Minggu, 14 Mei 2017 | 20:21 
http://www.beritasatu.com/megapolitan/430646-pengamat-3-makna-di-balik-menguatnya-dukungan-terhadap-ahok.html#
   
http://www.beritasatu.com/megapolitan/430646-pengamat-3-makna-di-balik-menguatnya-dukungan-terhadap-ahok.html#
   
http://www.beritasatu.com/megapolitan/430646-pengamat-3-makna-di-balik-menguatnya-dukungan-terhadap-ahok.html#
   http://www.addthis.com/tellfriend.php
 

 
 

 Pengamat: 3 Makna di Balik Menguatnya Dukungan terhadap Ahok 
http://www.beritasatu.com/megapolitan/430646-pengamat-3-makna-di-balik-menguatnya-dukungan-terhadap-ahok.html


 Ribuan orang menyalakan lilin dalam aksi solidaritas untuk Ahok, yang di gelar 
di kawasan Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, Rabu (10/5/2017) malam. SP/Joanito 
De Saojoao. (Suara Pembaruan)

 Jakarta - Pengamat Politik Ray Rangkuti menilai ada makna besar di balik 
mengalirnya dukungan terhadap Gubernur DKI Jakarta nonaktif  Basuki T Purnama 
alias Ahok. Ray menyebutkan tiga makna di balik dukungan dan aksi simpatik 
terhadap Ahok.
 "Pertama, vonis hakim terhadap Ahok dengan dua tahun penjara menimbulkan luka 
atas keadilan. Ahok yang mempertahankan dirinya dari serangan intoleransi yang 
menghunjamnya hampir selama satu tahun terakhir dalam perhelatan Pilgub DKI 
justru mendapat vonis hakim sebagai penista agama. Sudah kalah di Pilgub, lalu 
divonis penista agama lagi oleh hakim. Tentu ini memantik simpati publik 
atasnya," ujar Ray di Jakarta, Minggu (14/5).
 Kedua, faktanya, hukuman terhadap Ahok justru menaikan derajatnya. Menurut 
dia, hakim boleh memvonisnya sebagai penista agama, namun publik melihatnya 
sebagai ikon baru bagi upaya melawan sikap intoleransi, antipluralisme, dan 
antikebinekaan.
 "Alih-alih Ahok tepuruk akibat vonis itu, ia malah menjelma menjadi tokoh baru 
nasional yang mulai dielu-elukan secara nasional. Dengan begitu, Ahok tak lagi 
sekadar mantan gubernur DKI Jakarta, tapi mulai menjadi milik warga Indonesia," 
terang dia.
 Ahok, kata dia, telah menjadi fenomena nasional. Menurut dia, vonis dua tahun 
itu tak akan lama dan poses bandingnya nanti akan potensial menarik simpati 
publik yang lebih luas padanya.
 "Jika begitu, karir politik Ahok bukan hancur sebaliknya makin menguat, makin 
kokoh, dan makin luas, bahkan sampai ke unjung Indobesia, Papua," ungkap dia.
 Ketiga, vonis Ahok juga sekaligus menarik ingatan publik tentang pentingnya 
menjaga Indonesia yang toleran, pluralis dan dengan dasar Pancasila. Satu 
ingatan yang terkadang dilupakan oleh peristiwa-peristiwa politik, seperti yang 
baru saja terjadi di Pilgub DKI.
 "Tentu saja, kita berharapan ingatan dan kehendak untuk tetap menjaga 
toleransi, pluralisme, dan Pancasila sesuatu yang sejatinya abadi di setiap 
dada warga Indonesia. Pilgub DKI cukup jadi pelajaran bahwa isu SARA dalam 
politik akan mencabik-cabik bangsa ini," tandas dia.


 
 
 

 Yustinus Paat/PCN
 BeritaSatu.com



 

Kirim email ke