http://www.jawapos.com/read/2017/06/29/140869/pengakuan-mantan-pegawai-soal-kehancuran-7-eleven



Pengakuan Mantan Pegawai Soal Kehancuran 7-Eleven

Kamis, 29 Jun 2017 10:36 | editor : Ilham Safutra

[image: Gerai 7-Eleven di Cikini, Jakarta Pusat yang ikut tutup]
<http://www.jawapos.com/uploads/news/2017/06/29/pengakuan-mantan-pegawai-soal-kehancuran-7-eleven_m_140869.jpeg>
<http://www.jawapos.com/uploads/news/2017/06/29/pengakuan-mantan-pegawai-soal-kehancuran-7-eleven_m_140869.jpeg>

Gerai 7-Eleven di Cikini, Jakarta Pusat yang ikut tutup *(Dery
Ridwansyah/Jawa Pos)*

Berita Terkait

   -

   DPR: Sevel Hancur Karena Salah Nilai Pasar
   
<http://www.jawapos.com/read/2017/06/28/140645/dpr-sevel-hancur-karena-salah-nilai-pasar>

*JawaPos.com* - Meski manajemen 7-Eleven (sevel) menyatakan tutup gerainya
secara nasional per 30 Juni 2017, namun secara fakta kondisinya retail itu
sudah banyak tidak beroperasi lagi.

Sejumlah toko yang dulu ramai pengunjung kini sudah tidak berpenghuni. Kaca
besar di dinding Sevel itu sudah dilapisi kertas putih. Bangku-bangku
tempat duduk konsumen sudah tidak ada lagi terpajang.

Salah seorang mantan pegawai Sevel berinisial AM mengungkapkan bagaimana
tahun-tahun terakhir sebelum tumbangnya convenience store tersebut.

Dikatakannya, ada banyak indikator hancurnya Sevel ini. Mulai dari buruknya
manajemen toko, pergeseran pengunjung ke tempat tongkrongan lain, harga
produk tidak sesuai dan lain sebagainya.

Untuk manajemen toko, pada beberapa tahun terakhir kerap oknum kepala toko
bermain faktur atau bon siluman. Akibatnya ketika dilakukan audit bulanan
diketahui oknum itu telah menggelapkan uang perusahaan yang nilai mencapai
puluhan juta rupiah.

"Jadi banyak juga oknum kepala toko berurusan dengan kepolisian atau
dikriminalkan," ujar AM kepada *JawaPos.com*, Kamis (29/6).

AM yang pernah bertugas di Sevel Joglo, Jakarta Barat itu menerangkan,
selama ini produk toko dikonsumsi sendiri oleh pegawai tanpa dibayar. Nilai
produk yang dimakan itu tidak sedikit. Jika itu hampir merata terjadi di
setiap toko, maka wajar manajemen keuangan Sevel hancur.  "Beda halnya
barang rusak. Kalau barang rusak di-*scan* dan dimakan, maka kalau diaudit
tidak menjadi temuan," ujarnya.

Lalu soal pergeseran konsumen. Menurut AM yang kini lebih aktif di event
organizer (EO) itu, kini konsumen Sevel bukan lari ke kompetitornya,
seperti Circle K atau Family Mart, melainkan berpindah ke kafe yang
modelnya hampir sama dengan Sevel. Kafe itu menawarkan harga menu relatif
terjangkau, menyediakan fasilitas *wifi*, tempat tongkrongan yang nyaman
dan lain sebagainya.

"Kalau di segmennya, Sevel masih bagus. Kini fenomena pergeseran konsumen
pindah kafe baru seperti roti bakar dan sejenisnya. Di sana ada wifi juga.
Harga produknya juga murah," bebernya.

AM mengakui produk yang dijual sudah tidak worth it dengan barang di toko
lain. Terutama produk kebutuhan harian. Produk itu dijual lebih mahal
dibandingkan yang dijual di minimarket, seperti Indomaret dan Alfamart.
"Jadi hancurnya Sevel bukan dari luar, tapi dari dalam," tandasnya.
*(iil/JPG)*

Kirim email ke