Jumat, 19/05/2017 15:21 WIB
 Diare Karena Susu Bukan Berarti Berhenti Minum Susu 
http://student.cnnindonesia.com/keluarga/20170517131932-436-215441/diare-karena-susu-bukan-berarti-berhenti-minum-susu/
 

 

 

 Menuang susu. (Foto: Couleur/Pixabay)

 

 Jakarta, CNN Indonesia -- Pernahkah kamu mengalami sakit perut, diare, mual, 
dan kembung sesaat setelah minum susu? Jika ya, maka ada peluang kamu mengidap 
intoleransi laktosa, yaitu ketidakmampuan sistem pencernaan untuk mengurai dan 
menyerap gula laktosa dalam susu akibat kekurangan enzim laktase.

Intoleransi laktosa merupakan ‘penyakit’ yang banyak terjadi terutama pada 
masyarakat Asia, Amerika Selatan, dan Afrika.

Laktosa merupakan gula disakarida yang tersusun atas gula glukosa dan 
galaktosa. Laktosa dalam bentuk bebas hanya dapat ditemukan pada susu mamalia. 

Dalam sistem pencernaan manusia, laktosa harus diurai terlebih dahulu menjadi 
gula glukosa dan galaktosa agar proses penyerapan dalam usus halus dapat 
berlangsung. Proses penguraian gula laktosa dalam sistem pencernaan dilakukan 
dengan bantuan enzim laktase pada usus halus. 

Kekurangan enzim laktase pada usus halus dapat memperlambat proses penguraian 
laktosa, kemudian menyebabkan penumpukan laktosa dalam sistem pencernaan. 
Laktosa yang menumpuk akan diteruskan ke usus besar, kemudian difermentasi oleh 
mikroorganisme dalam usus besar. Hasil akhirnya berupa asam laktat, gas metana 
(CH4), dan hidrogen (H2).

Berhenti Minum Susu?
Beberapa orang yang memiliki penyakit intoleransi laktosa dan tidak mengetahui 
tentang tersebut mungkin akan memilih untuk berhenti mengonsumsi susu. Tindakan 
ini tidak dianjurkan karena susu memegang peranan penting sebagai penyedia 
nutrisi. Susu mengandung mineral yang penting untuk tubuh, seperti kalsium dan 
fosfor. Susu juga kaya akan lisin dan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.

Selain menghentikan konsumsi susu, beberapa orang juga berpikiran mengencerkan 
susu dapat mengurangi kemungkinan sakit perut akibat mengonsumsi susu. Langkah 
ini kurang tepat karena dengan pengenceran, setiap nutrisi pada susu akan ikut 
terencerkan. Akibatnya nutrisi yang seharusnya dapat kita peroleh dari satu 
gelas susu menjadi berkurang.

Susu Nabati 
Dalam perkembangannya, susu nabati seperti susu kedelai merupakan produk 
substitusi susu sapi yang muncul akibat tingginya harga produk susu sapi. Susu 
kedelai tidak mengandung laktosa, yang berarti susu ini cukup aman untuk 
diminum penderita intoleransi laktosa. 

Susu kedelai memiliki beberapa kekurangan dibandingkan susu sapi. Salah satunya 
jumlah mineral kalsium dalam susu kedelai tidak sebanyak susu sapi. Susu 
kedelai murni hanya mengandung seperempat kalsium yang ada pada susu sapi. 

Beberapa produsen mencoba mengatasi masalah ini dengan menambahkan kalsium 
selama proses pengolahan, namun studi menunjukkan penambahan kalsium selama 
proses pengolahan tidak memberikan manfaat sebaik kalsium alami. Kekurangan 
susu kedelai yang lain adalah seringnya muncul flavor dan aroma yang tidak 
diinginkan, seperti bau tengik dan rasa pahit pada susu kedelai. 

Susu Bebas Laktosa
Saat ini telah banyak berkembang susu yang tidak mengandung atau sedikit 
mengandung laktosa. Produsen umumnya melakukan penambahan enzim laktase selama 
proses pengolahan susu. Akibat penambahan enzim laktase, gula laktosa dalam 
susu dapat dipecah menjadi gula glukosa dan galaktosa. 

Sifat glukosa dan galaktosa yang manis menyebabkan penambahan gula tidak lagi 
diperlukan diperlukan dalam jumlah sedikit pada produk susu. Produk susu bebas 
laktosa di pasar Indonesia diberikan tanda khusus berupa label ‘Bebas Laktosa’. 
Susu dengan tanda bebas laktosa berarti 99,9% kandungan laktosa dalam susu 
telah diurai atau dihilangkan. 

Produk Susu Fermentasi
Yogurt, Yakult, dan Kefir adalah beberapa contoh produk susu fermentasi, yaitu 
produk susu yang telah mendapat perlakuan fermentasi oleh mikroorganisme 
tertentu. Umumnya, susu fermentasi mengandung probiotik, mikroba hidup yang 
bermanfaat bagi manusia terutama dalam saluran pencernaan. 

Setiap produk susu fermentasi memiliki jenis bakteri probiotik yang 
berbeda-beda. Yogurt dengan bakteri Lactobacillus bulgaricus, dan Streptococcus 
thermophilus. Yakult dengan bakteri Lactobacillus casei. Salah satu metabolit 
hasil fermentasi oleh bakteri asam laktat pada laktosa adalah asam laktat, yang 
menyebabkan media fermentasi (dalam kasus ini adalah susu) menjadi asam. 

Inilah alasan mengapa produk-produk olahan susu pada umumnya memiliki ciri khas 
rasa asam. Proses fermentasi tersebut dapat menurunkan kadar laktosa pada susu, 
sehingga penderita intoleransi laktosa dapat mengonsumsi susu tanpa perlu 
khawatir dengan sakit yang biasanya timbul setelah minum susu.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan jika penyakit intoleransi laktosa 
tidak harus diselesaikan dengan berhenti minum susu. Konsumsi produk susu 
olahan atau susu dengan kadar laktosa rendah dapat menjadi solusi bagi mereka 
yang mengidap intoleransi laktosa. (ded/ded)

 

Kirim email ke