Tapi, ... seorang PETANI biasa mencangkul nya sekalipun berkali-kali juga ditanah tertentu yang tetap! Tidak mungkin sebentar mencangkul dibidang tanah ini, kemudian mencangkul ditanah yang lain, ... Pada saat TANAH dibagikan pada setiap petani, ya tentu saja petani itu hanya mengerjakan dibidang tanahnya sendiri saja! Nah perkembangan berikut, setelah tanah itu digabungkan dalam koperasi, pembagian kerja saja yang menentukan petani itu mencangkul dibagian yang mana.
Lalu bung Sunny, kalau di Alquran istri itu diumpamakan dengan sebidang tanah garapan, tanah-garapan milik siapa? Milik pribadi petani itu, atau milik tuantanah atau milik bersama??? Hehehee, ... Tapi sehubungan dengan polygami ini, saya perhatikan ada masalah sikap atau pandangan salah terhadap wanita. Yaitu, kaum wanita TIDAK DIPERLAKUKAN sederajat dengan kaum laki! Wanita dianggap barang dan bisa diperjual-belikan. Untuk kawin pun pihak lelaki harus memberi emas-kawin entah berapa gelontor, sesuai permintaan pihak orang-tua wanita yang hendak disunting itu. Begitulah anak perempuan dijuluki “ribuan kati emas”. Sementara ada tradisi kuno menganggap wanita bagaikan vas bunga untuk pajangan dirumah saja, ... begitu kalau kita perhatikan tradisi Tionghoa kuno, dimana tradisi yang terjadi wanita Tionghoa dahulu kakinya kecil-kecil. Satu penyiksaan luar biasa terjadi terhadap kaum wanita, sejak kanak-kanan kakinya dibungkus sekecil mungkin, tidak tumbuh normal dan jadi terlipat. Jadi makin kecil kaki dia dipandang sebagai wanita ideal yang cantik, dan begitu kecilonya kaki dia, tentu tidak bisa jalan jauh kemana-mana, maksudnya wanita itu seperti vas bunga dipajang dirumah saja, ... Tapi, anehnya tradisi begitu kejamnya itu bisa berlangsung sampai ratusan tahun! Begini bentuk kaki-kecil kaum wanita di Tiongkok dahulu: Salam, ChanCT From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] Sent: Saturday, June 10, 2017 2:36 PM To: Gelora 45 Subject: Re: Trs: [GELORA45] "Poligami bukan perintah tuhan", Lalu perintah siapa? Bung Djie Orang mencangkul ladang itu bukan saja sekali linggis atau pacul mengali tanah, harus berkali panculnya dicamkan. Hahaha
