*Rakyat diwali adalah dongengan 1001 malam, maka oleh karena itu DPR adalah
Dewan Penipu Rakyat. hehehehe*


http://nasional.indopos.co.id/read/2017/06/30/102887/Subsidi-Listrik-Dicabut-DPR-Gagal-Mewakili-Rakyat



Subsidi Listrik Dicabut, DPR Gagal Mewakili Rakyat

*Jumat, 30 Juni 2017 | 16:50*



KRITISI DPR: Aktivis 77-78 dan pengamat kebijakan publik Sjafril Sjofyan.

INDOPOS.CO.ID -  Pemerintah dan DPR telah mencabut subsidi bagi 19 juta
pelanggan listrik kategori 900 VA. Alasan yang dikemukakan pemerintah
melalui   PLN/Kementerian ESDM , mereka ini tidak termasuk dalam daftar
masyarakat miskin yang dibuat oleh Kementerian Sosial.

Oleh karena itu mereka dinyatakan sebagai masyarakat mampu oleh
PLN/Kementerian ESDM . Kalau masyarakat mampu maka tidak berhak untuk
mendapatkan subsidi , oleh karena itu subsidinya harus dicabut .

Pencabutan subsidi listrik itu menuai kritikan tajam. Analis Abdul Rahim K
dan Sjafril Sjofyan angkat suara. Rahim mengatakan, awal tahun 2016 ,
mereka masih dikenai tarif Rp 585/kwh. Namun secara bertahap telah dicabut
subsidinya dan sekarang tarifnya menjadi Rp 1352/kwh dan pada 1 Juli 2017
nanti menjadi Rp 1450 / kwh atau 248 persen dari tarif pada awal 2016 .

Dan PLN/pemerintah menghemat subsidi sebesar Rp 15,44 triliun, atau dengan
kata lain masyarakat pelanggan 900 VA yang sebenarnya termasuk golongan
masyarakat nyaris miskin tetapi dianggap sebagai masyarakat mampu.

"Maka mereka menyerahkan uang sebesar Rp 15,44  triliun setiap tahun
(apabila tarifnya tidak naik lagi)  kepada PLN/Pemeri tah akibat adanya
pencabutan subsidi itu," kata Abdul Rahim dalam rilisnya yang diviral di
media sosial, Jumat (30/7/2017).

Namun, kata Rahim,  PLN sebenarnya mampu melakukan efesiensi. Berdasarkan
hitungan yang pernah dibuat, PLN akan bisa menghemat hingga Rp 60 triliun.
Angka ini jauh lebih besar dari mengambil uang rakyat miskin yang hanya Rp
15 triliun lebih itu.

Sementara itu, pengamat kebijakan publik  Sjafril Sjofyan langsung menuding
wakil rakyat  di DPR RI gagal memperjuangkan kepentingan rakyat, karena
menyetujui pencabutan subsidi listrik bagi masyarakat pelanggan 900VA.

Menurut Sjafril, kegagalan DPR-RI
terlihat dari efisiensi PLN  yang tidak pernah diawasi dan audit PLN
Forensik tidak pernah dilakukan. Yang ada hanya menyetujui saja pencabutan
subsidi.

"Kegagalan Fraksi di DPR RI merupakan kegagalan partai-partai. Karena tak
mampu memperjuangkan kesejahteran rakyat. Terlihat dari persetujuannya
mencabut subsidi listrik bagi golongan bawah," katanya kepada indopos.co.id,
Jumat (30/6/2017).

Sjafril menambahkan, definisi pembangunan listrik seharusnya merupakan
infrastruktur yang merupakan tanggung jawab pemerintah.  Artinya subsidi
wajib dilakukan pemerintah sesuai UUD 45 yang asli.

Listrik bukan merupakan komoditi yang harus mencari keuntungan (2016 PLN
untung bersih Rp 10,5 triliun, sementara pemerintah mendapatkan pajak Rp 5
triliun).

Dikatakan, Harga Listrik di Asean termahal di Indonesia, dibanding Malaysia
bahkan dari USA, padahal pendapatan perkapita rakyat Indonesia 1/ 5 dari
pendapatan rakyat Malaysia dan  1/10 dari rakyat USA.

"Masih perlukah DPR RI menjadi wakil rakyat, sementara mereka lebih
mementingkan kepentingan partai dan sebagian tidak malu malu korupsi
berjamaah," katanya.

Sjafril pun mencermati adanya pemikiran jika DPR RI sebaiknya dibubarkan,
kalau tidak lagi menyuarakan kepentingan rakyat, terutama rakyat miskin.
(jaa)

Editor : Syahrir Lantoni

Kirim email ke