Inilah Negara Khilafah idaman HTI, FPI, FUI, MUI, Dien Syamsudin, Ma'ruf 
Amin,Rizieq Shihab, Anies Baswedan, dkk.
 ---
 

 Kisah dari Mosul: Ketika lipstik dan busana kembali bebas dijual sesudah ISIS 
ditumpas http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40089833 29 menit lalu

 Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru Bagikan artikel ini dengan 
Facebook http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40089833#  Bagikan artikel ini 
dengan Twitter http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40089833#  Bagikan artikel 
ini dengan Messenger http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40089833#  Bagikan 
artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fdunia-40089833
  Kirim http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40089833#share-tools




 Hak atas fotoGHADI SARYImage captionToko-toko busana dan akesoris perempuan di 
kota Mosul kembali dibuka setelah tiga tahun berada dalam kekuasaan kelompok 
yang menamakan diri sebagai Negara Islam (ISIS). Orang-orang yang tinggal di 
kota Mosul, Irak, yang dikuasai oleh kelompok yang menamakan diri sebagai 
Negara Islam (ISIS) tiga tahun yang lalu, menggambarkan kehidupan mereka yang 
sarat akan teror.
 Mereka berkisah mulai dari anak-anak yang dibunuh karena melakukan kesalahan 
kecil, hukuman cambuk di depan umum serta orang hilang yang hampir terjadi 
setiap waktu.
 Rekaman serta kesaksian eksklusif dari wilayah timur kota kedua Irak, yang 
direbut kembali pada bulan Januari, mengungkapkan bagaimana kelompok ekstremis 
menganiaya para perempuan dan kelompok minoritas agama serta berupaya 
mengendalikan semua aspek kehidupan masyarakat.
 Mengungkap kehidupan penduduk Mosul di bawah kendali ISIS 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/06/150609_dunia_isis_mosul Laporan 
dugaan kekejaman ISIS atas warga sipil di Mosul terungkap 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-37765094 Namun, video tersebut juga 
menunjukkan bagaimana sekolah-sekolah dan kafe-kafe dibuka kembali, juga 
toko-toko yang kembali menjual produk-produk yang sebelumnya dilarang.
 Wartawan Ghadi Sary melaporkan bagaimana kehidupan di Mosul yang direbut lagi 
sesudah dikuasai ISIS selama tiga tahun, dan memperlihatkan kebrutalan hidup di 
bawah kelompok militan itu dalam video yang direkam secara sembunyi-sembunyi 
untuk BBC.
 Saat pasukan keamanan Irak menguasai kembali sebagian besar kota Mosul, 
wilayah bagian barat negara itu tetap berada di bawah kendali ISIS.
 Mengatur perempuan
 Video-video, yang direkam pada bulan Maret dengan menggunakan telepon genggam, 
menunjukkan bagaimana beberapa aspek kehidupan perempuan kembali normal, 
toko-toko terlihat mulai menjual pakaian dan kosmetik lagi.
 Namun, kaum perempuan yang tinggal di kota tersebut menggambarkan bagaimana 
ISIS mewariskan berbagai peraturan yang hingga kini masih berlaku.
Hak atas fotoGHADI SARYImage captionKelompok milisi melarang kaum pria 
memperdagangkan kosmetik dan aksesoris perempuan. Mereka yang kedapatan 
melanggar peraturan akan dicambuk dan didenda. Maha, 36, warga di lingkungan Al 
Zuhour: Saya tidak akan pernah melupakan hari yang mengerikan itu dan apa yang 
terjadi pada anak berusia tujuh tahun di jalanan tempat kami berada.
 Maha menceritakan ada seorang gadis cilik yang datang ke sebuah toko kecil 
untuk membeli permen saat anggota kelompok militan ISIS mendekatinya.
 Gadis cilik itu berbincang polos dengan pemilik toko yang sudah tua, tak lama 
kemudian anggota kelompok milisi mendekatinya dan menanyakan di mana rumahnya 
berada. Ia pun menunjukkannya sebelum kemudian berlari dan bersembunyi.
 Kemudian orang tuanya datang untuk melihat apa yang sedang terjadi dan para 
milisi ISIS pun menasihati mereka agar tidak membiarkan anak perempuan berdua 
mengobrol dengan pemilik toko, karena menurut mereka hal itu melanggar hukum 
syariah.
 Derita warga sipil Irak di balik perang merebut Mosul 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39334399 Pasukan pemerintah Irak rebut 
jembatan di Mosul http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39176841 Bahkan gadis 
cilik polos seperti dia pun tidak diperbolehkan untuk menikmati masa kecilnya 
untuk pergi dan membeli permen.
 Setelah cukup lama berdebat, para pejuang ISIS itu memutuskan untuk menghukum 
gadis cilik itu dengan cara digigit atau dicubit wajahnya atau tangannya oleh 
para perempuan Hisba (sebutan untuk polisi agama), atau monster "Godba" untuk 
lebih tepatnya.
 Sang ibu yang ketakutan, memohon mereka untuk menghukum dirinya, bukan 
putrinya yang masih anak-anak, namun anggota militan tidak memberikannya 
kesempatan untuk berdiskusi.
 Gadis cilik itu kemudian dihukum di depan ibunya yang menjerit-jerit. 
Monster-monster itu dengan agresifnya memukuli dan mencubitnya berulang kali.
 Anak itu menjerit sampai dia jatuh pingsan dan jantungnya berhenti berdetak.
 Ibunya yang meratap, tak sadarkan diri saat melihat anaknya meninggal di 
depannya.
 Seluruh warga di lingkungan itu pun menjadi takut kejadian itu menimpa 
anak-anaknya setelah peristiwa yang terjadi hari itu.
 Reem, 27, warga lingkungan Al-hadbaa: Ayah saya sangat memperhatikan 
pertumbuhan kami, dan selama dua setengah tahun di bawah aturan ISIS, dia 
mengkhawatirkan keberadaan kami, jadi hampir setiap waktu kami berkumpul di 
rumah.
 Rasanya seperti tinggal di penjara selama ini, dan kami sangat jarang 
melakukan kegiatan di luar.
 Suatu ketika, saya sedang berjalan kaki di jalanan, dan karena wajah kami 
harus terus ditutupi kain hitam, saya selalu tersandung saat berjalan.
 Waktu itu para pejuang ISIS melihat saya dan mulai membuntuti saya. Saya lalu 
berlari lebih cepat dan berkali-kali saya tersandung- seperti seorang 
narapidana yang melarikan diri dari hukuman mati.
 Saya akhirnya berhasil sampai di rumah hari itu, namun rasa takut tetap tak 
beranjak.
 Saya terus-menerus dihantui mimpi buruk diikuti oleh orang-orang itu, dan saya 
terbangun dengan sangat ketakutan dan kelelahan.
 Bahkan setelah kota ini lepas dari kendali kelompok milisi itu, saya masih 
mengalami mimpi buruk itu.
 Hidup di bawah kendali ISIS terasa hampa dan membosankan, karena kami harus 
diam di rumah. Mereka menutup perguruan tinggi kami dan menulis pengumuman di 
pintu depan yang berbunyi: "Kerajaan perempuan adalah rumahnya".
 Seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya mengungkapkan:Sekolah-sekolah, 
universitas dan pendidikan umumnya merupakan pecundang besar dari di balik 
kelamnya aturan yang diterapkan ISIS. Sebagian besar institusi tersebut 
ditutup, dan pendidikan di bawah ISIS difokuskan untuk mengajarkan teknik jihad 
dan bertempur.
 Perempuan dan laki-laki dipisahkan dan para perempuan disuruh untuk menutup 
seluruh anggota tubuhnya dengan kain hitam.
 Perempuan menjadi kalangan yang paling menderita saat ISIS memerintah, karena 
banyak dari mereka yang memilih tinggal di rumah selama bertahun-tahun. 
Sepanjang kelompok ini menguasai kota kami, kota itu menjelma menjadi sebuah 
penjara yang sangat luas.
 Kehancuran dalam kehidupan sehari-hari
 Di bawah kendali ISIS, kehidupan warga kota benar-benar berubah. Rekaman video 
memperlihatkan bagaimana berbagai perguruan tinggi yang ditutup di kota itu 
rusak parah. Namun, warga di kota itu masih berupaya untuk belajar.
 Hussein, 30 tahun, warga di lingkungan Al-Andalus: Satu setengah tahun 
dikuasai ISIS, mereka memutuskan untuk melarang antena parabola.
Hak atas fotoGHADY SARYImage captionBerbagai perguruan tinggi di kota Mosul 
ditutup oleh ISIS, pendidikan difokuskan untuk mengajarkan teknik jihad dan 
bertempur. Ayah saya khawatir kami akan dihukum berat jika kami kedapatan 
memiliki antena parabola, jadi kami mencabutnya.
 Namun, setelah beberapa minggu tinggal di rumah, hampir sepanjang hari 
terkunci - kami menganggur dan tidak bisa kuliah atau mempunyai kegiatan lain 
sejak ISIS mengambil alih - kami akhirnya merasa bosan dan memutuskan untuk 
memasangnya lagi.
 Kuburan massal 'ditemukan' di dekat Penjara Badoush, Mosul 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39246946 'Serangan senjata kimia pertama' 
dalam pertempuran lawan ISIS di Mosul 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-39164661 Kami memasangnya lagi dengan cara 
yang tidak bisa mereka lihat dengan jelas dari jalan: kami menempatkannya di 
atap di belakang beberapa tangki air.
 Beberapa hari kemudian, kami mendengar pintu rumah kami diketuk keras dan ada 
orang berteriak-teriak di jalan, kami tahu itu adalah Hisba (polisi agama) yang 
datang, jadi saya berlari ke lantai atas untuk membongkar antena parabola itu.
 Begitu saya mengintip, saya mendengar teriakan, "Turunlah, kami melihatmu," 
dan saya baru menyadari bahwa mereka punya mata-mata yang mengintip dari atas 
atap yang lebih tinggi.
 Pada saat itu beberapa pria mengetuk pintu kami dan menyeret ayah saya ke luar.
 Saya berlari secepatnya dan mendorong mereka pergi. Akibatnya, saya dibawa 
pergi bersama dengan banyak pria dari lingkungan saya.
 Saya kemudian dikurung selama sembilan malam tanpa tidur. Kami bergiliran 
untuk bisa berdiri dan duduk di sel kami yang penuh dan sesak.
 Saya kemudian diajukan ke depan hakim yang umurnya lebih muda dari saya dan 
jelas dia tidak bisa membaca atau menulis. Dia memvonis saya untuk dicambuk 60 
kali.
 Mereka bertanya bagian tubuh mana yang akan dipilih untuk dicambuk, tapi saya 
tidak paham bedanya, jadi saya mengatakan kepada mereka untuk mencambuk bagian 
atas tubuh saya.
 Mereka lalu mengikat saya dan mulai mencambuk bagian atas tubuh saya.
 Setiap kali saya menjerit kesakitan mereka akan mulai lagi mencambuk saya dari 
nol. Rasanya seperti siksaan yang tidak berakhir. Saya merasa hidup saya 
berakhir, karena saya sangat kesakitan.
 Tamarra, 25, lulusan sastra Inggris: Ayah saya bekerja untuk intelijen Irak 
dan dalam dua tahun terakhir hidupnya dihabiskan sepenuhnya untuk perang 
psikologis dengan ISIS.
 Saat kami tidak meninggalkan Mosul, kami mulai bersembunyi di dalam kota dan 
ayah saya ditangkap dalam sembilan kesempatan terpisah.
 Saat pertama kali mereka membawanya pergi selama tiga hari, rasanya seperti 
tiga tahun.
 Ia diberitahu oleh seorang hakim bahwa ia akan dihadapkan kepada seorang 
'hakim darah' (seorang algojo), tapi mereka menghukumnya dengan cara 
menyiksanya habis-habisan dan kemudian membebaskannya.
 Kami sangat senang pada akhirnya ia dilepaskan. Semua sudah selesai, ayah saya 
kembali berada di tengah-tengah kami.
 Tapi mereka ( kelompok milisi ISIS) kembali lagi dalam beberapa hari, dan 
kekecewaan kembali menggelayuti kami seperti saat sebelumnya dia dibawa selama 
tiga hari .
 Saat itu, kami semua menunjukkan tanda-tanda depresi.
 Rumah kami dijarah oleh ISIS dan kemudian dibom oleh serangan udara koalisi 
internasional. Kami harus pindah ke lantai atas rumah tetangga paman saya.
 Beberapa hari kemudian bel pintu berbunyi lagi, dan ketika sepupu saya Ahmed 
membuka pintu, para militan ISIS mencengkramnya dan menanyakan keberadaan ayah 
saya.
 Ahmed mengatakan kepada mereka bahwa ayah tidak ada di sana, tapi mereka 
memukulinya dan menaiki tangga ke tempat kami berada.
 Mereka menghempaskan ayah saya ke tanah. Seorang perempuan polisi agama 
mengumpat kami, bahkan menyumpahi nenek saya yang duduk di kursi rodanya.
 Salah satu perempuan dari polisi agama ini benar-benar kasar terhadap nenek 
saya. Ia menggeledah nenek saya dan meninggalkannya dalam keadaan tanpa pakaian.
 Lalu mereka membawa ayah saya.
 Sudah berbulan-bulan saya tak melihatnya. Saya menangis sampai air mata saya 
mengering.
 Hari di mana ayah saya sangat rindukan telah terjadi. Kami telah terbebas dari 
kendali ISIS, tapi ia tidak ada di sana untuk menyaksikannya.
 Ahmad, 28 tahun, warga lingkungan Al-Arabi: Saya tidak pernah lagi keluar dari 
rumah. Saya muak melihat orang-orang dihukum sepanjang waktu oleh kelompok ISIS.
 Mereka menentukan sebuah tempat untuk mengumpulkan semua orang setiap kali ada 
orang yang akan dihukum, dipukuli atau bahkan dipenggal.
 Orang-orang dituduh melakukan berbagai kejahatan - perzinahan, berkonspirasi 
dengan aparat keamanan dan alasan apapun yang mereka lontarkan untuk 
menakut-nakuti warga.
 Saya sudah tidak bekerja pada saat itu, jadi saya memutuskan untuk tinggal di 
rumah.
 Tapi hanya dua hari, listrik kemudian padam dan mesin genset di tempat kami 
tak menyala.
 Saya pikir petugas lupa menyalakannya, jadi saya memutuskan untuk pergi dan 
memeriksanya.
 Saat saya pergi, keponakan saya yang berusia delapan tahun memutuskan untuk 
ikut juga. Ia juga berada di rumah karena sekolahnya sudah tutup. Kami tidak 
ingin dia belajar di sekolah yang dikuasai ISIS.
 Ketika kami mendekati mesin genset, saya melihat sudah banyak orang yang 
berkumpul di sana, namun saya langsung bisa mengetahui para militan ISIS ada di 
sana juga.
 Mereka memaksa pemilik mesin genset untuk mematikannya, supaya orang-orang 
keluar dan berkumpul serta menyaksikan kejahatan keji mereka.
 Saya menyesal sudah keluar rumah hari itu dan saya menyalahkan diri sendiri 
karena membiarkan keponakan saya melihat pemandangan mengerikan, yang saya tahu 
dia tidak akan pernah lupa.
 Mengontrol ekonomi
 ISIS memberlakukan kontrol ketat atas aktivitas ekonomi selama tiga tahun masa 
pemerintahan mereka. Seorang pemilik toko kelontong menjelaskan bagaimana ia 
harus menutupi wajahnya dan produk produk yang dia jual saat kelompok milisi 
berkuasa. Para warga mengatakan gambar-gambar produk susu bayi dan popok juga 
harus disembunyikan.
 Seorang perempuan yang tidak disebutkan namanya: Sangat sulit melakukan 
aktivitas perdagangan di bawah peraturan mereka, karena ISIS menerapkan aturan 
yang sulit bagi para pedagang dan berbagai kebijakan yang tidak mungkin mereka 
ikuti.
 Para penegak hukum ISIS akan mengatur jenis barang apa saja yang bisa dijual 
oleh para pedagang. Hal pertama yang mereka lakukan adalah melarang impor 
daging sapi dan ayam dan memaksa setiap orang untuk mengandalkan produk lokal.
 Mereka juga melarang kaum pria memperdagangkan kosmetik dan asesoris 
perempuan. Mereka yang kedapatan melanggar peraturan akan dicambuk dan didenda.
 Mereka juga memastikan bahwa setiap bungkus produk yang menampilkan wajah pria 
atau perempuan harus tertutup. Sama halnya dengan gambar yang menunjukkan 
rambut perempuan atau bayi. Bahkan susu bayi dan popok pun harus ditutupi.
 Ketika berita tentang "pertempuran pembebasan" diumumkan, para pejuang ISIS 
bingung, dan mereka mengintimidasi orang-orang dengan menaikkan harga dan 
menetapkan aturan yang keras.
 Mereka bahkan melarang pemasangan antena parabola dan mulai menerbitkan 
publikasi audiovisual mereka sendiri melalui saluran mereka sendiri.
 Mereka menyebarkan rumor tentang kemenangan mereka dan apa yang mereka sebut 
"menaklukan" kota-kota yang dibebaskan. Mereka pergi dari rumah ke rumah untuk 
mencari telepon genggam dan jika ada orang yang kedapatan memilikinya, dia akan 
dihukum mati.
 Penindasan minoritas
 Gereja-gereja serta masjid-masjid telah dihancurkan oleh kelompok ISIS, begitu 
juga dengan rumah-rumah penduduk. Warga menuturkan bagaimana rumah-rumah kosong 
itu dijarah - terutama milik orang-orang Kristen.
 Hamza, 32 tahun, warga di jalan Al-Jazaera: Setelah ISIS memasuki kota, mereka 
menyerbu berbagai gereja dan beberapa masjid lalu menjarah apapun yang mereka 
temukan di dalamnya.
 Mereka menggunakan meja dan kursi dari beberapa gereja sebagai tempat untuk 
menyiarkan kabar, di mana mereka menyebarkan propaganda.
 Kelompok milisi juga mencari rumah-rumah kosong di seluruh penjuru kota untuk 
kemudian dirampok dan dirampas barang-barangnya, terutama rumah orang-orang 
Kristen yang telah meninggalkan kota.
 Mereka juga menjarah rumah-rumah Muslim yang telah melarikan diri, mereka 
menyebutnya murtad dan merampas harta benda mereka.
 Orang-orang mencoba melindungi rumah-rumah ini dengan menempatkan anggota 
keluarga mereka sendiri dan berpura-pura bahwa rumah-rumah ini masih dihuni.
 Salah seorang tetangga saya diberi kunci rumah oleh teman Kristennya sebelum 
dia melarikan diri dari kota.
 Suatu hari, sekelompok pria bersenjata muncul untuk menyita rumah tersebut, 
jadi tetangga saya mengatakan kepada mereka bahwa rumah ini berada di bawah 
pengawasannya, dan jika mereka menghormati Nabi, mereka harus menghormati 
konsep perlindungan rumah tersebut.
 Mereka lantas membiarkannya hari itu, namun mereka terus kembali merongrong. 
Sekali waktu kelompok milisi membawanya pergi untuk dicambuk tapi dia tidak 
pernah menyerah.
 Dia akhirnya meyakinkan mereka bahwa dia membeli rumah itu untuk putranya, dan 
dia menjaganya sampai hari kota itu kembali ke tangan pemerintah, saat dia 
menyerahkan kuncinya kembali ke temannya yang datang untuk memeriksa rumahnya.


 
 
 

Kirim email ke