Pada Kamis, 15 Juni 2017 17:18, "Roeslan [email protected]
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:
Refleksi terhadap Tulisan yang berjudul Terbongkar! Inilah Pencapaian Jokowi
yang Tak Lekang Zaman!
5Personal Branding adalah sebuah seni dalam menarik dan memelihara lebih
banyak klien dengan cara membentuk persepsi publik secara aktif. Selain itu
personal branding merupakan sebuah pencitraan pribadi yang mewakili serangkaian
keahlian, suatu ide cemerlang, sebuah sistem kepercayaan, dan persamaan nilai
yang dianggap menarik oleh orang lain, jadi secara hakekat Persolan branding
adalah sebuah cara untuk membuat orang lain merubah sikapnya, suka atau tidak
suka kita harus satu. Personal branding bagi presiden Jokowi dalam konteks ini
tercenin dalam sikap beliau dalam fenomena sepeda dan buku, yang pengaruhnya
besar bagi pencitraan. Membagi-bagi sepeda dan buku kepada orang lain yang
tidak mampu itu memang baik, tidak ada jeleknya, tapi jika kita cermati
sebenarnya ada sesuatu yang tidak baik bagi dirinya sendiri (an sich), karena
pengaruh sepeda dan buku adalah terlekat dengan personal branding, yang
hakekatnya adalah pamrih untuk pencitraan. Di dunia ini manusia berjuang untuk
melawan nafsu-nafsu dirinya, maka kehendak bisa dilakukan dengan maksud-maksud
tertentu yang tidak baik buat dirinya sendiri (an sich), misalnya menbranding
dirinya untuk mendapat penghargaan dari orang lain (pencitraan)
Jadi pembahasan tentang sikap Presiden Jokwi, yang menggunakan cara personal
branding itu, tidak memadai, karena dalam jabatannya sebagai Presiden itu
terlekat kepentingan kepentingan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, yang
bertujuan untuk mendirikan suatu masyarakat yang adil dan makmur, yang oleh
Bung Karno disebaut Sosialisme Indomnesia. Jadi pernyatan Pencapaian Jokowi
yang Tak Lekang Zaman!; yang terlekat dalam penomena sepeda dan buku, terlalu
berlebih-lebihan.
Menurut pengamatan saya sampai sekarang ini hanya Bung Karno-lah yang dapat
dinobatkan serbagai peminpin sepanjang zaman, meskipun sekarang Bung Karno
sudah almarhum, tapi jiwanya dan arahan ajaran pejuangannya yang menjurus pada
terlaksanakannya suatu masyarakat Indonesia yang adil dan makmur, tanpa adanya
penghisapan manusia atas manusia tetap terlekat erat pada jiwa Rakyat Indonesia
dan tetap relevan sampai detik ini. Ini berarati Bung karno tealah berhasil
menbranding pribadi beliau sendiri, demi kepentingan perjuangan untuk
menyesaiakan tugas-tugas yang dituntut oleh Proklamasi Kemerdekaan Indonesia,
tanpa pamrih apapun, meskipun menghadapi tekanan berat, ancaman pembunuhan
sadis dari rezim militer fasis Soeharto, Bung Karno tetap tidak mau menyerah.
Tugas seorang Presiden Jokowi adalah keharusan untuk menjalankan konstitusi
negara yaitu UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45 dan ideologi negara Pancasila 1
Juni 1945, untuk maksud tertsebut, presiden Jokowi belum pernah melakukan suatu
pidato apapun yang mejurus pada Pencerahan terhadap Pancasila 1 Juni 1945
secara mendasar, dan UUD 45, khususnya Pasal 33 UUD 45. Yang mempunyai arti
sangat penting bagi pembangunan SDM yang Pancasilais, disamping meningkatkan
kemampuan pikiran dan budaya bangsa.Menurut pengamatan saya yang dilakukan oleh
Presiden Jokowi hanaya membentuk UKP PIP, yang komposisianya dan arahnya masih
belum jelas. Menurut pendapat saya untuk melakukan pembahasan ilmiah terhadap
Presiden Jokowi, kita harus menggunakan sistem berpikir holistik dan ekologis;
bukan pembahasan yang menurut ilmu pengetahuan mekanistik atau Cartesian,
seperti yang tercermin dalam pembahasan personal branding, yang tidak memadai
ditinjau dari kepentingan Proklamasi kemerdekaan kita, karena hanya melihat
detail yang Cuma secuil (sepeda dan buku). Apa yang dimaksut dengan scara
pandang holistis, untuk mudahnya, sebagai contoh yaitu: ``seeing Forest vs
seeing Trees`` = melihat keseluruhan vs melihat detail yang Cuma secuil). Jadi
membahas pak Jokowi secara holistik artinnya melihat gambaran yang lebih besar,
misalnya dalam kontels Mega-infrastruktur dan keseluruhan fungsionalnya dan
kesaling hubungannya dengan pertumbuhan ekonomi yang merata. Sebuah pandangan
ekologis mengenai projek Mega-infrastruktur, mencakup pandangan holistik,
tetapi menambahkan persepsi tentang bagaimana projek infrastruktur tersebut
terklekat dalam lingkungan alamiah dan sosialnya. Untuk mudahnya, baiklah kita
ambil saja contoh yang sederhana, katakanlah melihat sebuah sepeda secara
holistik, berarati melihat sepada sebagai keseluruhan fungsionalnya, dan karena
itu kita mengerti adanya kesalingtergantungan bagian-bagiannya. Sebuah
pandangan ekologis mengenai sepeda mencakup pandangan holistik, tetaapi
menambahkan persepsi tentang bagaimana sepeda tersebut terlekat dalam
lingkungan alamiah dan sosialnya; darimana dapat bahan bahan mentahnya,
bagaimana sepeda itu diprodukasi secara massal, bagaimana pemakaiannya
mempengaruhi lingkungan alamiah dan komunitas yang memakainya dll. Pandangan
ini belum di tekuni oleh Pak Jokowi, sehingga terjadi konflik dengan para
ativis AMDAL, dalam konteks kereta super Cepat, pabangunan lapangan udaradi
Majalengka Jawa Barat betrok dengan Rakyat setempat.
Menurut pengamatan saya di era reformasi yang sudah berjalan selama 19 tahun
ini, namun demikian belum dapat memuncukan seorang pemimpin yang sekaliber Bung
Karno, suatau pemimpin yang sataunya kata-kata dan perbuatan sehingga dapat
dijadikan sebagai panutan yang berkelanjutan.
Roeslan
---------------------------------------------
Terbongkar! Inilah Pencapaian Jokowi yang Tak Lekang Zaman!
6BY RADITYA ON JUNE 12, 2017URUSAN HATISumber : tirto.id“Silahkan saja
membicarakan tentang pencapaian Jokowi di bidang insfrastruktur, ekonomi,
sosial budaya hingga peningkatan kunjungan wisatawan mancanegara atau
pencapaian lainnya. Tapi saya, akan membicarakan pencapaiannya yang mungkin tak
banyak orang membicarakannya. Apa itu?” Pengaruh sepeda dan buku bagi
personal branding Sang Presiden!. Hal ini terkesan sederhana, tapi memiliki
efek yang luar biasa. Check it out!Sebelum membahas tentang pengaruh sepeda dan
buku bagi personal branding yang yang melekat di diri Jokowi selaku Presiden,
mari kita lihat sekilas definisi personal branding itu sendiri.Beberapa
definisi yang ada, menjelaskan bahwa personal branding adalah sebuah seni dalam
menarik dan memelihara lebih banyak klien dengan cara membentuk persepsi publik
secara aktif (Montoya, 2006). Definisi yang lain menjabarkannya sebagai segala
sesuatu yang ada pada diri seseorang, yang membedakannya dengan orang lain
serta memiliki nilai jual (Kupta).Melalui personal branding, seseorang dapat
dikenal oleh banyak orang. Namun demikian, tingkat keberhasilan personal
branding seseorang bukan semata-mata diukur dari hal itu. Bukan dari berapa
banyak massa yang mengenali dirinya. Melainkan, ada hal lain juga yang menjadi
faktor penilaiannya.Kembali pada personal branding Presiden kita.Jika
keberhasilan personal branding seseorang hanya diukur oleh berapa banyak massa
yang mengenali orang itu, tentu Presiden kita akan dengan mudah menempati
posisi pertama. Ya iyalah, Presiden. Simbol Negara. Rakyat Indonesia sebelah
mana yang tidak mengenal Presidennya. Semua mengenalinya, melebihi pejabat atau
tokoh publik lain yang ada di Indonesia.Tapi, seperti yang saya sampaikan di
atas. Bahwa tingkat keberhasilan personal branding seseorang (termasuk personal
branding seorang Presiden di dalamnya), bukan hanya dilihat dari seberapa
banyak massa yang mengenalinya saja. Ada lain faktor untuk mengujinya.Menurut
saya, setidaknya ada dua faktor uji untuk dapat menilai tingkat keberhasilan
personal branding seseorang. Dengan kata lain, jika kedua syarat itu terpenuhi
maka personal branding seseorang itu dapat dikatakan kuat dan berhasil.Yang
pertama adalah seberapa kuat narasi yang telah terbangun dan yang kedua adalah
seberapa lama personal branding seseorang yang telah terbangun itu mampu
bertahan.Sebagai Presiden, Jokowi berhasil memenuhi kedua syarat itu. Dan
lucunya, keberhasilan itu kuat dipengaruhi oleh sepeda dan buku yang sering ia
bagikan. Setidaknya, demikian sudut pandang kacamata saya mengatakan.Kita bahas
satu per satu. Kekuatan narasi.Dalam sebuah acara bedah buku, seperti
diberitakan dalam harian Kompas 6 April 2014 berjudul “Jokowi, Politikus
Tersukses Lakukan Branding”, dikatakan oleh Hamdi Muluk bahwa keberhasilan
seorang tokoh dalam melakukan personal branding diukur saat banyak orang mampu
bercerita tentang tokoh itu secara fasih.Menurut Guru Besar Fakultas Psikologi
UI tersebut, hal tersulit dalam membangun personal branding adalah ketika
membangun narasi. Membangun cerita tentang tokoh itu, serta membuat orang lain
mampu dengan fasih menceritakan tentangnya.Masih menurut Hamdi. Ada dua hal
yang mempengaruhi dalam membangun narasi yaitu kompetensi serta konsistensi
sikap dari tokoh tersebut. Catat ya, kompetensi dan konsistensi.Mari kita lihat
kembali diri Jokowi.Kompetensi yang dimiliki sosok Jokowi dalam bekerja, sudah
tidak perlu diragukan lagi. Apa yang dihasilkan olehnya untuk negeri ini, dapat
dilihat dengan nyata oleh semua mata. Tak dapat dipungkiri. Banyak. Silahkan
Anda cari sendiri informasinya. Karena jika harus dituliskan, akan terlalu
banyak prestasinya yang bisa saya ceritakan. Dan yang perlu dipahami, tentu
saja semua prestasi itu berasal dari kompetensi yang ia miliki.Prestasi yang
dihasilkan dari kompetensinya serta menyentuh banyak bidang itu, tentu saja
menjadi sebuah narasi yang sangat mudah untuk diceritakan oleh banyak orang.
Oleh kita, terutama yang mau jujur mengakuinya.Apa yang telah dicapai oleh
Jokowi? Seperti yang saya kemukakan di atas, jawabannya adalah banyak!.Dari
prestasi di darat, laut dan udara. Di kota, dusun hingga membelah ke dalam
rimba. Di dalam negeri hingga mancanegara. Di bidang pembangunan infrastruktur,
ekonomi dan budaya. Serta banyak lagi prestasi lain yang dapat menjadi bahan
cerita rakyatnya. Menjadi bahan cerita yang melihatnya dengan hati dan mata
kepala. Tentang sosok Jokowi dengan segala kompetensinya.Di sisi lain,
kompetensi Jokowi yang menghasilkan banyak narasi untuk diceritakan itu,
dilengkapi dengan konsistensi sikap yang ditunjukkan olehnya. Dalam berbagai
aktivitas keseharian. Sehingga makin sempurnalah narasi yang ada dibenak
orang-orang yang bercerita tentang dirinya.Tentang konsistensi, coba perhatikan
ini.Apa kita melihat ada yang berubah dari perilaku Jokowi? Enggak. Ia tetap
konsisten dengan apa yang ia lakukan dikeseharian. Ia tetap begitu-begitu aja
dalam aktifitas formil dan non formilnya.Tetap dalam kesederhanaan pakaiannya.
Tetap setia dengan sepatu diskonannya. Tetap aktif dengan blusukannya. Tetap
tenang dalam diam saat bekerjanya. Tetap adem dalam gelombang panas hinaan yang
ia terima. Tetap penuh hormat pada yang muda hingga yang tua. Dan masih banyak
lagi konsistensi yang ditunjukan oleh Jokowi pada kita semua.Termasuk,
konsistensinya dalam membagikan buku dan sepeda melalui pertanyaan
kuis-kuisnya. Untuk konsistensi yang ini, jangan pernah menganggap remeh
efeknya. Please!Sumber : news.liputan6.comOkay. Sampai pada bagian ini,
seharusnya sudah cukup menunjukkan alasan yang logis bila akhirnya kita akan
sangat mudah menemukan orang-orang yang fasih menceritakan tentang Jokowi.
Karena dalam dirinya, memang memiliki kompetensi serta konsistensi yang
mumpuni.Setidaknya saat mereka ditanya siapa itu Jokowi?, maka dengan mudah
mereka akan bercerita bahwa Jokowi adalah Presiden yang memberikan seabreg
prestasi dalam waktu singkat bagi negeri ini, serta hobi membagikan buku dan
sepeda. Dan cuma Jokowi lah satu-satunya Presiden yang memiliki branding
seperti itu. Selain Jokowi?? Tidak ada!.Kemudian, mari kita lihat personal
branding yang melekat di diri Presiden melalui faktor uji yang kedua.
Kira-kira, sampai kapan personal branding yang melekat di diri Jokowi itu mampu
bertahan?.Saya memperkirakan akan lama. Sangat lama. Bahkan saya berani
memperkirakan bahwa orang-orang akan terus menceritakan tentang dirinya selama
negeri ini ada.Silahkan sebut diri saya ini berlebihan. Tapi alasan logisnya
dapat saya jelaskan. Dan lagi-lagi, alasan itu dipengaruhi oleh sepeda serta
buku yang sering ia bagikan. Jokowi sedang melukis sejarah di atas batu!Ketika
saya bekerja di sebuah perusahaan farmasi, salah satu tugasnya adalah
mengadakan even promosi dengan segmentasi massa yang disesuaikan dengan jenis
produknya. Salah satu produk yang menjadi tanggungjawab saya kala itu adalah
produk obat anti mabuk perjalanan, baik yang varian dewasa maupun untuk
anak-anak.Anda kenal apa nama obat anti mabuk perjalanan yang saya
maksudkan?Mungkin tanpa perlu disebutkan, sebagian besar atau hampir semua dari
kita sudah tau apa namanya.Produk obat anti mabuk perjalanan milik perusahaan
kami itu mempunyai brand positioning yang sangat kuat. Melekat rekat di benak
masyarakat.Sehingga jika mereka ditanya apa nama obat anti mabuk perjalanan
yang akan mereka konsumsi sebelum bepergian, maka produk milik perusahaan kami
itulah yang mereka sebutkan. Bukan produk lainnya. Karena mereka tidak
mengenalnya, apalagi mampu menyebutkan merknya atau mengkonsumsinya.Bahkan
marketing intelligence di perusahaan kami memiliki data, bahwa sempat beberapa
kali muncul produk serupa. Berusaha menyaingi dengan kemasan dan nama yang
menyerupai. Mencoba mengambil segmentasi pasar di wilayah perifer hingga pusat
kota. Namun sayang, produk kompetitor itu selalu gagal dan gulung tikar.
Brandkami sudah terlalu kuat melekat di benak masyarakat. Karena sebagai
pioneer juga tentunya.Apa yang kami lakukan?Even promosi di segmentasi
anak-anak, itulah kunci utamanya. Dari tingkat SD hingga TK. Kami tanamkan
brand awareness melalui berbagai permainan yang melekat di memori otak mereka
sedemikian rupa.Kami bidik anak-anak agar mengenal produk kami sejak dini.
Serta tidak lupa, kami reminding pula orang tua mereka. Agar terus memastikan
loyalitas anak-anaknya terhadap produk obat anti mabuk perjalanan yang kami
punya. Hingga mereka dewasa, berkeluarga, dan berketurunan nantinya. Begitu
seterusnya. Turun temurun.Ingatkan, inti pepatah mengukir di atas air dan
mengukir di atas batu? Yup, kami mengukir brand di atas batu melalui benak
anak-anak. Dan akan selamanya terukir di memori otak mereka tentang produk yang
kami punya.Dan konsistensi Jokowi membagikan sepeda serta buku pun memiliki
efek sama. Menggoreskan sebuah nama besar dibenak penerimanya. Terutama
dikalangan anak-anak dan juga dewasa. Nama siapa? Jokowi!. Berapa lama? Lama.
Sangat lama.Itu, gadis cilik yang menangis ingin ketemu Jokowi itu, ketika
besar dan kelak berkeluarga, ia akan bercerita tentang kisah menangisnya pada
anak cucunya. Itu, bocah pintar pencetus ikan tongkol itu, pun akan melakukan
hal serupa. Itu, penyanyi Raisa yang bahagianya luar biasa mendapatkan sepeda
itu, juga akan melakukan hal yang sama. Itu para emak, bapak, petani, nelayan
dan semua yang pernah mendapatkan buku atau sepeda, serta semua yang
menyaksikan hal itu, akan terus bercerita sebuah nama. Nama besar, Jokowi. Tak
berhenti. Turun temurun. Terabadikan dalam jejak digital!.Akhirnya perlu
disampaikan. Saya tidak sedang mengatakan bahwa Presiden kita tengah melakukan
upaya untuk penguatan personal branding dirinya. Bukan, bukan itu.Karena dengan
segala kecintaan terhadap beliau saya meyakini, hal itu akan menjadi sesuatu
yang kurang kerjaan banget bagi Jokowi. Untuk ngurusin personal brandingnya
sendiri.Yang ingin saya katakan, bahwa apa yang dilakukan oleh seorang Jokowi
dalam keseharian, kesederhanaan, ketulusan dalam konsistensi untuk
membahagiakan rakyatnya, sadar atau tidak sadar, suka atau tidak suka, justru
telah menjadikan personal brandingnya semakin kuat.Melekat di hati dan pikiran
rakyat. Menembus waktu yang mungkin akan bertahan hingga kiamat. Menjadi
pencapaian tersendiri bagi dirinya. Tak lekang zaman!.Demikianlah hebatnya
Presiden kita. Yang ketulusannya dalam bekerja, memberikan efek personal
branding luar biasa. Yang bahkan mungkin ia sendiri tidak menyadarinya. Kecuali
beliau membaca tulisan saya.Dan seperti yang selalu dikatakan oleh pakar mantan
disetiap akhir tulisan, saya pun ingin menirukannya. ”Demikianlah
kura-kura!.”********** #yiv7772939631 #yiv7772939631 --
#yiv7772939631ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-mkp #yiv7772939631hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-mkp #yiv7772939631ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-mkp .yiv7772939631ad
{padding:0 0;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-mkp .yiv7772939631ad p
{margin:0;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-mkp .yiv7772939631ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-sponsor
#yiv7772939631ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7772939631
#yiv7772939631ygrp-sponsor #yiv7772939631ygrp-lc #yiv7772939631hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7772939631
#yiv7772939631ygrp-sponsor #yiv7772939631ygrp-lc .yiv7772939631ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7772939631 #yiv7772939631actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7772939631
#yiv7772939631activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7772939631
#yiv7772939631activity span {font-weight:700;}#yiv7772939631
#yiv7772939631activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7772939631 #yiv7772939631activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7772939631 #yiv7772939631activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7772939631 #yiv7772939631activity span
.yiv7772939631underline {text-decoration:underline;}#yiv7772939631
.yiv7772939631attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7772939631 .yiv7772939631attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7772939631 .yiv7772939631attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7772939631 .yiv7772939631attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7772939631 .yiv7772939631attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7772939631 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7772939631 .yiv7772939631bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7772939631
.yiv7772939631bold a {text-decoration:none;}#yiv7772939631 dd.yiv7772939631last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7772939631 dd.yiv7772939631last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7772939631
dd.yiv7772939631last p span.yiv7772939631yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7772939631 div.yiv7772939631attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7772939631 div.yiv7772939631attach-table
{width:400px;}#yiv7772939631 div.yiv7772939631file-title a, #yiv7772939631
div.yiv7772939631file-title a:active, #yiv7772939631
div.yiv7772939631file-title a:hover, #yiv7772939631 div.yiv7772939631file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7772939631 div.yiv7772939631photo-title a,
#yiv7772939631 div.yiv7772939631photo-title a:active, #yiv7772939631
div.yiv7772939631photo-title a:hover, #yiv7772939631
div.yiv7772939631photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7772939631
div#yiv7772939631ygrp-mlmsg #yiv7772939631ygrp-msg p a
span.yiv7772939631yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7772939631
.yiv7772939631green {color:#628c2a;}#yiv7772939631 .yiv7772939631MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7772939631 o {font-size:0;}#yiv7772939631
#yiv7772939631photos div {float:left;width:72px;}#yiv7772939631
#yiv7772939631photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7772939631
#yiv7772939631photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7772939631
#yiv7772939631reco-category {font-size:77%;}#yiv7772939631
#yiv7772939631reco-desc {font-size:77%;}#yiv7772939631 .yiv7772939631replbq
{margin:4px;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7772939631
#yiv7772939631ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7772939631
#yiv7772939631ygrp-mlmsg select, #yiv7772939631 input, #yiv7772939631 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7772939631
#yiv7772939631ygrp-mlmsg pre, #yiv7772939631 code {font:115%
monospace;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-mlmsg #yiv7772939631logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-msg
p#yiv7772939631attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7772939631
#yiv7772939631ygrp-reco #yiv7772939631reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-sponsor
#yiv7772939631ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7772939631
#yiv7772939631ygrp-sponsor #yiv7772939631ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7772939631
#yiv7772939631ygrp-sponsor #yiv7772939631ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7772939631 #yiv7772939631ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7772939631
#yiv7772939631ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7772939631