Heboh! Jadi Pembicara “Islam Jalan Tengah” Di Oxford, JK Disambut Protes 
https://seword.com/luar-negeri/heboh-jadi-pembicara-islam-jalan-tengah-di-oxford-jk-disambut-protes/
 138 
https://seword.com/luar-negeri/heboh-jadi-pembicara-islam-jalan-tengah-di-oxford-jk-disambut-protes/#comments
 BY PALTI HUTABARAT https://seword.com/author/palti/ ON MAY 19, 2017LUAR NEGERI 
https://seword.com/category/luar-negeri/
 
 https://twitter.com/susilo

 Nama Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) kini oleh beberapa pihak diidentik dengan 
pergerakan Islam garis keras. Bukan karena JK secara resmi terdaftar sebagai 
anggota atau salah satu pimpinan ormas Islam garis keras, melainkan karena 
manuver-manuvernya yang diindikasikan membiarkan masjid dipolitisasi sedemikian 
rupa.
 JK yang biasanya berbicara keras mengenai masjid yang dipakai sebagai alat 
perusak toleransi antara umat dan juga tindakan yang berpotensi mengganggu 
ketertiban umum, kini tidak bereaksi apapun. Setelah selesai Pilkada Jakarta, 
bungkamnya JK ini pun terkuak. Ya, JK ternyata adalah pendukung Anies-Sandi.
 
 JK sendiri berkilah bahwa dia punya hak untuk melakukan itu. Tetapi tetap saja 
tindakan JK ini secara etis sebagai kepala negara sangatlah tidak elok. 
Seharusnya JK meniru sikap politik Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang bersikap 
netral di Pilkada Jakarta walau semua juga tahu Jokowi dekat dengan Gubernur 
Petahana Basuki Tjahaya Purnama (Ahok).
 JK DAN TOA MASJID
 Dulu JK pernah bersuara mengenai penggunaan Toa masjid yang memutar kaset 
pengajian dan juga mengatur jarak pengerasan suara toa supaya tidak saliong 
berantam antara satu masjid dengan yang lainnya. Terkait hal ini, JK 
beranggapan itu mengganggu dan menjadi polusi udara.
 Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta agar pengelola masjid di Indonesia berhenti 
memutar kaset pengajian. Menurut Kalla, kebiasaan ini tidak membuahkan pahala 
bagi pemutarnya, tetapi justru menganggu warga sekitar.
 “Permasalahannya yang ngaji cuma kaset dan memang kalau orang ngaji dapat 
pahala, tetapi kalau kaset yang diputar, dapat pahala tidak? Ini menjadi polusi 
suara,” kata Kalla saat menghadiri pembukaan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Majelis 
Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia di Pondok Pesantren Attauhidiyah, Tegal, 
Jawa Tengah, Senin (8/6/2015).
 Selain itu, pengeras suara masjid sedianya tidak saling melampaui antara 
masjid satu dengan masjid lainnya. Jika jarak satu masjid dengan masjid lainnya 
500 meter, Kalla berharap pengeras suara masing-masing masjid disetel untuk 
melampaui jarak 250 meter.
 “Tidak perlu dimaksimumkan, empat masjid seolah ‘berkelahi’. Kita bikin aturan 
suara tidak boleh saling melampaui. Kalau masjid jaraknya 500 meter, hanya 
boleh dipasang untuk 250 meter,” ujar dia 
http://nasional.kompas.com/read/2015/06/08/15402381/JK.Minta.Pengajian.Melalui.Kaset.Dihentikan.karena.Dianggap.Mengganggu..
 Ia pun berharap MUI turut mengatur masalah pengeras suara dan pemutaran kaset 
pengajian oleh masjid ini.
 Ini adalah sosok JK tanpa terlibat di Pilkada Jakarta. Sangat jauh berbeda 
dengan sikapnya saat Pilkada Jakarta. Suara SARA bergema melalui toa masjid, 
tetapi JK bungkam seribu bahasa. Kalau kaset pengajian dianggap mengganggu dan 
tidak mendapat pahala, apakah suara SARA melalui toa masjid mendapatkan pahala 
sehingga JK tidak melarang??
 JK sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) punya kewenangan dan hak untuk 
menyuarakan hal pelarangan penggunaan masjid untuk politik SARA. Tetapi 
ternyata tidak ada satu kata pun yang dipakai untuk menghentikan praktek 
politisasi masjid tersebut.
 Parahnya, setelah Pilkada Jakarta, JK baru aktif berbicara mengenai 
rekonsiliasi dan bersatu kembali. Gampang dan enak sekali berbicara persatuan 
setelah membiarkan terjadinya perpecahan. Sebuah tindakan busuk dan aksi cuci 
tangan yang memuakkan.
 JK DISAMBUT PROTES DI OXFORD
 Tindakan JK yang terindikasi membiarkan aksi SARA dan politisasi masjid 
tersebut pada akhirnya berdampak luas. JK yang diundang untuk berbicara dalam 
kuliah umum bertema ‘Middle Path Islam: Indonesia’s Experience’ di Universitas 
Oxford disambut oleh protes.
 Protes  
http://www.oxfordmail.co.uk/news/15293861.Protest_planned_to_coincide_with___39_Moderate_Islam__39__lecture_by_Indonesia_Vice_President/yang
 diinisiasi oleh Mariella Djorghi dan didukung oleh Wilson Chowdhry, pemimpin 
British Pakistani Christian Association. Mereka melakukan protes kedatangan JK 
memberikan kuliah tersebut karena JK dinilai bukanlah orang yang tepat dan 
pantas untuk menyampaikannya. Apalagi jika merujuk keterlibatan JK di Pilkada 
Jakarta yang mendukung Anies dan membiarkan politisasi masjid.
 JK sendiri mengaku diminta berbicara di Universitas Oxford kepada banyak ahli 
dan diplomat yang ingin mengetahui Islam khususnya, Islam di Indonesia.
 “Saya akan diundang ke Oxford, mereka ingin mengetahui Islam di Indonesia itu 
bagaimana, bagaimana jalan tengahnya. Akan hadir banyak ahli di sana dan juga 
diplomat-diplomat,” kata JK di Jakarta, Selasa.
 “Mereka ingin tahu, kenapa di dunia Islam yang terpecah belah ini, di 
Indonesia, alhamdulilah (tidak). Bagi kita bagaimana pentingnya adalah, 
bagaimana kita mengalirkan faham bahwa Islam itu bisa bersatu jika diatur 
dengan baik,” kata JK 
http://www.antaranews.com/berita/628313/jk-akan-bicara-soal-islam-di-universitas-oxford-inggris.
 Parahnya, kehadiran JK juga ikut mengungkit pembakaran Gereja 1968 di Makasar. 
JK yang saat itu adalah pemimpin HMI menggerakkan massa untuk ikut dalam aksi 
pembakaran gereja. Benar atau tidaknya, sampai saat ini JK tidak mengakuinya. 
Meski tuduhan tersebut sebenarnya tercatat dalam sebuah karya akademis 
https://www.berita168.com/wajar-pak-jk-rasis-jaman-masih-muda-ternyata-pernah-bakar-gereja/.
 Berikut adalah surat protes yang dikirimkan oleh Mariella..
 Dear Vice Chancellor,
 Many of us in the Indonesian community in the UK, including those studying at 
Oxford University, were aghast and disappointed to learn of the invitation to 
the Indonesian Vice President, Mr Jusuf Kalla, to give a lecture entitled 
‘Moderate Islam: Indonesia’s Experience’ at the Oxford Centre for Islamic 
Studies, this coming Thursday.
 Mr Kalla is widely known as a proponent of an intolerant form of Islam. For 
instance, back in 1968 as leader of the HMI (the Islamic Student Association) 
of Makassar, upon an allegation of blasphemy by a Catholic, Mr Kalla was 
recorded as having ”instructed all members of HMI and other Muslim 
organizations to come to nearby mosques at 8 pm. After the evening prayer 
(‘ishā’), the Muslims started attacking the Christian buildings, and the 
loud-speakers of the mosques shouting out “Allahu Akbar, defend your religion, 
be a martyr!” The Christian buildings attacked in the incidents were 9 
Protestant churches, 4 Catholic churches, 1 nuns’ dormitory, 1 Academy of 
Theology, 1 office of the Catholic student organization, and 2 Catholic 
schools.’
 
https://openaccess.leidenuniv.nl/bitstream/handle/1887/10061/Dissertation%20Mujiburrahman.pdf
 This invitation is all the more insensitive, coming as it does at a time when 
the hugely popular Christian governor of Jakarta, affectionately known as Ahok, 
has lost his re-election purely because Muslim organisations 
represented/supported by those close to Mr Kalla have been deliberately 
inciting religious hatred, urging people to take to the streets reminding them 
that according to the Qur’an, Muslims are not allowed to appoint a non-Muslim 
to be in a position of leadership. They have been quoting the verse, Al Maida 
51, which says:
 ‘O you who have believed, do not take the Jews and the Christians as allies. 
They are [in fact]allies of one another. And whoever is an ally to them among 
you – then indeed, he is [one]of them. Indeed, Allah guides not the wrongdoing 
people.’ [Sahih International translation]
 
 ‘O ye who believe! Take not the Jews and the Christians for friends. They are 
friends one to another. He among you who taketh them for friends is (one) of 
them. Lo! Allah guideth not wrongdoing folk.’ [Pickthall translation]
 http://corpus.quran.com/translation.jsp?chapter=5&verse=51
 Whilst still governor and campaigning for re-election, Mr Ahok was dragged to 
court for quoting the above-mentioned Qur’an verse, claiming that the so-called 
radicals have misquoted this verse to trick people not to vote for him. This 
incensed the radicals who accused him of blasphemy. The court accordingly 
sentenced him to two years imprisonment, which was harsh even by Indonesian 
standards. This again caused international condemnation. Meanwhile, despite an 
obligation to remain neutral, Mr Kalla has been actively backing the 
alternative candidate, an Islamist, for which he has been widely criticized.
 Indonesia is on the verge of falling victim to religious intolerance, and to 
have Mr Kalla given a platform at this time is DEEPLY INSULTING to many 
Indonesians and risk conferring on him credibility which he does NOT deserve.
 We hope that when he speaks on this occasion the audience will view what he 
says with suitable scepticism and raise with him the points outlined above.
 Grateful if you would confirm receipt of this email.
 Yours faithfully,
 Mariella Djorghi
 Dalam kuliah umumnya JK juga menggunakannya sebagai jawaban kepada tudingan 
media luar terkait pemberitaan miring di Pilkada Jakarta. JK ingin anggapan 
bahwa isu SARA di Pilkada Jakarta disingkirkan. Hal tersebut terlihat saat JK 
menyinggung mengenai kasus Ahok dan adanyanya Gubernur non muslim. Berikut 
adalah cuitan terkait kulaih umum JK..
 Aria Danaparamita‏ @mitatweets https://twitter.com/mitatweets
 Indonesia always celebrated diversity. We have non-Muslim governors & mayors 
in Muslim majority places – JK ( #ehmAhok 
https://twitter.com/hashtag/ehmAhok?src=hash)
 Ahok, judicial process is still underway, we must uphold rule of law & 
judicial independence – JK
 Ahok: Jakarta election not about religion, it’s democracy. If you lose, you 
should receive the loss. – JK
 Similarity in religion is important in elections so if the majority is Muslim 
then it’s ok to elect Muslim leaders –  #JKOxford 
https://twitter.com/hashtag/JKOxford?src=hash
 Aksi JK untuk menepis tudingan media asing terkait Pilkada Jakarta perlu 
dilakukan sebagai aksi bersih-bersih setelah terjadinya aksi kotor SARA yang 
mebombardir Pilkada Jakarta. Peran paling cocok tentunya dilakukan oleh seoran 
Wakil Presiden. Sejalan juga dengan usaha Prabowo saat bertemu dengan beberapa 
dubes negara lain demi mengklarifikasi isu SARA.
 Sayangnya, isu itu tetap disuarakan oleh protes yang terjadi di Oxford. 
Berikut adalah aksi mereka..
 https://twitter.com/mitatweets

 
https://www.facebook.com/bbc.indonesia/photos/pcb.10158862719465434/10158862699695434/?type=3&theater

 
https://www.facebook.com/bbc.indonesia/photos/pcb.10158862719465434/10158862699695434/?type=3&theater

 
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1507488972629695&set=pcb.760627940764305&type=3&theater

 
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1507488972629695&set=pcb.760627940764305&type=3&theater

 Sudahlah Pak JK. Tidak ada gunanya aksi bersih-bersih adanya isu SARA di 
Pilkada Jakarta. Orang luar bukanlah orang bodoh yang bisa ditipu dengan 
penjelasan dalam acara-acara resmi. Media bukan seperti di Indonesia bisa 
diseting sedemikian rupa. Mereka punya reporter dan sumber yang merasakan 
sendiri isu SARA yang sangat panas tersebut.
 Jadi Pak JK. Jujur saja, anda pro mana?? NKRI dan Islam moderat atau Negara 
Islam dan Islam Radikal?? (seperti gambar protes)



 

Kirim email ke