mendingan daripada kawin2an eh kawin siri yg marak di neo-mojopahit

---In [email protected], <djiekh@...> wrote :

 Gejala OKB ???
 
 2017-06-09 2:23 GMT+02:00 'Karma, I Nengah [PT. Altus Logistic Service 
Indonesia]' inengahk@... mailto:inengahk@... [GELORA45] 
<[email protected] mailto:[email protected]>:
   
  
 Menurut media setempat, sekitar 40% perkawinan di Qatar berakhir dengan 
perceraian. Lebih dari dua pertiga warga, dewasa dan anak-anak, mengalami 
kegemukan
  
 Kok bisa 40 % rumah tangga  cerai, apa karena semua sudah ditanggung 
pemerintah, jadi orang tua tinggal cari cewek baru saja
 From: [email protected] mailto:[email protected] 
[mailto:GELORA45@yahoogroups. com mailto:[email protected]] 
 Sent: Friday, June 09, 2017 3:25 AM
 To: Yahoogroups
 Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Seabad lalu miskin, bagaimana Qatar bisa 
jadi salah satu negara terkaya di dunia?
 
 
  
   
  
 
  
 
 Seabad lalu miskin, bagaimana Qatar bisa jadi salah satu negara terkaya di 
dunia? http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40201628   
   
 
 Seabad lalu miskin, bagaimana Qatar bisa jadi salah satu negara terkaya di ... 
Qatar mengalami transformasi dari kawasan nelayan menjadi salah satu negara 
terkaya di dunia. Bagaimana negara i...
 
 
 
   
   3 jam lalu 
 Tautan eksternal dan akan terbuka di layar baru
 Bagikan artikel ini dengan Facebook 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40201628  
 Bagikan artikel ini dengan Twitter http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40201628 
 
 Bagikan artikel ini dengan Messenger 
http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40201628  
 Bagikan artikel ini dengan Email 
mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fdunia-40201628
  
 Kirim http://www.bbc.com/indonesia/dunia-40201628#share-tools 
 
 
 
 
 Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionPenerimaan dari gas membuat pemerintah 
Qatar bisa menggratiskan biaya pendidikan dan kesehatan bagi rakyat.
 Perhatian dunia tertuju ke Qatar dalam beberapa hari belakangan, setelah tujuh 
negara, terutama di Timur Tengah, memutus hubungan diplomatik, setelah dituduh 
mendukung ekstremisme dan terorisme.
 
 Qatar menjadi pemain kunci, baik secara regional maupun global, dalam beberapa 
tahun belakangan, ditandai antara lain dengan keberhasilan negara tersebut 
menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022.
 
 Di luar itu, stasiun televisi Al-Jazeera, yang dimiliki pemerintah, 
memantapkan diri sebagai salah satu media internasional terkemuka.
 
 Di bidang politik, Qatar berupaya untuk menjadi sponsor utama perundingan 
damai pihak-pihak yang bertikai di Afghanistan.
 
 Kondisi ini jelas berbeda beberapa puluh tahun lalu, di mana Qatar ketika itu 
adalah salah satu kawasan miskin di Teluk.
 
 ·         Tujuh negara Arab putuskan hubungan diplomatik: Ada apa dengan Qatar?
 ·         Krisis Qatar: Empat faktor kejengkelan tetangga Arab
 ·         Krisis Qatar: Bagaimana nasib calon penumpang pesawat?
 Beberapa dekade lalu, Qatar tak lebih dari daerah nelayan yang masuk 
protektorat Inggris. Negara ini merdeka pada 1971 dan tak lama kemudian 
menemukan salah satu cadangan gas alam cair (LNG) terbesar di dunia, nomor tiga 
setelah Rusia dan Iran.
 
 Dengan cadangan LNG mencapai 900 triliun kaki kubik, Qatar menjadi eksportir 
LNG terbesar di dunia.
 
 Penerimaan dari minyak dan gas membuat pendapatan per kapita rata-rata negara 
ini mencapai lebih dari US$100.000, jauh melampaui Amerika Serikat atau Inggris.
 
 Membeli Harrods dan perkampungan atlet London Penerimaan tersebut memungkinkan 
pemerintah menggratiskan biaya pendidikan, kesehatan, air dan listrik. Tersedia 
bantuan perumahan untuk rakyat dan setiap warga dijamin mendapatkan pendidikan.
 
 
 Dalam periode lima tahun ini, Qatar mengeluarkan dana £80 miliar untuk 
membangun prasarana umum.
 
 Pendapatan yang melimpah juga memungkinkan pemerintah untuk melakukan ekspansi 
bisnis dan investasi di luar negeri.
 
 Di Inggris, Qatar memiliki saham kepemilihan Shard di London, salah satu 
gedung tertinggi di Eropa dan toko serba ada Harrods. Tak hanya itu, Qatar juga 
memiliki kawasan bekas perkampungan atlet Olimpiade London, blok apartemen 
mewah di Hyde Park dan sebagian kawasan keuangan di Canary Wharf.
 
 Namun, perubahan dramatis juga memiliki sisi-sisi lain.
 
 "Kami menjadi urban ... Kehidupan sosial dan ekonomi kami berubah. Banyak 
keluarga yang terpisah dan budaya komsumtif makin menonjol," kata Dr Kaltham Al 
Ghanim kepada wartawan BBC Matthew Teller.
 
 Perubahan ini setidaknya terasa di Doha yang tak ubahnya mirip seperti kawasan 
pembangunan. Bangunan lama dirobohkan untuk digantikan dengan bangunan baru.
 
 Ditambah dengan kemacetan lalu lintas, bisa dipahami jika warga kota menjadi 
stres dan makin tidak sabar.
 
 Kedekatan keluarga 'luntur' Hak atas fotoREUTERSImage captionBeberapa dekade 
lalu Qatar adalah kawasan nelayan, sekarang menjadi salah satu negara terkaya 
di dunia berkat penerimaan dari ekspor LNG.
 Menurut media setempat, sekitar 40% perkawinan di Qatar berakhir dengan 
perceraian. Lebih dari dua pertiga warga, dewasa dan anak-anak, mengalami 
kegemukan.
 
 Sejumlah kalangan juga mengkhawatirkan kesenjangan generasi karena sekarang 
hampir semua anak dibesarkan oleh pengasuh anak dari Indonesia, Filipina, atau 
Nepal.
 
 Kedekatan hubungan antaranggota keluarga yang begitu kental pada era 1960-an 
kini seakan menjadi barang langka.
 
 ·         Puluhan ribu warga Indonesia di Qatar diimbau tak panik
 ·         Presiden Donald Trump mengaku berperan dalam pengucilan Qatar
 ·         Pemutusan hubungan Qatar ancam pangan, penerbangan dan sepak bola
 "Sangat menyedihkan bahwa kedekatan keluarga makin lama makin hilang," kata 
Umm Khalaf, warga Doha berusia 60 tahun.
 
 Hak atas fotoREUTERSImage captionEkspansi Qatar Airways membuat Doha menjadi 
salah satu kota penghubung penting dalam lalu lintas perjalanan udara.
 Warga juga merasa perhatian yang begitu besar dari masyarakat internasional 
terhadap Qatar -terutama setelah Qatar diputuskan menjadi tuan rumah Piala 
Dunia 2022- membuat orang-orang merasa khawatir.
 
 "Kami, orang-orang di Qatar merasa takut," kata Mariam Dahrouj, lulusan 
jurusan jurnalisme.
 
 "Tiba-tiba saja dunia sepertinya ingin melihat kami. Kami adalah komunitas 
yang tertutup dan mereka ingi datang dengan membawa masuk perbedaan mereka. 
Bagaimana kami akan mempertahankan nilai-nilai kami?" katanya.
 
 
 
 
 
 
 
 

 
 
 
 
 




 

Kirim email ke