Allan Nairn, Mimpi Buruk Para Jenderal
https://tirto.id/allan-nairn-mimpi-buruk-para-jenderal-cmZ9
Allan Nairn. tirto.id/Sabit
4.9k Shares
a..
Allan Nairn
Reporter: Windu Jusuf
19 April, 2017dibaca normal 2 menit
·
Nairn salah satu jurnalis yang menyaksikan pembantaian Santa Cruz di
Dili pada November 1991
· Nairn menantang para jenderal Orde Baru buat mempertanggujawabkan
pelanggaran HAM masa lalu
Wartawan investigatif kelahiran AS ini punya reputasi besar sebagai 'anjing
penjaga' dan musuh rezim-rezim totaliter. Hari ini ia merilis laporan tentang
hubungan para tokoh penting Indonesia dan Donald Trump dalam rencana makar
terhadap Jokowi.
tirto.id - “Saya memutuskan pergi ke tempat-tempat di mana pembunuhan tersadis
dilakukan dan di mana pemerintah AS menyokong para penjagal … Saya akan pergi
ke tempat-tempat itu untuk mengekspos apa yang terjadi, dan berharap bisa
menghentikan kekejaman.”
Demikian Allan Nairn dalam satu wawancaranya pada Juli 2014, beberapa hari
setelah pemilu presiden. Saat itu ia membicarakan kariernya sebagai jurnalis
investigatif-cum-aktivis yang bermula dari keterlibatannya dengan Ralph Nader,
aktivis buruh, lingkungan, dan anti-korporasi, yang berkali-kali mencalonkan
diri sebagai presiden dari Partai Hijau hingga tahun 2000.
Pada 1980, Nairn terbang ke Guatemala dan menyaksikan pembantaian kediktatoran
militer terhadap buruh, petani, mahasiswa, dan intelektual. Dari sana ia
menyadari sokongan dana dan senjata dari Washington untuk rezim-rezim brutal di
dunia. Pengalaman Guatemala membawanya ke Timor Timur, yang saat itu (masih)
diduduki oleh Indonesia sejak 1975.
Pada 21 November 1991, pemuda Sebastião Gomes mati disiksa serdadu Indonesia di
Dili. Beberapa hari kemudian, iring-iringan pengantar jenazah Sebastião
mengawali sebuah protes kecil yang ditanggapi berondongan peluru oleh aparat.
Lebih dari 200 warga sipil tewas. Nairn, yang waktu itu terjepit di antara
rombongan pengantar jenazah dan serdadu, mengalami cedera di kepala akibat
dipopor bedil.
Sepulangnya dari Timor Timur, Nairn mendirikan ETAN (The East Timor and
Indonesia Action Network) bersama Charlie Scheiner dan John Miller. Lembaga itu
berperan besar mengampanyekan nasib rakyat Timor Timur di bawah pendudukan. Dua
tahun kemudian, lobinya berhasil meyakinkan Kongres AS untuk menekan
pemerintahan Clinton untuk memutus bantuan senjata ke Indonesia.
Setelah meletus kekerasan pasca-referendum di Timor Timur pada 1999, Amerika
resmi memutus bantuan senjata dan pelatihan militer. Pada tahun-tahun awal
transisi demokrasi di Indonesia, Nairn juga menguak peran AS dalam melatih para
perwira militer Indonesia yang menculik dan membunuh warga sipil.
share infografik
Pada 2009, Nairn mengekspos pembunuhan warga sipil di Aceh yang dilakukan oleh
serdadu Indonesia. TNI mengancam akan menahan dan menuntutnya di pengadilan.
Ancaman itu terbukti kosong belaka.
Lima tahun kemudian, Nairn kembali ke Indonesia, meliput pemilu presiden. Ia
membocorkan wawancara off the record dengan Prabowo Subianto yang dilakukannya
pada 2001, salah satu pembicaraannya adalah Prabowo menghina Gus Dur dan
menyatakan siap dituduh diktator fasis. Pada momentum jelang pemilu itu pula ia
membongkar keterkaitan antara Prabowo dan proyek pelatihan militer JCET yang
dilakukan Amerika dan Indonesia. Prabowo menyebut dirinya "anak emas Amerika".
Sebaliknya, Nairn juga merilis wawancaranya dengan mantan kepala Badan
Intelijen Negara Hendropriyono, yang berada dalam satu kubu dengan pemerintahan
terpilih Joko Widodo, Pada akhir 2014. Dalam kesempatan itu Hendropriyono
mengeluarkan pernyataan mengenai peranannya dalam pembantaian Talangsari (1989)
dan rantai komando pembunuhan aktivis HAM terkemuka Munir (2004).
Keterlibatan Nairn dengan Guatemala rupanya membekas. Ia sempat diminta
bersaksi tentang kejahatan militer yang dilakukan Jenderal Rios Montt pada
pengadilan HAM dua tahun lalu di Guatemala. “Tapi di menit-menit terakhir, saya
dihalang-halangi untuk bersaksi akibat tekanan dari presiden Guatemala yang
sekarang menjabat, Perez Molina.”
Nairn berkali-kali menantang jenderal-jenderal Indonesia yang hendak
memperkarakannya untuk mengundang dirinya bersaksi di pengadilan. Tak ada yang
cukup bernyali menyambut tantangan itu.
Baca laporan Allan Nairn, yang diterbitkan oleh The Intercept, dan diringkas
oleh redaksi Tirto mengenai persekutuan para jenderal buat mendongkel Jokowi
lewat kasus Al-Maidah yang menerpa Ahok, gubernur petahana DKI Jakarta:
Investigasi Allan Nairn: Ahok Hanyalah Dalih untuk Makar.
Baca juga artikel terkait ALLAN NAIRN atau tulisan menarik lainnya Windu Jusuf
(tirto.id - win/fhr)