Wah, Puan ini masih muda kok sudah jadi pelupa. Baca sejarah tanahairnya
sendiri juga tidak lengkap.

Jaman pergerakan dulu Bung Karno itu selalu bilang: Untuk menganalisa
dan menyelesaikan masalah sejarah dan masyarakat orang harus berfikir
berdasarkan falsafah materialisme dialektis dan historis. Harus
menggunakan pisau analisa mdh!. Pernah dengar atau baca masalah ini?
Dulu setiap pelajar ngerti itu. Kalau belum tau, yah pelajari dulu,
baru kasih petuah yang betul kepada seangkatannya.

Supaya pinter, kalau belajar jangan separoh-separoh dan hanya baca yang
disukai sendiri saja. Walaupun Bung Karno itu beragama Islam, tapi dia
dekat dan bersahabat juga dengan mereka yang tidak seagama dengan dia.
Dalam bersikap Bung Karno itu tidak sovinis - tidak picik. Bahkan dengan
yang ateispun kalau masalah kepentingan nasional dan mengabdi rakyat
Bung Karno itu bersahabat dengan semuanya itu. Orang lain ngerti itu
semua kok ini cucunya sendiri nggak bisa memahami. A dalam semboyan
ciptaannya Bung Karno NASAKOM itu artinya Agama. Bukan singkatan kata
Islam. Pernah baca karya Bung Karno: Di Bawah Bendera Revolusi?

Selama Puan belum selesai membaca karya-karya Bung Karno jangan harap
akan menjumpai simpati dari masyarakat pada umumnya. Anak-anak generasi
muda sekarang ini berfikirnya sudah kritis dan berani melawan
konservatisme. Kalau Puan tidak mampu mengimbanginya dan bersikap tidak
tepat, akan ditinggalkan mereka.

Kalau Puan ingin melakukan kebijakan yang berguna bagi generasi muda
dalam belajar dan menguasai sejarah perjuangan Nasion Indonesia, sebagai
menteri, sebenarnya Puan bisa menghimbau atau bahkan menetapkan agar
para siswa, sesuai tingkat pendidikannya, menjadikan pidato-pidato
kenegaraan Presiden Soekarno dalam rangka ulangtahun Republik Indonesia
sebagai bahan pelajaran sejarah yang pokok. Dan yang penting, landasan
utama dalam belajar sejarah, jangan sekali-kali menggelapkan ataupun
menipu fakta sejarah. Ini penting sekali dalam mengambil kesimpulan
jalan yang tepat untuk mencapai kesejahteraan Nasion Indonesia di
kemudian hari.

Lusi.-
06.06.2017




Am Tue, 6 Jun 2017 01:37:28 +0200
schrieb "Sunny ambon [email protected] [nasional-list]"
<[email protected]>:

> *Apa agama Soekarno sejak dilahirkan? hehehehe Apakah Soekarno membaca
> buku-buku cerita Abunawas untuk konsep pikiran politiknya?*,
> 
> 
> http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/17/06/05/or31vw282-sukarno-dekat-dengan-islam-sejak-zaman-pergerakan
> 
> 
> 
> Selasa , 06 June 2017, 06:06 WIB
> 
> Haul Sukarno
> Sukarno Dekat dengan Islam Sejak Zaman Pergerakan
> 
> Rep: Eko Supriyadi/ Red: Karta Raharja Ucu
> 
> Istimewa
> 
> [image: Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan
> (Menko PMK), Puan Maharani.]
> 
> Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko
> PMK), Puan Maharani.
> 
> 
> 
> REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Presiden pertama Indonesia Sukarno dinilai
> memiliki kedekatan emosional dengan Islam sebelum Indonesia merdeka.
> Bahkan, pria yang akrab disapa Bung Karno tersebut kerap kali
> berkolaborasi dengan tokoh Islam saat memerdekakan Indonesia.
> 
> “Kalau kita membaca dan melihat sejarah sebetulnya hubungan Bung Karno
> dengan para kiai bahkan dengan Islam, itu sudah dilakukan sejak beliau
> masih zaman pergerakan,” kata Puan Maharani, di Jakarta, Kamis (18/5).
> 
> Menurut cucu Bung Karno ini, sebelum menjadi presiden, kepedulian
> kakeknya terhadap Islam sangat besar. Sebab, proklamator kemerdekaan
> Republik Indonesia itu berasal dari keluarga Muhammadiyah yang
> kemudian dekat dengan keluarga Nahdatul Ulama (NU), termasuk dengan
> KH Wahid Hasyim.
> 
> Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI itu
> menyatakan, keberpihakan dan hubungan antara Islam Nusantara dan
> nasionalis itu memang sudah terjadi sejak dahulu. Sebagai pendiri
> bangsa, kata Puan, Bung Karno selalu menyatakan tidak mungkin Islam
> berdiri sendiri, sebagaimana nasionalis yang tidak mungkin berdiri
> sendiri.
> 
> “Jadi memang Indonesia harus dijaga, harus dibangun Islam dengan
> nasionalis,” ujar politikus PDIP ini.

Kirim email ke