Pada Selasa, 6 Juni 2017 5:50, "[email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> menulis:
Mengurangi makan bisa jadi rahasia umur panjang dan sehat
Alex RileyBBC Future
- 45 menit lalu
Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru
- Bagikan artikel ini dengan Facebook
- Bagikan artikel ini dengan Twitter
- Bagikan artikel ini dengan Messenger
- Bagikan artikel ini dengan Email
- Kirim
Hak atas fotoCHRIS HONDROS/GETTY IMAGESImage captionMengurangi asupan kalori
mungkin lebih sulit diterapkan setiap hari karena akses ke makanan sangat
terbuka.Di sebuah restoran pada masa depan yang tidak terlalu lama lagi,
seorang laki-laki dan seorang perempuan melakukan kencan perdana. Setelah
kegugupan mereda, semuanya berjalan lancar.Pria itu mengaku berusia 33 tahun
dan sepanjang sebagian besar masa hidupnya ia tidak mempunyai pasangan. Dan
meskipun ia tidak mengungkapkannya, ia berencana menikah dan mempunyai
keluarga. Sang perempuan menanggapinya dengan mengatakan usianya 52 tahun dan
pernah menikah, cerai, serta mempunyai anak-anak yang berusia 20-an tahun. Si
pria tak menyangka -perempuan itu tampak sebaya dengannya, atau bahkan lebih
muda.Itulah sebuah mimpi yang ingin diwujudkan oleh Julie Mattison dari
National Institute on Ageing (NIA) atau Institut Nasional Penuaan di Amerika
Serikat. Ia membayangkan suatu masa ketika umur secara kronologis berlalu
setiap tahun tapi usia biologis dapat disetel ke waktu yang berbeda sehingga
tua tidak sama artinya dengan makna kata itu seperti yang kita pahami sekarang.
- 100 tahun ke depan dalam angka
- Rahasia panjang umur manula di Ikaria
- WHO inginkan pembatasan makanan tak sehat
Hal tersebut tampaknya jauh dari jangkauan, tapi masyarakat kita sudah berusaha
melangkah ke arah itu, berkat kemajuan obat-obatan dan perbaikan standar hidup
sehat. Pada 2014, misalnya, Survei Interview Kesehatan Amerika Serikat mencatat
bahwa 16% penduduk pada usia antara 50 hingga 64 tahun setiap harinya mengalami
gangguan karena penyakit kronis. Tiga puluh tahun sebelumnya jumlah itu
mencapai 23%. Artinya, selain mengalami masa hidup lebih panjang, kita juga
mengalami 'masa kesehatan' -dan hal yang kedua tersebut terbukti lebih bisa
ditempuh.Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionMakanan tinggi kalori dewasa ini
sangat sulit dihindari.Mengutip dan memperbarui pidato mantan Presiden Amerika
Serikat, John F Kennedy, dalam Konferensi Penuaan di Gedung Putih yang pertama
pada 1961, sejatinya kehidupan dapat ditambahkan ke umur, jadi bukan hanya umur
yang ditambahkan ke dalam kehidupan.
Pembatasan kalori
Lantas, apa yang perlu kita lakukan untuk memperpanjang lagi umur dan menambah
kualitas hidup kita? Para peniliti di seluruh dunia mencari berbagai pemikiran,
tetapi bagi Mattison dan kolega-koleganya, jawabannya adalah perubahan
sederhana dalam diet kita.Mereka meyakini bahwa kemungkinan kunci dari masa tua
yang lebih baik adalah mengurangi kuantitas makanan yang kita konsumsi, melalui
pendekatan yang disebut 'pembatasan kalori'.Diet ini lebih efektif dibandingkan
mengurangi makanan berlemak sesekali, yaitu dengan cara mengurangi ukuran porsi
makan secara bertahap dan berhati-hati untuk selamanya. Sejak awal tahun
1930-an, 30% pengurangan jumlah makanan yang dikonsumsi per hari memiliki
hubungan dengan kehidupan yang lebih aktif dan panjang umur untuk cacing,
lalat, tikus kecil, tikus besar dan monyet.Di dunia binatang, dengan kata lain,
pembatasan kalori terbukti sebagai obat mujarab bagi kerusakan hidup. Dan
mungkin saja hal tersebut dapat memberikan keuntungan yang sama bagi
manusia.Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionApa yang kita beli dapat
berdampak mendalam terhadap kualitas hidup dan masa hidup kita.Pemikiran bahwa
yang dimakan orang mempengaruhi kesehatannya tidak diragukan lagi sudah ada
sebelum catatan sejarah yang masih ada sekarang. Akan tetapi, sebagaimana
halnya dalam disiplin ilmiah, catatan rinci pertama berasal dari Yunani
Kuno.Hippocrates -salah seorang ahli fisika yang mengatakan penyakit-penyakit
adalah alamiah dan bukan ajaib- mengamati bahwa banyak penyakit berhubungan
dengan kerakusan. Orang-orang Yunani yang gemuk cenderung meninggal dunia pada
usia lebih muda dibanding orang Yunani yang ramping. Hal itu jelas dan ditulis
di kertas papirus.Dari pusat ilmu pengetahuan tersebut, gagasan-gagasan ini
kemudian diadopsi dan diadaptasi selama berabad-abad. Dan pada akhir Abad
ke-15, Alvise Cornaro, seorang aristokrat lemah dari desa kecil di dekat
Venesia, Italia, memasukkan kearifan tersebut ke benaknya dan menerapkannya
pada dirinya sendiri.Jika hidup serba berlebihan mempunyai efek negatif, apakah
menahan diri dari makanan bersifat positif? Untuk menemukan jawabannya,
Cornaro, yang berusia 40 tahun, hanya menyantap 350g (12oz) makanan setiap
hari, kurang lebih sebanyak 1.000 kalori jika berdasarkan perkiraan baru-baru
ini. Ia makan roti, panatela -atau semacam biskuit panjang- kuah sup, dan
telur.Untuk daging, ia memilih daging sapi muda, kambing, daging sapi, burung
partridge yang biasa diburu, burung thrush, dan semua jenis unggas yang
tersedia. Ia membeli ikan yang ditangkap di sungai setempat. Dengan membatasi
jumlah tetapi tidak jenis makanannya, Cornaro mengklaim telah mencapai
'kesehatan sempurna' sampai kematiannya lebih dari 40 tahun kemudian.Meskipun
ia mengubah tanggal lahirnya ketika bertambah tua dan mengaku berumur 98 tahun,
diyakini dia berusia 84 tahun ketika meninggal dunia. Hal itu merupakan
pencapaian luar biasa pada Abad ke-16 ketika usia 50 atau 60 dianggap tua. Pada
1591, cucu laki-lakinya menerbitkan buku besar yang terdiri dari tiga volume
setelah kematiannya dengan judul Discourses on the Sober Life atau Wacana Hidup
Sadar yang berisi dorongan pembatasan makanan bagi khalayak umum, dan
mendefinisikan ulang penuaan itu sendiri.Dengan perbaikan kesehatan di
masa-masa tua, maka kaum manula masih mempunyai kapasitas mental secara penuh
dan akan mampu memanfaatkan pengetahuan yang telah diperoleh selama
berpuluh-puluh tahun untuk tujuan baik, kata Carnaro. Dengan dietnya,
kecantikan menjadi usia tua, bukan muda.
Uji coba umur panjang
Cornaro merupakan laki-laki yang menarik tetapi penemuannya tidak seharusnya
diperlakukan sebagai sebuah kenyataan oleh disiplin ilmu pengetahuan apapun.
Bahkan sekalipun ia jujur dengan mengatakan apa adanya dan tidak mengalami
gangguan kesehatan selama hampir setengah abad -yang tampaknya tidak mungkin-
ia adalah satu studi kasus yang tidak mewakili manusia secara keseluruhan.Hak
atas fotoGETTY IMAGESImage captionMonyet Rhesus diberi diet rendah kalori yang
diterapkan secara ketat terbukti berumur panjang.Namun sejak penelitian dasar
tahun 1953 pada tikus putih, pembatasan makanan antara 30% hingga 50%
menunjukkan perpanjangan usia, menunda kematian akibat kelainan dan penyakit
terkait usia. Tentu saja, yang berlaku bagi tikus atau organisme laboratorium
mungkin tidak berlaku bagi manusia.Uji coba jangka panjang, dengan mengikuti
jejak manusia sejak menginjak usia dewasa sampai kematian, jarang dilakukan.
"Saya tidak berpendapat penelitian umur panjang pada manusia sebagai sesuatu
yang bisa menjadi program riset yang dapat didanai," kata Mattison."Bahkan
kalau pun kita memulai manusia pada usia 40 atau 50 tahun, kita masih harus
melakukan penelitian tambahan kira-kira 40 atau 50 tahun lagi."Lagi pula,
tambahnya, untuk memastikan bahwa faktor-faktor tak terkait -seperti olahraga,
merokok, perawatan medis, kesehatan mental- tidak sampai mempengaruhi hasil
akhir uji coba adalah hampir tidak mungkin bagi spesies kita yang kompleks dari
sisi sosial dan kultural.Oleh sebab itu, pada akhir 1980-an, dua uji coba
independen jangka panjang -satu di NIA dan satu lagi di Unversitas Wisconsin-
dilakukan untuk mempelajari pembatasan kalori dan penuaan pada monyet Rhesus.
Tak hanya 93% DNA manusia sama dengan primata ini, cara manusia menua juga sama
dengan monyet itu.Perlahan-lahan, setelah tengah baya (sekitar 15 tahun pada
monyet Rhesus), tulang belakang mulai membungkuk, kulit dan otot mulai
mengendur, dan di bagian yang masih tumbuh, bulu berubah dari warna seperti
jahe menjadi abu-abu. Persamaan-persamaan yang ada lebih dalam lagi. Pada
primata ini, timbulnya kanker, diabetes dan penyakit jantung bertambah sering
dan bertambah buruk seiring dengan pertambahan usia."Primata-primata itu adalah
model yang luar biasa bagus untuk mempelajari penuaan," kata Rozalyn Anderson,
seorang pakar ilmu penuaan di Universitas Wisconsin.
Tak alami malnutrisi
Dan primata mudah dikendalikan. Dengan diberi makanan berupa biskuit khusus,
diet untuk 76 monyet di Universitas Wisconsin dan 121 yang ada di NIA
disesuaikan dengan usia, bobot tubuh dan nafsu makan alamiahnya. Semua monyet
mendapat asupan penuh gizi dan mineral yang diperlukan tubuh. Yang terjadil
adalah 50% dari kelompok monyet yang kalorinya dibatasi, makan 30% lebih
sedikit dari kelompok lainnya.Ternyata monyet-monyet tersebut tidak mengalami
malnutrisi atau kelaparan. Sebagai contoh, Sherman, monyet berumur 43 tahun
dari NIA.Menurut Julie Mattison dari National Institute on Ageing (NIA) di
Amerika Serikat, sejak menjalani diet pembatasan kalori tahun 1987, pada umur
16 tahun, Sherman belum menunjukkan tanda-tanda kelaparan yang biasanya jelas
terlihat pada spesies ini.Sherman adalah monyet Rhesus tertua yang pernah
tercatat, hampir 20 tahun lebih tua dibanding rata-rata masa hidup spesies itu
yang hidup di kandang. Ketika monyet muda menderita penyakit dan sekarat, si
monyet Sherman tampak kebal dari penuaan. Bahkan ketika umurnya mencapai 30-an
tahun, Sherman mestinya dianggap sebagai monyet tua, tetapi ia tidak tampak
atau beraksi seperti umurnya yang sudah tua.Pada tataran berbeda-beda,
eksperimen atas monyet-monyet di NIA juga menunjukkan hasil yang sama. "Kami
menemukan frekuensi diabetes, frekuensi kanker lebih rendah pada kelompok yang
konsumsi kalorinya dibatasi," kata Mattison.Tahun 2009, uji coba di Universitas
Wisconsin menerbitkan hasil serupa yang menakjubkan. Tidak hanya monyet-monyet
tersebut tampak sangat muda -punya bulu lebih tebal, penipisannya kurang, dan
warnanya cokelat bukan abu-abu- dibanding monyet-monyet yang diberi diet
standar. Mereka juga lebih sehat pula dan bebas dari penyakit.
Penyakit penuaan
Kanker, seperti adenocarcinoma usus yang umum terjadi, berkurang lebih dari
50%. Risiko penyakit jantung juga berkurang 50%. Dan meskipun 11 monyet ad
libitumatau yangmakan seperti biasanya, mengalami diabetes dan lima tanda-tanda
pradiabetes, pengontrolan gula darah tampak sehat di semua monyet yang asupan
kalorinya dibatasi. Bagi monyet-monyet tersebut, diabetes tidak menjadi
persoalan.Secara keseluruhan, hanya 13% monyet di kelompok yang kalorinya
dibatasi mati karena sebab-sebab penuaan dalam kurun waktu 20 tahun. Di
kelompok ad libitum, jumlahnya 37% mati atau hampir tiga kali lipat dibanding
kelompok yang asupan kalorinya dibatasi.Dalam penelitian perbaruan di
Universitas Wisconsin pada 2014, persentase ini tetap stabil."Kami telah
membuktikan bahwa penuaan dapat dimanipulasi pada primata," kata Anderson."Ini
seperti ditutup-tutupi karena jelas, tetapi secara konsep persoalan ini sangat
penting bahwa penuaan merupakan target yang masuk akal bagi intervensi klinis
dan perawatan medis."Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionKehidupan manula
tidak harus menderita penyakit.Dengan kata lain, jika penuaan dapat ditunda,
maka semua penyakit yang berkaitan dengan penuaan akan mengikutinya."Menangani
satu penyakit sekali waktu tidak akan memperpanjang masa hidup seseorang secara
signifikan karena mereka akan meninggal dunia karena sebab lain," jelasnya
Anderson."Jika kita menyembuhkan semua jenis kanker, kita tidak akan
mengimbangi kematian karena penyakit jantung, dementia, atau kelainan-kelainan
yang disebabkan oleh diabestes. Sebaliknya jika kita mengatasi penuaan, kita
dapat mengimbangi semuanya sekaligus."Mengurangi makan jelas membantu monyet,
tetapi pembatasan asupan kalori jauh lebih sulit dilakukan oleh manusia dalam
dunia nyata. Pertama, akses kita ke makanan reguler yang tinggi kalori pada
masa sekarang ini lebih mudah dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Dengan
adanya perusahaan pengantaran seperti Deliveroo dan UberEats, kita tidak perlu
lagi berjalan ke restoran. Kedua, bertambah bobot adalah hal yang biasa bagi
sebagian orang."Terdapat komponen genetik besar bagi semua ini dan bagi
sebagian orang lebih sulit untuk menjaga badan langsing dibanding sebagian
lainnya," jelas Anderson.Idealnya, jumlah dan jenis makanan yang kita makan
seharusnya disesuaikan dengan siapa kita - seperti kecenderungan genetik kita
untuk bertambah bobot, bagaimana metabolisme kita dengan gula, bagaimana kita
menyimpan lemak, dan aliran-aliran psikologis lain yang berada di luar cakupan
instruksi ilmiah pada saat ini dan mungkin juga selamanya.Namun kecenderungan
kelebihan berat badan dapat digunakan sebagai panduan untuk pilihan hidup dan
bukan sebagai keniscayaan. "Secara pribadi saya punya sejarah obesitas dalam
keluarga, dan saya melakukan pembatasan kalori dan bentuknya fleksibel," ungkap
Susan Roberts, pakar diet di Universitas Tufts di Boston."Saya mempertahankan
Indeks Massa Tubuh (BMI) pada 22, dan saya telah menghitung bahwa untuk
mempertahankan kondisi itu saya harus makan 80% dari jumlah yang biasa saya
konsumsi jika BMI saya 30, sama seperti halnya anggota keluarga saya yang
lain."Ditekankan oleh Roberts bahwa hal itu tidak sulit: ia mengikuti program
manajemen berat badan sendiri dengan menggunakan alat yang disebut iDiet untuk
membantunya mengurangi porsi makan tetapi menghindari rasa lapar atau
menghindari kesenangan. Jika langkah itu tidak mungkin dilakukan, tambahnya, ia
tidak akan menjalankan pembatasan kalori.Roberts tidak hanya menyaksikan
langsung persoalan obesitas di keluarganya, ia juga lebih paham akan manfaat
pembatasan kalori dibandingkan kebanyakan orang. Selama lebih dari 10 tahun, ia
memimpin tim ilmuwan dalam percobaan Comprehensive Assessment of Long-Term
Effects of Reducing Intake of Energy, yang juga dikenal dengan sebutan Calerie.
Metabolisme
Dalam progra itu. selama dua tahun, sebanyak 218 laki-laki dan perempuan sehat
berusia 21 hingga 50 tahun dibagi menjadi dua bagian. Di kelompok pertama,
mereka dibolehkan makan seperti biasanya, sementara kelompok kedua mengurangi
makan sampai 20%. Kedua kelompok menjalani pemeriksaan kesehatan setiap enam
bulan.Berbeda dengan penelitian pada monyet Rhesus, pemeriksaan selama lebih
dari dua tahun tidak dapat menentukan apakah pengurangan kalori mengurangi atau
menunda penyakit-penyakit yang berkaitan dengan penuaan. Waktunya tidak
mencukupi untuk mengukurnya.Tetapi uji coba Calerie menguji hal terbaik
selanjutnya: tanda-tanda biologis awal bagi penyakit jantung, kanker, dan
diabetes.
Satu hal yang sangat jelas untuk waktu yang lama adalah kelebihan berat badan
tidak baik bagi kita." Susan Robers
Diterbitkan pada 2015, hasilnya setelah dua tahun sangat positif.Di dalam darah
orang-orang yang menjalani pembatasan kalori, rasio antara kolesterol 'baik'
dan kolesterol 'jahat' meningkat, sementara molekul yang berhubungan dengan
pembentukan tumor -yang disebut faktor nekrosis tumor- berkurang 25%, dan
tingkat resistensi insulin -tanda jelas adanya diabetes- turun hampir 40%
dibanding orang-orang yang mengonsumsi diet normal. Secara keseluruhan tekanan
darah lebih rendah.Memang, beberapa hal positif tersebut mungkin disebabkan
karena berat badan berkurang. Uji coba yang dilakukan Calerie mencakup
orang-orang yang gendut dan mereka yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) 25
atau kurang dari angka itu, dan mengurangi berat badan tentu saja meningkatkan
kesejahteraan peserta yang lebih gemuk."Satu hal yang sangat jelas untuk waktu
yang lama adalah kelebihan berat badan tidak baik bagi kita," tegas
Roberts.Ditambahkannya berbagai penyakit dan kelainan yang sebelumnya diyakini
berhubungan dengan penuaan, sekarang muncul di kalangan penduduk yang
gendut.Namun hasil-hasil terbaru ini menunjukkan bahwa keuntungan kesehatan
yang signifikan dapat dipetik dari tubuh yang sudah sehat -yaitu orang yang
tidak kekurangan berat badan maupun yang gemuk. Orang tersebut memiliki BMI
antara 18,5 hingga 25.Di balik hasil-hasil itu, bukti dari uji coba lebih
lanjut diperlukan sebelum seseorang yang punya BMI sehat disarankan untuk
mengurangi asupan kalori.Sementara itu, para ilmuwan berharap bahwa
monyet-monyet Rhesus dapat membantu kita memahami dengan tepat kenapa
pembatasan kalori mungkin punya dampak-dampak seperti itu.Didukung data yang
dikumpulkan selama hampir 30 tahun tentang kematian dan kehidupan, dan sampel
darah serta tisu, dari hampir 200 monyet, penelitian di NIA dan Universitas
Wisconsin bertujuan untuk mencari titik terang tentang pembatasan kalori serta
mencari tahu bagaimana hal itu menunda penuaan.Dengan makanan dikurangi, apakah
metabolisme dipaksa lebih efisien? Apakah ada tombol molekul umum pengatur
penuaan yang diaktifkan (atau dimatikan) dengan kalori lebih sedikit? Atau
apakah ada mekanisme yang belum diketahui yang mengganjal hidup atau matinya
kita?Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mungkin masih jauh dari
kenyataan."Jika saya kloning diri sendiri 10 kali dan kita semua bekerja keras,
saya pikir kita tetap tidak dapat memecahkannya," kata Anderson."Biologi sangat
rumit," tambahnya. Perlu dilakukan upaya untuk memahami bagaimana pembatasan
kalori bekerja dan perawatan-perawatan lain dapat digunakan untuk menyasar
bagian khusus biologi kita. Penuaan dapat ditangani secara langsung tanpa perlu
membatasi kalori."Dan saya pikir hal itu merupakan tiket emas yang sebenarnya,"
ungkap Anderson.Walau kekurangan penjelasan yang rapi, pembatasan kalori tetap
merupakan salah satu jalan menjanjikan untuk meningkatkan kesehatan dan
seberapa lama kesehatan bertahan dalam hidup kita."Tidak ada hal apapun yang
kita dapati yang membuat kita berpikir bahwa pembatasan kalori tidak baik bagi
orang," kata Roberts dari penelitian Calerie.Dan berbeda dengan perawatan
berbasis obat, pembatasan kalori tidak menimbulkan berbagai efek
sampingan."Orang-orang kami (peserta) tidak merasa lebih lapar, suasana hatinya
baik, fungsi seksualnya baik. Kami berusaha menemukan hal-hal buruk dan tidak
menemukannya," kata Roberts.Satu masalah yang diperkirakan terjadi adalah
sedikit pengurangan pada kepadatan tulang yang biasanya berkaitan dengan
penurunan berat badan, kata Roberts. Namun sebagai langkah jaga-jaga, para
relawan diberi suplemen tambahan dalam jumlah kecil selama masa
percobaan.Bahkan dengan hasil temuan yang menjanjikan seperti itu, "Uji coba
Calerie merupakan penelitian pertama dalam masalah ini, dan saya pikir tak
seorang pun dari kita merasa yakin, 'baiklah kita akan merekomendasikan ini
kepada setiap orang di dunia," ungkap Roberts."Tetapi hal ini benar-benar
merupakan prospek yang menarik. Saya pikir menunda munculnya penyakit-penyakit
kronis adalah sesuatu yang dapat didukung oleh semua orang dan membuat orang
tertarik, karena tak seorang pun ingin menjalani hidup dengan salah satu
penyakit tersebut."
#yiv9156255955 #yiv9156255955 -- #yiv9156255955ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-mkp #yiv9156255955hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-mkp #yiv9156255955ads
{margin-bottom:10px;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-mkp .yiv9156255955ad
{padding:0 0;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-mkp .yiv9156255955ad p
{margin:0;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-mkp .yiv9156255955ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-sponsor
#yiv9156255955ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-sponsor #yiv9156255955ygrp-lc #yiv9156255955hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-sponsor #yiv9156255955ygrp-lc .yiv9156255955ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9156255955 #yiv9156255955actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9156255955
#yiv9156255955activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9156255955
#yiv9156255955activity span {font-weight:700;}#yiv9156255955
#yiv9156255955activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv9156255955 #yiv9156255955activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9156255955 #yiv9156255955activity span
span {color:#ff7900;}#yiv9156255955 #yiv9156255955activity span
.yiv9156255955underline {text-decoration:underline;}#yiv9156255955
.yiv9156255955attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv9156255955 .yiv9156255955attach div a
{text-decoration:none;}#yiv9156255955 .yiv9156255955attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9156255955 .yiv9156255955attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9156255955 .yiv9156255955attach label a
{text-decoration:none;}#yiv9156255955 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv9156255955 .yiv9156255955bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9156255955
.yiv9156255955bold a {text-decoration:none;}#yiv9156255955 dd.yiv9156255955last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9156255955 dd.yiv9156255955last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9156255955
dd.yiv9156255955last p span.yiv9156255955yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv9156255955 div.yiv9156255955attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv9156255955 div.yiv9156255955attach-table
{width:400px;}#yiv9156255955 div.yiv9156255955file-title a, #yiv9156255955
div.yiv9156255955file-title a:active, #yiv9156255955
div.yiv9156255955file-title a:hover, #yiv9156255955 div.yiv9156255955file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9156255955 div.yiv9156255955photo-title a,
#yiv9156255955 div.yiv9156255955photo-title a:active, #yiv9156255955
div.yiv9156255955photo-title a:hover, #yiv9156255955
div.yiv9156255955photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9156255955
div#yiv9156255955ygrp-mlmsg #yiv9156255955ygrp-msg p a
span.yiv9156255955yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9156255955
.yiv9156255955green {color:#628c2a;}#yiv9156255955 .yiv9156255955MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv9156255955 o {font-size:0;}#yiv9156255955
#yiv9156255955photos div {float:left;width:72px;}#yiv9156255955
#yiv9156255955photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9156255955
#yiv9156255955photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9156255955
#yiv9156255955reco-category {font-size:77%;}#yiv9156255955
#yiv9156255955reco-desc {font-size:77%;}#yiv9156255955 .yiv9156255955replbq
{margin:4px;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-mlmsg select, #yiv9156255955 input, #yiv9156255955 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-mlmsg pre, #yiv9156255955 code {font:115%
monospace;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-mlmsg #yiv9156255955logo
{padding-bottom:10px;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-msg
p#yiv9156255955attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-reco #yiv9156255955reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-sponsor
#yiv9156255955ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-sponsor #yiv9156255955ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-sponsor #yiv9156255955ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv9156255955 #yiv9156255955ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9156255955
#yiv9156255955ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv9156255955
| | Virusvrij. www.avg.com |