http://regional.kompas.com/read/2017/07/02/07490201/kisah.bocah.selfi.sendirian.urus.kakeknya.
yang.lumpuh
Kisah Bocah Selfi Sendirian Urus Kakeknya
yang Lumpuh
Kontributor Nunukan, Sukoco
Kompas.com - 02/07/2017, 07:49 WIB
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
Selfi (10) mendampingi kakeknya yang lumpuh karena stroke. Selfi
terpaksa putus Sewkolah karwena swelain tidak memiliki biaya, dia harus
merawat kakeknya tersebut seorang diri. Selfi ditinggal kedua orang
tuanya yang merantau kew Negara Malaysia. (Kontributor Nunukan, Sukoco)
*NUNUKAN,KOMPAS.com –* Usianya baru 10 tahun, pembawaannya ceria meski
malu-malu diajak bicara.
Selfi mengaku suka dengan pelajaran Matematika dan Bahasa Inggris di
sekolahnya dulu di sebuah sekolah madrasah di Nunukan, Kalimantan Utara.
Dengan fasih dia mengatakan, /I can speak English. /Iamenceritakan
beberapa kegiatan sehari-hari selama merawat seorang diri kakeknya,
Nasir (55) yang lumpuh.
"Sekarang tidak bisa sekolah lagi, tidak ada biaya. Saya hanya merawat
kiai, bersih-bersih rumah dan masak," ujar Selfi ketika ditemui di
rumahnya, Sabtu (1/7/2017).
Nasir bersama cucunya tinggal di sebuah bangunan panggung sederhana di
kawasan padat penduduk persis di belakang tembok pagar Pelabuhan
Tunontaka Nunukan.
Selfi mengaku bisa memasak nasi, memasak ikan dan nasi goreng untuk
kakeknya.
Setiap hari, Selfi juga membersihkan rumah yang isinya menyatu antara
ruang tamu, kamar tidar dan dapur.
Rumah berukuran 6X4 tersebut tidak memiliki penyekat ruangan. Satu
satunya perabot di rumah tersebut hanyalah sebuah ranjang reyot dengan
kasur kusam yang diletakkan di sudut kamar.
Sejak 4 tahun terakhir, Selfi ditinggal kedua orangtuanya yang bekerja
di Malaysia sebagai buruh perkebunan sawit.
Sebelum terkena stroke, Nasir selama 30 tahun bekerja sebagai buruh
angkut di pelabuhan Tunontaka Nunukan.
Karena tak ada uang, Nasir tidak bisa berobat sehingga lumpuhnya semakin
parah.
Selama merantau bekerja ke Malaysia, orangtua Selfi masih sering
mengirimkan uang sebagai bekal hidup merawat Nasir dan biaya sekolah Selfi.
Namun, setahun terakhir kiriman uang dari Malaysia mulai bermasalah.
Untuk bertahan hidup, Selfi hanya berharap kebaikan dari tetangga yang
secara suka rela memberikan makanan.
Selfi juga terpaksa meninggalkan sekolah karena tidak ada biaya.
Padahal, Selfi sering masuk ranking 3 besar di kelasnya.
"Terpaksa putus sekolah, tidak ada uang," kata Selfi.
Selfi mengaku bercita-cita menjadi seorang polisi.
Untuk mengobati kangen kepada sekolahnya, Selfi mengaku masih sering
membaca buku-buku pelajarannya.
”Maunya sekolah lagi karena saya mau menjadi polisi,” ucapnya.
*Bakal kembali sekolah*
Sabtu siang saat itu seperti rutinitas biasanya. Selfi menemani kakeknya
duduk di teras rumahnya yang lantainya sudah mulai bolong-bolong.
Bangunan di atas laut tersebut sudah mulai terlihat reyot.
Selfi mengaku tidak menyangka rombongan Polisi dari Kepolisian Sektor
Keamanan Pelabuhan KSKP akan menuju rumahnya.
Rombongan yang dipimpin Kapolsek KSKP Pelabuhan Tunontaka AKP Eka Berlin
membawa paket sembako.
Paket tersebut dibagikan kepada sejumlah warga tidak mampu di seputar
kawasan pelabuhan dalam rangka memperingati HUT ke-71 Bhayangkara.
Saat itu, Eka Berlin melihat Selfi mendampingi kakeknya.
Saat ditanya sudah kelas berapa, dengan malu-malu Selfi menjawab tidak
bersekolah karena harus menjaga kakeknya yang lumpuh.
Eka Berlin sedikit terkejut ketika mengetahui Selfi putus sekolah dari
kelas 4.
"Ditinggal bapak ibunya kerja di Malaysia," ujar Nasir kepada Eka Berlin.
Eka Berlin kemudian meminta anggotanya untuk mendata kebutuhan sekolah
Selfi.
Rencananya, dengan bantuan dari Polsek KSKP Pelabuhan Tunon Taka
Nunukan, Selfi akan didaftarkan sekolah di SD 04 yang lokasinya tak jauh
dari pelabuhan.
Selain bisa melanjutkan sekolah, tugasnya menjaga kakeknya tidak akan
terganggu.
"Kita akan daftarkan sekolah di lokasi yang dekat sini. Kebetulan kita
punya program anak buruh pelabuhan harus sekolah," ujar Eka Berlin.
Eka Berlin mengaku dulunya sering melihat anak-anak para buruh pelabuhan
usai sekolah ikut berjualan di area pelabuhan.
Menurut dia, iming-iming mendapat uang dengan bekerja membantu orangtua
membuat mereka enggan sekolah.
Apalagi mayoritas pekerja buruh pelabuhan hanya tamatan sekolah dasar,
bahkan tidak sekolah sama sekali.
"Kita berharap mereka tidak seperti orangtuanya yang kebanyakan hanya
tamatan SD bahkan ada yang tidak sekolah," imbuh Eka Berlin.
Mushala di Polsek KSKP Pelabuhan Tunontaka Nunukan juga dijadikan rumah
belajar bagi anak-anak buruh pelabuhan.
Di rumah belajar tersebut, setiap sore hingga malam, sekitar 100 anak
yang ditinggal orangtua bekerja, diberi pelajaran agama, mengaji dan
mengerjakan tugas sekolah.
Eka Berlin juga memberikan pendampingan tenaga pengajar, baik dari
anggotanya di Polsek KSKP maupun dari mahasiswa.
"Orangtua mereka ini kerjanya tidak tentu, sesuai kedatangan kapal,
kadang sampai malam. Adanya rumah belajar anak-anak bisa belajar sambil
nunggu orangtuanya bekerja," ucapnya.
Eka Berlin juga meminta Selfi untuk ikut belajar di rumah belajar jika
tahun ajaran baru mulai pada 10 Juli 2017.
Senyum tipis terlihat dari bibir Selfi ketika rombongan Polsek KSKP
meninggalkan rumahnya. Tekatnya mengejar mimpi menjadi polwan semakin kuat.
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
<javascript:void(0);>
PenulisKontributor Nunukan, Sukoco
EditorSandro Gatra