Pada Selasa, 16 Mei 2017 11:06, "Sie Tik Tan [email protected]
[perhimpunan_persaudaraan]" <[email protected]> menulis:
Kiriman teman melalui WA, Sekedar sebagai bahan informasi....tapi yg jelas
Ginanjar yg menafikkan keberadaan kelas2 dlm masyarakat dan perjuangan kelas
untuk menghapuskan penindasan manusia oleh manusia , dng gegabah menyamakan
komunisme dng gagasan khilafah....
Ginanjar Kartasasmita :Tentang HTI. Maaf saya sedang di Boston, sejenak kembali
ke Harvard. Saya membaca diskusi di WAG tentang HTI. Saya ingin berbagi
pandangan mengenai HTI dan konsep khilafah yang mendasarinya, mungkin
bermanfaat. Saya peroleh bahannya dari seorang aktivis dan intelektual muda
Islam, yang tidak pernah sekolah di luar negeri, S1 di UIN, S2 di UI dan S3 di
Unpad, jadi tidak bisa dituduh sebagai agen dan pembawa ajaran asing.
Khilafah singkatnya adalah konsep kepemimpinan tunggal dimana seluruh umat
Islam di dunia ada dibawah satu Pemimpin yang dinamakan Khalifah sebagaimana
yang ditunjukkan di zaman Khulafaurasyidin (Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali Bin
Abi Thalib).
Dalam konsep itu, tidak ada batas-batas negara bangsa (nation state) dan tidak
diakui kepemimpinan berdasarkan kebangsaan karena menurut mereka, itu berasal
dari Barat. Mereka tidak mengakui adanya konsep nasionalisme karena
nasionalisme itu merupakan produk dari barat.
Mereka menolak demokrasi karena lagi-lagi demokrasi itu tidak ada dalam Islam
dan merupakan produk dari Barat
Hizbut Tahrir lahir di Yordania (dimana HT dilarang) berawal dari sempalan
Ikhwanul Muslimin di Mesir. Tokoh utamanya Taqiyudin An Nabhani memandang bahwa
Ikhwanul Muslimin masih mengakui adanya nation-state dalam politik Arab.
Dalam pandangan pendukung Hizbut Tahrir di seluruh dunia, khilafah adalah
satu-satunya institusi atau entitas politik yang bisa mempersatukan umat Islam
seluruh dunia. Menurut mereka, hanya dengan khilafah, umat Islam sedunia dapat
mengatasi berbagai masalah, semacam keterbelakangan, kemiskinan, pengangguran,
dan berbagai bentuk kenestapaan lain. Karena itulah, dari waktu ke waktu selalu
ada kelompok di kalangan umat Islam yang mengorientasikan cita gerakan mereka
untuk pembentukan khilafah. Di antara mereka ada yang bergerak secara damai
atau kekerasan seperti ISIS.
Padahal, konsep khilafah itu sendiri problematis dan utopian. Terdapat banyak
perbedaan konsep dan praksis khilafah di antara para pemikir Muslim
penggagasnya sejak dari Jamaluddin al-Afghani, ’Abdul Rahman al-Kawakibi, Abu
al-A’la al-Mawdudi, sampai Taqiuddin al-Nabhani.
Utopianisme khilafah juga terletak pada kenyataan bahwa kaum Muslim di sejumlah
kawasan dunia telah mengadopsi konsep negara-bangsa berdasarkan realitas bangsa
dengan tradisi sosial, budaya, kondisi geografis; dan pengalaman historis
masing2. Karena itu, ”unifikasi” seluruh wilayah dunia Muslim di bawah
kekuasaan politik tunggal merupakan angan-angan belaka.
Ormas-ormas Islam Indonesia pernah membentuk Califat Comite seiring dengan
penghapusan "khilafah" di Turki pada 1924 oleh kaum Turki Muda. Mereka
bermaksud membela dan menuntut agar "khilafah" di Turki dihidupkan kembali.
Merespons gejala ini, "the grand old man" Haji Agus Salim menyatakan, komite
itu beserta khilafah tak relevan dengan Indonesia. Menurut beliau apa yang
disebut "khilafah" di Turki adalah kerajaan despotik dan korup yang tak perlu
dibela, apalagi diikuti umat Islam Indonesia. Pasca Califat Comite, khilafah
hampir sepenuhnya absen dalam wacana pemikiran Islam di Indonesia. Ormas-ormas
Islam, seperti NU dan Muhammadiyah, tak pernah bicara tentang khilafah,
sebaliknya menerima dan mengembangkan konsep dan praksis negara-bangsa
Indonesia.
Bagi Hizbut Tahrir, khilafah akan dicapai melalui tiga tahap: kultural,
interaksi, dan revolusi. Pada tahap kultural, mereka akan menyebarluaskan
gagasan khilafah kepada seluruh lapisan masyarakat, kaum Muslim khususnya,
dengan beragam cara; diskusi, ceramah, penerbitan, dan cara persuasi lainnya.
Tahap itu yang sekarang sedang mereka lalui di Indonesia.
Setelah itu, tahap kedua, interaksi, infiltrasi, dan advokasi ke lembaga
militer, keamanan, dan institusi2 kunci. Setelah semua terpengaruhi, dan jika
momennya sudah tepat, mereka akan menegakkan hukum Islam. Dan, pada tahap
inilah rezim khilafah dinyatakan berdiri.
Gagasan mengenai khilafah sebetulnya tidak hanya diusung oleh HT, termasuk HT
di Indonesia. Pada tingkat tertentu gerakan tarbiyyah yang condong ke Ikhwanul
Muslimun, juga mencita-citakan negara Islam, meski namanya bukan khilafah.
Mereka sama-sama mendambakan pemerintahan yang merujuk Al-Quran dan Sunnah.
Selain kedua gerakan tersebut, Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) malah sudah
mendeklarasikan Abu Bakr al-Baghdadi sebagai khalifah. Mereka mengklaim negara
khilafah telah ditegakkan di wilayah yang mereka kuasai. Sejumlah hukum Islam
telah mereka terapkan. Perempuan yang keluar rumah dengan pakaian selain warna
hitam dihukum mati. Tentara musuh dibunuh bahkan ada yang dibakar hidup-hidup.
Terlepas dari debat sesama pengusungnya, khilafah tidak mengenal demokrasi.
Dalam khilafah tidak ada penyusunan hukum oleh representasi warga, apa pun
latar belakangnya. Khilafah hanya mengakui hukum berdasarkan Al-Qur’an dan
Hadits. Tidak mungkin bagi penganut khilafah mengakui dasar negara lain,
misalnya Pancasila. Meskipun sifatnya diametral namun khilafah sebetulnya
serupa dengan komunisme, dengan diktator (proletariatnya), internasionalisme
nya, dogmatismenya, militansinys, kebrutalan nya, brainwashing-nya, dan
intoleransi nya terhadap perbedaan. Boston 11Mei'17 Ginanjar Kartasasmita
Met pagi ceria sobat tercinta
*NASEHAT YG MENYEJUKKAN*
Oleh : Emha Ainun Nadjib
Dalam suatu forum saya bertanya, ”Apakah anda punya tetangga ?” Dijawab
serentak, “Tentu punya” “Punya istri enggak tetangga Anda ?”
“Yaa, punya doong” “Pernah lihat kaki istri tetangga Anda itu ?” “Secara
khusus tak pernah melihat” kata hadirin di forum, “Jari-jari kakinya lima atau
tujuh ?” “Tidak pernah memperhatikan”
“Body-nya sexy atau enggak ?”
Hadirin tertawa lepas. Dan saya lanjutkan tanpa menunggu jawaban mereka, “Sexy
atau tidak bukan urusan kita, kan ?" Tidak usah kita perhatikan, tak usah kita
amati, tak usah kita dialogkan, diskusikan atau perdebatkan.
Biarkan saja.
Keyakinan keagamaan orang lain itu yaa ibarat istri orang lain.
Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah dipersoalkan benar salahnya, mana yang
lebih unggul atau apa pun.
Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini begitu
dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan di dalam hati.
Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah.
Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam.
Kalau dia beranggapan atau meyakini bahwa Islam itu benar, ngapain dia jadi
non-Islam ?
Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah.
Justru berdasar itulah maka ia menjadi orang Islam.
Tapi, sebagaimana istri tetangga. Itu disimpan saja di dalam hati, jangan
diungkapkan, diperbandingkan atau
dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.
Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri dan jagalah kemerdekaan
masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai istrinya masing-masing, tak
usah rewel bahwa istri kita lebih mancung hidungnya karena Bapaknya dulu
sunatnya pakai calak dan tidak pakai dokter, umpamanya.
Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama tak usah dipertengkarkan,
biarkan masing-masing pada keyakinannya.
Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya gembos,
silahkan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk mengantar
istrinya ke rumah sakit.
Atau Pak Pastor yang sebelah sana karena baju misanya kehujanan, padahal
waktunya mendesak, ia boleh pinjam baju koko tetangganya yang NU mau pun yang
Muhamadiyah.
Atau ada orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha,
kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga Protestan untuk
kulakan bahan-bahan jualannya.
Tetangga-tetangga berbagai pemeluk agama, warga berbagai parpol, golongan,
aliran, kelompok atau apa pun, silakan bekerja sama di bidang usaha
perekonomian, sosial,
kebudayaan, sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing.
Bisa memperbaiki pagar bersama-sama, bisa gugur gunung membersihi kampung, bisa
pergi mancing bareng, bisa main gaple dan remi bersama.
Bisa ngumpul nge WA, BB-an & Facebookan,.. & media sosial lainnya,.. bersama.
Tidak ada masalah lurahnya Muslim, cariknya Katolik, kamituwonya Hindu,
kebayannya Gatholoco atau apa pun.
Jangankan kerja sama dengan sesama manusia, sedangkan dengan kerbau dan sapi
pun kita bekerja sama nyąngkul dan olah sawah.
Itulah lingkaran tulus hati dengan hati.
Semoga... kita makin sadar akan pentingnya Toleransi... Solidaritas &
Kerukunan.
Bahwa semuanya itu indah nan Fitri... !!!
Tolong diforward ke sahabat dan saudara2 kita, agar timbul ketenangan dan
kedamaian.Damai dihati...
Damai di bumi...
16-05-17,
MENANGKAN PSYWAR UNTUK NKRI ! 1. Teman2 sy berdiskusi dg beberapa teman dan
sumber, saat ini sedang ada psywar karena kubu lawan Jokowi sangat terpukul
krn ukuran aksi Lilin yg luar biasa dahsyat. 2. Karena mereka tidak mungkin
melakukan konsolidasi massa dg ukuran yg sama, mereka melakukan psywar dg
menyebarluaskan banyak hoax dan berbagai serangan di dunia maya, termasuk isu
aksi massa tgl 20 yang sejauh ini isu belaka. 3. Yg jelas posisi Jokowi sangat
kuat, krn mendapat dukungan penuh rakyat lewat 1000 lilin, jendral2 nasionalis
(termasuk jendral2 senior nasionalis orde baru) kepolisian (jendral Tito sangat
setia pada Jkw), AU dan AL, intelektual, pemuka agama dan budaya, dan terutama
jutaan warga NKRI di berbagai penjuru dunia yang sudah menunjukkan janji setia
mereka melalui aksi 1000 lilin di berbagai kota dan desa. 4. Karena kubu
tetangga sangat terjepit mereka melakukan serangan balik scr maya dg menebar
banyak hoax agar pendukung NKRI-Jokowi-Ahok melemah, mulai dari demoralisasi
aksi bersih oleh FPI (di Jambi ada hoax FPI bersih2 sisa lilin padahal massa
jelas tidak meletakkan lilin pasca aksi, misalnya), memecah pendukung Ahok dan
pendukung Jokowi, hingga hoax aksi 20 mei. 5. Psywar juga dilakukan dg berusaha
membingkai kalau aksi 1000 lilin dibuat oleh minoritas, rawan konflik, dan
lain2. Padahal jelas kita semua tahu itu aksi seluruh rakyat Indonesia. 6.
Tetapi secara keseluruhan kondisi Indonesia sangat aman dan terkendali. Titik2
potensial konflik sudah diamati terus dan aman. Kekuatan anti Jokowi-Ahok saat
ini sedang tiarap dan disorientasi, itu mengapa mereka hanya bisa bermain isu.
Ingat _psywar meninggi karena mereka kalah dalam aksi fisik_, pertempuran
digeser ke arah mental. 7. Jadi jangan takut atau surut dalam memberi dukungan
kepada NKRI, Ahok, dan Jokowi melalui berbagai aksi kreatif dan damai di daerah
kita masing2. Jangan turunkan tensi dan terus nembangun pesan yg fokus dan
tajam dalam berjuang. Tetap konsisten mewartakan : a. dukungan ke
NKRI-Pancasila-Bhinneka, b. tolak dan bubarkan ormas radikal intoleran, c.
Stop politisasi agama d. Keadilan untuk Ahok dan sistem pengadilan yg bebas
mafia politik. e. Dukungan penuh pada Jokowi dan POLRI, 8. Jangan mudah
termakan hoax dan ikut menebar hoax ke publik. Jangan sebar ketakutan kepada
publik sbgmn diinginkan kubu sebelah. Hari2 ini akan dipenuhi isu omong kosong.
Lawan psywar dengan : a. Tetap berani, konsisten, dan cerdas, jangan mudah
ditakut2i dengan logika dan narasi apapun, b. Tetap solid dan terus saling
koordinasi dan komunikasi c. Putus rantai hoax dengan tidak menyebarluaskan dan
buatlah kounternya di berbagai isu d. Bangun aksi bersama lintas iman, suku,
golongan, kita kuat kalau tetap bersatu dalam keberagaman
e. Perkuat perjuangan pro NKRI di dunia maya
Tetap berjuang dan sebarkan pesan save NKRI!
Sebarluaskan pesan ini jika kamu cinta NKRI dan ingin Indonesia yang lebih baik.
Verstuurd vanaf mijn iPad #yiv5094305706 #yiv5094305706 --
#yiv5094305706ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-mkp #yiv5094305706hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-mkp #yiv5094305706ads
{margin-bottom:10px;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-mkp .yiv5094305706ad
{padding:0 0;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-mkp .yiv5094305706ad p
{margin:0;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-mkp .yiv5094305706ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-sponsor
#yiv5094305706ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv5094305706
#yiv5094305706ygrp-sponsor #yiv5094305706ygrp-lc #yiv5094305706hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv5094305706
#yiv5094305706ygrp-sponsor #yiv5094305706ygrp-lc .yiv5094305706ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv5094305706 #yiv5094305706actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv5094305706
#yiv5094305706activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv5094305706
#yiv5094305706activity span {font-weight:700;}#yiv5094305706
#yiv5094305706activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv5094305706 #yiv5094305706activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv5094305706 #yiv5094305706activity span
span {color:#ff7900;}#yiv5094305706 #yiv5094305706activity span
.yiv5094305706underline {text-decoration:underline;}#yiv5094305706
.yiv5094305706attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv5094305706 .yiv5094305706attach div a
{text-decoration:none;}#yiv5094305706 .yiv5094305706attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv5094305706 .yiv5094305706attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv5094305706 .yiv5094305706attach label a
{text-decoration:none;}#yiv5094305706 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv5094305706 .yiv5094305706bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv5094305706
.yiv5094305706bold a {text-decoration:none;}#yiv5094305706 dd.yiv5094305706last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5094305706 dd.yiv5094305706last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv5094305706
dd.yiv5094305706last p span.yiv5094305706yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv5094305706 div.yiv5094305706attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv5094305706 div.yiv5094305706attach-table
{width:400px;}#yiv5094305706 div.yiv5094305706file-title a, #yiv5094305706
div.yiv5094305706file-title a:active, #yiv5094305706
div.yiv5094305706file-title a:hover, #yiv5094305706 div.yiv5094305706file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv5094305706 div.yiv5094305706photo-title a,
#yiv5094305706 div.yiv5094305706photo-title a:active, #yiv5094305706
div.yiv5094305706photo-title a:hover, #yiv5094305706
div.yiv5094305706photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv5094305706
div#yiv5094305706ygrp-mlmsg #yiv5094305706ygrp-msg p a
span.yiv5094305706yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv5094305706
.yiv5094305706green {color:#628c2a;}#yiv5094305706 .yiv5094305706MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv5094305706 o {font-size:0;}#yiv5094305706
#yiv5094305706photos div {float:left;width:72px;}#yiv5094305706
#yiv5094305706photos div div {border:1px solid
#666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv5094305706
#yiv5094305706photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv5094305706
#yiv5094305706reco-category {font-size:77%;}#yiv5094305706
#yiv5094305706reco-desc {font-size:77%;}#yiv5094305706 .yiv5094305706replbq
{margin:4px;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5094305706
#yiv5094305706ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv5094305706
#yiv5094305706ygrp-mlmsg select, #yiv5094305706 input, #yiv5094305706 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv5094305706
#yiv5094305706ygrp-mlmsg pre, #yiv5094305706 code {font:115%
monospace;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-mlmsg #yiv5094305706logo
{padding-bottom:10px;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-msg
p#yiv5094305706attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv5094305706
#yiv5094305706ygrp-reco #yiv5094305706reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-sponsor
#yiv5094305706ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv5094305706
#yiv5094305706ygrp-sponsor #yiv5094305706ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv5094305706
#yiv5094305706ygrp-sponsor #yiv5094305706ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv5094305706 #yiv5094305706ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv5094305706
#yiv5094305706ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv5094305706