Ketika Anies-Sandi menang dengan kekuatan Islamis

  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|    |  
Ketika Anies-Sandi menang dengan kekuatan Islamis - BBC Indonesia
 Kemenangan Anies-Sandi yang didukung oleh partai serta kelompok Islam bisa 
jadi mengangkat peluang dikeluarkanny...  |   |

  |

  |

 
Nuraki AzizBBC Indonesia   
   - 20 April 2017
   
Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim
Hak atas fotoREUTERSImage captionAnies Baswedan di antaranya didukung partai 
Islam, Partai Keadilan Sejahtera, dalam Pilkada Jakarta.Kemenangan Anies 
Baswedan-Sandiaga Uno atas Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dan wakilnya, 
Djarot Syaiful Hidayat, disikapi beragam oleh berbagai kalangan.Di antaranya 
rasa keterkejutan meskipun pemakaian agama dipandang memang sebuah senjata yang 
ampuh, seperti dikatakan Rumadi Ahmad, Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan 
Sumber Daya Manusia, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, NU."Terus terang saya agak 
surprised karena saya menduga perbedaannya tidak sebanyak itu. Tapi saya bisa 
memahami karena alat yang digunakan untuk melakukan perlawanan terhadap Ahok 
adalah alat yang sangat tajam."Siapapun yang ditusuk dengan menggunakan issue 
agama, pasti dia akan tersungkur," tegas Rumadi.   
   - Pilkada DKI: Anies sebut 'fase yang menemui ujung'
   - Ucapkan selamat pada Anies Baswedan, Ahok akui kekalahan
   - Pilkada DKI: Kisruh di TPS Rizieq Shihab, Ketua PPS sempat diusir
Kemenangan Anies ini tampaknya memang disebabkan sebagian besar pemilih di 
Pilkada Jakarta -yang jumlahnya sekitar tujuh juta orang- lebih mementingkan 
kesatuan iman, sesama Muslim, dibandingkan keampuhan program, kata Prof. Dr. 
Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia."Bagi orang 
yang memilih Ahok Djarot itu, tiga faktor teratas yang menjadi syarat memilih 
adalah kinerjanya bagus, programnya bagus, karakteristiknya bersih, tidak 
dikorupsi, tegas dan bisa memimpin.Tetapi situasinya berkebalikan dengan alasan 
memilih Anies."Faktor pertamanya itu karena seiman dengan saya, Anies dianggap 
memperjuangkan Islam, agama, dan baru faktor ketiga, Anies itu dianggap 
humanis," kata Hamdi.Hak atas fotoREUTERSImage captionSandiaga Uno, Hary 
Tanoesoedibjo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto setelah memberikan suara 
hari Rabu (19/04).
Indikasi Pilpres?
Apakah hasil pilkada Jakarta, yang merupakan barometer peta politik Indonesia, 
akan menentukan arah pemilihan presiden 2019 yang akan datang?Presiden Joko 
Widodo merupakan mantan atasan Ahok saat keduanya memimpin Jakarta, sementara 
Prabowo Subianto -yang kalah dalam Pilpres 2014- secara terbuka menyatakan 
dukungan terhadap Anies.Busyro Muqoddas, Ketua Bidang Hukum dan Hak Asasi 
Manusia Muhammadiyah, mengatakan masuk akal jika sebagian pihak memiliki 
pandangan seperti itu, tetapi sebenarnya ada keterlibatan kelompok-kelompok 
lain."Orang tidak keliru jika kemudian membawa itu ke 2019 sebagai suatu bentuk 
pemikiran yang didasarkan pada kesadaran politik masa depan. Sejauh mana 
kemenangan Partai Gerindra dan juga PKS, yang didukung juga oleh masyarakat 
madani yang tidak hanya umat Islam saja dalam meletakkan kemenangan ini sebagai 
modalitas untuk membangun setting nasional ke depan.""Namun itu masih harus 
dijadikan agenda politik bersama, tidak hanya partai pendukung Anies saja," 
tambah Busyro yang mantan ketua KPK itu.   
   - Antisipasi mobilisasi massa Pilkada Jakarta, setiap TPS dijaga polisi dan 
tentara
   - Tentang Ahok, Anies, dan Pilkada Jakarta yang dibumbui 'seribu hoax'
   - Pembacaan tuntutan sidang Ahok: Dilanjutkan atau ditunda?
Sementara Rumadi Ahmad dari Nahdlatul Ulama mengatakan masih terlalu cepat 
untuk membaca pilpres 2019 hanya berdasarkan kemenangan Anies di 
Jakarta."Menurut saya terlalu dini. Apalagi menyebut apakah Jokowi akan menang 
atas Prabowo, karena kita belum tahu apakah Jokowi nanti akan running untuk 
election berikutnya.""Tetapi ini investasi politik yang besar bagi Prabowo, 
siapapun yang nanti akan menjadi lawannya. Menurut saya, dia bisa memainkan 
situasi politik ini dengan cara yang cukup elegan," jelas Rumadi.Hak atas 
fotoREUTERSImage captionPendukung FPI menggelar unjuk rasa untuk menunjukkan 
penentangan atas Ahok di Jakarta (23/01).
Makin konservatif?
Kemenangan Anies yang didukung berbagai kekuatan keagamaan seperti Partai 
Keadilan Sejahtera, Front Pembela Islam dan Front Umat Islam dan Gerakan 
Nasional Pengawal Fatwa MUI ini dipandang mewakili kecenderungan Indonesia 
semakin mengarah ke kanan. Hal ini terjadi karena sejumlah Muslim merasa tidak 
terwakili selama ini, kata Prof. Dr. Hamdi Muluk, Guru Besar Psikologi Politik 
Universitas Indonesia."Itu juga menjadi pertanyaan saya, mengapa seolah-olah 
ada persepsi dalam konteks Indonesia, umat Islam itu merasa tidak terwadahi. 
Semua ekspresi-ekspresi politik, ekspresi ekonomi tidak terwadahi, seperti 
terpinggirkan. ""Dan ini kesempatan untuk mendesakkan, mengekspresikan dari 
pilkada sekarang. Padahal kita sudah punya koridor, kita negara Pancasila," 
Hamdi menguraikan lebih jauh.   
   - Pemprov Jakarta 'turunkan' spanduk seruan tidak mensalatkan warga pro-Ahok
   - Sidang kesembilan Ahok: Pengacara anggap saksi ahli 'tak independen'
   - Ahok tanpa kotak-kotak, Anies disambut rebana
Kecenderungan semakin ke arah politik kanan -yang antara lain berkarater 
konservatif dan tertutup- dipandang tidak hanya terjadi di Indonesia. Inggris 
dengan Brexit dan kekuasaan Partai Konservatif, serta kemenangan Donald Trump 
dan Partai Republiknya di Amerika Serikat menjadi contoh-contoh lainnya.Tetapi 
Busyro Muqoddas justru mempertanyakan konsep kanan dan konservatisme, yang 
dirinya pandang sebagai warisan Orde Baru Presiden Soeharto."Stigma-stigma 
seakan kanan menjadi semacam kekuatan yang menjadi ancaman itu sebenarnya 
stigma yang diidap oleh sisa-sisa pemikiran Orde Baru. Sekarang tidak relevan 
sekali. Dengan demikian perlu dibangun paradigma baru. Kebersamaan, keterbukaan 
dalam nafas kejujuran dan komitmen bersama."

Kirim email ke