Pria yang dibayar untuk berhubungan seks dengan anak
24 Juli 2016
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/07/160721_majalah_pria_bayaran_seks

Image captionAniva, pria yang dibayar untuk berhubungan seks dengan anak-anak
 
Di area terpencil di selatan Malawi, anak-anak gadis lumrah dipaksa berhubungan 
seks dengan seorang pekerja seks yang disebut ‘hyena’ ketika mereka mencapai 
pubertas.

Tindakan ini tidak dianggap sebagai pemerkosaan oleh tetua adat, namun sebagai 
bentuk ritual ‘pembersihan’. Tetapi, seperti dilaporkan Ed Butler, hal ini 
memiliki potensi sebaliknya, bukan pembersihan tapi sebuah cara menyebarkan 
penyakit.

Saya bertemu Eric Aniva di halaman gubuknya yang berdebu di kawasan Nsanje di 
selatan Malawi. Beberapa kambing dan ayam tampak makan kotoran di luar.

Mengenakan baju hijau yang kotor, dan berjalan pincang (salah satu kakinya 
timpang sejak lahir katanya), dia menyambut saya dengan antusias. Dia 
sepertinya senang dengan perhatian media.

  a.. Dikecam, beasiswa khusus bagi para siswi yang perawan 
  b.. Homoseksual kini tidak melanggar hukum di Seychelles 
  c.. 'Pemeriksaan dubur terkait seks anal' di Kenya digugat
Aniva dianggap sebagai ‘hyena’ terbaik di kampung. Gelar adat itu diberikan ke 
seorang pria yang dibayar oleh beberapa komunitas di bagian terpencil di 
selatan Malawi untuk memberikan yang disebut dengan ‘pembersihan’ seksual.

Jika seorang pria meninggal, misalnya, maka menurut tradisi istrinya wajib 
tidur dengan Aniva sebelum dia dapat mengubur suaminya. Jika seorang wanita 
mengalami aborsi, pembersihan seksual juga wajib dilakukan.

Dan yang paling mengejutkan, di Nsanje ini, remaja perempuan setelah 
mendapatkan menstruasi pertama mereka, dipaksa berhubungan seks hingga tiga 
hari, untuk menandai peralihan dari masa anak-anak ke wanita dewasa.

Jika mereka menolak, dipercaya bahwa penyakit atau kemalangan yang fatal dapat 
terjadi di keluarga mereka atau bahkan di seluruh kampung.

"Kebanyakan yang saya pernah tiduri adalah remaja putri, anak perempuan yang 
masih bersekolah," Aniva bercerita ke saya.


 
"Beberapa anak masih berusia 12 atau 13 tahun, namun saya lebih suka yang lebih 
tua. Semua anak perempuan ini senang jika saya menjadi hyena mereka. Mereka 
sesungguhnya bangga dan menceritakan ke orang lain jika lelaki ini adalah 
lelaki sejati, dia tahu bagaimana menyenangkan seorang wanita.”

Terlepas dari perkataannya yang menyombong, beberapa anak yang saya temui di 
kampung terdekat memperlihatkan kejijikan atas siksaan yang harus mereka lewati.

"Tidak ada lagi yang dapat saya perbuat. Saya harus melakukannya demi orangtua 
saya,” seorang gadis, Maria, berkata kepada saya. "Jika saya menolak, anggota 
keluarga saya dapat terkena penyakit –bahkan mati– sehingga saya pun takut."

Mereka mengaku semua teman-teman perempuan mereka dipaksa berhubungan seksual 
dengan seorang hyena.

Aniva sepertinya berusia 40an (dia tidak pernah jelas dengan usianya) dan 
sekarang memiliki dua istri yang tahu persis apa yang dia kerjakan.

Dia mengklaim telah tidur dengan 104 wanita dan gadis –meski jumlah yang sama 
dia sebutkan di harian lokal pada 2012, saya merasa dia sudah tidak menghitung 
lagi sejak lama.

Aniva memiliki lima anak yang diketahuinya – dia tak yakin berapa banyak wanita 
dan gadis telah hamil dibuatnya.

Dia berkata dia salah satu dari 10 hyena di komunitas ini dan setiap kampung di 
kawasan Nsanje memiliki hyena. Mereka dibayar dari US$4 (Rp 52.000) hingga US$7 
(Rp 92.000) setiap kali.

Berjarak satu jam perjalanan, saya dikenalkan dengan Fagisi, Chrissie dan 
Phelia, wanita berusia 50 tahunan sebagai penjaga tradisi ini dilaksanakan di 
kampung mereka.

Tugas mereka adalah mengumpulkan gadis remaja di kamp-kamp setiap tahunnya, 
mengajarkan mereka akan tugas mereka sebagai istri dan bagaimana menyenangkan 
seorang pria secara seksual.

‘Pembersihan seksual’ dengan seorang hyena adalah tahapan terakhir proses ini, 
disusun dengan sukarela oleh para orangtua. Ini diperlukan, jelas Fagisi, 
Chrissie, dan Phelia, ‘agar orang tua dan komunitas mereka tak terjangkit 
penyakit’.

Chrissie
  Kami harus melatih anak-anak gadis kami perilaku yang baik, sehingga mereka 
tidak melenceng, menjadi istri yang baik sehingga suaminya puas.
Saya menjelaskan ke mereka jika ada risiko yang lebih besar jika ‘pembersihan’ 
ini dapat menyebarkan penyakit. Sesuai adat, seks dengan hyena tidak boleh 
diproteksi dengan penggunaan kondom. Tetapi mereka berkata seorang hyena 
dipilih karena moralnya yang baik oleh karena itu tidak mungkin terinfeksi 
HIV/Aids.

Jelas sekali, dengan tugas-tugas seorang hyena, HIV adalah risiko besar untuk 
suatu komunitas. Menurut estimasi PBB satu diantara 10 penduduk Malawi membawa 
virus HIV, jadi saya menanyakan Aniva apakah dia HIV-positif.

Dia mengejutkan saya saat dia berkata ya – dan dia tidak menyebutkan hal ini ke 
orang tua gadis ketika mereka mempekerjakan dia.

Saat kami melanjutkan pembicaraan, Aniva melihat saya tidak kagum. Dia pun 
berhenti menyombong dan mengaku dia sudah mengurangi pembersihan dibanding 
sebelumnya.


Image captionAniva mengkonsumsi tumbuhan akar-akaran sebelum melakukan hubungan 
seks
 
“Saya kadang-kadang masih melakukan ritual,” dia mengaku. Kemudian dia berkata: 
“Saya berhenti sekarang.”

Semua yang terlibat di ritual ini sadar jika adat ini dikutuk orang luar – 
bukan saja di gereja, tapi juga oleh LSM dan pemerintah, yang telah meluncurkan 
kampanye menentang hal ini yang disebut ‘praktik-praktik budaya yang berbahaya”.

"Kami tidak akan mengutuk orang-orangnya," kata Dr May Shaba, sekretaris 
Kementerian Gender dan Kesejahteraaan. "Namun kami akan memberikan mereka 
informasi yang mereka butuhkan untuk mengubah ritual mereka.”

Fanny, istri Aniva
  Saya ingin tradisi ini berhenti –kami dipaksa tidur dengan hyena, ini diluar 
kehendak kami dan saya pikir ini sangat menyedihkan bagi kami para wanita
Saya diberi tahu bahwa para orangtua yang lebih berpendidikan mungkin sudah 
memilih untuk tidak mempekerjakan seorang hyena. Namun tetua wanita yang saya 
wawancara tetap menentang.

  a.. Malawi bekukan UU anti hubungan sejenis 
  b.. Banjir landa Malawi, puluhan tewas 
  c.. Pemerintah Malawi kritik Madonna
"Tidak ada yang salah dengan budaya kami," Chrissie berkata. "Jika kamu melihat 
masyarakat saat ini, kamu dapat melihat anak-anak gadis tidak bertanggung 
jawab, jadi kami harus melatih anak-anak gadis kami kelakuan yang baik di 
kampung sehingga mereka tidak melenceng, menjadi istri yang baik sehingga 
suaminya puas, dengan demikian tidak ada hal buruk yang terjadi ke keluarga 
mereka.“

Menurut Pendeta Clause Boucher, seorang pastor katolik keturunan Prancis yang 
tinggal di Malawi selama 50 tahun dan saat ini seorang antropolog unggulan, 
ritual ini ada sejak beberapa abad lalu dan berasal dari kepercayaan kuno bahwa 
anak-anak butuh dialihkan ke ‘babak’ kedewasaan dengan tindakan seksual.

Di masa lampau, ketika remaja perempuan baru mencapai masa pubertasnya di usia 
15 atau 16 tahun, hal ini akan dilakukan oleh calon suami mereka.

Sekarang lebih mungkin dilakukan oleh seorang pekerja seks bayaran, seorang 
hyena, dan tidak ada rasa malu yang melekat terhadap tindakan itu.

Pendeta Boucher menunjukkan usaha-usaha untuk mengubah seksualisasi anak-anak 
ini telah ditolak di area terpencil di bagian selatan, meski agama Kristen 
sudah masuk di daerah itu lebih dari seabad lamanya dan Aids yang mewabah 
selama 30 tahun.


Image captionKepala Tertinggi Theresa Kachindamoto
 
Di sebagian besar negara ini khususnya di area yang dekat dengan kota Blantyre 
dan Lilongwe– ‘pembersihan seksual’ jarang sekali dilakukan.

Di kawasan Dedza di pusat Malawi, hyena hanya dipakai untuk menerima janda atau 
wanita mandul masuk komunitas, namun Kepala Tertinggi Theresa Kachindamoto 
-sosok kepala wanita yang langka di Malawi– telah membuat perjuangan menentang 
tradisi ini prioritas pribadinya.

Dia berusaha membangkitkan kepala-kepala daerah lainnya untuk membuat usaha 
serupa.

Di beberapa kawasan seperti Mangochi di bagian timur, upacara adat diadaptasi 
untuk menggantikan seks dengan mengurapi si anak gadis.

Di Nsanje, hanya ada sedikit usaha untuk melakukan perubahan. Malawi adalah 
salah satu negara termiskin di dunia dan kerap dilaporkan mengalami kelaparan, 
sehingga hal ini bukanlah prioritas kebijakan pemerintah.


Image captionDari kiri ke kanan: Aniva, Fanny dengan anak bungsu mereka, kakak 
Fanny dan seorang eks klien.
 
Di sebuah desa terpencil, saya bertemu salah seorang dari dua istri Aniva, 
Fanny, bersama anak bayinya yang paling bungsu. Fanny tadinya seorang janda 
sebelum ‘dibersihkan’ Aniva dengan seks. Mereka menikah tak lama kemudian.

Hubungan mereka terlihat tegang. Duduk di sampingnya, dia mengaku dengan 
malu-malu bahwa dia benci apa yang dia lakukan namun itu membawa penghasilan 
yang dibutuhkan.

Saya tanya apakah dia berharap balitanya yang berusia dua tahun akan melakukan 
ritual sekitar 10 tahun dari sekarang.

"Saya tidak mau itu terjadi," dia berkata. "Saya ingin tradisi ini berhenti. 
Kami dipaksa tidur dengan hyena. Ini di luar kehendak kami dan saya pikir ini 
sangat menyedihkan bagi kami para perempuan.”

"Kamu benci ketika ini dilakukan kepada kamu?" Saya bertanya.

"Saya masih membencinya hingga sekarang."

Ketika saya juga menanyakan Aniva apakah dia ingin anak perempuannya menjalani 
pembersihan seksual nantinya, dia kembali mengejutkan saya.

"Tidak anak saya. Saya tidak mengizinkan ini terjadi. Sekarang saya berjuang 
untuk menghentikan malapraktik ini.”

"Jadi, kamu berjuang menentang ini tapi kamu sendiri masih melakukannya?" Saya 
bertanya.

"Tidak, seperti yang saya katakan, saya berhenti sekarang."

"Sungguh?"

"Tentu saja. Sungguh, saya telah berhenti."

Kirim email ke