From: B.DORPI P. 
Sent: Thursday, April 20, 2017 11:42 AM

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1498817066830408&id=433295503382575&p=10&refid=52

Selasa, 18 Apr 2017


Walah, Sri Mulyani Ternyata Menteri Pengutang "Terbaik" se-Asia
Rizal Ramli



KONFRONTASI - Pada Maret lalu, Sri Mulyani Indrawati (SMI) digelari sebagai 
menteri keuangan terbaik Asia oleh Majalah Finance Asia yang berbasis di 
Hongkong. Alasan pemberian gelar ini, yang saya tangkap, adalah SMI dianggap 
berhasil dalam program pengampunan/amnesti pajak (tax amnesty) dan berhasil 
membuat anggaran (APBN) 2016 menjadi kredibel.


Sepintas lalu, penghargaan ini memang terlihat sebagai sesuatu yang wah. Tapi 
coba kita periksa lagi, ternyata para menteri keuangan China, Jepang dan 
Singapura tidak pernah mendapat penghargaan itu karena mereka pastikan bunga 
murah untuk bangsanya, bukan justru bunga mahal seperti Sri Mulyani yang hanya 
untuk popularitas pribadi, tapi merugikan bangsanya sendiri.

Amnesti Pajak


Yang perlu diperjelas kepada publik adalah SMI bukanlah pencetus ide amnesti 
pajak. Ide ini sudah ramai jauh sebelum SMI bergabung sebagai menteri keuangan 
dalam Kabinet Jokowi. Bila pun ada yang harus diberikan penghargaan untuk ide 
amnesti pajak, orang tersebut adalah sang pencetusnya yaitu Bambang 
Brodjonegoro, mantan Menteri Keuangan sebelum SMI yang kini menjabat sebagai 
Menteri BPN/Kepala Bapennas.


Di sisi pelaksanaan program amnesti pajak, yang justru adalah bagian SMI, para 
pengamat ekonomi dalam negeri yang tergabung dalam INDEF malah memberi raport 
merah. SMI dianggap gagal menjalankan program ini sesuai tujuan yang 
diamanatkan UU No 11/2016 tentang Pengampunan Pajak. 

Ada empat catatan kritis atas pelaksanaan amnesti pajak, yang coba saya 
kombinasikan dengan yang dibuat INDEF. 

Pertama. Berdasarkan simulasi yang dilakukan INDEF, aset repatriasi yang 
diperoleh dari program tax amnesty ternyata tidak berpengaruh secara signifikan 
terhadap likuiditas, nilai tukar, suku bunga, dan investasi.


Kedua. INDEF juga mencatat, dari sisi objek pajak hanya 0,15 persen (50.385 
wajib pajak baru) wajib pajak potensial 2016 yang berhasil tersaring, program 
ini pun hanya diikuti oleh 2,95 persen (995.983 wajib pajak) wajib pajak yang 
terdaftar tahun 2016.


Ketiga. Dari target penerimaan pajak sebesar Rp 165 triliun, hanya berhasil 
dipenuhi sekitar 64,8 persen (Rp 107 triliun). Keempat. Dari target dana 
repatriasi sebesar Rp 1.000 triliun, hanya berhasil dipenuhi sebesar 14,4 
persen (Rp 144,78 triliun).

Menteri Pengutang "Terbaik"


Alasan lain diberikannya penghargaan menteri keuangan terbaik Asia adalah SMI 
dianggap berhasil membuat APBN 2016 menjadi kredibel, yang dicapainya melalui 
serangkaian pemotongan anggaran pembangunan dan subsidi sosial. Kebijakan 
pemotongan/pengetatan anggaran (austerity policy) yang dilakukan SMI ini 
senafas dengan kebijakan Bank Dunia di negeri-negeri yang sedang krisis di 
Eropa Barat, yang hasilnya malah memperburuk situasi ekonomi dalam negeri 
mereka. 

Meskipun buruk bagi perekonomian suatu negara, tapi kebijakan pengetatan 
anggaran ini jelas menguntungkan bagi para pemegang surat utang (bond holder). 

Ketika berbagai anggaran pembangunan dan subsidi sosial dipotong, akan semakin 
tersedia ruang untuk melunasi bunga dan cicilan utang kepada para pemegang 
surat utang pemerintah Indonesia


Perlu diketahui, si pemberi penghargaan, Majalah Finance Asia, berdiri pada 
tahun 1996 untuk meng-cover pemberitaan seputar bank-bank finansial, pasar 
uang, dan lembaga pembiayaan di kawasan Asia Pasifik. 

Para pembaca majalah ini meliputi para CEO dan CFO lembaga finansial, broker 
eksekutif, dan manajer portofolio yang tentu sangat berkepentingan dengan surat 
utang Indonesia.


Dan pemberian penghargaan pada 22 Maret lalu ternyata semakin membuat SMI 
bekerja sesuai harapan para investor pasar uang, para pembaca majalah Finance 
Asia. Pada 27 Maret dan 6 April 2017 Kementerian Keuangan Indonesia mengadakan 
lelang surat utang/surat berharga negara dengan bunga/yield yang sangat mahal 
bila dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Timur.

Terdapat 10 negara Asia Timur, termasuk Indonesia, yang coba saya bandingkan 
antara pertumbuhan ekonomi dengan yield bertenor 1 tahun dan 10 tahun.
yaitu;


1. Indonesia, pertumbuhan ekonomi: 5,04%; yield (1th): 6.17%; yield (10 th): 
7,08%
2. Malaysia, pertumbuhan ekonomi: 4,5%; yield (1th): 3,3%; yield (10 th): 4,1%
3. Filipina, pertumbuhan ekonomi: 6,8%%; yield(1th): 2,9%; yield (10 th): 5,4%
4. Vietnam, pertumbuhan ekonomi: 6,2%%; yield(1th): 3,9%%; yield (10 th): 5,76%
5. Singapura, pertumbuhan ekonomi: 1,8%; yield(1th): 0,97%; yield (10 th): 2,1%
6. Thailand, pertumbuhan ekonomi: 3,2%; yield(1th): 1,57%; yield (10 th): 2,6%
7. Korea Selatan, pertumbuhan ekonomi: 2,3%; yield(1th): 1,5%; yield (10 th): 
2,2%
8. Tiongkok, pertumbuhan ekonomi: 6,7%; yield(1th): 3,1%; yield (10 th): 3,4%
9. Taiwan, pertumbuhan ekonomi: 1,4%; yield(1th): 1,5%; yield (10 th): 2,08%
10. Hongkong, pertumbuhan ekonomi: 1,9%; yield(1th): 0,6%; yield (10 th): 1,42%


Dapat dilihat, meskipun Indonesia menempati posisi keempat tertinggi dalam hal 
pertumbuhan ekonomi, namun SMI tetap saja "bermurah hati" menjual surat utang 
Indonesia dengan memberikan yield paling tinggi bila dibandingkan dengan 
negara-negara lain di kawasan Asia Pasifik. 

Tingginya bunga/yield surat utang akan membuat Indonesia harus menanggung 
pelunasan cicilan dan bunga yang tinggi juga dibandingkan yang dibayarkan 
negara lain di kawasan. 

Apa yang dilakukan SMI ini jelas akan sangat merugikan Indonesia di masa 
mendatang, karena ia menutup lubang dengan menciptakan lagi lubang yang lebih 
besar di masa depan.


Melihat semua fakta di atas, SMI memang sangat layak ditetapkan sebagai yang 
"terbaik" (baca: paling tega, konyol) di Asia. 

Tapi bukan sebagai menteri keuangan, melainkan sebagai menteri pengutang. 

Dan perlu ditekankan, "terbaik" di sini maksudnya bukan "baik" bagi kalangan 
masyarakat Indonesia tetapi "baik" bagi para investor pemegang surat utang. 

Sekali lagi, ternyata para menteri keuangan China, Jepang dan Singapura tidak 
pernah mendapat penghargaan itu karena mereka pastikan bunga murah untuk 
bangsanya, bukan justru bunga mahal seperti Sri Mulyani yang hanya untuk 
popularitas pribadi, tapi merugikan bangsanya sendiri. 

Sungguh tega, pengelabuan dan konyol Sri Mulyani. 

[***]
____________________________________
Oleh: Gede Sandra, Peneliti Lingkar Studi Perjuangan



Kemarin pukul 16:37 · Publik

Daniel Djunaidi Tanudjaja
Pak Rizal.yang penting bagaimana Indonesia bisa stabil dalam perimbangan 
ekonomi dan kesejahterahan dapat dinikmati. Memang kita merasa iba kalo kanak 
cucu kita yg menanggung beban negara yg demikian besar. Tapi satu harapan bagi 
kami. Jangan ada perpecahan dan striki diantara anak bangsa. Dengan tenang dan 
bergandeng tangan kita hadapi kesulitan ini. Saya yakinselangkah perbaikan 
negri ada. Kami percaya ide positip bapak dibutuhkan. Terimaksih.
Kemarin pukul 0:03
Aji Praditya
Benar prof, tax amnesty buat si kaya, kenaikan pajak, pencabutan subsidi buat 
si miskin, padahal kalau ga ada tax amnesty bisa ditarik paksa dipidanakan tuh 
milliarder2, persis kayak di amrik, tax cut for billionaire but cut on social 
benefit for middle class
9 · Selasa pukul 17:08
Abdul Zailani
Emang bukan ide pak jokowi.. tp kalau bukan dia presidenya mungkinkah ada yg 
bahkan melirik tax amnesti??

Dan tulisan diatas juga hanya pendapat . .masih banyak pendapat lain yg bisa 
kita baca ...yg lebih masuk akal
1 · Kemarin pukul 2:00

Nelson Hutagaol
Yah kan salah satu program pemerintah sekarangkan mendatNgkN investor, tentu 
setiap investor adalah kebanyKN mengutang maka sekaranh NKRI adalah banyak PMA 
yg akhirnya jadi milik mereka,
10 jam yang lalu
Hari Yanto
Ada baiknya kalau rr debat sama smi secara terbuka, biar keliatan yg bener aja
6 · Selasa pukul 17:14
Sugi Sugiono
Tulisan cerdas....tks pak Rizal Ramli. Biasalah para kecebong kejang kejang 
kalau rajanya dikritik.
4 · Selasa pukul 23:02
Bayu Santoso
Track record bang RR dari dulu pro rakyat kecil..SMI mana pernah statementnya 
buat rakyat kecil..???
4 · Selasa pukul 22:28
Bang Wan
Walah. ..edan rek rek. harus masuk koran ne biar indonesia tau sebenar benarnya 
pada faktanya. Lanjutkan bung, mari tetap perjuangan NKRI
4 · Selasa pukul 17:39
Pebri Haerudin
Jika berbincang dengan Sales Marketing Bank.. Pinjaman 10jt saja Bank berani 
kasih Komisi/Fee total 1jt. Bagaimana Ribuan Trilyun ya ?.... 1% persen saja 
sudah luar biasa...
4 · Selasa pukul 17:18
Oney Rasmoro P Aji
Bagus artikelnya. Sbg penyeimbang informasi. Ijin share pak Rizal?
3 · Selasa pukul 16:50
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Kirim email ke