http://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-40150148
 http://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-40150148
 Mengurangi makan bisa jadi rahasia umur panjang dan sehat 
http://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-40150148 Alex RileyBBC Future
 45 menit lalu

 Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru Bagikan artikel ini dengan 
Facebook http://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-40150148#  Bagikan artikel ini 
dengan Twitter http://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-40150148#  Bagikan artikel 
ini dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-40150148#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fvert-fut-40150148
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-40150148#share-tools




 
 Hak atas fotoCHRIS HONDROS/GETTY IMAGESImage captionMengurangi asupan kalori 
mungkin lebih sulit diterapkan setiap hari karena akses ke makanan sangat 
terbuka. Di sebuah restoran pada masa depan yang tidak terlalu lama lagi, 
seorang laki-laki dan seorang perempuan melakukan kencan perdana. Setelah 
kegugupan mereda, semuanya berjalan lancar.
 Pria itu mengaku berusia 33 tahun dan sepanjang sebagian besar masa hidupnya 
ia tidak mempunyai pasangan. Dan meskipun ia tidak mengungkapkannya, ia 
berencana menikah dan mempunyai keluarga. Sang perempuan menanggapinya dengan 
mengatakan usianya 52 tahun dan pernah menikah, cerai, serta mempunyai 
anak-anak yang berusia 20-an tahun. Si pria tak menyangka -perempuan itu tampak 
sebaya dengannya, atau bahkan lebih muda.
 Itulah sebuah mimpi yang ingin diwujudkan oleh Julie Mattison dari National 
Institute on Ageing (NIA) atau Institut Nasional Penuaan di Amerika Serikat. Ia 
membayangkan suatu masa ketika umur secara kronologis berlalu setiap tahun tapi 
usia biologis dapat disetel ke waktu yang berbeda sehingga tua tidak sama 
artinya dengan makna kata itu seperti yang kita pahami sekarang.
 100 tahun ke depan dalam angka http://www.bbc.com/indonesia/vert-fut-39815855 
Rahasia panjang umur manula di Ikaria 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2013/01/130107_longlifesecret_science WHO 
inginkan pembatasan makanan tak sehat 
http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/01/160125_majalah_makanan_taksehat 
Hal tersebut tampaknya jauh dari jangkauan, tapi masyarakat kita sudah berusaha 
melangkah ke arah itu, berkat kemajuan obat-obatan dan perbaikan standar hidup 
sehat. Pada 2014, misalnya, Survei Interview Kesehatan Amerika Serikat mencatat 
bahwa 16% penduduk pada usia antara 50 hingga 64 tahun setiap harinya mengalami 
gangguan karena penyakit kronis. Tiga puluh tahun sebelumnya jumlah itu 
mencapai 23%. Artinya, selain mengalami masa hidup lebih panjang, kita juga 
mengalami 'masa kesehatan' -dan hal yang kedua tersebut terbukti lebih bisa 
ditempuh.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionMakanan tinggi kalori dewasa ini sangat 
sulit dihindari. Mengutip dan memperbarui pidato mantan Presiden Amerika 
Serikat, John F Kennedy, dalam Konferensi Penuaan di Gedung Putih yang pertama 
pada 1961, sejatinya kehidupan dapat ditambahkan ke umur, jadi bukan hanya umur 
yang ditambahkan ke dalam kehidupan.
 Pembatasan kalori Lantas, apa yang perlu kita lakukan untuk memperpanjang lagi 
umur dan menambah kualitas hidup kita? Para peniliti di seluruh dunia mencari 
berbagai pemikiran, tetapi bagi Mattison dan kolega-koleganya, jawabannya 
adalah perubahan sederhana dalam diet kita.
 Mereka meyakini bahwa kemungkinan kunci dari masa tua yang lebih baik adalah 
mengurangi kuantitas makanan yang kita konsumsi, melalui pendekatan yang 
disebut 'pembatasan kalori'.
 Diet ini lebih efektif dibandingkan mengurangi makanan berlemak sesekali, 
yaitu dengan cara mengurangi ukuran porsi makan secara bertahap dan 
berhati-hati untuk selamanya. Sejak awal tahun 1930-an, 30% pengurangan jumlah 
makanan yang dikonsumsi per hari memiliki hubungan dengan kehidupan yang lebih 
aktif dan panjang umur untuk cacing, lalat, tikus kecil, tikus besar dan monyet.
 Di dunia binatang, dengan kata lain, pembatasan kalori terbukti sebagai obat 
mujarab bagi kerusakan hidup. Dan mungkin saja hal tersebut dapat memberikan 
keuntungan yang sama bagi manusia.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionApa yang kita beli dapat berdampak 
mendalam terhadap kualitas hidup dan masa hidup kita. Pemikiran bahwa yang 
dimakan orang mempengaruhi kesehatannya tidak diragukan lagi sudah ada sebelum 
catatan sejarah yang masih ada sekarang. Akan tetapi, sebagaimana halnya dalam 
disiplin ilmiah, catatan rinci pertama berasal dari Yunani Kuno.
 Hippocrates -salah seorang ahli fisika yang mengatakan penyakit-penyakit 
adalah alamiah dan bukan ajaib- mengamati bahwa banyak penyakit berhubungan 
dengan kerakusan. Orang-orang Yunani yang gemuk cenderung meninggal dunia pada 
usia lebih muda dibanding orang Yunani yang ramping. Hal itu jelas dan ditulis 
di kertas papirus.
 Dari pusat ilmu pengetahuan tersebut, gagasan-gagasan ini kemudian diadopsi 
dan diadaptasi selama berabad-abad. Dan pada akhir Abad ke-15, Alvise Cornaro, 
seorang aristokrat lemah dari desa kecil di dekat Venesia, Italia, memasukkan 
kearifan tersebut ke benaknya dan menerapkannya pada dirinya sendiri.
 Jika hidup serba berlebihan mempunyai efek negatif, apakah menahan diri dari 
makanan bersifat positif? Untuk menemukan jawabannya, Cornaro, yang berusia 40 
tahun, hanya menyantap 350g (12oz) makanan setiap hari, kurang lebih sebanyak 
1.000 kalori jika berdasarkan perkiraan baru-baru ini. Ia makan roti, panatela 
-atau semacam biskuit panjang- kuah sup, dan telur.
 Untuk daging, ia memilih daging sapi muda, kambing, daging sapi, burung 
partridge yang biasa diburu, burung thrush, dan semua jenis unggas yang 
tersedia. Ia membeli ikan yang ditangkap di sungai setempat. Dengan membatasi 
jumlah tetapi tidak jenis makanannya, Cornaro mengklaim telah mencapai 
'kesehatan sempurna' sampai kematiannya lebih dari 40 tahun kemudian.
 Meskipun ia mengubah tanggal lahirnya ketika bertambah tua dan mengaku berumur 
98 tahun, diyakini dia berusia 84 tahun ketika meninggal dunia. Hal itu 
merupakan pencapaian luar biasa pada Abad ke-16 ketika usia 50 atau 60 dianggap 
tua. Pada 1591, cucu laki-lakinya menerbitkan buku besar yang terdiri dari tiga 
volume setelah kematiannya dengan judul Discourses on the Sober Life atau 
Wacana Hidup Sadar yang berisi dorongan pembatasan makanan bagi khalayak umum, 
dan mendefinisikan ulang penuaan itu sendiri.
 Dengan perbaikan kesehatan di masa-masa tua, maka kaum manula masih mempunyai 
kapasitas mental secara penuh dan akan mampu memanfaatkan pengetahuan yang 
telah diperoleh selama berpuluh-puluh tahun untuk tujuan baik, kata Carnaro. 
Dengan dietnya, kecantikan menjadi usia tua, bukan muda.
 Uji coba umur panjang Cornaro merupakan laki-laki yang menarik tetapi 
penemuannya tidak seharusnya diperlakukan sebagai sebuah kenyataan oleh 
disiplin ilmu pengetahuan apapun. Bahkan sekalipun ia jujur dengan mengatakan 
apa adanya dan tidak mengalami gangguan kesehatan selama hampir setengah abad 
-yang tampaknya tidak mungkin- ia adalah satu studi kasus yang tidak mewakili 
manusia secara keseluruhan.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionMonyet Rhesus diberi diet rendah kalori 
yang diterapkan secara ketat terbukti berumur panjang. Namun sejak penelitian 
dasar tahun 1953 pada tikus putih, pembatasan makanan antara 30% hingga 50% 
menunjukkan perpanjangan usia, menunda kematian akibat kelainan dan penyakit 
terkait usia. Tentu saja, yang berlaku bagi tikus atau organisme laboratorium 
mungkin tidak berlaku bagi manusia.
 Uji coba jangka panjang, dengan mengikuti jejak manusia sejak menginjak usia 
dewasa sampai kematian, jarang dilakukan. "Saya tidak berpendapat penelitian 
umur panjang pada manusia sebagai sesuatu yang bisa menjadi program riset yang 
dapat didanai," kata Mattison.
 "Bahkan kalau pun kita memulai manusia pada usia 40 atau 50 tahun, kita masih 
harus melakukan penelitian tambahan kira-kira 40 atau 50 tahun lagi."
 Lagi pula, tambahnya, untuk memastikan bahwa faktor-faktor tak terkait 
-seperti olahraga, merokok, perawatan medis, kesehatan mental- tidak sampai 
mempengaruhi hasil akhir uji coba adalah hampir tidak mungkin bagi spesies kita 
yang kompleks dari sisi sosial dan kultural.
 Oleh sebab itu, pada akhir 1980-an, dua uji coba independen jangka panjang 
-satu di NIA dan satu lagi di Unversitas Wisconsin- dilakukan untuk mempelajari 
pembatasan kalori dan penuaan pada monyet Rhesus. Tak hanya 93% DNA manusia 
sama dengan primata ini, cara manusia menua juga sama dengan monyet itu.
 Perlahan-lahan, setelah tengah baya (sekitar 15 tahun pada monyet Rhesus), 
tulang belakang mulai membungkuk, kulit dan otot mulai mengendur, dan di bagian 
yang masih tumbuh, bulu berubah dari warna seperti jahe menjadi abu-abu. 
Persamaan-persamaan yang ada lebih dalam lagi. Pada primata ini, timbulnya 
kanker, diabetes dan penyakit jantung bertambah sering dan bertambah buruk 
seiring dengan pertambahan usia.
 "Primata-primata itu adalah model yang luar biasa bagus untuk mempelajari 
penuaan," kata Rozalyn Anderson, seorang pakar ilmu penuaan di Universitas 
Wisconsin.
 Tak alami malnutrisi Dan primata mudah dikendalikan. Dengan diberi makanan 
berupa biskuit khusus, diet untuk 76 monyet di Universitas Wisconsin dan 121 
yang ada di NIA disesuaikan dengan usia, bobot tubuh dan nafsu makan 
alamiahnya. Semua monyet mendapat asupan penuh gizi dan mineral yang diperlukan 
tubuh. Yang terjadil adalah 50% dari kelompok monyet yang kalorinya dibatasi, 
makan 30% lebih sedikit dari kelompok lainnya.
 Ternyata monyet-monyet tersebut tidak mengalami malnutrisi atau kelaparan. 
Sebagai contoh, Sherman, monyet berumur 43 tahun dari NIA.
 Menurut Julie Mattison dari National Institute on Ageing (NIA) di Amerika 
Serikat, sejak menjalani diet pembatasan kalori tahun 1987, pada umur 16 tahun, 
Sherman belum menunjukkan tanda-tanda kelaparan yang biasanya jelas terlihat 
pada spesies ini.
 Sherman adalah monyet Rhesus tertua yang pernah tercatat, hampir 20 tahun 
lebih tua dibanding rata-rata masa hidup spesies itu yang hidup di kandang. 
Ketika monyet muda menderita penyakit dan sekarat, si monyet Sherman tampak 
kebal dari penuaan. Bahkan ketika umurnya mencapai 30-an tahun, Sherman 
mestinya dianggap sebagai monyet tua, tetapi ia tidak tampak atau beraksi 
seperti umurnya yang sudah tua.
 Pada tataran berbeda-beda, eksperimen atas monyet-monyet di NIA juga 
menunjukkan hasil yang sama. "Kami menemukan frekuensi diabetes, frekuensi 
kanker lebih rendah pada kelompok yang konsumsi kalorinya dibatasi," kata 
Mattison.
 Tahun 2009, uji coba di Universitas Wisconsin menerbitkan hasil serupa yang 
menakjubkan. Tidak hanya monyet-monyet tersebut tampak sangat muda -punya bulu 
lebih tebal, penipisannya kurang, dan warnanya cokelat bukan abu-abu- dibanding 
monyet-monyet yang diberi diet standar. Mereka juga lebih sehat pula dan bebas 
dari penyakit.
 Penyakit penuaan Kanker, seperti adenocarcinoma usus yang umum terjadi, 
berkurang lebih dari 50%. Risiko penyakit jantung juga berkurang 50%. Dan 
meskipun 11 monyet ad libitumatau yangmakan seperti biasanya, mengalami 
diabetes dan lima tanda-tanda pradiabetes, pengontrolan gula darah tampak sehat 
di semua monyet yang asupan kalorinya dibatasi. Bagi monyet-monyet tersebut, 
diabetes tidak menjadi persoalan.
 Secara keseluruhan, hanya 13% monyet di kelompok yang kalorinya dibatasi mati 
karena sebab-sebab penuaan dalam kurun waktu 20 tahun. Di kelompok ad libitum, 
jumlahnya 37% mati atau hampir tiga kali lipat dibanding kelompok yang asupan 
kalorinya dibatasi.
 Dalam penelitian perbaruan di Universitas Wisconsin pada 2014, persentase ini 
tetap stabil.
 "Kami telah membuktikan bahwa penuaan dapat dimanipulasi pada primata," kata 
Anderson.
 "Ini seperti ditutup-tutupi karena jelas, tetapi secara konsep persoalan ini 
sangat penting bahwa penuaan merupakan target yang masuk akal bagi intervensi 
klinis dan perawatan medis."
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionKehidupan manula tidak harus menderita 
penyakit. Dengan kata lain, jika penuaan dapat ditunda, maka semua penyakit 
yang berkaitan dengan penuaan akan mengikutinya.
 "Menangani satu penyakit sekali waktu tidak akan memperpanjang masa hidup 
seseorang secara signifikan karena mereka akan meninggal dunia karena sebab 
lain," jelasnya Anderson.
 "Jika kita menyembuhkan semua jenis kanker, kita tidak akan mengimbangi 
kematian karena penyakit jantung, dementia, atau kelainan-kelainan yang 
disebabkan oleh diabestes. Sebaliknya jika kita mengatasi penuaan, kita dapat 
mengimbangi semuanya sekaligus."
 Mengurangi makan jelas membantu monyet, tetapi pembatasan asupan kalori jauh 
lebih sulit dilakukan oleh manusia dalam dunia nyata. Pertama, akses kita ke 
makanan reguler yang tinggi kalori pada masa sekarang ini lebih mudah 
dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Dengan adanya perusahaan pengantaran 
seperti Deliveroo dan UberEats, kita tidak perlu lagi berjalan ke restoran. 
Kedua, bertambah bobot adalah hal yang biasa bagi sebagian orang.
 "Terdapat komponen genetik besar bagi semua ini dan bagi sebagian orang lebih 
sulit untuk menjaga badan langsing dibanding sebagian lainnya," jelas Anderson.
 Idealnya, jumlah dan jenis makanan yang kita makan seharusnya disesuaikan 
dengan siapa kita - seperti kecenderungan genetik kita untuk bertambah bobot, 
bagaimana metabolisme kita dengan gula, bagaimana kita menyimpan lemak, dan 
aliran-aliran psikologis lain yang berada di luar cakupan instruksi ilmiah pada 
saat ini dan mungkin juga selamanya.
 Namun kecenderungan kelebihan berat badan dapat digunakan sebagai panduan 
untuk pilihan hidup dan bukan sebagai keniscayaan. "Secara pribadi saya punya 
sejarah obesitas dalam keluarga, dan saya melakukan pembatasan kalori dan 
bentuknya fleksibel," ungkap Susan Roberts, pakar diet di Universitas Tufts di 
Boston.
 "Saya mempertahankan Indeks Massa Tubuh (BMI) pada 22, dan saya telah 
menghitung bahwa untuk mempertahankan kondisi itu saya harus makan 80% dari 
jumlah yang biasa saya konsumsi jika BMI saya 30, sama seperti halnya anggota 
keluarga saya yang lain."
 Ditekankan oleh Roberts bahwa hal itu tidak sulit: ia mengikuti program 
manajemen berat badan sendiri dengan menggunakan alat yang disebut iDiet untuk 
membantunya mengurangi porsi makan tetapi menghindari rasa lapar atau 
menghindari kesenangan. Jika langkah itu tidak mungkin dilakukan, tambahnya, ia 
tidak akan menjalankan pembatasan kalori.
 Roberts tidak hanya menyaksikan langsung persoalan obesitas di keluarganya, ia 
juga lebih paham akan manfaat pembatasan kalori dibandingkan kebanyakan orang. 
Selama lebih dari 10 tahun, ia memimpin tim ilmuwan dalam percobaan 
Comprehensive Assessment of Long-Term Effects of Reducing Intake of Energy, 
yang juga dikenal dengan sebutan Calerie.
 Metabolisme Dalam progra itu. selama dua tahun, sebanyak 218 laki-laki dan 
perempuan sehat berusia 21 hingga 50 tahun dibagi menjadi dua bagian. Di 
kelompok pertama, mereka dibolehkan makan seperti biasanya, sementara kelompok 
kedua mengurangi makan sampai 20%. Kedua kelompok menjalani pemeriksaan 
kesehatan setiap enam bulan.
 Berbeda dengan penelitian pada monyet Rhesus, pemeriksaan selama lebih dari 
dua tahun tidak dapat menentukan apakah pengurangan kalori mengurangi atau 
menunda penyakit-penyakit yang berkaitan dengan penuaan. Waktunya tidak 
mencukupi untuk mengukurnya.
 Tetapi uji coba Calerie menguji hal terbaik selanjutnya: tanda-tanda biologis 
awal bagi penyakit jantung, kanker, dan diabetes.
 Satu hal yang sangat jelas untuk waktu yang lama adalah kelebihan berat badan 
tidak baik bagi kita." Susan Robers
 Diterbitkan pada 2015, hasilnya setelah dua tahun sangat positif.
 Di dalam darah orang-orang yang menjalani pembatasan kalori, rasio antara 
kolesterol 'baik' dan kolesterol 'jahat' meningkat, sementara molekul yang 
berhubungan dengan pembentukan tumor -yang disebut faktor nekrosis tumor- 
berkurang 25%, dan tingkat resistensi insulin -tanda jelas adanya diabetes- 
turun hampir 40% dibanding orang-orang yang mengonsumsi diet normal. Secara 
keseluruhan tekanan darah lebih rendah.
 Memang, beberapa hal positif tersebut mungkin disebabkan karena berat badan 
berkurang. Uji coba yang dilakukan Calerie mencakup orang-orang yang gendut dan 
mereka yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) 25 atau kurang dari angka itu, 
dan mengurangi berat badan tentu saja meningkatkan kesejahteraan peserta yang 
lebih gemuk.
 "Satu hal yang sangat jelas untuk waktu yang lama adalah kelebihan berat badan 
tidak baik bagi kita," tegas Roberts.
 Ditambahkannya berbagai penyakit dan kelainan yang sebelumnya diyakini 
berhubungan dengan penuaan, sekarang muncul di kalangan penduduk yang gendut.
 Namun hasil-hasil terbaru ini menunjukkan bahwa keuntungan kesehatan yang 
signifikan dapat dipetik dari tubuh yang sudah sehat -yaitu orang yang tidak 
kekurangan berat badan maupun yang gemuk. Orang tersebut memiliki BMI antara 
18,5 hingga 25.
 Di balik hasil-hasil itu, bukti dari uji coba lebih lanjut diperlukan sebelum 
seseorang yang punya BMI sehat disarankan untuk mengurangi asupan kalori.
 Sementara itu, para ilmuwan berharap bahwa monyet-monyet Rhesus dapat membantu 
kita memahami dengan tepat kenapa pembatasan kalori mungkin punya dampak-dampak 
seperti itu.
 Didukung data yang dikumpulkan selama hampir 30 tahun tentang kematian dan 
kehidupan, dan sampel darah serta tisu, dari hampir 200 monyet, penelitian di 
NIA dan Universitas Wisconsin bertujuan untuk mencari titik terang tentang 
pembatasan kalori serta mencari tahu bagaimana hal itu menunda penuaan.
 Dengan makanan dikurangi, apakah metabolisme dipaksa lebih efisien? Apakah ada 
tombol molekul umum pengatur penuaan yang diaktifkan (atau dimatikan) dengan 
kalori lebih sedikit? Atau apakah ada mekanisme yang belum diketahui yang 
mengganjal hidup atau matinya kita?
 Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mungkin masih jauh dari kenyataan.
 "Jika saya kloning diri sendiri 10 kali dan kita semua bekerja keras, saya 
pikir kita tetap tidak dapat memecahkannya," kata Anderson.
 "Biologi sangat rumit," tambahnya. Perlu dilakukan upaya untuk memahami 
bagaimana pembatasan kalori bekerja dan perawatan-perawatan lain dapat 
digunakan untuk menyasar bagian khusus biologi kita. Penuaan dapat ditangani 
secara langsung tanpa perlu membatasi kalori.
 "Dan saya pikir hal itu merupakan tiket emas yang sebenarnya," ungkap Anderson.
 Walau kekurangan penjelasan yang rapi, pembatasan kalori tetap merupakan salah 
satu jalan menjanjikan untuk meningkatkan kesehatan dan seberapa lama kesehatan 
bertahan dalam hidup kita.
 "Tidak ada hal apapun yang kita dapati yang membuat kita berpikir bahwa 
pembatasan kalori tidak baik bagi orang," kata Roberts dari penelitian Calerie.
 Dan berbeda dengan perawatan berbasis obat, pembatasan kalori tidak 
menimbulkan berbagai efek sampingan.
 "Orang-orang kami (peserta) tidak merasa lebih lapar, suasana hatinya baik, 
fungsi seksualnya baik. Kami berusaha menemukan hal-hal buruk dan tidak 
menemukannya," kata Roberts.
 Satu masalah yang diperkirakan terjadi adalah sedikit pengurangan pada 
kepadatan tulang yang biasanya berkaitan dengan penurunan berat badan, kata 
Roberts. Namun sebagai langkah jaga-jaga, para relawan diberi suplemen tambahan 
dalam jumlah kecil selama masa percobaan.
 Bahkan dengan hasil temuan yang menjanjikan seperti itu, "Uji coba Calerie 
merupakan penelitian pertama dalam masalah ini, dan saya pikir tak seorang pun 
dari kita merasa yakin, 'baiklah kita akan merekomendasikan ini kepada setiap 
orang di dunia," ungkap Roberts.
 "Tetapi hal ini benar-benar merupakan prospek yang menarik. Saya pikir menunda 
munculnya penyakit-penyakit kronis adalah sesuatu yang dapat didukung oleh 
semua orang dan membuat orang tertarik, karena tak seorang pun ingin menjalani 
hidup dengan salah satu penyakit tersebut."

 

Kirim email ke