Nah, untuk urusan ini rasa malu saya berkesinambungan setiap tahun,sebab lomba iptek seperti itu tidak kurang di Indonesia. Mulai dari yang 'tertua' yaitu, LKIR - Lomba Karya Ilmiah Remaja yang diselenggarakan LIPI (sekarang bekerjasama dengan British Council) sampai yang diselenggarakan lembaga sektoral seperti perbankan, pertanian dll, lomba ilmiah itu subur tapi Indonesia belum maju-maju juga. Menggelikan memang, ada begitu banyak remaja yang memiliki minat meneliti tetapi tidak berkembang menjadi simpul kekuatan nasional di bidang iptek. Lucunya lagi, ukuran kemajuan menurut presiden sekarang adalah bertebarannya kedai-kedai "internasional" semodel Starbucksdi Indonesia. Menurut saya, pemikiran dan mental seperti itulah yang menimbulkan keresahan dalam diri orang-orang sekaliber Engkik Soepadmo dan Andi Hakim Nasution, dua dari sekian ilmuwan Indonesia yang menyayangkanatmosfir birokrasi di Indonesia yang tidak betul-betul merdeka. Sistembirokrasi yang masih merupakan kelanjutan dari pola Hindia Belanda yang menghargai anak pribumi yang cerdas & tangkas dengan memberimereka jabatan / kedudukan di belakang meja alias dicekal supaya kecerdasan mereka tidak dimanfaatkan para pemberontak. Walhasil, di era kemerdekaan lebih banyak ilmuwan yang mengerjakan tugas administrasiketimbang penelitian. Wajar juga para petani yang menerima bantuan traktor tangan tahun 2015 kemarin sempat tertawa waktu menteri pertanian bicara soal modernisasi pertanian yang akan membuat petani tidak perlu lagibersentuhan dengan tanah. Alias mencetak petani bermental priyayi.
Apabolehbuat, pernyataan sang kawan di meja kopi (lokal) itu langsung saya tanggapi bahwa anggaran boleh saja menjadi ruh dunia penelitian tetapi tanpa spirit yang sesuai dengan maksud serta tujuan kemerdekaan maka anggaran sebesar apa pun ya cuma menjadi ruh yang gentayangan. Seperti kita tahu, pada masa Orde Lama yang penuh konfrontatif vs Barat, Ir. Soekarno mengarahkan sains untuk menegaskan sikap antipenjajahan dengan membangun serangkaian program ilmiah; dari industri roket (LAPAN) hingga instalasi nuklir (BATAN). Sedangkan pada masa Orde Baru, Ir. Habibie mencoba mengikis utang negara dengan industri pesawatnya (IPTN). LKIR / NYIA - LIPI 2016 Btw, Anda di Regina? --- bhjo@... wrote: Ralat: https://www.youthscience.ca/news/canada-wide-science-fair-coming-regina --- bhjo@... wrote : Tadi siang saya tertarik utk. melihat-lihat persiapan utk. kompestisi penemuan baru dibidang sains/science di Universitas setempat yg. dibuat oleh anak2 pintar dari tingkat SMP dan SMA dari seluruh Kanada. Kompetisi seperti ini dilakukan setiap tahun. Saya kagum dgn. penelitian2 dari anak2 muda ini. Kebetulan anak saya yg. menjadi Chair/Kepala dari penyelangaran ini. Poin saya adalah penelitian harus sudah dimulai/dipromosikan dari tingkat SMP. BH JoCanada’s brightest young scientists will be in Regina May 14-20 for the 56th edition of the Canada-Wide Science Fair. The event will feature 500 students and their 400 projects that have earned top marks at regional science fairs across the country. The event is expected to attract about 6,000 visitors to the Regina area, making this Canada’s largest youth science competition. Visitors will include 500 volunteers, 350 judges, 200 chaperones and the public.The national science fair, taking place on the campus of the University of Regina, recognizes students from Grades 7 to 12 that have identified solutions to a local, regional or global concern through their science project. Past projects have addressed issues from climate change and food security to declining natural resources and environmental degradation. Students are competing for nearly $1 million in cash awards and scholarships and are assessed by volunteer judges, including professional scientists, researchers and engineers. “It’s a thrill to host this showcase of finalists from our regional fairs across the country,” says Jim Jo, Vice-President at Saskatchewan Association of Science Fairs. “Everyone involved is committed to supporting youth as they develop solutions that will help humanity in the years and generations to come. Each year, the Canada-Wide Science Fair brings thousands of people together and we’re simply delighted to welcome them to Regina, and celebrate the achievements of the finalists.”https://www.youthscience.ca/news/canada-wide-science-fair-coming-regina --- ajegilelu@... wrote : Kutipan:"Menurut Chairil, Indoneisa telah masuk masa krisisdalam pengembangan iptek. Untuk itu, mewakili AIPI, iameminta kepada pemerintah untuk membenahi kualitasiptek. Salah satunya dengan peningkatan pertumbuhanekonomi." Dalam obrolan santai di meja kopi, seorang kawan pernah mengibaratkan anggaran sebagai ruh dalam dunia penelitian. Di media, para peneliti juga sering mengeluhkan minimnya anggaran penelitian. Ternyata, semua keluhan cocok dengan permintaan Chairil Abidin di atas. Apalagi dalam APBN belum ada pos anggaran khusus untuk penelitian - sedangkan anggaran dari Kementrian Ristek-Dikti sudah 2 tahun ini terus mengalami pengurangan, termasuk untuk lembaga pengkajian besar seperti LIPI, BPPT, BATAN. Karena itu permintaan membenahi kualitas iptek dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi nggak bisa enggak bikin saya nyengir sendiri, malu. Bukan cuma karena permintaan Chairil dkk pada bulan pendidikan ini sudah ada jawabannya 2 bulan lalu, tapi juga isi permintaan dan jawaban itu hanya memperkokoh lingkaran setan belaka. Tak ubahnya teka-teki ayam & telur; mana yang lebih dulu. Ekonomi Indonesia Akan Kuat Jika Memiliki Generasi Cerdasǃ Masih tersedia 28 tahun untuk membuktikan Indonesia menjadi negara yang maju berkat pendidikan atau tetap sebagai negara tertinggal yang perekonomiannya semakin tenggelam dalam lautan hutang, pada seabad kemerdekaan nanti. Pemanfaatan waktu yang tersedia sangatlah bergantung pada pemerintah sekarang yang dipimpin seorang insinyur (insinyur ketiga yang menjabat presiden RI). Apakah dia ingin dikenang sebagai peletak dasar kemajuan nasional berlandaskan pendidikan atau dikenang berabad-abad hanya sebagai bintang iklan industri Esemka.. --- j.gedearka@... wrote: http://sains.kompas.com/read/2017/05/13/13104961/kenapa.indonesia.tak.maju-maju.dalam.sains.dan.teknologi. Kenapa Indonesia Tak Maju-maju dalam Sains dan Teknologi? Lutfy Mairizal PutraKompas.com - 13/05/2017, 13:10 WIB Ilustrasi(Thinkstockphotos) JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia telahtertinggal dalam pengembangan sains, teknologi, sertakualitas pendidikan tinggi. Tidak hanya di tingkatdunia, tetapi juga di lingkup yang lebih kecil sepertiASEAN. Chairil Abidin, anggota Akademi Ilmu PengetahuanIndonesia (AIPI) menguraikan, penyebab ketertinggalanitu terurai dalam Hal itu tertuang dalam Buku PutihSains, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Menuju Indonesia2045. Chairil mengatakan, pendidikan tinggi menghadapisejumlah kendala dalam melakukan riset, sepertiketidaksesuaian waktu mengajar dan waktu penelitian,keterbatasan anggaran serta fasilitas riset, daninsentif yang tidak menarik bagi peneliti. Kompetensi guru juga ikut memberikan sumbangsih. Hasilrata-rata uji kompetensi guru pada tahun 2015 hanya53,02 persen. Untuk calon guru, nilai uji kompetensilebih rendah lagi, 44 persen kemampuan di bidangkompetensi dan 56,69 di bidang pedagogik. "Tidak ada anak SMA yang bright yang maumenjadi guru. Persoalan kualitas dosen yang dirilis AsiaWeek tahun 2000, Indonesia berada di bawah kualitasSingapura, Filipina, Thailand, Malaysia," kata Chairildalam peluncuran buku putih itu di Jakarta pada Jumat(12/5/2017). Faktor bahasa rupanya juga tidak dapat disepelekan.Mengutip penelitian Richard Horton, faktor bahasamenjadi kendala utama kuranngya suara Indonesia dalampenelitian di tingkat global, khususnya kesehatan dankedokteran. Sebelum Indonesia merdeka, pernah terdapat kewajibanmmebaca buku sastra sebanyak 25 judul di AlgemeneMiddelbare School (Pendidikan Menengah) Hindia Belanda Adan 15 Judul pada AMS Hindia Belanda B, 15 judul. Namun, sejak 1950an, secara bertahap kewajiban ituhilang. "Taufik Ismail sebut sekarang anak SMA nol buku.Mahasiswa juga nol buku hanya diktator, belajar daridiktat yang ditulis 20 tahun lalu," ujar Chairil. Chairl bercerita pengalamannya saat menghadiripertemuan antara pelaku usaha dan universitas ternama dikantor Wakil Presiden BJ Habibie tahun 1998. Usai pertemuan itu, salah seorang dosen mengungkapkanbahwa buku ajar yang digunakannnya tidak lagi relevan. "Faktor gizi juga berperan. Ada 37 persen prevalensitubuh pendek dengan rata-rata IQ 89. Jadi tidak herankalau skor PISA (Programme for Internasional StudentAssessment) kita rendah," ucap Chairil. Menurut Chairil, Indoneisa telah masuk masa krisisdalam pengembangan iptek. Untuk itu, mewakili AIPI, iameminta kepada pemerintah untuk membenahi kualitasiptek. Salah satunya dengan peningkatan pertumbuhanekonomi. Kenaikan pertumbuhan ekonomi diharapakan dapat menaikandaya beli masyarakat terhadap hasil industri dalamnegeri.Universitas dapat bekerja sama dengan pelaku industriuntuk mendongrak industri dalam negeri. Selain itu, hal paling utama paling utama adalahlingkungan kondusif bagi inovasi nasional. PenulisLutfyMairizal PutraEditorYunantoWiji Utomo Ada 5 komentaruntuk artikel ini Kompas.com tidakbertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis.Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentatorseperti diatur dalam UU ITE Sarusosact Sabtu, 13Mei 2017 | 14:16 karena walaupun ada yang salah, tidak mau meperbaikidiri sendiri karena merasa diri sudah paling benar.karena merasa pemahaman iman dan pengetahuan sudahpaling benar, maka tidak mau belajar dri jatuhbangun proses pembangunan negara lain yang sudahmaju duluan. (0) (0) Tanggapi Laporkan hanafitan Sabtu, 13Mei 2017 | 13:59 di indonesia kebodohan dipelihara (0) (0) Tanggapi Laporkan Ime Sabtu, 13 Mei2017 | 13:52 masyarakat masih bingung antara spiritualitas danagama. ketika agama dianggap spiritualitas makarusaklah cara berpikir org tsb krn agama adalahproduk sosial politik terstruktur dg pemuka agamasbg tuhannya yg mengendalikan masyarakat. untukmelanggengkan hal ini kebodohan di masyarakatdiperlukan (1) (0) Tanggapi Laporkan NyaiMenyan Sabtu, 13Mei 2017 | 13:29 indonesia terlalu religius, sekulerisme ibaratnyahewan langka di indonesia. (2) (0) Tanggapi Laporkan RistamaSimorangkir Sabtu,13 Mei 2017 | 13:19 gara2 angggota dpr, dprd, dpd, gubernur ( kepaladaerah ) masih sangat banyak yang "maling".
