Saya jadi bertanya-tanya apakah penulis, Lukas Enembe, ini tahu apa isi dan
arti dari Trisaktinya bung Karno? Kemudian saya juga bertanya-tanya apakah
penulis yang namanya Lukas Enembe adalah juga gubernur Papua, Lucas Enembe,
yang didemo dalam kaitan dengan dugaan korupsi itu???
Demo Di KPK Sarat Kepentingan Politik
Posted By: redaktur pelaksanaPosted date: Juni 04, 2017In: PapuaNo
CommentsJAYAPURA – Demo di kantor KPK Jakarta beberapa waktu lalu yang meminta
pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk memeriksa Gubernur Provinsi
Papua Lucas Enembe atas dugaan keterlibatan Korupsi pembangunana jalan
Kemiri – Depapre, dianggap sarat kepentingan politik.Albertho G Wanimbo Forum
Peduli Demokrasi Rakyat Papua, kepada awak media menuding jika aksi demo
segelintir orang di kantor KPK tersebut aktornya adalah lawan politik dalam
Pilkada Gubernur 2018.“Kami sangat menyayangkan aksi demo di kantor KPK
Jakarta, dan kami menilai ada indikasi ada aktor dibalik ini yang ingin
mengacaukan Papua, terlebih jelang Pilkada 2018,”kata Wanimbo di salah satu
Hotel di Kotaraja Abepura Jayapura, Minggu (4/6/2017).Menurutnya ada
pihak-pihak lawan politik yang sengaja menggiring kasus yang menjerat kepala
dinas PU Provinsi Papua Maikel Kambuaya atas proyek jalan Kemiri -Depapre
Kabupaten Jayapura untuk di sangkutkan keterlibatan Gubernur Papua.“Ini
serangkaian, dan kawan-kawan ini mau menggiring kasus Ini dengan keterlibatan
Gubernur,”katanya.Ditanya apakah aktor tersebut adalah orang dari Papua,
Wanimbo mengaku bisa saja aktor demo tersebut dari Papua, namun bisa juganda
dari luar Papua.“Aktornya bisa jadi orang Papua bisa juga dari luar Papua, dan
yang jelas lawan politik. Dan yang jelas pelaku demo itu bukan orang Papua,
mereka hanya dibayar dengan sebungkus nasi dan uang sedikit untuk
demo,”ucapnya.Meski begitu, pihaknya mengaku akan mencari pelaku demo tersebut,
dan jika nantinya setelah dilakukan pengecekan ternyata hanya demo atas opini,
maka pihaknya akan melaporkan kepada yang berwajib.“Kita juga akan mencari tahu
siapa siapa yang demo di jakarta, dan akan menanyakan materi materi demo itu,
apakah mereka hanya main di opini atau ada alat bukti yang kuat,karena ini
menyangkut pencemaran nama baik dan pemerintahan yang sah,”katanya.Selain itu,
pihaknya dalam waktu dekat juga akan melakukan mobilisasi masa dan
penandatanganan petisi dukungan terhadap pemerintahan yang sah saat ini.“Kami
dalam waktu dekat akan melakukan konsolidasi dan mobilisasi massa di Papua
untuk membuat petisi yang mendukung pemerintah yang sah, dan ini sampai Pilkada
dimulai nanti, Karena kalau kita tidak lakukan maka akan ada bola liar yang
bergulir, dan menyurutkan pemerintahan, “pungkasnya. (Ed/Papua).Caption foto :
Albertho G Wanimbo Forum Peduli Demokrasi Rakyat Papua.
On Wednesday, June 14, 2017 9:54 AM, "'K. Prawira' [email protected]
[GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Lukas Enembe : JOKOWI DIMATA SAYA dan MASYARAKAT PAPUA
admin March 6, 2017 2,764 Views
https://parliamentmagazine.co.id/lukas-enembe-jokowi-dimata-saya-dan-masyarakat-papua/
Ketika peluncuran buku saya yang berjudul “ Papua: Antara Uang dan Kewenangan
“ di Jakarta, Senin (19/9). Saya merasa bersyukur bahwa di tahun ketiga
pembangunan di Papua sudah banyak perubahan dengan dukungan pemerintah pusat,
Pak Jokowi yang luar biasa. Presiden-presiden sebelumnya mungkin hanya satu
atau dua kali saja berkunjung ke Papua. Hal itu berbeda dengan Jokowi yang
sudah berkali-kali ke Papua di awal masa jabatan. Pak Jokowi luar biasa, sangat
merakyat sekali. Namun saya juga mengingatkan bahwa masih banyak hambatan yang
dihadapi dalam membangun Papua. Misalnya, masih banyak kebijakan pusat yang
bertentangan dengan kondisi di daerahnya, ini yang harus kita diskusikan
bersama dengan hati yang tulus dan terbuka, demi Papua.
Saya selalu mengamati setiap kebijakan Presiden Jokowi dengan Konsep Trisakti
dan Nawacitanya. Saya selalu catat, baik yang saya dengar secara langsung
maupun yang saya baca di Media cetak dan Media sosial serta media elektronik.
Apalagi jika Presiden Jokowi berbicara tentang Papua, kata-kata yang
dikeluarkan Presiden, masyarakat, tokoh masyarakat, pejabat daerah dan pejabat
pusat selalu saya catat.
Hal ini saya lalukan untuk mensinkronkan program Nawacita Presiden Jokowi dan
Program saya Gerbang Mas Hasrat Papua. Kedua konsep Program tersebut harus
seiring sejalan dan saling dukung mendukung. Semuanya bertujuan sama yaitu
untuk mencapai Visi dan Misi Presiden guna pembangunan daerah dan kesejahteraan
masyarakat. Sengaja beberapa pernyataan Presiden Jokowi saya beri warna merah
dalam buku saya ini, agar untuk bisa mengingatkan kita kembali dikemudian hari.
Pak Jokowi adalah Guru saya dan panutan saya, beliau mencitai Papua dari
Hatinya yang paling dalam. Program Pak Jokowi dan Nawacitanya telah terbukti
berhasil terlaksana di Papua dan sangat dirasakan mamfaatnya oleh masyarakat
Papua. Kedepannya, Program Gerbang Mas Hasrat Papua dan Program Nawacita akan
benar-benar dipadukan menjadi sesuatu kekuatan Program yang dasyat bagi
pembangunan kesejahteraan masyarakat Papua.
Pembangunan di Papua mendukung baru benar-benar terasa setelah adanya
Undang-Undang Nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua. Semua orang
Papua akui itu, setelah ada dana Otsus Papua. Saya sangat menghargai gagasan
dan perjuangan luar biasa oleh orang Papua hingga lahirlah UU itu. Saya
melanjutkan apa yang sudah diperjuangkan senior Papua. Namun, UU itu dirasakan
masih banyak kekurangan. Terutama dari sisi kewenangan Pemprov Papua. Regulasi
tanpa kewenangan juga tidak ada arti bagi kita membangun Papua. Saat ini ada
kondisi yang tidak bisa dihindari yaitu semakin banyaknya imigran datang ke
Papua. Kita ingin keluar dari kemiskinan tapi imigran semakin banyak datang ke
Papua.
Dari hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih kepada Presiden Joko
Widodo karena terus memperhatikan pembangunan di Papua. Terlebih, sektor
perekonomian terhadap mama penjual di Pasar Mama Papua. Walau pekerjaan
Presiden Joko Widodo padat, tetapi terus kembali untuk ke Papua.
Dan saya sampaikan ucapan terimakasih itu dalam sambutan saya di lokasi
Pembangunan PasarmBudaya Mama Papua, Sabtu 30 April 2016. Pembangunan pasar
mama Papua, dan pembangunan Indrastruktur lainnya di Papua. Sebenarnya
pembangunan pasar mama mama Papua telah diimpikan sejak 13 tahun lalu, tetapi
pembangunannya selalu terhambat.
Isu pasar mama Papua juga telah menjadi isu nasional dan dimulainya pembangunan
pasar ini menjadi perhatian serius bagi mama Papua. Pertumbuhan ekonomi di
Papua tanpa tambang 8,2 persen dan salah satunya adalah kontribusi mama Papua
dalam bidang sektor ekonomi.
Selasa malam kemarin, produser Mata Najwa mengundang Presiden Jokowi dan saya
tampil di Mata Najwa. Isu yang dibahas adalah isu sensitif dan sedang panas:
keberadaan Freeport di Papua. Mulanya saya yang tampil pertama, sembari
menunggu Presiden Jokowi datang. Di pengantar komentarnya, saya meminta
pemerintah pusat tegas kepada Freeport termasuk (kalau perlu) untuk tidak
memperpanjang kontrak karya.
Sembari tersenyum, Najwa kemudian memancing saya: apa yang akan dilakukan
gubernur Papua seandainya Freeport benar-benar hengkang dari tanah Papua. “Saya
tak mau berandai-andai. Kami orang Papua, butuh yang konkret. Bukan janji dan
seandainya.”
Penonton bertepuk tangan setelah seorang produser yang tidak disorot kamera
memberikan aba-aba untuk bertepuk tangan. Jusuf Kalla manggut-manggut. Luhut
menatap serius. Sudirman cemberut. Rini tanpa ekspresi. Setya memejamkan mata.
Surya mengelus-elus dagunya yang penuh bulu.
Tepuk tangan penonton semakin keras saat Jokowi masuk ke studio bersamaan
dengan berakhirnya pengambilan gambar untuk saya. Semua pejabat segera berdiri,
memberi hormat dan menyalami Jokowi. Sebelum duduk, Presiden Jokowi melambaikan
tangan ke arah penonton dan mesam-mesem. Najwa berjalan mendatangi Presiden
Jokowi dan menyalami. Keduanya saling sapa dan tertawa. Presiden Jokowi memeluk
saya, saya membalas pelukan Presiden Jokowi. Mata kami terlihat basah. Sesaat,
suasana acara Mata Najwa jadi hening. Najwa Shihab berkali-kali mengusap
matanya. Dia juga terisak. Penonton di studio Metro TV sesenggukan. Mereka
terharu.
Setelah keheningan di studio mulai cair, Wakil Presiden Jusuf Kalla yang duduk
di barisan depan segera berdiri menyalami Jokowi dan sya. Disusul di
belakangnya Luhut Panjaitan, Sudirman Said, Rini Soemarno, Surya Paloh, dan
Setya Novanto. Suasana lalu berubah menjadi kegembiraan. Semua orang di studio
tersenyum. Beberapa menit kemudian, prosedur memberi isyarat pengambilan gambar
kedua akan segera dimulai. Presiden Jokowi dan Najwa diminta tampil ke
panggung, duduk di kursi berhadapan dengan Najwa.
Roll… action…
Kamera menyorot Najwa, dan dia segera memberi pengantar dengan narasi penuh
rima mirip narasi acara Silet. “Freeport adalah isu besar. Kehadirannya
menyangkut nasib bangsa yang besar. Tapi akankah pemerintah mengambil keputusan
yang besar? Sejauh apa keputusan besar itu akan berdampak seandainya tambang
Freeport, kelak diambil oleh putra-putri dari bangsa yang besar? Permisa, di
tengah-tengah kita telah hadir Presiden Jokowi yang akan menjelaskan soal isu
besar itu…”
“Selamat malam, Pak Presiden, selamat datang di Mata Najwa…”
“Selamat malam, Mbak Najwa. Anda ini hebat. Semua pejabat bisa dikumpulkan di
studio. Pak Surya pintar memilih Mbak Najwa…”
Bersamaan dengan itu, produser memberi aba-aba agar penonton di studio bertepuk
tangan, dan seluruh penonton segera bertepuk tangan. Najwa membuka pertanyaan
dengan meminta penjelasan Jokowi soal kemungkinan tidak memperpanjang kontrak
karya Freeport. Presiden Jokowi mesam-mesem menyimak pertanyaan Najwa tapi
sejurus kemudian wajahnya berubah serius.
“Begini, Mbak Najwa. Hari ini, saya mendapat laporan ada 41 anak-anak di Mbuwa,
Nduga, Papua meninggal dunia. Mereka sakit oleh penyakit yang belum diketahui.
Para dokter di Wamena dan Jayawijaya angkat tangan, dan tentu saja saya sebagai
presiden merasa terpukul…”
Suasana di studio menjadi hening. Najwa yang biasa menyela terlihat menahan
diri. Presiden Jokowi segera melanjutkan penjelasannya.
“Papua itu kaya, Mbak Najwa, dan tambang Freeport hanya salah satu kekayaan
tanah Papua. Saya sungguh bersedih, karena anak-anak itu seharusnya tidak mati
di tanah yang kaya…”
“Kami mendengar, mereka terserang malaria, Pak Presiden?”
“Laporan awal yang masuk pada saya juga mengatakan begitu tapi para dokter
sudah memastikan, mereka bukan mati karena malaria.”
“Sakit apa mereka…?”
“Ya itu yang belum diketahui.”
“Sudah ada tim yang akan dikirim ke Papua, Pak Presiden?”
“Betul. Saya sudah membentuk tim. Tim ini sudah saya buat sejak seminggu
sebelumnya, tapi bukan tim untuk menyelidiki kasus kematian 41 anak-anak Papua
itu.”
“Lalu tim apa, Pak Jokowi?”
“Saya membentuk tim pemutusan kontrak karya untuk Freeport Indonesia. Saya
Presiden Republik Indonesia, Mbak Najwa. Dan saya akan sampaikan lewat Metro
TV… Sebagai Presiden Republik Indonesia, saya memutuskan untuk tidak
memperpanjang kontrak karya Freeport Indonesia. Dan mulai akhir tahun depan,
semua pengelolaan Freeport harus diserahkan kepada pemerintah Indonesia…”
Suasana seketika menjadi hening. Mata para pejabat yang duduk di bangku barisan
depan, membelalak semuanya seolah tak percaya dengan penjelasan Presiden
Jokowi. Prosedur acara juga sampai lupa untuk memberi aba-aba agar penonton
bertepuk tangan.
“Terus bagaimana kelanjutan penambangan Freeport, Pak Jokowi?”
“Soal sisa kontrak Freeport yang berakhir pada tahun 2019, akan kami selesaikan
dengan cara bermartabat dan terhormat. Pengelolaan bekas tambang Freeport,
setelah itu akan diserahkan kepada Papua untuk digunakan sebesar-besarnya bagi
kemakmuran rakyat di sana. Semuanya. Sebagian besar, pemerintah pusat hanya
akan mengawasi dan mengambil sedikit bagian yang akan disalurkan lewat APBN
untuk digunakan oleh daearah-daerah lain terutama daerah yang miskin…”
Belum selesai Presiden Jokowi menjelaskan, saya segera berdiri dan berjalan ke
arah Presiden Jokowi. Saya menyalami Presiden Jokowi. Presiden Jokowi
menyalami dan memeluk saya. Produser telat memberi aba-aba karena semua
penonton sudah telanjur bertepuk tangan. Adegan itu sebetulnya tak masuk dalam
run down acara Mata Najwa tapi empat kamera besar di studio terus merekamnya.
“Terima kasih, Pak Presiden. Terima kasih. Kami tidak salah pilih, Pak Presiden
adalah Presiden rakyat…”
Saya membalas pelukan Presiden Jokowi. Presiden Jokowi semakin mendekap saya.
Mata kami lalu berkaca-kaca. Setelah menyalami Presiden Jokowi dan saya,
terlihat Luhut, Rini, dan Sudirman seperti sibuk menelepon dengan ponsel
mereka. Penonton meriung, bergantian menyalami Presiden Jokowi dan saya.
Paspampres kewalahan tapi Presiden Jokowi melarang mereka mengusir penonton
yang mendekat. Di pojok panggung, wakil Presiden Jusuf Kalla dan Surya tampak
berbicara pelan dan serius. Surya kemudian memanggil Najwa dan berbicara tak
kalah serius sambil menuding-nuding. Najwa manggut-manggut.
Malam itu Presiden Jokowi membuat lembaran sejarah baru bagi Indonesia, bagi
Papua. Dia telah menunjukkan kelasnya sebagai pemimpin berbakat, penuh wibawa
dan penuh ketegasan. Bukan presiden yang kelasnya hanya disetir oleh
kepentingan politik dan bisnis segelintir elite. Najwa Shihab pun mendapat
banyak ucapan selamat. Ponselnya berdering tanpa henti. Tapi Najwa bingung
karena merasa Metro TV tidak pernah mengambil gambar untuk acara Mata Najwa
yang menghadirkan Jokowi dan Lukas untuk membahas pencabutan kontrak karya
Freeport. Tidak pernah ada. Lewat Twitter, admin Mata Najwa mengabarkan, yang
akan disiarkan Rabu malam nanti di Mata Najwa adalah pembacaan puisi oleh Jusuf
Kalla, sejumlah menteri, gubernur, dan pejabat lainnya. Temanya “Berjabat
Tangan dengan Rakyat.” Acara canda tawa, riang gembira. Dan tentu saja, acara
itu sama sekali tidak akan membicarakan 41 anak Papua yang mati sebab tak
terobati.
Kunjungan Jokowi, Sentuhan kasih untuk rakyat Papua
Saya menyanggah pernyataan beberapa pejabat Jakarta soal saya tak pernah ada
di tempat saat Presiden Jokowi berkunjung. Saya selalu berusaha mendampingi
Jokowi seperti pada kunjungan pertama. Dalam kunjungan pertama ke Papua pada
akhir Desember 2014, saya menjemput Presiden Joko Widodo di Bandara Sentani,
pada tanggal 27 Desember 2014 untuk merayakan Natal Bersama di Kota Jayapura.
Selanjutnya, saya menemani Presiden Joko Widodo ke Wamena, Jayawijaya, pada 28
Desember 2014, dan melepas Presiden Joko Widodo di Biak, pada 29 Desember.
Sedangkan dalam kunjungan kedua ke Papua pada 8-9 Mei 2015 lalu, saya masih
tahap pemulihan dari sakit. Saya menugaskan Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal,
untuk menemani Presiden Joko Widodo di Jayapura, pada 8 Mei dan kunjungan ke
Merauke, pada 9 Mei
Sebagai Wakil Pemerintah Pusat di Daerah, Gubernur bersama MRP dan DPRP Papua
telah melakukan berbagai perubahan pendekatan pembangunan untuk membangun Papua
yang lebih baik dalam ikatan NKRI. Dalam konteks hubungan pusat-daerah,
Pemerintah Provinsi Papua menjalankan berbagai kebijakan Nawacita yang
ditetapkan di dalam RPJMN Tahun 2015-2019. Karena itu, kunjungan kerja Presiden
Joko Widodo, menjadi bagian dari sentuhan Kasih dari Pemerintah Pusat dalam
menyapa rakyat Papua dan juga dilihat sebagai upaya memantapkan berbagai
kebijakan negara. Bahwa Jembatan Holtekamp di Kota Jayapura yang
di-groundbreaking oleh Presiden Joko Widodo pada 8 Mei 2015 adalah salah satu
terobosan Pemerintah Provinsi Papua sejak April 2013, dengan membuat skema
cost-sharing antara Kementerian Pekerjaan Umum, Pemerintah Provinsi Papua dan
Pemerintah Kota Jayapura.
Dalam perspektif Papua, Jembatan Holtekamp dijadikan landmark Indonesia di
hadapan kawasan Pasifik, dan sebagai simbol kemajuan infrastruktur di wilayah
perbatasan RI-PNG. Demikian pula, panen raya di Merauke pada 9 Mei 2015,
merupakan bagian dari pendekatan wilayah adat Animha di Papua yang menjadikan
Merauke sebagai sentra pangan di Kawasan Timur Indonesia.
Saya selama ini telah berkoordinasi dengan Kementerian PPN/Bappenas untuk
menata pendekatan pembangunan yang lebih khas ke-Papua-an. Salah satu terobosan
itu adalah dimasukkannya pendekatan pembangunan ekonomi wilayah berbasis 5
kesatuan adat ( Mamta, La Pago, Me Pago, Animha, dan Saireri ) ke dalam RPJMN
Tahun 2015-2019.
Terobosan pendekatan yang dijalankan Pemerintah Provinsi Papua, adalah bagian
dari komitmen Presiden Joko Widodo di dalam membangun Indonesia dari pinggiran
dengan pola desentralisasi yang asimetrik.
Saat berkunjung ke Tanah Papua beberapa hari lalu, Presiden Jokowi menghadiri
agenda kepresiden guna melihat perkembangan infrastruktur yang ada di sana.
Salah satunya adalah kunjungan ke Gardu Induk (GI) Waena Sentani 20 MegaVolt
Ampere buatan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN). Walau saat itu kondisi hujan
dan becek, tidak menyurutkan Jokowi untuk melihat GI pertama di Papua tersebut.
Dikutip dari Merdeka, 21 Oktober 2016, Jokowi ditemani Menteri BUMN Rini
Soemarno dan Direktur Utama PLN Sofyan Basir. Jokowi memegang payung sendiri,
sementara Rini dan Sofyan Basir menggunakan payung bersamaan.
Dalam sebuah kesempatan, ada satu bingkai foto yang menggambarkan Presiden
Jokowi tengah memegang payung seakan-akan memayungi Gubernur Papua saya yang
juga ikut menemani Presiden pada saat itu. Sontak foto ini pun yang kemudian
menjadi viral di media sosial dan masih menjadi perbincangan hangat di tengah
masyarakat. Beberapa masyarakat merasa tindakan Presiden Jokowi itu merupakan
hal yang terpuji, namun ada juga yang menganggapnya hal biasa.
Saya menjelaskan, sebenarnya Presiden Jokowi tidak memayungi dirinya. Itu
sebenarnya saya di luar. Beliau kan pegang itu payung, hujan. Saya dengan Ibu
Rini di luar payung itu sebenarnya. Tetapi seolah-olah kayak kita ada di
bawahnya payung itu. Kondisi cuaca yang tidak terlalu bagus pada hari itu, dan
Presiden Jokowi memang tak ingin dipayungi. Terlebih pemimpin nomor satu di
Indonesia itu lebih tinggi darinya. Ya beliau kan tinggi. Saya kan tidak
mungkin payungi dia. beliau tinggi jadi harus begitu. Hujannya kan
rintik-rintik. Bukan hujan deras kok. Kita bacalah. Itulan sebenarnya saya di
luar, saya tidak di dalam kawasan payung tersebut.
Jokowi dimata masyarakat Papua.
Nama Presiden Joko Widodo (Jokowi), benar-benar terpatri di hati sanubari warga
Papua. Perhatian, kerja keras, dan kejujuran sang presiden diakui telah
tertanam di benak warga Papua. Bahkan, mayoritas warga Papua ingin Jokowi
kembali menjadi Presiden bila maju di periode kedua 2019-2024. “Jokowi teman.
Karena Bapak Jokowi sangat baik sama orang Papua. Adalah harga mati Jokowi
harus jadi presiden di periode kedua nanti,” tegas Simon Wikidipa, kader PDI
Perjuangan dari Papua. Simon yang pendiam dan tak banyak bicara, menjadi
banyak bicara ketika diajak berbincang soal Jokowi. “Kerjanya Pak Jokowi nampak
jelas. Orangnya juga tak sombong, bekerja cepat dan bertanggung jawab,” kata
Simon.
Simon yang anggota DPRD dan merupakan pengurus PDI-P di DPC Intan Jaya, Papua,
mengaku kerap berkomunikasi dengan kelompok-kelompok lain masyarakat Papua.
Semuanya setuju bahwa Jokowi memang sosok istimewa bagi orang Papua. “Makanya,
kalau ketemu orang Papua, tak usah ditanya satu persatu, pasti semua suka sama
Bapak Jokowi,” tegas Simon.
Bahagianya Warga Wamena Papua Bertemu Jokowi
Kehadiran Presiden Joko Widodo di Wamena, Papua disambut riang oleh warga. Rona
bahagia terpancar dari wajah ratusan warga setempat yang telah menanti
kehadiran Presiden dan rombongan di tengah Stadion Mini Pendidikan Distrik
Wamena, Jayawijaya. Para warga yang mengenakan topi Santa Klaus ini
mendengarkan pidato Jokowi dengan khidmat. Mereka menyimak setiap ucapan Jokowi
yang berjanji hendak membangun jalan sepanjang 278,6 kilometer dari Wamena
hingga Mamugu pada tahun 2016. Tepuk tangan warga membahana menyambut janji
tersebut.
“Kami merasa senang sekali karena bertemu gubernur pun sulit untuk bertemu,”
ucap Lewi, warga Wamena, Jayawijaya.
Usai pidato Presiden, tetua adat Wamena menyampaikan permintaan mereka,
di antaranya adalah penurunan harga BBM dan percepatan pembangunan di Wamena.
Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Kali ini Presiden dan rombongan diajak
untuk mengikuti adat Bakar Batu. Dipandu oleh para ibu kemudian Presiden ikut
menyingkirkan rumput alang-alang. Di baliknya terdapat jagung, ubi dan ayam
bakar. Presiden Jokowi sempat memakan satu tongkol jagung. Begitu juga Ibu
Negara Iriana, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Kepala Staf
Kepresidenan Teten Masduki yang ikut mencoba penganan hasil Bakar Batu.
Tampak warga begitu senang melihat kedekatan pemimpin negara yang ikut larut
dalam budaya mereka. Dari luar lapangan, warga memanjat pagar. Presiden sempat
mengangkat jagung ke arah mereka, gerakan menawari. “Upacara bakar batu adalah
budaya masyarakat sini. Setiap ada acara baik besar atau kecil warga bikin
acara bakar batu,” ujar warga lainnya bernama Romi. Menurut para warga, acara
bakar batu adalah ungkapan rasa syukur. Selain itu juga untuk menghargai para
tetangga yang datang membantu acara. Acara seperti buka kebun atau bangun
rumah, para tetangga akan ikut membantu. Sehingga dengan acara Bakar Batu,
tetangga yang suda membantu akan pulang dengan kondisi kenyang.
Usai santap Bakar Batu, Jokowi lalu mengadakan kuis berhadiah sepeda untuk
warga. Seorang anak yang ditunjuknya diminta untuk menjawab pertanyaan darinya.
“Sebutkan tiga kabupaten yang ada di Pegunungan Tengah,” kata Jokowi. Anak
kecil yang mengaku Siswa kelas 1 SMP itu menjawab dengan cepat. “Jayawijaya,
Yalimo, Nduga,” katanya. “Pinter kamu. Sana, pilih sepeda mana yang kamu mau.
Silakan ambil, bawa pulang,” kata Jokowi. Melihat antusias warga untuk
mengikuti kuis itu, Jokowi pun meminta kepada panitia untuk memilih anak-anak
dan warga untuk diberikan sepeda. Sekitar 10 unit sepeda dibagikan dalam acara
itu.
Presiden Jokowi Dikenal Sampai Distrik Terpencil di Papua
Distrik Atsj berada di Kabupaten Asmat, Papua. Untuk sampai ke distrik tersebut
harus menggunakan speedboat selama satu jam dengan melewati sungai dan laut.
Alat transportasi menuju Asmat dengan ibu kota Agats didominasi speedboat,
karena sebagian besar wilayahnya merupakan wilayah perairan. Namun, Jokowi
cukup dikenal di wilayah terpencil Papua. Saat wartawan Suara Pembaruan ke
Distrik Atsj, pekan lalu, sejumlah warga mengaku mengagumi Jokowi. Meski sosok
Presiden Jokowi belum pernah sampai ke Atsj, warga mengenalnya lewat siaran
televisi. Listrik di distrik ini juga hanya bisa dikonsumsi mulai pukul 18.00
WIT sampai pukul 02.00 WIT. “Jokowi boleh orangnya, sederhana dan apa adanya,
dia jadi presiden juga boleh, mantap. Jokowi peduli banget sama wong cilik,”
kata Ibu Dede (52) pemilik warung makan yang cukup terkenal di Distrik Atsj.
Saat ditanya siapa gubernur Papua, Ibu Dede menjawab,”Tidak tahu.” Seorang guru
SD Inpres di Atsj, Ibu Cici (35), juga tak mau kalah memuji Presiden Jokowi.
“Lihat saja di tayangan televisi, di mana-mana namanya suka dipanggil-panggil
warga dan ia ladeni dengan senyuman. Itu budaya kita,” ujarnya.
Ketua Asosiasi Pengukir Asmat, Paskalis Wakaat, menilai pemimpin seperti
Jokowi yang dibutuhkan rakyat Indonesia saat ini. “Dia datang dan lihat apa
yang warga mau. De (dia, Red) pu (punya, Red) gaya tersendiri untuk dekat
dengan masyarakat. Itu yang susah orang tiru dan tra (tidak, Red) lelah
mendengarkan keluh kesah warganya.” Paskalis mengharapkan bila kelak Jokowi
menjadi presiden, ukiran Asmat bisa semakin mendunia dan para pengukirnya hidup
lebih sejahtera. Indarwati, pekerja LSM di Asmat pun tak luput memperhatikan
sepak terjang Presiden Jokowi.
Sedangkan, Indarto Tanaya yang ditunjuk dan diberikan mandat membentuk Barisan
Relawan Jokowi Presiden 2014 di Jayapura, Rabu (3/7) menyatakan warga Papua
mengenal Jokowi lewat tayangan televisi dan juga media online serta media
sosial.
“Jokowi itu figur yang disukai rakyat. Kami semua mendukungnya. Pantas bila
rakyat di kampung-kampung dan daerah pedalaman mengenalnya”.
Alasan Papua Sangat Istimewa di Mata Presiden Jokowi
Dalam kepemerintahan Presiden Joko Widodo, salah satu daerah di belahan bumi
Indonesia, Papua dinilai mendapatkan perlakuan istimewa. Dari perayaan hari
besar agama, kunjungan rutin, hingga berkeliling di pulau-pulau yang ada di
Papua, Presiden Jokowi selalu menyiapkan waktunya. Tidak hanya itu, Papua juga
menjadi daerah prioritas dalam pembangunan infrastruktur. Padahal, Papua
hanyalah salah satu daerah yang ada di Timur Indonesia. Masih banyak kawasan
timur yang tidak kalah tertinggal dari Papua.
Presiden Joko Widodo baru saja merayakan Tahun Baru di Papua, kendati
belakangan ada ancaman atau gangguan keamanan di Bumi Cendrawasih tersebut.
Bahkan saat Presiden Jokowi di sana, insiden penyerangan Polsek Siak terjadi.
Presiden Jokowi menyebutkan selama empat hari terakhir dirinya berada
di Papua dan Papua Barat dan berkeliling dari satu daerah ke daerah lainnya
mulai dari Merauke, Wamena, Nduga, Timika, Raja Ampat dan Sorong. “Semakin
sering saya ke Tanah Papua, semakin saya tahu bahwa Papua adalah surga kecil
yang diturunkan ke bumi,” kata Presiden. Dia juga mengatakan bahwa dirinya
semakin tahu dengan kondisi masyarakat Papua yang baik-baik dan ramah-ramah.
Presiden Joko Widodo berjanji akan mengunjungi Papua minimal tiga kali
dalam setahun. Tidak menutup kemungkinan, jadwal kunjungannya akan ditingkatkan
jika memiliki waktu luang. “Saya akan sering hadir di Papua minimal setahun
tiga kali. Kalau masih kurang dari 3 saya ditegor biar nanti saya tambahin,”
kata Presiden Jokowi di Jayapura, Sabtu (27/12). Tak hanya itu, Presiden Jokowi
juga akan membangun guest house (rumah singgah) untuk berkantor ketika dirinya
berkunjung ke sana. Hal ini dilakukan agar Presiden lebih dekat dengan
masyarakat di Papua. “Akan membangun guest house (rumah singgah) untuk beliau
ada tempat di sana dan bekerja di sana kan bekerja bisa di mana saja, tidak
harus di Jakarta, kan kantor bisa di mana saja bisa di Sentani, bisa di
Jayapura.”
Presiden Jokowi menjadikan momentum hari besar agama, Natal untuk
berkunjung ke Papua. Kunjungan di saat hari raya ini dijanjikan akan dilakukan
setiap tahun selama dirinya menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia.
Pada tanggal 27 Desember 2014 Jokowi telah tiba di Papua untuk merayakan natal
bersama warga Papua. “Berbahagia sekali saya dapat hadir. Saya mau ucapkan
selamat Hari Natal kepada saudara-saudara,” kata Presiden Jokowi di Papua.
Dalam acara itu turut hadir ibu negara, Iriana dan sejumlah menteri kabinet.
Ratusan relawan dan masyarakat juga meramaikan acara.
Presiden Joko Widodo mengungkapkan, pada tahun 2016 kemungkinan pemerintah
memulai pembangunan jalan kereta api (KA) di Tanah Papua dari wilayah Sorong,
Papua Barat. “Kemarin baru saja kita buka jalur kereta api di Sulawesi, nanti
tahun ini di Papua,” kata Presiden dalam pertemuan dengan warga masyarakat
Distrik Kais Kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat, Jumat (1/1)”. Presiden
awalnya memperkirakan studi kelayakan pembangunan jalur KA di Papua akan
selesai dalam waktu setahun namun ternyata tidak dapat diselesaikan dalam
setahun. “Tidak apa-apa, yang penting jalur ini bisa dibangun. Kemungkinan
besar dimulai di Sorong. Daerah lain jangan jadi marah,” kata Presiden Jokowi.
Presiden kembali menyatakan seluruh kabupaten di Papua ditargetkan pada 2018
sudah tersambung semua melalui jalur darat. “Dan mohon doa restu tahun ini
moga-moga jalur kereta api juga sudah mulai dibangun,” ujarnya. Saat melakukan
kampanye perdana di Papua, Presiden Jokowi punya keinginan membangun tol laut
sampai ke Papua. Alasannya adalah agar transportasi laut di seluruh Indonesia
bisa leluasa melakukan perjalanan dari ujung ke ujung.
“Kita ingin bikin jalan tol laut. Tapi jalan tol laut bukan berarti jalan tol
di atas laut. Maksudnya itu kapal besar dari ujung barat Sumatera sampai ujung
Timur di papua yang terus berkeliling,” paparnya.
Presiden Jokowi mengatakan dengan jalan tol laut tersebut maka pengiriman
barang-barang ke Papua akan lebih baik
Tak hanya itu, Presiden Jokowi juga akan memperlakukan prajurit di Papua
berbeda dengan prajurit di daerah lain. Presiden Jokowi menegaskan, prajurit di
perbatasan akan mendapatkan intensif khusus dari pemerintah sehingga
mendapatkan kesejahteraan yang khusus pula. “Untuk prajurit yang berada di
wilayah perbatasan baik yang ada di Kalimantan, baik yang ada di timur,
sebaiknya diberikan intensif khusus. Diberikan kesejahteraan yang khusus,
karena medannya memang berat. Jangan dibandingkan yang di Jawa dengan yang di
Papua. Yang di Jawa dengan yang ada di perbatasan,” terangnya. Alasan perlakuan
yang berbeda karena mereka berada di front paling depan. Selain prajurit, dia
juga akan memberikan perlakuan serupa kepada guru yang bekerja di kawasan
perbatasan.
“Ya saya kira semuanya yang berada di perbatasan akan kita perhatikan, termasuk
guru dan ekonominya. Ini masalah kebanggaan,” tutupnya.
Hanya di Era Jokowi, Papua Nyatakan Setia pada NKRI
Jika pada tanggal 1 Mei Kemarin, semua daerah di seluruh pelosok Indonesia
memperingati Hari buruh Nasional (May Day), hal berbeda dengan warga Papua. Ya,
1 Mei adalah tanggal sakral dimana pada tahun 1963 Papua kembali ke Pangkuan
Negara Kesatuan
Republik Indonesaia (NKRI). Keinginan warga Papua untuk berpisah dari NKRI
bukan berita baru, semenjak dahulu Papua dikenal sebagai pulau paling kaya di
jagat dunia, tapi sejarah orang-orang Papua begitu suram dan kelam,
sampai-sampai penyanyi Edo Kondolangit menyanyikan nestapa kaum Papua dengan
lirik lagunya yang terkenal “Kami tidur di atas emas, berenang di atas minyak,
tapi bukan kami punya. Kami hanya menjual buah-buah pinang.”
Semenjak naiknya Presiden Jokowi menjadi Presiden RI, sepertinya keinginan
Papua untuk berpisah dari NKRI semakin hari semakin menipis, bahkan di tahun
pertamanya saja, Presiden Jokowi sudah mengunjungi Papua sebanyak empat kali
dan berkomitmen penuh untuk membangun Papua sebagai daerah prioritas dalam
pembangunan infrastruktur seperti Jalan Trans Papua, Kereta Api, Pelabuhan,
bandara, dan lain sebagainya.
Tepat setelah Presiden Jokowi meresmikan Pembangunan Pasar Mama-Mama di Distrik
Gurabesi, Kecamatan Jayapura Utara, Papua, esoknya para pemuda Papua
membentangkan Bendera merahputih raksasa menyatakan diri bahwa mereka akan
sepenuhnya setia pada NKRI dan menolak segala aktivitas yang berhubungan dengan
kampanye hitam ULMWP (United Liberation Movement for West Papua) atau
Organisasi Papua Barat Merdeka terhadap NKRI.
Salah seorang warga, James Kembu yang merupakan anak mantan Panglima OPM
Wilayah Keerom mengatakan, pemuda Papua harus bangkit dan menjadi salah satu
pilar pembangunan Papua. “Mari kita pemuda Papua menjadi motor penggerak
pembangunan Papua,” ujarnya di Skofro, Papua, Senin 1 Mei 2016.
Ia berharap pemuda Papua jangan hanya terjebak dalam pemikiran politik semata
namun lupa membangun daerah sehingga Papua terus terbelenggu dalam
ketertinggalan. “Mari membangun, masalah politik Papua sudah selesai yakni
harga mati bagian dari NKRI yang tak terpisahkan,” katanya. Rakyat
Papua menurutnya juga tak menuntut referendum seperti yang didengungkan
segelintir orang.
“Jangan politisasi Papua dan Papua tidak pernah menuntut referendum. ULMWP
tidak pernah mewakili rakyat Papua,”tegasnya. Ia melanjutkan, rakyat Papua
tidak mengenal pihak ULMWP. Organisasi itu dianggap hanya NGO asing yang
mewakili bangsa Melanesia. “Rakyat hanya ingin merdeka dari keterisolasian,
kemiskinan, kebodohan,” paparnya.
Skofro merupakan Kampung basis kelompok OPM pimpinan Lambert Peukikir dan Yan
Werare serta sejumlah warga Wamena yang diketahui masih ada keterkaitan dengan
kelompok OPM. Skofro merupakan jalur utama menuju perbatasan RI-PNG karena
jarak lapangan Skofro dengan PNG hanya pada radius 1 kilometer. Tentu saja
momentum pengkibaran bendera ini harus diapresiasi dengan sangat gembira oleh
pemerintah pusat, bahwa kehadiran Jokowi sebagai Presiden RI, tidak hanya
memberi harapan besar bagi rakyat Papua sekaligus memperkuat wilayah Indonesia
yang lebih luas, mandiri dan hebat.
Disambut Ratusan Orang, Jokowi Resmikan BBM Satu Harga untuk Papua. Warga
Yahukimo Menangis Terharu…!!
Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan program Bahan Bakar Minyak (BBM) Satu
Harga untuk Papua, di Dekai, Ibu Kota Kabupaten Yahukimo, Papua. Dalam
kunjungannya, Jookowi didampingi Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini
Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Direktur Utama Pertamina
Dwi Soetjipto. Jokowi tiba di Bandara Yahukimo sekitar pukul 09.05 WIT setelah
melakukan penerbangan dari Bandara Sentani, Jayapura sekitar pukul 08.00 WIT.
Sebelumnya Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi,
dan Gubernur Papua telah lebih dulu hadir, dan langsung menyambut Presiden
Jokowi.
Turun dari pesawat, Jokowi yang datang bersama dengan Ibu Negara, Iriana
Jokowi, disambut dengan tarian adat Papua. Tampak sumringah, Presiden Jokowi
bersemangat sambil memegang jaket yang biasa dikenakannya, menyalami satu per
satu penari adat Papua yang menyambutnya. Sesampainya di lokasi peresmian,
Presiden Jokowi disambut ratusan masyarakat Papua yang telah menunggunya.
“Sudah seminggu kita menunggu Bapak Presiden, akhirnya bisa langsung melihat
Bapak Presiden ke Yahukimo,” ujar Diana. Sesaat setelah sampai Jokowi
melambaikan tangan kepada ratusan masyarakat Yahukimo yang telah menunggunya
dari batas pagar Bandara. Sambil melambaikan tangannya, Presdien Jokowi
menyampaikan bahwa ia berjanji akan menghampiri mereka nanti.
“Halo. Apa kabar? Nanti ya,” ujar dia menyapa masyarakat Yahukimo yang ingin
menyalaminya langsung.
Dalam sambutannya, Presiden Jokowi sempat salah menyebutkan nama daerah
Yahukimo menjadi Yakohimo. Ia mengaku kerap melakukan kesalahan penyebutan nama
daerah saking seringnya melakukan kunjungan ke daerah.
“Selamat pagi Bapak, Ibu sekalian masyarakat Papua. Khususnya masyarakat
Yakohimo. Yahukimo. Saya setiap hari pindah-pindah kabupaten, jadi kalau nyebut
sering banyak yang keliru,” katanya.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga meresmikan Bandara Udara Nop Goliat Dekai,
di Ibu Kota Kabupaten Yahukimo, Papua, Selasa (18/10/2016). Dalam pidatonya,
Presiden mengatakan “ Bandara Udara Nop Goliat Dekai adalah salah satu dari
tujuh bandara perintis yang menghubungkan 517 desa di Kabupaten Yahukimo.
Inilah manfaat sebuah hubungan, manfaat sebuah konektivitas, bukan masalah
megah-megahan infrastruktur tetapi kita harapkan dapat bermanfaat bagi
masyarakat Yahukimo,” katanya. Untuk itu Presiden berpesan agar bandara ini
dapat dirawat dan dijaga dengan baik.
Ia pun berharap bandara ini akan semakin menunjang perekonomian masyarakat
Yahukimo sehingga bisa bersaing dengan daerah maupun negara lain. “Sekarang ini
era kompetisi, eranya persaingan, kalau infrastrukturnya dalam posisi yang sama
maka semuanya akan bisa bersaing dalam apapun,” katanya.
Presiden mengakui bahwa panjang landasan pacu Bandara Udara Dekai masih relatif
pendek 1.950 meter sehingga perlu diperpanjang agar pesawat besar bisa
mendarat. “Tadi sudah saya sampaikan kepada Menteri Perhubungan agar
diperpanjang lagi menjadi 2.500 meter. Nanti (pesawat) Boeing bisa turun ke
sini,” harap Presiden. Presiden Jokowi memberikan target dua tahun paling lama
harus selesai. “Saya beri waktu dua tahun maksimal harus jadi. Kalau yang lain
panjang di sini juga harus panjang,” katanya. Sementara Bupati Yahukimo, Habock
Busup, mengapresiasi kedatangan Presiden Jokowi pertama kalinya ke Kabupaten
Yahukimo. Bersamaan dengan diresmikannya Bandara Nop Goliat Dekai di Yahukimo,
diharapkan dapat mendongkrak ekonomi masyarakat Yahukimo. “Terima kasih banyak
Bapak Presiden. Warga masyarakat Yahukimo senang sekali. Hanya satu-satunya
yang Bapak Presiden punya pesawat mendarat di sini, dan warga di sini menangis.
Warga masyarakat Yahukimo juga menangis karena pesawat Hercules juga bisa
mendarat di sini. Dan Bapak Presiden satu – satunya yang mewujudkannya. Dan
hari ini seluruh masyarakat Yahukimo, di gunung-gunung dan lembah senang Bapak
datang ke tempat ini, meskipun tidak kelihatan. Kami menangis terharu” ujar
Bupati Yahukimo saat memberikan sambutannya.
Dalam lawatannya ini, Presiden Jokowi meresmikan Bandara Nop Goliat Dekai di
Yahukimo dan program BBM Satu Harga untuk Papua yang digagas oleh Pertamina.
Jokowi juga meninjau pesawat air tractor khusus pengangkut BBM yang diimpor
Pertamina dari Kanada. Ini menjadi bagian dari upaya Pertamina menjangkau
wilayah-wilayah pegunungan di Papua untuk penyaluran BBM.
Jokowi Masuk Surga, Tembus Zona Merah Berbahaya, Bangun Peradaban dari Timur
Solo dan Jakarta bukan surga. Karena bukan surga, Presiden Jokowi tidak
menghabiskan akhir tahunnya di sana. Lalu kemana Jokowi bertahun baru? Di tanah
Papua. Di sana Presiden Jokowi menghabiskan tahun 2015 dan menyongsong tahun
2016. Bagi Presiden Jokowi, memasuki tanah Papua, sama dengan memasuki surga.
Ya, surga super alami, natural. Di sana harmoni alam dapat disaksikan dengan
sempurna. “Hari ini kita berada di tanah Papua, tanah yang diberkahi Tuhan
dengan sumber daya alam yang berlimpah. Tanah yang indah laksana surga kecil
yang jatuh ke bumi. Tanah yang hidup dalam kebhinekaan budaya, bahasa dan
tradisi,” begitulah kata mutiara Presiden Jokowi, Rabu (30/12/2015) sebagaimana
dikutip beberapa media. Kunjungan Presiden Jokowi ke Papua adalah kunjungan
surgawi. Kunjungan itu bukan kunjungan biasa, tetapi kunjungan ke belahan
jiwanya. karenanya, Presiden Jokowi bisa melawan rasa takutnya. Ia berani
menembus zona merah, zona yang sangat berbahaya dari segi keamanan. Namun
Presiden Jokowi rela melakukannya hanya demi belahan jiwanya, Papua yang
cantik menawan. Dalam dua hari, Presiden Jokowi menikmati keindahan surgawi
tanah Merauke, Wamena, Jaya Wijaya, Sorong dan berakhir di puncak keindahan
Papua, Raja Ampat.
Di Raja Ampat, Presiden Jokowi menyatu dengan keindahan alam tiada tara. Dari
sanalah ilham, ide, masa depan Indonesia, menari-nari dan berselancar di
kepalanya. Inilah yang ketiga kalinya Presiden Jokowi masuk surga Papua:
Desember 2014, Mei 2015 dan Desember 2015. Luar biasa bagi seorang presiden.
Di Tanah Papua, kegemilangan intelektualitas Presiden Jokowi bergemuruh.
Sebagai seorang sarjana kehutanan, pertemuan dengan hutan Papua, ibarat
pertemuan dengan belahan jiwa. Di sana, Presiden Jokowi seolah-olah merasa
tersihir dan larut dalam aura magis hutan Papua. Nalurinya sebagai pengusaha
mebel yang bahan produknya dari kayu hutan, Papua adalah sumber alam yang
sempurna.
Di sana ada keajaiban hayati yang merasuki relung-relung jiwanya. Begitu
memasuki tanah Papua, Jokowi menemukan hidupnya yang sempurna. Kehebatan tanah
Papua tidaklah berlebihan tetapi fakta. Papua memiliki hutan lebat yang sangat
luas. Hampir 90% daratan Papua adalah hutan. Produk unggulan Papua banyak
bersumber dari hutannya yang dipadati lebih 1.000 spesies tanaman. Lebih 150
varietas di hutan itu merupakan tanaman komersial. Ya, tanaman yang menjanjikan
masa depan yang cemerlang. Hutan di Papua mencapai 3l juta hektar yang terdiri
atas hutan konservasi seluas 6,4 juta hektar, hutan lindung 7,4 juta hektar,
hutan produksi tetap 8,1 juta hektar, hutan produksi terbatas 1,8 juta hektar,
dan hutan yang dapat dikonversi 6,3 juta hektar.
Daya magis hutan inilah yang menarik-narik hati Presiden Jokowi. Sekarang,
Papua sudah memiliki perkebunan seluas 5 juta hektar. Ke depan akan semakin
menjanjikan. Komoditi yang menjadi unggulannya adalah kelapa sawit, kakao, kopi
arabik, buah merah, dan karet. Sungguh, menjadi daya tarik bagi dunia manapun.
Di sektor perikanan, Papua memiliki terumbu karang terkaya dan terbaik di
dunia. Begitu pula dengan hutan bakaunya. Berbagai jenis ikan hidup di sini,
mulai dari pelagis besar, kecil, kerapu, udang, teripang kerang, dan lain
lain. Potensi lestari perikanan Papua sebesar 1.404.220 ton per tahun. Jika
dikelola dengan lebih baik, maka potensinya bisa berkali-kali lipat.
Kemudian bila dilirik sektor tambangnya, maka tak cukup kata-kata untuk
melukiskannya. Di sana ada tembaga, emas, minyak, dan gas dengan potensi 2,5
miliar ton. Ada potensi batu bara sebanyak 6,3 juta ton, batu gamping di atas
areal seluas 190 ribu hektar, pasir kuarsa seluas 75 hektar dengan potensi 21,5
juta ton, lempung 1,2 juta ton, marmer 350 juta ton, granit 125 juta ton, dan
hasil tambang lainnya seperti pasir besi, nikel dan krom. Itu sumber daya alam
karunia Tuhan bagi Papua. Di masa depan, dimana sumber daya alam semakin habis,
maka bangsa-bangsa di seluruh dunia akan semakin sengit memperebutkan sumber
daya alam yang masih ada. Dan itu masih melimpah ruah di Papua.
Sebagian Rakyat Papua Meminta Jokowi untuk Jadi Presiden Seumur Hidup
Sebagian rakyat Papua meminta Jokowi untuk jadi Presiden seumur hidup. Belum
genap dua tahun dalam memerintah tanah air,Presiden Joko Widodo sudah mulai
dicintai. Khususnya di Papua. Melihat pesatnya kemajuan pembangunan yang kini
sedang dilakukan di Papua, bisa dibilang hampir sebagian besar rakyat papua
meminta Presiden Jokowi untuk menjadi Presiden RI seumur hidupnya.
Hal ini terungkap saat Bupati Abock Busup mendistribusikan dana desa ke
ratusan distrik yang tersebar di Yahukimo. Saat itu, tiba-tiba dia mendengar
omongan masyarakat kampung yang terus meminta agar Presiden Jokowi bisa menjadi
presiden seumur hidup.
Hal ini tentunya tidak lepas dari penyampaiannya bahwa dana desa yang mana
merupakan uang yang diberikan pemerintah pusat atau negara yang kini dipimpin
oleh seorang Presiden Indonesia bernama Jokowi, sehingga masyarakat beranggapan
jika uang tersebut secara langsung diberikan oleh Joko Widodo.
“Itu ucapan polos mereka yang ingin meminta Presiden Jokowi menjadi presiden
seumur hidup. Padahal saya sendiri kalau ke Jakarta belum tentu bisa untuk
bertemu dengan beliau. Tapi biarlah itu merupakan kegembiraan mereka,” kata
Abock pada hari Rabu tanggal 21 September 2016.
Sejak dilantik menjadi bupati, dia bersama dengan Wakil Bupati yakni Yulianus
Heluka telah menurunkan dana desa sebesar 185 miliar rupiah dan semua langsung
diterima langsung oleh masyakat kampung. Meski secara teknis seharusnya
diberikan via transferan rekening, namun dalam kepemimpinannya Abock dan Heluka
mencoba satu hal baru yaitu dengan cara mengantarkan langsung dalam bentuk uang
tunai.
“Totalnya ada sebanyak 350 miliar rupiah dan tahap kedua di bulan Oktober akan
kami salurkan lagi dan hingga kini yang sudah tersalur sudah ada sebanyak 185
miliar rupiah dimana tiap kampung bisa memperoleh sekitar Rp 350 hingga Rp 360
juta,” lanjutnya.
Dari peredaran uang yang tidak sedikit ini Abock juga mewanti untuk tidak salah
dalam penyaluran dan pertanggungjawabannya.
“Jadi bukan kami bagi-bagi uang tapi untuk dokumen kelengkapannya juga sudah
kami siapkan. Rekeningnya kami bukakan di Bank Papua Yahukimo dan sudah
tercatat sebanyak 517 rekening, slip pengambilan dan dari BPMK program
pelaksanaannya telah kami siapkan agar mereka bisa mengisi programnya untuk
kita ikut mendorong visi misi Presiden Jokowi yakni Nawa Cita, menghadirkan
negara di tengah-tengah masyarakat termasuk visi misi Gubernur dan Bupati
sendiri,” kata Abock.
Alasan Presiden Jokowi Buka Papua untuk Media Asing
Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya mendadak menyatakan, Papua terbuka
untuk wartawan asing. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mendesak Presiden
Jokowi segera membuat peraturan pelaksanaan sebagai jaminannya.
Valentine Bourrat dan Thomas Dandois, wartawan Perancis yang dituduh meliput
tanpa ijin di Papua
Reaksi masih terus mengalir terkait pernyataan Presiden Jokowi bahwa wartawan
asing bebas meliput di Papua. Hal itu disampaikan ketika ia berkunjung ke
kampung kecil Wapeko di Kabupaten Merauke hari Minggu (10/05/15). Agustus 2014,
dua wartawan Perancis sempat ditangkap dan diadili karena meliput di Papua
tanpa ijin.
“Mulai hari ini wartawan asing diperbolehkan, dan bebas datang ke Papua sama
seperti di wilayah lainnya di Indonesia,” kata Presiden Jokowi kepada wartawan.
Hal itu kemudian ditegaskannya lagi. Sehari sebelumnya, koresponden Aljazeera
di Indonesia, Step Vaessen, lewat akun Twitternya sudah menyatakan hal serupa
setelah mewawancarai Presdien Jokowi.
“Mulai besok semua wartawan asing akan bebas pergi ke Papua. Presiden Jokowi
baru saja mengatakannya dalam wawancara eksklusif,” tulis Step Vaessen.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Hanafi Rais mengatakan, apa yang dilakukan Jokowi
adalah strategi politik terhadap media internasional pada Indonesia. “Presiden
harus memastikan bahwa TNI jangan sampai jadi bulan-bulanan media asing untuk
kepentingan asing di tanah Papua,” kata Hanafi kepada Republika Online, Selasa
(12/05/15). Dengan membuka Papua pada media asing, Presiden Jokowi
mengembalikan kepercayaan media dan dunia internasional pada Indonesia,
tambahnya.
Soal Prosedur
Sekretaris Kabinet Andi Widjajanto ketika diminta konfirmasi soal terbukanya
Papua bagi jurnalis asing membenarkan, tapi masih menunggu prosedur
selanjutnya. Andi meminta wartawan untuk MENUNGGU pernyataan resmi Presiden
Jokowi. Ketua AJI Kota Jayapura Victor Mambor mengatakan, Presiden Jokowi
memang menegaskan wartawan asing bebas masuk ke Papua.
“Saya tanya soal wartawan asing ini tiga kali. Jokowi dengan yakin mengatakan
ya, mereka bebas masuk ke Papua,” kata Mambor. “Pada saat wawancara, Jokowi
sendiri yang mengatakan kepada saya, sudah tiga kali beliau berbicara dengan
menteri terkait, Kapolri, Pangdam dan Polda untuk hal ini,” tandasnya.
Tapi Ketua Bidang Advokasi AJI, Iman Nugroho, dalam rilisnya yang dikelaurkan
hari Senin (11/05/15) menyatakan, harus ada peraturan tertulis yang menjadi
jaminan, bahwa perintah Presiden Jokowi akan dilaksanakan oleh bawahannya.
“Tidak hanya sekadar omongan, namun akan lebih maju jika Presiden segera
mengeluarkan peraturan untuk memberikan jaminan bahwa apa yang disampaikan
presiden dilaksanakan di lapangan,” kata Iman.
Ijin dari 12 kementerian dan lembaga negara
Menurut Iman Nugroho, jurnalis asing yang akan meliput Papua harus melewati
prosedur klarifikasi panjang. Klarifikasi itu melibatkan 12 kementerian dan
lembaga negara, antara lain dari Kementerian Luar Negeri, Kepolisian, Badan
Intelijen Negara, sampai Kementerian Kooordinator Politik, Hukum dan Keamanan.
AJI berpendapat, langkah pertama pembukaan akses bagi jurnalis asing di Papua
adalah dengan menghapuskan prosedur klarifikasi yang berbelit-belit ini.
Jurnalis asing sudah sewajarnya bebas meliput di Papua, seperti mereka meliput
wilayah lain di Indonesia. Jangan ada lagi jurnalis asing yang mendapat
intimidasi aparat keamanan seperti dimata-matai, diikuti, atau teror yang
menghambat kegiatan jurnalistiknya.
AJI menilai, pembukaan akses bagi jurnalis ke Papua justru bisa menjadi awal
kemajuan bagi masyarakat Papua. Isu korupsi dan pelanggaran HAM yang selama ini
seakan dilindungi dan dilanggengkan sekelompok orang, akan lebih mudah diungkap.
Pak Jokowi, Presiden Yang Angkat Tanah Papua, Pahlawan Asal Papua Ada di Mata
Uang NKRI…
Nama Frans Kaisiepo merupakan nama salah satu pahlawan nasional dalam 12
pecahan mata uang NKRI baru yang diluncurkan hari ini, Senin (19/12). Nama
besar Frans Kaisiepo sudah diabadikan sebagai nama bandara di Biak, Papua,
tanah kelahirannya. Serta diabadikan sebagai nama kapal perang Indonesia, yakni
KRI Frans Kaisiepo pada 2010 lalu. Masyarakat juga mengenalnya sebagai
Gubernur Irian Barat ke-4 pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, yakni pada
1964-1973.
Frans juga, sebagai pelopor nama Irian, yang artinya semangat persatuan
masyarakat agar tidak mudah untuk takluk di tangan Belanda. Siapa sebenarnya
pahlawan Papua ini? Mari mengenalnya. Berdasarkan keterangan yang dihimpun,
Frans Kaisiepo merupakan pahlawan kemerdekaan RI di Papua, yang dulunya bernama
Irian. Beliau merupakan putra kelahiran Biak, Papua, pada 10 Oktober 1921.
Dalam konferensi Malino di Sumatera Utara pada 1946, dia merupakan satu-satunya
perwakilan Papua. Dalam konferensi tersebut, dia mengusulkan nama Papua diganti
jadi Irian. Selang satu tahun, tekanan Belanda di Papua meningkat sehingga
pecah perang di Biak. Frans menjadi tokoh penting pergerakan anti-Belanda.
Sikap anti-Belanda ini dia tunjukkan dengan menolak dipilih sebagai wakil
Belanda di Konferensi Meja Bundar (KMB). Gara-gara penolakannya, dia harus
merasakan pahitnya menjadi tahanan pada periode 1954 – 1961. Pada 1971, dia
menjadi pendiri Partai Politik Irian. Misi utama dari pembentukan partai
tersebut adalah agar supaya wilayah nugini bisa bersatu dengan Indonesia.
Pada 1972, Frans didapuk menjadi Anggota, Kepemimpinan Hakim Tertinggi, Dewan
Pertimbangan Agung RI. Dia menjabat Gubernur Irian Barat ke-4 hingga 1973,
sebelum akhirnya tutup usia pada 10 April 1979. Atas jasa dan perjuangannya
terhadap tanah Papua dan kemerdekaan Indonesia, Pemerintah RI menganugerahi
Frans yang juga pahlawan Trikora ini dengan gelar Pahlawan Nasional berdasarkan
SK Presiden RI No. 077/TK/Tahun 1993 tanggal 19 Agustus 1993.
Jokowi Perkenalkan Istrinya “Iriana” pada Masyarakat Papua
Baru pertamakalinya istri Presiden Joko Widodo ikut berkampanye pada Pilpres
2014 ini. Sang istri yang mengenakan baju kotak-kotak ikut blusukan. Tak lupa
mengajak dua anaknya yakni Kahiyang Ayu dan Kaesang Pangareb. Mereka kompak
mengenakan baju kotak-kotak. Di sela-sela safari politiknya ini, Iriana juga
tetap tak banyak bicara. Tak banyak cerita dari Iriana saat ditanya perihal
rahasia suaminya yang fisiknya tetap prima meski tiap hari melakukan blusukan
dan safari politik maupun berkampanye dari pagi hingga tengah malah. Tak tahan
dengan rayuan wartawan, Iriana pun mengatakan bahwa setiap hari ia memberi sang
sumi jamu. “Ya itu biasa saya kasih jamu,” kata Iriana pendek. Selain itu,
Iriana enggan berkomentar hal-hal lain terkait ketahanan fisik Jokowi. Ia hanya
tersenyum sambil berjalan menghampiri suaminya. “Selain itu ya rahasia hehe,”
ucap Iriana sembari menutup mulutnya yang tersenyum dengan tangan.
Keduanya nampak mesra ketika bertemu di kampung Yoka, saat menghadiri acara
dukungan masyarakat adat terhadap pencapresan dirinya. Saat itu Jokowi
merangkul Iriana sembari mengenalkan istrinya itu di hadapan masyarakat banyak.
Tidak hanya di kampung Yoka, Presiden Jokowi kembali mengenalkan istrinya itu
dihadapan beberapa kader PDI Perjuangan, partai pendukung serta relawan ketika
makan siang. Terlihat Presiden Jokowi yang lebih aktif mengenalkan istrinya
ditengah orang banyak. “Ini istri saya, namanya Iriana. Diberi nama oleh
kakeknya. Nama istri saya diambil dari nama provinsi Papua yang dulunya Irian,”
kata Jokowi.
Jokowi: Masyarakat Papua Jangan Jadi Penonton Pembangunan
Presiden Joko Widodo berharap masyarakat Papua dan Papua Barat terlibat dalam
pembangunan. Ia tidak ingin masyarakat Papua hanya menjadi penonton. “Saya
ingatkan, pelaksanaan pembangunan Papua juga harus perhatikan nilai-nilai hak
asasi manusia,” kata Presiden Jokowi di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 8
November 2016. “ Pendekatan budaya pun mesti diperhatikan”. Pasalnya, ucap
Presiden Jokowi, masyarakat Papua merupakan subyek terpenting dalam
pembangunan. “Tata kelola pemerintahan juga harus baik dan bebas korupsi,”
ujarnya. Pembangunan infrastruktur menjadi salah satu agenda yang sedang
dikejar pemerintah. Menurut Presiden, percepatan dan konektivitas infrastruktur
antarwilayah penting agar ada pemerataan pembangunan. Penetapan harga bahan
bakar minyak di Papua yang sama dengan di Pulau Jawa merupakan langkah awal
yang dilakukan Presiden Jokowi. Ia menuturkan kebijakan satu harga itu bisa
membantu biaya logistik lebih murah.
Masyarakat Papua Histeris pada Jokowi Karena Program Ini
Menteri Perhubungan Budi Karya menilai, pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla
sudah menunjukkan hasil yang luar biasa dalam dua tahun terakhir. Meski baru
bergabung di Kabinet Kerja pada akhir Juli 2016, Budi mengaku tetap bisa
melihat keberhasilan pemerintah di berbagai sektor. Ia mencontohkan, langkah
Presiden Jokowi membuat harga bahan bakar minyak di Papua setara dengan daerah
lainnya.
Ia menilai, langkah tersebut merupakan suatu yang bersejarah, mengingat selama
ini BBM di wilayah terpencil di Papua bisa berkisar antara Rp 60.000 – Rp
100.000 per liter. “Papua yang selama ini menderita sekarang diberi solusi oleh
Pak Jokowi. Semua masyarakat histeris,” kata Budi Karya dalam peluncuran buku
dan diskusi dua tahun pemerintahan Jokowi-JK di Gedung Setneg, Kompleks Istana
Kepresidenan, Jakarta, Jumat (21/10/2016). Contoh lain, lanjut dia, adalah
langkah pemerintah membangun infrastruktur di berbagai daerah pinggiran dan
pulau terluar. Misalnya, bandara di Pulau Miangas, yang merupakan pulau terluar
di utara Indonesia. Presiden bahkan datang langsung ke Miangas untuk meresmikan
bandara tersebut. “Miangas yang penduduknya cuma 700 orang, yang pernah
mengibarkan bendera Filipina, juga histeris saat menyambut kedatangan Pak
Jokowi,” kata Budi yang mendampingi Pak Jokowi ke Miangas dan Papua, beberapa
waktu lalu. Dengan dua tahun yang sudah sangat baik seperti sekarang ini, Budi
Karya optimistis sisa pemerintahan tiga tahun mendatang bisa dijalankan dengan
lebih baik lagi.*/rev/pm/2017
Share
• Facebook
• Twitter
About admin
Previous Pojok Pemikiran : Merdeka Dalam Bingkai NKRI, Oleh: Lukas Enembe
Next Dikritik Kedatangannya di Papua Tak Ada Gunanya, Ini Tanggapan Jokowi!
Related Articles
LIPIUS BINILUK, M. TH : RAJA SALMAN PUJI KEHIDUPAN UMAT BERAGAMA DI INDONESIA
March 23, 2017
Saatnya , Kota Jayapura menjadi Pintu Gerbang Perdagangan ke Negara Pasifik
March 22, 2017
Program Pembangunan Sentra IKM di (Kalimantan Tengah), Sumbawa (NTB), dan
Jayapura (Papua)
March 22, 2017
March 22, 2017
Check Also
GERBANGMAS HASRAT PAPUA : Fokus Pada peningkatan kualitas hidup Orang Asli
Papua Di Tahun 2017
Gubernur Provinsi Papua Lukas Enembe dalam pidato akhir tahun 2016 dan
menyambut tahun 2017, menekankan …
Designed by ATZ Creative
© Cop
#yiv0900062415 #yiv0900062415 -- #yiv0900062415ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-mkp #yiv0900062415hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-mkp #yiv0900062415ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-mkp .yiv0900062415ad
{padding:0 0;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-mkp .yiv0900062415ad p
{margin:0;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-mkp .yiv0900062415ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-sponsor
#yiv0900062415ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-sponsor #yiv0900062415ygrp-lc #yiv0900062415hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-sponsor #yiv0900062415ygrp-lc .yiv0900062415ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0900062415 #yiv0900062415actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0900062415
#yiv0900062415activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0900062415
#yiv0900062415activity span {font-weight:700;}#yiv0900062415
#yiv0900062415activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0900062415 #yiv0900062415activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0900062415 #yiv0900062415activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0900062415 #yiv0900062415activity span
.yiv0900062415underline {text-decoration:underline;}#yiv0900062415
.yiv0900062415attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0900062415 .yiv0900062415attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0900062415 .yiv0900062415attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0900062415 .yiv0900062415attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0900062415 .yiv0900062415attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0900062415 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0900062415 .yiv0900062415bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0900062415
.yiv0900062415bold a {text-decoration:none;}#yiv0900062415 dd.yiv0900062415last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0900062415 dd.yiv0900062415last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0900062415
dd.yiv0900062415last p span.yiv0900062415yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0900062415 div.yiv0900062415attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0900062415 div.yiv0900062415attach-table
{width:400px;}#yiv0900062415 div.yiv0900062415file-title a, #yiv0900062415
div.yiv0900062415file-title a:active, #yiv0900062415
div.yiv0900062415file-title a:hover, #yiv0900062415 div.yiv0900062415file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0900062415 div.yiv0900062415photo-title a,
#yiv0900062415 div.yiv0900062415photo-title a:active, #yiv0900062415
div.yiv0900062415photo-title a:hover, #yiv0900062415
div.yiv0900062415photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0900062415
div#yiv0900062415ygrp-mlmsg #yiv0900062415ygrp-msg p a
span.yiv0900062415yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0900062415
.yiv0900062415green {color:#628c2a;}#yiv0900062415 .yiv0900062415MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0900062415 o {font-size:0;}#yiv0900062415
#yiv0900062415photos div {float:left;width:72px;}#yiv0900062415
#yiv0900062415photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0900062415
#yiv0900062415photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0900062415
#yiv0900062415reco-category {font-size:77%;}#yiv0900062415
#yiv0900062415reco-desc {font-size:77%;}#yiv0900062415 .yiv0900062415replbq
{margin:4px;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-mlmsg select, #yiv0900062415 input, #yiv0900062415 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-mlmsg pre, #yiv0900062415 code {font:115%
monospace;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-mlmsg #yiv0900062415logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-msg
p#yiv0900062415attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-reco #yiv0900062415reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-sponsor
#yiv0900062415ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-sponsor #yiv0900062415ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-sponsor #yiv0900062415ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0900062415 #yiv0900062415ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0900062415
#yiv0900062415ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0900062415