Upaya Pengenetasan Kemiskinan sudah selayaknya menjadi PERHATIAN setiap warga, 
khususnya Pemerintah yang berkuasa. Jangan biarkan kemiskinan menimpa rakyat 
banyak dan itu SUDAH TERJADI ratusan bahkan ribuan tahun, bukan saja tidak 
terselesaikan bahkan dalam derajat tertentu bisa dikatakan lebih parah dan 
lebih meluas, ... padahal tidak sedikit orang berteriak atasi kesenjangan 
sosial, tidak sedikit usaha dukungan, sumbangan, baksos dikerjakan dan 
diberikan pada rakyat miskin yang butuh bantuan itu, tapi TETAP saja tidak 
memecahkan masalah kemiskinan! Dimana SALAHNYA???

Orang pun mudah menegatakan jangan berikan ikan tapi berikanlah kail pada 
mereka! Agar mereka yang miskin bisa merubah nasibnya sendiri, mandiri hidup 
lebih baik layaknya manusia! Bagaimana manifestasi konkritnya, tetap menjadi 
pertanyaan besar???

Beberapa tahun terakhir ini, banyak tulisan mengkisahkan pengalaman desa-desa 
miskin berubah menjadi desa makmur di Tiongkok. Sebagaimana diketahui sejak 
tahun 2008 PKT telah menetapkan titik berat TUGAS pembangunannya di desa-desa 
terbelakang, mengentaskan kemiskinan didesa! Dan beberapa tahun terakhir ini, 
lebih dsigencarkan untuk menyelesaikan target mengentaskan kemiskinan lebih 50 
juta orang tersisa yang akan diselesaikan tahun 2020. Dari banyak 
kisah-pengalaman desa-desa miskin berubah menjadi desa-makmur itu, kalau boleh 
saya simpulkan menjadi 2 bagian, pertama Penyebab Desa-miskin dan kedua Cara 
Pengentasan Kemiskinan.

1. Penyebab Desa Miskin.
Bisa dikatakan dari sekian banyak desa miskin itu, penyebab utamanya adalah 
TIDAK ADA DANA! Mereka bukan malas atau tidak ada keinginan mengerjakan sesuatu 
untuk memperbaiki hidupnya, tapi mereka tidak bisa berbuat banyak karena tidak 
ada modal yang cukup untuk berproduksi lebih baik, ... ini pertama.
Kedua, disaat Pemerintah mengajukan kebijakan setiap petani diberi kemudahan 
mendapatkan kredit untuk membeli alat-produksi, bibit, pupuk, dsb., ... ada 
petani yang BERHASIL, tapi juga tidak sedikit yang GAGAL. Karena mereka masih 
saja berproduksi dengan tradisi lama tanpa PENGETAHUAN ILMIAH yang modern untuk 
meningkatkan produksi. Artinya, diperlukan bimbingan lebih baik dalam 
menjalankan usaha produksi, ...
Ketiga, tradisi hidup petani yang berat dengan egoistis, serba sendiri-sendiri 
ini, ... menghambat kesadaran kerjasama bersama, saling bantu dan 
kolektifisasi. Perlu ada orang yang membimbing dan mengarahkan kesadaran 
kehidupan bersama, membentuk koperasi-kerja untuk meningkatkan produksi dan 
mengentaskan kemiskinan. Begitulah kalau kita perhatikan bagaimana Ketua Mao 
diawal tahun 50-an dalam penelitian petani didesa, mendorong kesadaran petani 
membentuk koperasi untuk meningkatkan produksi dan taraf kehidupan petani 
didesa-desa.

2. Cara Pengentasan Kemiskinan.
Setelah mengetahui penyebab kemiskinan didesa-desa terbelakang, Pemerintah 
bukan saja mengeluarkan kebijakan kemudahan pemberian kredit bagi petani untuk 
berusaha, juga secepat mungkin mendirikan cabang Bank didesa-desa terbelakang 
itu. 
Sedang untuk meningkatkan pengetahuan ilmiah bertani, berkebun dan berternak, 
pemerintah juga siap mengirimkan tenaga-tenaga ahli nya untuk memberikan 
bimbingan. Dan untuk meningkinkatkan kesadaran bekerja-sama, berorganisasi 
sampai pembentukan koperasi, pemerintah mendorong pensiunan tentara kembali 
kekampung asal mereka membantu pengentasan kemiskinan.

Ada kesamaan yang saya perhatikan untuk mempercepat meningkatkan kesejahteraan 
warga pedesaan-miskin itu, hak-guna tanah garapan yang semula (ditahun 1980, 
reformasih dimulai) dibagikan pada petani itu, dijadikan dasar kepemilikan 
saham-desa didalam koperasi yang dibentuk. Setiap petani mendapatkan bonus 
keuntungan produksi sesuai saham yang ada, ketambahan bonus keuntungan setiap 
tahun inilah yang mempercepat peningkatan kemakmuran DESA dan Petani secara 
langsung. Artinya dengan demikian setiap petani terrangsang bekerja lebih keras 
dan aktif untuk mendorong maju produksi, dan mendapatkan kelebihan bonus yang 
dirasakan langsung meningkatkan kehidupan mereka! Jadi, berbeda dengan dimasa 
komune rakyat, yang bekerja keras dan bermalas tidak ada bedanya, dan, ... 
tidak langsung dirasakan membawa perbaikan kehidupan mereka.

Nampaknya jalan setiap warga jadi pemilik saham ini tentu akan merubah RAKYAT 
TIONGKOK dari proletariat yang tidak mempunayi apa-apa kecuali TENAGA KERJA, 
tidak bermilik-modal, menjadi pemilik saham atau pemilik modal, yang selama ini 
dikatakan kapitalis-kapitalis!

Untuk mempercepat gerak pengentasan kemiskinan, Pemerintah juga mendorong 
pengusaha-pengusaha berhasil menanamkan modal didesa-desa terbelakang itu. 
Mengembangkan usaha didesa-desa terbelakang. Dengan demikian, mengurangi beban 
pemerintah untuk mengucurkan dana, dan pengusaha-pengusaha itu juga yang 
mempersiapkan tenaga ahli untuk membimbing petani berproduksi dengan lebih 
ilmiah dan produktif, ... sesuai dengan kondisi desa itu. Entah untuk tanam 
sayuran, atau buah-buahan dan pemeliharaan ternak yang sesuai dengan iklim 
setempat. Begitulah bebera contoh desa-desa terbelakang dalam 2-3 tahun 
terakhir ini terangkat kesejahteraan, keluar dari kemiskinan dengan adanya 
usaha-usaha perkebunan, peternakan yang dijalankan pengusaha-besar. 

Salam,
ChanCT


From: B.DORPI P. 
Sent: Wednesday, June 7, 2017 8:53 AM


https://indoprogress.com/2017/06/misi-integral-pandangan-holistik-kekristenan-terhadap-upaya-pengentasan-kemiskinan/

6 June 2017 

Harian IndoPROGRESS
Misi Integral: Pandangan Holistik Kekristenan Terhadap Upaya Pengentasan 
Kemiskinan
Abraham Sitompul






SUNGGUH menarik melihat beberapa artikel yang muncul di IndoPROGRESS menyoroti 
tema seputar Kekristenan dan kemiskinan. Menarik karena, jujur saja, walaupun 
tema ini seharusnya mendapatkan porsi yang memadai untuk didiskusikan, tapi 
nyatanya ia bukanlah trending topic di antara umat Kristen di Indonesia. 
Keengganan membicarakan isu kemiskinan di dalam gereja, kalau boleh saya 
simpulkan, disebabkan oleh dua permasalahan mendasar: pertama, gereja tidak 
merasa memiliki tanggung jawab dalam upaya pengentasan kemiskinan. Dan yang 
kedua, gereja tahu dirinya harus turun tangan tapi akhirnya tidak berbuat 
sesuatu atau kalau pun melakukan aksi, biasanya sebatas aktivitas-aktivitas 
karitatif seperti pengobatan gratis, pemberian makanan bergizi bagi balita atau 
kursus-kursus pelajaran sekolah. Tidak ada yang salah dengan program-program 
semacam itu, tapi tentu saja itu tidak cukup untuk mengatasi akar permasalahan 
kemiskinan di tengah sebuah komunitas.

Sebenarnya apa yang terjadi di Indonesia secara umum menggambarkan juga apa 
yang terjadi secara global dari waktu ke waktu. Di Amerika misalnya. Pada 
dekade awal abad 20, terdapat dua kelompok besar di antara gereja-gereja dalam 
memandang isu kemiskinan. Ada kelompok liberal yang begitu menggebu-gebu 
melakukan transformasi sosial sementara yang lainnya, kaum Injili, fokus pada 
upaya menyelamatkan jiwa yang berdosa.

Sebenarnya kedua belah pihak memiliki unsur kebenaran dalam argumentasi 
masing-masing, namun sayang tidak holistik. Gereja wajib menunjukkan kepedulian 
terhadap mereka yang miskin, tapi itu saja tidak cukup. Keselamatan jiwa 
manusia yang berdosa tentu saja tidak boleh luput dari perhatian gereja. Kedua 
hal tersebut terjalin secara integral dan digambarkan dengan baik di dalam 
Alkitab. Dalam artikel ini saya akan memberikan beberapa contohnya.

Di dalam Perjanjian Lama, misalnya. Suatu kali Alkitab mencatat tua-tua Israel 
datang menemui Samuel dan berkata, “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak 
hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk 
memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain.”

Israel mau seperti bangsa-bangsa lain. Tidak mau diperintah lagi oleh seorang 
hakim. Apalagi mereka tahu bahwa anak-anak Samuel tidak punya kapasitas yang 
mumpuni dan karakter yang baik seperti ayah mereka. Jadi daripada diperintah 
oleh hakim baru yang tidak kompeten, sekalian saja minta seorang raja.

Samuel mengingatkan mereka perihal konsekuensi kehadiran seorang raja di tengah 
bangsa Israel, “Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: 
anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan 
pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanya; ia akan menjadikan 
mereka kepala pasukan seribu dan kepala pasukan lima puluh; mereka akan 
membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya; senjata-senjatanya dan 
perkakas keretanya akan dibuat mereka. Anak-anakmu perempuan akan diambilnya 
sebagai juru campur rempah-rempah, juru masak dan juru makanan. Selanjutnya 
dari ladangmu, kebun anggurmu dan kebun zaitunmu akan diambilnya yang paling 
baik dan akan diberikan kepada pegawai-pegawai istananya dan kepada 
pegawai-pegawainya yang lain. Budak-budakmu laki-laki dan budak-budakmu 
perempuan, ternakmu yang terbaik dan keledai-keledaimu akan diambilnya dan 
dipakainya untuk pekerjaannya. Dari kambing dombamu akan diambilnya 
sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Pada waktu itu kamu akan 
berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu, tetapi TUHAN tidak akan menjawab 
kamu pada waktu itu.” (1 Samuel 8:11-18)

Bangsa Israel menolak mendengarkan perkataan Samuel dan tetap meminta seorang 
raja. Samuel akhirnya mengikuti permintaan mereka dan singkat cerita 
terpilihlah Saul menjadi raja atas Israel. Disadari atau tidak, mulainya 
kerajaan di Israel tersebut memunculkan kelas-kelas baru di tengah-tengah 
bangsa itu. Jika sebelumnya masyarakat dapat dibilang relatif homogen, maka 
sekarang ada prajurit, kepala prajurit, pegawai istana, pegawai lainnya, juru 
masak, juru makanan dan seterusnya. Belum lagi, seiring perjalanan zaman, 
muncul profesi-profesi lainnya termasuk para pedagang. Selain itu, mulai muncul 
juga pajak dalam berbagai rupa seperti ternak yang terbaik, hasil kebun anggur 
dan hasil kebun zaitun.

Friksi pun mulai dan terus terjadi di antara berbagai golongan tersebut dalam 
perjalanan Bangsa Israel selanjutnya. Para nabi muncul untuk mengingatkan 
seluruh lapisan masyarakat agar tetap hidup di jalan yang dikehendaki Tuhan. 
Para pemimpin ditegur agar tidak berlaku semena-mena dan menindas rakyat.

Amos menentang lapisan masyarakat kelas atas Samaria (3:9, 10; 4:1-3), 
orang-orang kaya (5:11 dst), penyalahgunaan kepercayaan oleh pedagang (8:4-8). 
Hosea melawan lingkungan perdagangan yang menyenangkan diri dengan pemerasan 
dan penipuan (12:8-10). Yesaya menentang penguasa yang tidak memerintah dengan 
benar seperti para pejabat istana dan hakim-hakim (1:10-17; 10:1-4) dan juga 
tuan-tuan tanah yang kaya raya (5:8-11). Mikha pun buka suara terhadap 
penindasan dan kesewenang-wenangan yang terjadi (2:1-3; 3:9-12). Yeremia tak 
ketinggalan. Ia mengkritik Raja Yoyakim dan Raja Zedekia (22:13-19; 34:8-22). 
Dan Yehezkiel menggugat para pemimpin yang lebih memikirkan kekayaan diri 
sendiri daripada rakyatnya (34).

Meski demikian, protes para nabi terhadap praktik-praktik sosial yang tidak 
benar tersebut tidak boleh dilihat sebagai pelopor perjuangan golongan atau 
kelas semata-mata. Menurut Noordegraaf hakikat pemberitaan sosial para nabi 
dapat disimpulkan sebagai berikut:



  1.. Dosa-dosa sosial merupakan bentuk ketidaksetiaan orang Israel terhadap 
Tuhan. Dosa sosial bukan saja dosa terhadap sesama tetapi juga pelanggaran 
hukum Allah. 
  2.. Oleh karena itu, seruan para nabi bukan semata-mata bicara soal keadilan 
sosial atau kesejahteraan rakyat, tapi pertama-tama dan terutama adalah 
menyerukan panggilan untuk berbalik kepada Allah, untuk berdamai dengan Allah. 
Pengakuan dosa, perendahan diri dan perlunya pendamaian merupakan pemberitaan 
para nabi. Dan dengan kembali kepada Allah, mereka akan hidup benar dan adil. 
  3.. Kritik-kritik nabiah ditujukan bukan hanya kepada perorangan dan kelompok 
tertentu, tetapi juga kepada seluruh lapisan masyarakat melalui perwakilannya. 
Dosa yang bersifat perorangan dapat menggumpal dalam struktur-struktur yang ada.


Yesus pun menyuarakan hal yang senada di dalam karya-Nya di muka bumi. Dalam 
banyak kesempatan, Yesus mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang mengingatkan 
manusia untuk saling mengasihi, termasuk dalam bentuk melayani mereka yang 
miskin. Suatu kali Ia ditanyai mengenai hukum manakah yang terutama dalam Hukum 
Taurat. Yesus menjawab, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan 
dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang 
terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: 
Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah 
tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Matius 22:37-40).

Pada lain kesempatan Yesus memberikan Amanat Agung kepada murid-murid-Nya 
(Matius 28:19-20): “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan 
baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka 
melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu.”

John Stott menulis demikian, “Jadi di sini ada dua perintah Yesus, Hukum Utama 
dan Amanat Agung. Apa hubungan dari keduanya? Sebagian dari kita menganggap 
keduanya sama saja, sehingga jika kita memberitakan Injil kepada seseorang, 
kita menganggap telah menunaikan tanggung jawab untuk mengasihi Dia. Tidak. 
Amanat Agung tidak menjelaskan, menyelesaikan atau mengganti Hukum Utama itu. 
Yang dilakukan oleh Amanat Agung adalah menambahkan keharusan untuk mengasihi 
dan melayani sesama kita manusia dengan suatu dimensi Kristen yang baru dan 
mendesak.”

Stott mengkritik misi yang hanya fokus pada perubahan sosial dan menyisakan 
sedikit atau bahkan tidak ada ruang bagi penginjilan, “Dewan Uppsala memberikan 
perhatian yang tulus kepada masalah kelaparan, kemiskinan dan ketidakadilan. 
Dan itu benar. Saya sendiri tergugah untuk hal-hal tersebut. Namun saya tidak 
menemukan ada perhatian atau belas kasihan yang lain yang setara dengan 
kelaparan rohani manusia… yang merupakan prioritas utama gereja… di mana masih 
ada berjuta-juta orang… yang tanpa Kristus pasti binasa. Saya tidak melihat 
Dewan ini secara keseluruhan ingin mentaati perintah-Nya. Yesus Kristus 
menangisi kota yang tidak mau bertobat yang telah menolak Dia. Saya tidak 
melihat Dewan menangisi hal yang sama.”

Yang menarik adalah bahwa Yesus sedang tidak hanya mengumbar kata-kata atau 
ajaran. Praktik hidup-Nya pun menunjukkan bahwa karya-Nya sungguh bersifat 
holistik. Ia memberi kesembuhan secara fisik tapi juga keselamatan jiwa bagi 
mereka yang percaya. Dan hal ini sebenarnya juga menjawab tentang hal yang 
mendasar, apa itu kemiskinan. Jika kemiskinan hanya didefinisikan sebagai isu 
kurangnya pendapatan, tidak terpenuhinya kebutuhan hidup mendasar seperti 
sandang, pangan dan papan, ketidakadilan sosial, penindasan maka upaya-upaya 
pengentasan kemiskinan hanya akan diarahkan pada bagaimana mengatasi hal 
tersebut. Namun, setidaknya bagi orang Kristen, kebutuhan manusia bukan hanya 
soal-soal seputar materialisme tapi juga kebutuhan spiritual. Rusaknya relasi 
manusia dengan Tuhan juga turut memengaruhi rusaknya relasi manusia dengan 
dirinya sendiri, dengan sesama (ketidakadilan sosial) dan dengan lingkungan 
(perusakan lingkungan).

Dan jika isu kemiskinan bersifat multi-dimensi maka misi penanganannya pun 
harus bersifat integral. Pelayanan terhadap sesama manusia (bahkan sesungguhnya 
bukan hanya untuk orang miskin tapi seluruh manusia) tidak bisa 
dikotak-kotakkan. Spiritual saja. Atau sosial saja. Atau fisik saja. Manusia 
adalah kesatuan utuh dari semua unsur tersebut.

Baru-baru ini, di dalam salah satu kolom di Christianity Today, K. A. Ellis 
mengisahkan perjumpaannya dengan sejumlah orang Kristen yang hidup di bawah 
rezim Komunis. Kesimpulan yang disampaikan oleh orang-orang Kristen tersebut 
adalah: Revelation is a stronger force than revolution. Perjumpaan dengan 
Kristus yang mendorong individu demi individu untuk terlibat dalam pelayanan 
sosial bagi sesama atau menjadi individu yang berintegritas di tengah-tengah 
komunitasnya yang hancur. Jadi, sekali lagi, misi itu harus integral dan ia 
bukan (sekadar) jalan tengah bagi mereka yang fokus hanya pada pelayanan sosial 
atau menekankan isu spiritualitas semata-mata. Ketimpangan pandangan dan 
tindakan tidak akan menyelesaikan permasalahan kemiskinan secara utuh. ***



Penulis adalah alumni pasca sarjana universitas Airlangga Surabaya. Kini 
tinggal di Bandung



Kepustakaan:

Noordegraaf, 2011. Orientasi Diakonia Gereja: Teologi Dalam Perspektif 
Reformasi. Jakarta: Gunung Mulia.

Stott, J. 1975. Murid Radikal Yang Mengubah Dunia. Surabaya: Literatur 
Perkantas Jawa Timur.

Artikel Christianity Today 
(http://www.christianitytoday.com/ct/2017/april/insufficient-resistance.html)












Kirim email ke