*Siapa diantara mereka yang menjadi anggota Dewan Pembina Pancacila tidak
turut dalam pemeliharaan rezim Orde Baru? Siapa diantara mereka yang dengan
tegas menentang pengiriman Laskar Jihad Untuk membasmi kaum Nasrani di
Sulawesi Tengah dan Maluku.*


http://www.antaranews.com/berita/634253/menghindari-retorika-orde-baru-tentang-pancasila



*Menghindari retorika Orde Baru tentang Pancasila*

Jumat, 9 Juni 2017 13:57 WIB | 117 Views

Oleh M Sunyoto

[image: Menghindari retorika Orde Baru tentang Pancasila]

Pelantikan UKP-PIP Megawati Soekarnoputri (kedua kiri) berbincang dengan
anggota dewan pengarah lainnya dalam pelantikan Dewan Pengarah dan Kepala
Unit Kerja Presiden bidang Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) di Istana
Negara, Jakarta, Rabu (7/6/2017). UKP-PIP memiliki satu kepala yang dijabat
Yudi Latif dan beranggotakan sembilan dewan yaitu Mayjen TNI (Purn) Wisnu
Bawa Tenaya, Said Aqil Siradj, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, Ma'ruf
Amin, Megawati Soekarnoputri, Mantan Ketua MK Mahfud MD, Andreas Anangguru
Yewangoe, Sudhamek, dan Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif .
(ANTARA/Rosa Panggabean)


Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo membentuk lembaga baru yang
bertugas membumikan nilai-nilai yang terformulasikan dalam ideologi dasar
negara, Pancasila dengan mengangkat akademisi Yudi Latif sebagai Kepala
Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila.

Harus diakui bahwa inilah salah satu langkah strategis Jokowi dalam
menangkis problem yang paling meresahkannya dalam upaya memfokuskan diri
dalam merealisasikan pembangunan, terutama sektor infrasruktur, pendidikan
dan kesehatan yang menelan begitu besar dana publik.

Pada tataran atau konteks kebangsaan, eksistensi Pancasila sebagai jangkar
berpolitik memang dirasakan maknanya. Maraknya sektarianisme dan
intoleransi menunjukkan bukti perlunya menghadirkan kembali Pancasila
sebagai benteng ideologi negara.

Namun, yang lebih riil, pembentukan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi
Pancasila itu adalah langkah ampuh untuk meredam dan menangkis tuduhan yang
dilontarkan lawan-lawan politik Jokowi bahwa Istana adalah sarang komunis.

Tuduhan itu sesungguhnya naif bagi mereka yang terpelajar dan tercerahkan
mengingat komunisme adalah ideologi yang bangkrut di mana-mana. Hanya Korea
Utara yang eksis dengan ideologi komunisnya dan itu pun mata publik
melihatnya sebagai negara yang jauh dari ideal sebuah tatanan politik yang
memartabatkan kemanusiaan.

China memang masih berpatokan pada komunisme namun bukan ideologi komunis
yang dirumuskan para ideolog macam Karl Marx, Lenin bahkan Mao Zedong
sendiri. Komunisme di China sudah dirasuki oleh kapitalisme yang menjadikan
negara itu punya daya saing luar biasa dalam menarik investor dari
kapitalis-kapitalis dunia.

Meski naif dan irasional, tuduhan yang banyak dilontarkan lewat media
sosial tentang Istana sebagai sarang komunis perlu dibantah dan ditangkis
dengan tindakan yang telak. Memilih Yudi Latif, yang juga dikenal sebagai
dosen di Universitas Paramadina, tempat berkumpulnya para intelektual
Muslim tampaknya pilihan yang pas.

Kini lawan-lawan Jokowi tak punya amunisi lagi dalam memberikan stigma
negatif itu. Bisa dimaklumi bahwa Pancasila adalah antitesa komunisme.
Sedikitnya, dengan melakukan simplifikasi dengan tujuan melayani opini
publik yang tak selalu sesuai kenyataan, sila pertama Pancasila adalah
paradoks bagi ruh komunisme yang oleh publik disama dan sebangunkan dengan
ateisme.

Tentu pembentukan Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila tak
boleh berhenti sebagai jawaban atas tuduhan dari lawan politik Jokowi yang
mulai melakukan stimatisasi menjelang Pilpres 2019.

Pembentukan unit kerja itu perlu mewujudkan sasaran dasarnya yang lebih
makro, yakni membumikan Pancasila untuk merekatkan kembali gesekan sosial
ideologis di kalangan masyarakat yang bisa mengancam nilai-nilai kebangsaan
yang mempersatukan berbagai elemen sosial di Nusantara.

Munculnya kampanye teokrasi yang akan menggusur kaum minoritas juga perlu
diberi antidote Pancasila, yang nilai-nilainya perlu diejahwantakan oleh
aparat negara dan masyarakat.

Setelah dilantik, Yudi Latif sudah wanti-wanti bahwa pembumian nilai-nilai
Pancasila tidak akan dilakukan seperti yang terjadi pada era Orde Baru.
Artinya tidak ada indoktrinasi model penataran P4 (Pedoman Penghayatan dan
Pengamalan Pancasila).

Alternatif yang dipilih Yudi Latif adalah mendayagunakan
komunitas-komunitas dalam membumikan nilai-nilai Pancasila dan bukannya
berkothbah di ruang-ruang lembaga pemerintahan seperti yang dijalankan
penguasa Orde Baru. Cara-cara Orde Baru dalam mengklaim kebenaran atas
tafsir Pancasila akan dihindari oleh lembaga yang baru dibentuk Jokowi itu.

*Hindari menyakralkan Pancasila*
Yudi Latif juga menekankan pentingnya mengajarkan nilai-nilai Pancasila di
sekolah dengan menarik, dengan narasi yang menggugah, bukannya dengan
memaksa siswa menghapal butir-butir kalimat yang tak berdampak pada segi
afektif siswa.

Mungkin yang paling penting, cara-cara Orde Baru dalam menyakralkan
Pancasila untuk mematikan lawan politik juga perlu dihindari. Tentu
cara-cara itu sudah tak ampuh lagi karena pemerintahan pasca-Reformasi tak
didukung oleh militerisme yang menjadi penopang pemerintahan Orde Baru.

Mengikuti penalaran Syafii Maarif, intelektual yang juga diangkat sebagai
anggota Dewan Pengarah Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila,
sebenarnya inti persoalan bangsa yang menjadikan Pancasila belum teralisasi
dalam proses berbangsa ada di sila kelima Pancasila.

Syafii Mengatakan, belum terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat
Indonesia itulah pangkal persoalan bangsa selama ini. Meningkatnya
kesenjangan sosial ekonomi dan kedaerahan menjadikan nilai-nilai Pancasila
begitu berat untuk diimplementasikan.

Dengan demikian, persoalan politik dan persoalan ekonomi menjadi sengkarut
problem kenegaraan yang harus diselesaikan oleh pemerintah.

Artinya, kebijakan-kebijakan ekonomi yang prokerakyatan yang tak menjadikan
pertumbuhan mandek itulah yang selalu menjadi tantangan pemerintah dari
waktu ke waktu.

Ketika problem kesenjangan itu menelikung pemerintah, lawan-lawan politik
alias oposan punya peluang untuk melontarkan serangan mereka. Ironisnya,
serangan itu tak selalu dibungkus dalam kerangka kritik terhadap kegagalan
kebijakan ekonomi-politik pemerintah tapi diformulasikan sepenuhnya secara
politis ideologis, yakni dengan melontarkan tuduhan tentang bercokolnya
komunisme di jantung pemerintahan.

Tampaknya, berpolitik bukan semata-mata urusan penalaran dalam melayangkan
kritik terhadap pemerintah tapi lebih pada persoalan penemuan kiat paling
efektif dalam merebut kekuasaan yang digenggang kubu lain.

Itu sebabnya melontarkan serangan dalam bentuk tuduhan bercokolnya
komunisme di lingkaran Istana dianggap pengkritik lebih efektif dalam
melemahkan legitimasi pemerintah ketimbang memperlihatkan kegagalan dalam
melaksanakan kebijakan yang dapat melahirkan pemerataan kesejahteraan
rakyat.

Editor: Aditia Maruli

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Kirim email ke