagi,” kata Furqon di Jati Pulo, 
15 Maret lalu. Fokus pada Klarifikasi Isu NegatifMengklarifikasi bermacam isu 
negatif ini memang jadi salah satu fokus dari tim pemenangan Anies-Sandiaga 
dalam kampanye putaran kedua. 

Ketua Tim Pemenangan Mardani Ali Sera berkata ada tiga fokus utama tim. 
Pertama, mengambil pemilih tradisional dengan fokus klarifikasi isu bahwa 
Anies-Sandiaga tidak akan melanjutkan program yang sudah ada. Kedua, memperkuat 
akar rumput dengan program apa yang disebut 'Rembug Reboan.' Ketiga, memperkuat 
advokasi agar Daftar Pemilih Tetap (DPT) bersih dari manipulasi.

Namun, dalam perjalanannya, tidak hanya isu seputar program KJP dan KJS yang 
perlu diklarifikasi oleh kandidat nomor urut tiga itu. Isu lain pun bertambah, 
seperti penerapan Perda Syariah oleh Anies-Sandiaga bila nanti terpilih dan 
penjiplakan lagu kampanye. Buat membersihkan isu-isu ini, tim Anies-Sandiaga 
membuat situs bernama fitnahlagi.com. http://fitnahlagi.com/ Isinya, kumpulan 
beragam hal yang dianggap fitnah dan kampanye hitam yang ditujukan kepada 
pasangan ini. 

Menurut Anies, keberadaan situs itu dimaksudkan agar ia bersama Sandiaga dan 
timnya, tidak membuang banyak waktu buat menjernihkan isu-isu negatif. 

"Kalau kami biasa saja, tetapi daripada kami setiap waktu harus menjawab, ada 
yang tanya ini benar apa enggak, ya sudah, bikin website aja agar semua bisa 
mengecek," kata Anies di Posko Anies-Sandiaga, Menteng, Jakarta Pusat, 27 Maret 
lalu. 

Kendati begitu, Anies dan Sandiaga tetap angkat bicara perihal beberapa isu 
yang ditujukan kepada keduanya. Misalnya, soal beredarnya spanduk bertuliskan 
akan diubahnya DKI Jakarta menjadi provinsi dengan Perda Syariah yang disertai 
foto pasangan itu bersama Ketua Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab  
https://tirto.id/q/rizieq-shihab-dl7di beberapa titik di Jakarta pada 3 April 
lalu. 

Dalam satu konferensi pers di Posko Cicurug, 3 Maret, Anies menegaskan spanduk 
itu bukan dibuat oleh pihaknya. Sebaliknya, ia menuduh "ada pihak tertentu yang 
sengaja memasang spanduk di beberapa titik tertentu secara masif guna memfitnah 
dirinya." Ia pun menyatakan fitnah semacam itu sebagai hobi yang kurang keren.

Tak kalah tegas dari Anies, Sandiaga menyuruh seluruh relawannya untuk mencopot 
spanduk-spanduk itu di sejumlah wilayah di Jakarta. Ia menegaskan, adanya 
spanduk itu tak lain "sebuah bentuk provokasi dan pengkotak-kotakan" warga DKI 
Jakarta. 

"Boleh beda pandangan, tapi kalau jagonya mau kalah jangan menyebar provokasi 
yang membuat warga merasa antarcalon pemimpinnya tidak berhubungan dengan 
baik," kata Sandiaga di Cilincing, Jakarta Utara, 3 Maret. 

Sampai masa akhir kampanye putaran kedua, 15 April kemarin, isu negatif "akan 
menerapkan Perda Syariah bila terpilih" menjadi fokus klarifikasi oleh tim 
Anies-Sandiaga. Anies menegaskan, justru bila ia memenangi kursi DKI-1, ia 
berpegang pada konstitusi dan Pancasila. 

"Kami berkomitmen menjadikan Jakarta sebagai contoh kota yang bersatu. Otomatis 
semua Perda yang ada di Jakarta berdasarkan UUD 1945 dan Pancasila. Itu 
komitmen kami,” kata Anies di Utan Kayu, Jakarta Timur, 13 April lalu.

Tak hanya pasangan calon, konsultan politik mereka PolMark Indonesia, Eko 
Bambang Subiantoro, menyatakan isu politisasi agama telah merugikan kliennya 
dan mendiskreditkan dirinya. 

"Setiap kali pasangan Anies-Sandiaga dituduh melakukan politisasi agama, itu 
mencederai kami dan masyarakat yang telah memilihnya," kata Eko di Menteng, 10 
April lalu.

Namun, menurut peneliti Saiful Mujani Research Centre (SMRC), Sirajudin Abbas, 
kemunculan isu yang mengaitkan Anies-Sandiaga dengan politisasi agama ialah 
"hal wajar" mengingat mereka dekat dengan kelompok-kelompok Islam pendukung 
Perda Syariah. 

"Bagaimana mau memisahkan Anies-Sandi dari kelompok Islam pendukung utamanya 
seperti FPI, FUI, dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang jelas-jelas 
menyuarakan penerapan syariat Islam?" kata Sirajudin kepada reporter Tirto.

Menurutnya, isu itu sebenarnya bisa dihindari apabila Anies-Sandiaga sejak jauh 
hari mengambil jarak dari kelompok yang punya gagasan tersebut.

"Jika mereka ingin mengambil jarak, semestinya dari jauh-jauh hari dilakukan 
ketika kelompok-kelompok itu gencar kampanye anti pemimpin non-muslim," katanya.
 Merebut Basis Massa Pemilih Ahok-DjarotSebagaimana diucapkan Mardani Ali Sera 
kepada reporter Tirto, 8 Maret lalu, ada tiga daerah yang menjadi prioritas 
untuk merebut suara pemilih, yakni daerah menang, daerah basis massa 
Agus-Sylvi, dan daerah kalah. 

Dari hasil rekapitulasi KPU DKI Jakarta 
https://pilkada2017.kpu.go.id/hasil/t1/dki_jakarta putaran pertama, pasangan 
Anies-Sandiaga menang di wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Sebaliknya, 
pasangan Ahok-Djarot 
https://tirto.id/m/basuki-tjahaja-purnama-djarot-saiful-hidayat-Jp menang di 
wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu. 

Merujuk hasil itu, kerja-kerja tim sukses Anies-Sandiaga di putaran kedua 
difokuskan pada wilayah barat dan utara Jakarta. 

Jadwal kampanye mereka, yang diterima reporter Tirto, memang lebih banyak ke 
dua wilayah tersebut. Ini berbeda dari putaran pertama yang lebih banyak 
diarahkan ke selatan dan timur Jakarta.

Meski begitu, Anies berkilah bahwa fokus ke Jakarta Barat dan Jakarta Utara 
sebagai usahanya merebut basis pemilih Ahok-Djarot. “Sebenarnya basis kita 
semua Jakarta. Malah kami merasa Jakarta ini harus jadi rumah bagi semua," kata 
Anies, dengan nada diplomatis yang jadi ciri khasnya dan tidak menjelaskan 
apa-apa, di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, 19 Maret lalu.

Anies menuturkan, bila masih memikirkan basis massa, pembangunan di Jakarta 
tidak akan terwujud. Sebaliknya, ia mengklaim kedatangannya di wilayah basis 
massa Ahok-Djarot adalah untuk menjadi, dalam kata-katanya, "penjembatan antara 
warga DKI Jakarta dari pengkotak-kotakan basis dukungan." 

 share infografik

 Mengunjungi Basis Primordial
Anies Baswedan tak hanya fokus di Jakarta. Selama empat hari, 28-31 Maret, ia 
mengunjungi Pekalongan dan Tegal di Jawa Tengah. Menurut Mardani Ali Sera, 
lawatan itu buat "silaturahmi dan meminta doa para ulama," bukan untuk meraih 
dukungan komunitas tertentu guna mendulang suara di putaran kedua Pilkada DKI 
Jakarta. 

“Dalam rangka mengetuk pintu langit. Kalau ada efek elektoral, itu bonus saja,” 
kata Mardani kepada reporter Tirto melalui pesan singkat, sesudah kunjungan 
tersebut. 

Berbeda dengan Mardani, Anies mendatangi daerah di pinggiran utara Jawa itu 
buat menyapa komunitas yang banyak warganya tinggal di Jakarta. "Ini strategi 
atau bukan, tidak bisa dijelaskan sekarang," tambah Anies saat berkampanye di 
Mall Kelapa Gading, 2 April lalu.

Bila merujuk hasil survei, misalnya dari konsultan politik mereka lewat PolMark 
Indonesia, ada 34,1 persen orang Jawa di Jakarta yang mengaku akan memilih 
pasangan Anies-Sandiaga untuk putaran kedua. Sebaliknya, 36,2% orang Jawa akan 
memilih pasangan Ahok-Djarot. Sisanya, 36,3% masih merahasiakan dan 38,5% tidak 
menjawab.

Sirajudin Abbas dari SMRC memberi pandangan bahwa buat melihat maksud dari 
kunjungan Anies, bisa dengan mengidentifikasi komunitas primordial yang 
didatanginya selama empat hari di akhir Maret itu. Menurutnya, kita bisa 
menduga target pemilih yang memang tengah disasar Anies. “Ini bisa 
diidentifikasi dari simbol organisasi primordialnya,” kata Sirajudin.

Salah satu lawatan Anies ke Kampung Warteg di Kelurahan Cabawan, Tegal. Kampung 
ini disebut-sebut sebagai daerah asal mayoritas pedagang warteg di Jakarta. 
Sebelumnya, Anies telah mendapatkan dukungan dari Kowarteg (Koperasi Warung 
Tegal) Jakarta Raya yang mempunyai 28 ribu anggota. Melalui ketuanya, H. 
Sastoro, Kowarteg mendeklarasikan dukungan untuk Anies-Sandiaga di IS Plaza, 
Jakarta Timur, 4 Maret lalu.

Anies merespons dengan mengatakan "dukungan pengusaha Warteg tidak dapat 
dipandang sebelah mata." Pengusaha warteg, kata Anies, sangat mungkin bertemu 
dan menyapa pelanggan setiap saat untuk mengajak memilihnya. 

"Sangat signifikan. Jumlah warteg ada banyak. Kalau setiap warteg meyakinkan 10 
orang saja, jumlah ini bukan sekadar angka kosong," ujar Anies di acara 
deklarasi itu.

Selain mendulang suara primordial, Sirajudin menilai Anies juga berupaya 
mencari dukungan dari ulama dan kalangan Nahdlatul Ulama. Menurutnya, ini 
terlihat dari kedatangan Anies ke rumah Habib Luthfi bin Yahya di Pekalongan. 
Habib Yahya adalah ketua Jamiyah Ahlu Thariqah Mutabarah An-Nahdliyah, salah 
satu Badan Otonom NU. Anies juga mengunjungi Pesantren At-tauhidiyah di Tegal. 

Di kubu lawan, Djarot Saiful Hidayat juga mengunjungi KH Mustofa Bisri atau 
akrab disapa Gus Mus pada 3 Maret lalu. 

“Bisa dibilang itu untuk meraih simpati warga NU. Ini sama yang dilakukan oleh 
Djarot ketika mengunjungi pesantren-pesantren di Jawa, seperti ke pesantren Gus 
Mus,” kata Sirajudin.

Lagi-lagi Anies Baswedan berkilah kalau kunjungannya ke kediaman Habib Luthfi 
buat mencari simpati dan dukungan ulama sebagai upaya merebut kursi DKI-1. 
Menurut Anies, Habib Luthfi adalah sosok ulama dan negarawan yang tidak akan 
memberikan dukungan secara eksplisit kepada seorang kandidat calon politik. 
Sebaliknya, Anies mengaku kunjungannya untuk bersilaturahmi dan meminta doa 
restu. 

“Kebetulan mampir saja ke rumah Habib Luthfi untuk bersilaturahmi dan meminta 
doa. Beliau adalah sosok yang patut untuk dikagumi,” kata Anies.
 Mengamankan Suara DPTDi akhir masa kampanye, Anies Baswedan mengimbau kepada 
tim sukses buat "memperketat pengamanan suara" menjelang, saat pemilihan, dan 
setelah pemilihan. Menurutnya, itu untuk menekan apa yang ia sebut jumlah "TPS 
unik." 

Itu disampaikan Anies dalam sambutannya saat menghadiri sebuah rapat koordinasi 
pemenangan Pilkada Jakarta di Hotel Kartika Chandra, Semanggi, 13 April 
kemarin. Acara itu mengumpulkan anggota fraksi dari PKS, salah satu partai 
pengusung Anies-Sandiaga, dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten maupun kota, 
di tiga daerah: Banten, Jakarta, dan Jawa Barat.

Istilah "TPS unik" dipakai Anies buat menyebut dugaan adanya sejumlah TPS di 
putaran pertama yang dimenangkan pasangan Ahok-Djarot dengan persentase lebih 
dari 90 persen. 

“Kalau itu hanya terjadi di beberapa TPS wajar. Tapi ini ada lebih dari 500 
TPS. Menurut saya itu unik,” kata Anies.

Eko Bambang Subiantoro dari PolMark Indonesia memakai istilah "mencurigakan" 
buat menyebut 542 TPS, di mana pasangan Ahok-Djarot unggul pada putaran 
pertama. Dari data PolMark, sebaran terbanyak 542 TPS ini di Jakarta Barat dan 
Jakarta Utara. Masing-masing lebih dari 200 TPS dengan rata-rata kemenangan 
Ahok-Djarot mencapai 96 persen. 

"Hasilnya unik," kata Eko dalam sesi diskusi bertajuk 'Pilkada Bersih-Sehat 
Waspada Operasi Peci Kumis' di Menteng,  10 April lalu.

Eko mencurigai penambahan signifikan jumlah Daftar Pemilih Tambahan di 542 TPS 
tersebut. Ia menyindir TPS-TPS itu dengan istilah "ajaib." Ia mengklaim, 
terjadi penambahan DPTb di TPS-TPS itu melebihi batas maksimal penambahan yang 
telah ditetapkan dalam Peraturan KPU Nomor 10/2015 pasal 22 sebanyak 2,5 persen 
dari DPT yang ada. 

Sebelumnya, pada 7 April, tim pemenangan Anies-Sandiaga menyampaikan dugaan 
temuan "pemilih invalid" dalam DPT putaran kedua Pilkada DKI Jakarta. 
Jumlahnya, klaim mereka, sekitar 153.000 DPT, termasuk di dalam 2.333 pemilih 
ganda di Jakarta Utara. Berdasarkan hal itu, tim ingin KPU melakukan evaluasi 
ulang terhadap DPT secara bersama-sama dengan tim kedua pasangan calon. 

"Kami meminta KPU DKI Jakarta untuk me-review lagi DPT bersama Dukcapil, Timses 
nomor dua dan timses nomor tiga," kata M. Taufik, ketua pemenangan 
Anies-Sandiaga, dalam satu konferensi pers di Posko Cicurug, Menteng, 9 April 
lalu.

Namun, proses untuk mengevaluasi kembali ini belum dilakukan KPU DKI Jakarta 
sampai hari terakhir penetapan DPT, 13 April lalu. Hingga kini, menjelang dua 
hari pencoblosan, tim pemenangan Anies-Sandiaga belum menandatangani hasil 
rapat pleno mengenai DPT Pilkada DKI Jakarta. 

“Kami akan terus mengawasi perkara DPT. Ini akan menjadi catatan kami, dan 
sampai sekarang kami pun belum menandatangani hasil rapat pleno DPT. Karena, 
kami rasa, itu belum valid,” kata Mardani Ali Sera di kantor Indikator Politik 
Indonesia, Cikini, 15 April kemarin.

Mengenai proses dan bentuk pengamanan suara DPT, Jazuli Juwaeni, ketua fraksi 
PKS, menyatakan akan menyebar 325 kader buat mengawasi lima wilayah Jakarta 
selama lima hari. 

Presiden PKS Sohibul Iman menyatakan partai pengusung Anies-Sandiaga akan 
menerjunkan 260 ribu relawan dan kader di hari pencoblosan. Dari jumlah itu, 
akan ada 20 kader PKS di setiap TPS. 

“Mereka tidak boleh pulang sampai tanggal 20 April,” kata Jazuli di Hotel 
Kartika Chandra. 

Baca juga artikel terkait PILKADA DKI JAKARTA 2017 
https://tirto.id/q/pilkada-dki-jakarta-2017-cmJ?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword
 atau tulisan menarik lainnya M. Ahsan Ridhoi  
https://tirto.id/author/mahsan?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor
 (tirto.id - san/fhr)
 



 

Kirim email ke