Mengapa warga Indonesia di Belanda gelar aksi dukung Ahok? 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39912182 1 jam lalu

 Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru Bagikan artikel ini dengan 
Facebook http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39912182#  Bagikan artikel ini 
dengan Twitter http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39912182#  Bagikan 
artikel ini dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39912182#  
Bagikan artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Findonesia-39912182
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39912182#share-tools




 
 Hak atas fotoASTRIDImage captionLebih dari 2.000 orang berkumpul di 
Museumplein, Amsterdam, pada Sabtu (13/05) untuk mendukung Basuki Tjahaya 
Purnama alias Ahok. Lebih dari 2.000 warga Indonesia berkumpul di Amsterdam, 
Belanda, pada Sabtu (13/05) malam, sebagai respons atas vonis kasus penistaan 
agama yang menimpa mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias 
Ahok.
 Aksi bertajuk "Malam solidaritas untuk keadilan di Indonesia" berlangsung 
sejak pukul 20.00 hingga 21.30 waktu setempat di Museumplein, sebuah lapangan 
yang dikelilingi empat museum besar. Ini adalah aksi kedua di Belanda setelah 
aksi serupa digelar di Kota Groningen pada Jumat (12/05).
 Korban Mei 1998 dan aksi lilin untuk Ahok yang meluas 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39885795 Vonis Ahok, kampanye anti-Cina, 
dan trauma 98 http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39871159 Parlemen Belanda 
angkat upaya pembebasan Ahok dalam debat 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39872700Hak atas fotoFEBRIANA FIRDAUS UNTUK 
BBC INDONESIAImage captionAksi solidaritas untuk Ahok di Amsterdam tidak hanya 
diikuti warga Indonesia, tapi juga sejumlah warga Belanda. Menurut wartawan 
Febriana Firdaus yang melaporkan dari Belanda, peserta aksi mayoritas warga 
Indonesia yang telah menetap lama di 'Negeri Tulip'. Mereka datang dari 
berbagai kota, seperti Leiden, Den Haag, dan Utrecht.
 Salah seorang peserta bernama Heri Latief, misalnya, adalah seorang warga 
Indonesia yang telah menetap dan bekerja di Belanda sejak 1986. Ia mengaku 
ingin bergabung dengan aksi ini karena menaruh simpati pada Ahok. "Ini tidak 
adil, kasus itu dicari-cari, rekayasa," katanya sambil membawa kertas 
bertuliskan Free Ahok dan bendera merah putih.
 Lain lagi, Arnold, 50, warga negara Belanda, salah satu peserta aksi. Meski 
bukan warga negara Indonesia dan tak akrab dengan sepak terjang Ahok di 
Jakarta, ia menganggap kasus penistaan agama yang membuat mantan gubernur DKI 
Jakarta itu masuk penjara sebagai sesuatu yang konyol.
 "Dia tidak spesial, sama dengan orang lain. Tapi ketika seseorang masuk 
penjara selama dua tahun karena urusan itu, ini konyol," ujarnya.
Hak atas fotoCECILIA RIZALImage captionPara peserta aksi di Amsterdam 
berdatangan dari berbagai kota di Belanda. Selama acara berlangsung, mereka 
menyanyikan beberapa lagu nasional. 'Bermuatan politis' Sebelum Ahok, ada 
beberapa kasus penistaan agama yang menimpa kelompok minoritas di Indonesia.
 Sebut saja kasus yang menimpa pemimpin kaum Syiah di Madura, Tajul Muluk. 
Kemudian, tokoh Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), Ahmad Musadeq. Kasus ini 
juga menimpa Lia Aminudin, atau Lia Eden, yang mengaku sebagai imam Mahdi dan 
mendapat wahyu dari malaikat Jibril.
 Kasus penistaan agama juga pernah menyeret penulis Arswendo Atmowiloto karena 
memuat survei tokoh pilihan pembaca dalam tabloid Monitor yang menempatkan 
Presiden Soeharto kala itu di tempat pertama sementara Nabi Muhammad di urutan 
ke-11.
 Seruan badan internasional atas 'penistaan agama Ahok' 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39871119 Bagaimana warga keturunan Cina 
menanggapi vonis Ahok? http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39867038 Dampak 
vonis penjara Ahok terhadap politik di Indonesia 
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-39858478Hak atas fotoCECILIA RIZALImage 
captionBeberapa peserta aksi mengatakan mereka mengikuti acara tersebut bukan 
semata-semata mendukung Ahok, melainkan keprihatinan atas keutuhan Indonesia. 
Namun, mengapa tiada aksi buat mereka? Mengapa Ahok diistimewakan?
 Heri Latief mengatakan kasus Ahok menjadi penting karena diduga bermuatan 
politis.
 "Yang membedakan, karena ini politisasi pertarungan kelompok Orde Baru yang 
masih diwakili Prabowo (Subianto) dan super baru yang diwakili Jokowi (Joko 
Widodo) dan Ahok," katanya.
 Cecilia Rizal, warga Indonesia yang bermukim di Amsterdam, mengatakan dia ikut 
aksi tersebut bukan semata-semata mendukung pembebasan Ahok.
 "Saya khawatir akan hilangnya hati nurani bangsa dan keutuhan NKRI. Biasanya 
saya diam, tapi sekarang bukan saatnya diam lagi. Dia (Ahok) tidak pantas masuk 
penjara, menurut saya. Lebih dari itu keutuhan bangsa sedang krisis," ujar 
Cecilia.
Hak atas fotoASTRIDImage captionSebelum dan sesaat sesudah acara berlangsung, 
sejumlah warga Indonesia menyempatkan untuk berfoto dan menyanyikan lagu-lagu 
nasional. Lagu-lagu nasional Aksi solidaritas di Museumplein cukup berbeda 
dengan yang dilaksanakan di Indonesia dan negara lain. Sebab pihak keamanan di 
depan museum tidak mengizinkan peserta aksi menyalakan lilin dan pengeras suara.
 Meski demikian, dari pantauan Febriana Firdaus, masih ada peserta yang membawa 
lilin.
 Mereka kompak menyanyikan beberapa lagu nasional. seperti Rayuan Pulau Kelapa 
gubahan Ismail Marzuki, Garuda Pancasila, dan Dari Sabang Sampai Merauke.
 Di sela-sela pergantian lagu, tak jarang peserta meneriakkan yel-yel, "Hidup 
NKRI."
 Kegiatan aksi malam ini berlangsung hingga pukul 21.30. Peserta aksi tak serta 
merta meninggalkan lokasi. Mereka berbaur dan mengibarkan bendera merah putih.
 Aksi solidaritas di Amsterdam tersebut hanyalah satu dari rangkaian aksi 
serupa pada 13-14 Mei di berbagai kota di dunia, dari Washington DC, Helsinki, 
hingga Hong Kong.
Hak atas fotoVALENTINA DJASLIM UNTUK BBC INDONESIAImage captionPara WNI di Hong 
Kong menyerukan pembebasan Ahok. 'Miris melihat perpecahan' Di Hong Kong, 
sejumlah WNI menggelar aksi 'Justice for Ahok' di Victoria Park, Causeway Bay, 
Minggu (14/05).
 Pada aksi yang dimulai pukul 10.00 waktu setempat, para WNI yang sebagian 
besar adalah tenaga kerja di Hong Kong memakai baju bernuansa merah putih. 
Mereka membawa bunga dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Rayuan Pulau Kelapa 
dan Garuda Pancasila.
Hak atas fotoVALENTINA DJASLIM UNTUK BBC INDONESIAImage captionPara WNI di Hong 
Kong meletakkan bunga sebagai tanda simpati terhadap Ahok. Salah satunya, 
Ellis, TKI asal Kediri.
 "Saya memang orang Kediri, tapi saya belum pernah ngelihat pemimpin bersih 
seperti Ahok, saya minta Ahok di bebaskan untuk Indonesia karena Islam 
Indonesia itu toleran!" kata Ellis, TKI yang telah bekerja sembilan tahun di 
Hong Kong kepada wartawan Valentina Djaslim.
 Ellis yang hadir dengan memgenakan jilbab merah dan baju gamis putih ini 
mengaku miris me lihat perpecahan akibat SARA yang kini terjadi di Indonesia.
 Hal serupa diungkapkan Erni, TKI asal Manado yang juga menghadiri acara 
tersebut. "Nenek saya Hindu, paman saya Kristen, sementara saya Muslim, tapi 
kami tak pernah ada masalah. Kenapa sekarang harus jadi masalah? Pelangi itu 
nggak satu warna'" kata Erni.

 

 

Kirim email ke