Gereja di Papua dan Lilin Untuk Ahok 
http://suarapapua.com/2017/05/15/gereja-di-papua-dan-lilin-untuk-ahok/ By
 Suara Papua http://suarapapua.com/author/admin/  -

 May 15, 2017 0 
http://suarapapua.com/2017/05/15/gereja-di-papua-dan-lilin-untuk-ahok/#respond
 103


 

 
 http://suarapapua.com/wp-content/uploads/2017/05/IMG_0698.jpg Aksi seribu 
lilin untuk matinya penegakkan HAM di Papua yang digelar di Wamena, Jayawijaya. 
(Elisa Sekenyap - SP)

 Oleh: Made Supriatma
 Gereja Papua: Sama seperti di Timor Leste dulu, gereja-gereja (baik Katolik 
maupun Protestan) sangat peduli dengan NKRI. Itulah sebabnya, karena kasus 
Ahok, mereka seperti cacing kepanasan. Mereka mau menjadi penyelamat NKRI dan 
Pancasila.
 Hanya saja, ada kontras yang amat tajam di sini. Cacing mereka merasa nyaman 
dan tenteram justru ketika umat mereka dibunuh dan disiksa.
 Saya ingat sekitar dua tahun lalu, beberapa seminarian Fransiskan dan 
suster-suster turun ke jalan untuk menyerukan penghentian pembunuhan dan 
penyiksaan terhadap anak-anak muda Papua. Bapa Uskup langsung merasa jubahnya 
terbakar. Kabarnya, para frater dan suster ini kena damprat.
 Selama beberapa hari ini, saya membaca para intelektual Papua menyuarakan 
kegelisahan mereka. Kawan-kawan saya mempertanyakan mobilisasi dukungan untuk 
Ahok ini. Salah satunya merumuskan dengan sangat baik:
 “Tapi manakah lilin yang sama untuk Arnold Ap, Theys Eluay, Kelly Kwalik, 
Yawan Wayeni, Filep Jees Karma-Linus Hiluka-Steven Itlay, dkk yg dipenjara 
sewenang-wenang, Marthen Tabu, Melkianus Awom, Mako Tabuni, 
Gobai-You-Yeimo-Pigai….dst..dst..dst….???”
 Gereja di Papua adalah Gereja yang amat asing terhadap umatnya. Gereja ini 
sangat ‘out of touch’. Inilah Gereja para penguasa dan penindas. Tidak 
sedikitpun dia bicara tentang umatnya. Dia lebih sering hadir di acara-acara 
Kodam, Polda atau Korem ketimbang di rumah-rumah umatnya yang miskin.
 Apakah Gereja pernah menengok anak-anak mudanya di Kamp Vietnam –yang menjadi 
markas KNPB? Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa berpikir untuk bicara dengan 
anak-anak muda ini pun tidak pernah terlintas di pikiran gereja penguasa ini. 
Ia tidak pernah terpikirkan karena memang Gereja tidak merasa menjadi bagian 
dari penderitaan dan perjuangan orang Papua.
 Rakyat Papua adalah bangsa piatu. Mereka ditinggal tanpa pembela. Bahkan, 
Gereja yang seharusnya menjadi ‘rumah singgah’ untuk mendapat penghiburan pun 
menampik mereka. Rakyat Papua adalah rakyat yang terlunta. Dia ditolak persis 
seperti Yesus sendiri ditolak oleh pemuka-pemuka agama di jamannya.
 Salah seorang kawan Papua, ketika menanggapi soal lilin untuk Ahok ini, 
berkata pada saya, “Sa pu lilin akan sa simpan saja karena listrik PLN sering 
mati!”.
 Gereja ini telah membiarkan anak-anaknya menjadi piatu!
  
 Penulis adalah Pengamat Militer dan Peneliti Independen

 

Kirim email ke