http://global.liputan6.com/read/2982767/akar-permusuhan-arab-saudi-dan-qatar-ada-sejak-22-tahun-lalu



Akar Permusuhan Arab Saudi dan Qatar Ada Sejak 22 Tahun Lalu

[image: Arie Mega Prastiwi] <http://www.liputan6.com/me/arie.prastiwi>

Arie Mega Prastiwi <http://www.liputan6.com/me/arie.prastiwi>

08 Jun 2017, 19:00 WIB

   -

17

<http://global.liputan6.com/read/2982767/akar-permusuhan-arab-saudi-dan-qatar-ada-sejak-22-tahun-lalu#>


Pemandangan Qatar diambil pada 24 November 2015 (AFP)

*Liputan6.com, Doha -* Pada Senin 4 Juni 2017 lalu, dunia dikejutkan dengan
pernyataan Arab Saudi yang memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar.

Langkah negara yang dipimpin oleh Raja Salman diikuti oleh sejumlah negara,
yakni Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain.

Baca Juga

   -

   Iran: Arab Saudi dan Donald Trump Penyebab Teror Teheran
   
<http://global.liputan6.com/read/2982953/iran-arab-saudi-dan-donald-trump-penyebab-teror-teheran>
   -

   Qatar Airways Resmi Tutup Perwakilan di Saudi dan Uni Emirat Arab
   
<http://global.liputan6.com/read/2983187/qatar-airways-resmi-tutup-perwakilan-di-saudi-dan-uni-emirat-arab>
   -

   Warga Uni Emirat Didenda Rp 1,5 M Jika Kasihan ke Qatar
   
<http://bisnis.liputan6.com/read/2982541/warga-uni-emirat-didenda-rp-15-m-jika-kasihan-ke-qatar>

Tak lama setelah itu, Yaman, Libya, Maladewa, Mauritius dan Mauritania
mengambil langkah serupa. Sementara, Yordania mengambil jalan yang sedikit
berbeda. Tidak memutuskan, namun men-*downgrade *hubungannya dengan Qatar.

Perwujudan kebijakan tersebut dilakukan dengan cara mengurangi jumlah
perwakilan diplomatik Yordania di Qatar dan mencabut izin TV *Aljazeera*.

Semua negara punya alasan serupa, seperti dikutip dari kantor berita Arab
Saudi SPA, pemutusan hubungan diplomatik diperlukan untuk melindungi mereka
dari terorisme dan ekstremisme.

Namun, kenyataannya tak sesederhana itu. Alasan terorisme mungkin sekedar
naratif.

Dikutip dari *Bloomberg* pada Kamis (8/6/2017), pengucilan Arab Saudi
terhadap Qatar terkait konflik lama, 22 tahun lalu, tepatnya tahun 1995.
Perseteruan itu terkait dengan gas alam yang dimiliki Qatar.

Kala itu, Hamad bin Khalifa Al Thani -- ayah emir Qatar saat ini, Sheikh
Tamim bin Hamad Al Thani -- melengserkan penguasa sebelumnya yang pro-Saudi.

Ia mengambil alih kekuasaan dari ayahnya sendiri,  Khalifa bin Hamad Al
Thani, yang saat itu sedang berlibur di Jenewa.

Pada saat bersamaan, negeri kecil di ujung sebuah semenanjung kecil di
Jazirah Arab melakukan pengiriman perdana gas alam cair dari *reservoir*
atau cadangan terbesar di dunia di lepas pantai North Field -- yang luasnya
setara dengan wilayah Qatar.

Qatar berbagi pengelolaan North Field dengan Iran, negara yang amat dibenci
oleh Arab Saudi. Dari situlah, kedua tetangga itu memendam api dalam sekam.

Cadangan gas alam dalam jumlah besar itu tak hanya mengubah
Qatar menjadi salah satu negara terkaya di dunia, dengan pendapatan
perkapita tahunan mencapai US$ 130 ribu, tapi juga menjadi eksportir
LNG terbesar di dunia.

Fokus Qatar pada pengelolaan gas, membuat negara itu berjarak dengan para
tetangganya di Gulf Cooperation Council atau Dewan Kerjasama Teluk yang
menyandarkan perekonomiannya pada minyak bumi -- sekaligus menjauhkannya
dari dominasi Arab Saudi.

Alih-alih dengan Riyadh, Qatar menjalin hubungan dengan Iran, Amerika
serikat, dan baru-baru ini Rusia.



Salah satu pangkalan militer AS di Teluk ada di Qatar. Sementara,
belakangan, Badan Investasi Pemerintah Qatar setuju untuk menginvestasikan
dana sebesar US$ 2,7 miliar ke perusahaan Rusia, Rosneft Oil Co. PJSC.

"Qatar dulunya adalah negara bawahan *(vassal state)* Arab Saudi. Namun,
berkat kekayaan gas alamnya, ia berhasil melepaskan diri (dari dominasi
Riyadh)," kata Jim Krane, peneliti dari Baker Institute, Rice University di
Houston, Texas.

"Negara lainnya di wilayah menanti kesempatan untuk mempreteli sayap Qatar."

Upaya itu pernah dilakukan pada 1996, dalam bentuk kudeta terhadap
emir saat itu, Hamad bin Khalifa Al Thani. Hasilnya, gagal.

Dalam persidangan tahun 2000, dua pejabat senior Qatar yang diduga terlibat
dalam penggulingan emir mengaku, Bahrain membantu mengorganisasi
penggulingan pemerintah yang sah dibantu oleh Arab Saudi,
demikian dilaporkan *BBC.*

Emir kala itu tak membangun jaringan pipa yang mengintegrasikan Qatar ke
pasar para tetangganya di Teluk.

Di sisi lain, saat itu, negara-negara minyak tak menganggap gas alam
berguna. Fungsinya hanya untuk disuntikkan ke sumur minyak untuk
meningkatkan tingkat ekstraksi.

Hanya ada satu jaringan pipa yang dibangun, yakni proyek Dolphin yang
menghubungkan North Field ke Uni Emirat Arab dan Oman, telah beroperasi
pada kapasitas setengah sampai dua pertiga.

Kontrak yang ditandatangani tahun lalu harus memenuhi kuota yang
ditetapkan. Sebagian besar gas alam Qatar mengalir ke pasar Asia dan Eropa.

an Qatar diambil pada 24 November 2015 (AFP)

*Liputan6.com, Doha -* Pada Senin 4 Juni 2017 lalu, dunia dikejutkan dengan
pernyataan Arab Saudi yang memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Qatar.

Langkah negara yang dipimpin oleh Raja Salman diikuti oleh sejumlah negara,
yakni Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain.

Baca Juga

   -

   Iran: Arab Saudi dan Donald Trump Penyebab Teror Teheran
   
<http://global.liputan6.com/read/2982953/iran-arab-saudi-dan-donald-trump-penyebab-teror-teheran>
   -

   Qatar Airways Resmi Tutup Perwakilan di Saudi dan Uni Emirat Arab
   
<http://global.liputan6.com/read/2983187/qatar-airways-resmi-tutup-perwakilan-di-saudi-dan-uni-emirat-arab>
   -

   Warga Uni Emirat Didenda Rp 1,5 M Jika Kasihan ke Qatar
   
<http://bisnis.liputan6.com/read/2982541/warga-uni-emirat-didenda-rp-15-m-jika-kasihan-ke-qatar>

Tak lama setelah itu, Yaman, Libya, Maladewa, Mauritius dan Mauritania
mengambil langkah serupa. Sementara, Yordania mengambil jalan yang sedikit
berbeda. Tidak memutuskan, namun men-*downgrade *hubungannya dengan Qatar.

Perwujudan kebijakan tersebut dilakukan dengan cara mengurangi jumlah
perwakilan diplomatik Yordania di Qatar dan mencabut izin TV *Aljazeera*.

Semua negara punya alasan serupa, seperti dikutip dari kantor berita Arab
Saudi SPA, pemutusan hubungan diplomatik diperlukan untuk melindungi mereka
dari terorisme dan ekstremisme.

Namun, kenyataannya tak sesederhana itu. Alasan terorisme mungkin sekedar
naratif.

Dikutip dari *Bloomberg* pada Kamis (8/6/2017), pengucilan Arab Saudi
terhadap Qatar terkait konflik lama, 22 tahun lalu, tepatnya tahun 1995.
Perseteruan itu terkait dengan gas alam yang dimiliki Qatar.

Kala itu, Hamad bin Khalifa Al Thani -- ayah emir Qatar saat ini, Sheikh
Tamim bin Hamad Al Thani -- melengserkan penguasa sebelumnya yang pro-Saudi.

Ia mengambil alih kekuasaan dari ayahnya sendiri,  Khalifa bin Hamad Al
Thani, yang saat itu sedang berlibur di Jenewa.

Pada saat bersamaan, negeri kecil di ujung sebuah semenanjung kecil di
Jazirah Arab melakukan pengiriman perdana gas alam cair dari *reservoir*
atau cadangan terbesar di dunia di lepas pantai North Field -- yang luasnya
setara dengan wilayah Qatar.

Qatar berbagi pengelolaan North Field dengan Iran, negara yang amat dibenci
oleh Arab Saudi. Dari situlah, kedua tetangga itu memendam api dalam sekam.

Cadangan gas alam dalam jumlah besar itu tak hanya mengubah
Qatar menjadi salah satu negara terkaya di dunia, dengan pendapatan
perkapita tahunan mencapai US$ 130 ribu, tapi juga menjadi eksportir
LNG terbesar di dunia.

Fokus Qatar pada pengelolaan gas, membuat negara itu berjarak dengan para
tetangganya di Gulf Cooperation Council atau Dewan Kerjasama Teluk yang
menyandarkan perekonomiannya pada minyak bumi -- sekaligus menjauhkannya
dari dominasi Arab Saudi.

Alih-alih dengan Riyadh, Qatar menjalin hubungan dengan Iran, Amerika
serikat, dan baru-baru ini Rusia.


Salah satu pangkalan militer AS di Teluk ada di Qatar. Sementara,
belakangan, Badan Investasi Pemerintah Qatar setuju untuk menginvestasikan
dana sebesar US$ 2,7 miliar ke perusahaan Rusia, Rosneft Oil Co. PJSC.

"Qatar dulunya adalah negara bawahan *(vassal state)* Arab Saudi. Namun,
berkat kekayaan gas alamnya, ia berhasil melepaskan diri (dari dominasi
Riyadh)," kata Jim Krane, peneliti dari Baker Institute, Rice University di
Houston, Texas.

"Negara lainnya di wilayah menanti kesempatan untuk mempreteli sayap Qatar."

Upaya itu pernah dilakukan pada 1996, dalam bentuk kudeta terhadap
emir saat itu, Hamad bin Khalifa Al Thani. Hasilnya, gagal.

Dalam persidangan tahun 2000, dua pejabat senior Qatar yang diduga terlibat
dalam penggulingan emir mengaku, Bahrain membantu mengorganisasi
penggulingan pemerintah yang sah dibantu oleh Arab Saudi,
demikian dilaporkan *BBC.*

Emir kala itu tak membangun jaringan pipa yang mengintegrasikan Qatar ke
pasar para tetangganya di Teluk.

Di sisi lain, saat itu, negara-negara minyak tak menganggap gas alam
berguna. Fungsinya hanya untuk disuntikkan ke sumur minyak untuk
meningkatkan tingkat ekstraksi.

Hanya ada satu jaringan pipa yang dibangun, yakni proyek Dolphin yang
menghubungkan North Field ke Uni Emirat Arab dan Oman, telah beroperasi
pada kapasitas setengah sampai dua pertiga.

Kontrak yang ditandatangani tahun lalu harus memenuhi kuota yang
ditetapkan. Sebagian besar gas alam Qatar mengalir ke pasar Asia dan Eropa.




------------------------------
Efek Donald Trump

Kesempatan untuk melemahkan Qatar kembali muncul pada 2017 ini.
Pasca-kunjungan Donald Trump.

Trump cenderung condong ke Timur Tengah. Beda dengan pendahulunya,
Barack Obama yang cenderung 'negatif' -- khususnya untuk isu nuklir Iran
2015 dan perang saudara di Yaman yang didukung oleh Arab Saudi.

Arab Saudi adalah negara pertama yang dikunjungi Trump usai resmi menjabat
sebagai penguasa Gedung Putih.

Sejak kunjungannya pada Mei 2017, ia telah melakukan kalibrasi ulang
hubungan AS dengan Arab Saudi.

Cara yang dilakukan AS adalah dengan tidak terlalu menekan Arab Saudi dalam
isu HAM. Sebelumnya, kedatangan pejabat tinggi negara *petro-dollar* itu ke
Washington DC pada awal 2017 juga disambut hangat.

Hubungan 'positif' itu diikuti dengan penandatanganan kontrak senjata dan
pertahanan antara AS dengan Arab Saudi senilai US$ 147 miliar.

Sikap pemerintahan Presiden Trump yang anti-Iran juga menyenangkan
negara-negara Teluk.

"Semua hal itu membuat mereka (koalisi Arab Saudi) menjadi merasa lebih
berani untuk bertindak," kata Profesor James Piscatori, Wakil Direktur
Pusat Studi Arab dan Islam Australian National University.

Kirim email ke