Dikatakan bahwa kemenangan garis surgawi adalah kehendak Penguasa Alam
Semesta. hehehehe

2017-04-24 6:47 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
>
>
> Pada Senin, 24 April 2017 3:06, "'Chan CT' [email protected]
> [nasional-list]" <[email protected]> menulis:
>
>
>
> Penyebab Ahok Kalah versi Dua Peneliti Australia MINGGU, 23 APRIL 2017 |
> 02:07 WIB
> [image: Penyebab Ahok Kalah versi Dua Peneliti Australia]
> Profesor dari Universitas Nasional Australia (ANU), Marcus Mietzner dan
> Dr. Ian Wilson dari Murdoch University diskusi kritis terkait politik
> identitas Pilkada Jakarta di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia Jentera pada
> Sabtu, 22 April 2017. Tempo/Avit Hidaya
>
> *TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Peneliti dari Murdoch
> University Australia Ian Wilson menganggap kekalahan Gubernur DKI Jakarta
> Basuki Tjahaja Purnama dalam pilkada di Jakarta tidak terlepas dari peran
> rakyat kecil Jakarta. Menurut dia, sebagian besar rakyat kecil Jakarta
> tak menyukai gaya bicara Ahok dan penggusuran yang dilakukan dengan cara
> sewenang-wenang.
>
> "Awalnya ada antusiasme warga miskin kota terhadap Jokowi (ketika menjabat
> Gubernur DKI Jakarta), namun kemudian ada pergeseran dengan kepemimpinan
> Ahok," kata Ian dalam sebuah diskusi kritis di Sekolah Tinggi Hukum
> Indonesia Jentera, Sabtu, 22 April 2017. "Mereka tidak suka dengan gaya
> bicaranya."
>
> Menurut Ian, pada saat kepemimpinan Jokowi, warga Jakarta tak begitu
> mempermasalahkan Ahok. Alasannya, karena Jokowi lebih banyak merangkul
> masyarakat kecil, meski sama-sama melakukan penggusuran. Bedanya,
> penggusuran yang dilakukan Jokowi dianggap lebih santun.
>
> Setelah Ahok memimpin menggantikan Jokowi, masyarakat kelas bawah
> diperkirakan kecewa dengan kesewenang-wenangan Ahok. Sebagian besar
> masyarakat menganggap gaya komunikasi Ahok yang sering diperdebatkan dan
> menimbulkan masalah. Namun sebagian besar warga Jakarta sepakat bahwa
> kinerja Ahok sangat bagus.
>
> "Sebagai gubernur dia oke, tapi masyarakat tidak suka gaya bicaranya,"
> ucap Ian. Masyarakat kemudian menganggap kasus penistaan agama sebagai
> puncak kegelisahan. Mereka menganggap Ahok sering melontarkan pernyataan
> tanpa terlebih dulu dipikirkan.
>
> Hal ini kemudian dimanfaatkan oleh kelompok konservatif seperti Front
> Pembela Islam (FPI) masuk mewakili aspirasi masyarakat. Padahal, kata dia,
> banyak orang yang benci dengan FPI. Ia telah lebih dari 10 tahun meneliti
> perkembangan FPI di Indonesia. "Banyak orang benci FPI, tapi satu hal yang
> patut digarisbawahi: mereka ada di kampung-kampung, mereka mendampingi kaum
> miskin," kata Ian Wilson.
>
> Makanya Ian tak kaget jika melihat hasil Pilkada DKI Jakarta yang
> menyatakan Ahok-Djarot kalah atas pesaingnya Anies Baswedan-Sandiaga Uno.
> Apalagi bagi korban penggusuran, mereka tidak ingin Ahok memimpin Jakarta
> lagi. Dari catatan dia, ada sekitar 50 ribu warga Jakarta yang jadi korban
> penggusuran Ahok. Dia memprediksikan kritik ini kemudian meluas di kalangan
> kelas bawah Jakarta dan ditambah kasus penistaan agama.
>
> Peneliti Universitas Nasional Australia (ANU) Marcus Mietzner menambahkan
> bahwa isu agama dan politik identitas sudah lama digunakan dalam pemilu di
> Indonesia. Pada Pilkada DKI Jakarta 2012, Marcus juga mendapati upaya tim
> Fauzi Bowo menggunakan isu agama. Namun isu itu bisa diredam karena Ahok
> kala itu hanya wakil gubernur.
>
> "Menurut saya, jelas persoalan agama menjadi penentu dalam pilkada," kata
> dia. Apalagi ditambah Ahok dituding telah menistakan agama. Tanpa kasus itu
> pun, peta politik warga Jakarta adalah 40 persen warga adalah orang
> konservatif yang memilih pemimpin Muslim dan ada 35 persen pemilih adalah
> orang pluralistik. Sisanya, lebih banyak terpengaruh kasus penistaan agama
> dan gaya kepemimpinan Ahok.
>
> Menurut dia, kasus kekalahan Ahok agak unik di Indonesia. Mengingat,
> selama ini tidak ada calon inkumben kalah saat memiliki tingkat kepuasan di
> atas 60 persen. "Ini (Ahok) tingkat kepuasannya 74 persen dan dia kalah?"
>
> Marcus khawatir, contoh penggunaan isu agama seperti ini akan diterapkan
> di daerah lain di Indonesia. Terlebih, ini nantinya akan digunakan pada
> pemilihan presiden 2019. Dia menduga isu agama, isu komunisme, dan isu
> politik identitas akan ada pada pemilihan presiden mendatang.
>
> *AVIT HIDAYAT*
>
>   Pemerintah Lindungi Penista Agama, Prof Dr Din Syamsudin: “Gusti Allah
> Ora Sare!”
> 23 Apr 2017
> *http://www.panjimas.com/news/2017/04/23/pemerintah-lindungi-penista-agama-prof-dr-din-syamsudin-gusti-allah-ora-sare/
> <http://www.panjimas.com/news/2017/04/23/pemerintah-lindungi-penista-agama-prof-dr-din-syamsudin-gusti-allah-ora-sare/>*
> [image: Pemerintah Lindungi Penista Agama, Prof Dr Din Syamsudin: “Gusti
> Allah Ora Sare!”]
>
> *JAKARTA (Panjimas.com) –* Kasus penistaan agama oleh Gubernur DKI
> Jakarta Basuki Tjahaja Purnama bukan perkara kecil, maka jangan ada yang
> menganggapnya kecil.
> Hal itu disampaikan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof Dr M Din
> Syamsudin, melalui rilisnya yang tersebar di media sosial.
> “Ujaran kebencian yang ditebarnya dari Kepulauan Seribu September tahun
> lalu merupakan bentuk intoleransi dan anti kebhinekaan yang nyata. Jika
> dibiarkan, hal itu potensial mengganggu kerukunan antar  umat beragama dan
> antar etnik di negara Pancasila yang berbhineka tunggal ika. Maka, tindakan
> penistaan seperti itu harus diamputasi melalui penegakan hukum yang
> berkeadilan dan memenuhi rasa keadilan rakyat,” kata Din Syamsudin, melalui
> pesan siaran, yang diterima *Panjimas.com,* Sabtu (22/4/2017).
> Menurut Din Syamsudin, tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam pengadilan
> kasus penistaan agama oleh saudara Basuki Tjahaja Purnama, secara kasat
> mata dirasakan mengabaikan rasa keadilan rakyat dan menunjukkan secara
> nyata keberpihakan pemerintah untuk melindungi tersangka.
> “Penundaan pembacaan tuntutan dengan alasan yang mengada-ada dan
> penuntutan hukum sangat ringan yang bertentangan dengan jurisprudensi yang
> ada dirasakan sebagai kecenderungan mempermainkan hukum. Hal ini jika
> dibiarkan maka akan menimbulkan ketakpercayaan (*distrust*) kepada
> instansi penegakan hukum dan dapat  menimbulkan ketaktaatan (
> *disobedience*) terhadap hukum dan penegakan hukum,” jelasnya.
> Oleh karena itu, Din Syamsudin mengingatkan, demi penegakan negara
> berdasarkan hukum, kecenderungan mempermainkan hukum agar dihentikan dan
> sidang kasus penistaan agama diluruskan.
> “Saatnya rakyat warga negara, lintas agama, suku, golongan dan lapisan,
> bersatu padu utk menyerukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jangan usik
> rasa keadilan rakyat, karena rakyat akan bangkit berdaulat, dan *Gusti
> Allah ora sare*,” tandasnya. [AW]
>
>
>
> 
>

Kirim email ke