aduuuhhhh ampun gobloknya!matematika begini di persepsikan sebagai
"kesan"?!!!mana ada 2+3=5 itu menimbulkan "kesan"?kesan apa? kesan goblok?!
koq bisa kalau liability naik bisa berkesan asset naik?kalo liability naik, net
worth turun, gimana bisa asset naik?wong assetnya = liability + net worth!
dibolak balik gimanapun ya itu adalah persamaan dan akan tetap sama sebelah
kiri dan sebelah kanan.koq bisa kiri naik dan kanan naik atau kiri turun dan
kanan turun?kalo gak seimbang ya gak akan sama. matematikanya namanya
ketidakpersamaan.belajar matematika ndak?
bener2 minta ampun gobloknya!!!!
nesare
On Wednesday, June 28, 2017 3:38 PM, "Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> wrote:
Penulisan formula "Asset = liability + networth" dalam kutipan opini
dibawah menimbulkan kesan makin besar liability makin besar aset. Seakan
liability memberi efek yg positif.
Tetapi seandainya formula yg sama itu ditulis ulang "Networth = Asset -
Liability" maka kesan yg ditimbulkan memberi arti yg sangat berbeda dgn diatas
makin besar liability makin kecil networth. disini liability memberi efek yg
negatif.
Terlihat sekali untuk suatu hal yang sama penulisan opini bisa digiring
sedemikian rupa tergantung intention sang penulis.
---kutipan:Bagi mereka yang hanya melihat naiknya sisi hutang tanpa melihat
sisi lainnya: equity, growth dll itu artinya tidak objektif.Hutang naik bukan
berarti suatu entity itu gagal.Dalam bisnis jelas sekali hutang itu adalah
komponen asset. Asset = liability + networth.Hutang itu masuk di liability dan
macem2 stock itu masuk networth/harta.Tidak ada orang kaya, perusahaan yg
profitable seperti Apple, Amazon, Microsoft yg gede2 itu yg gak ada hutang.
semuanya ada. Begitu juga negara diseluruh dunia ini ada hutangnya.
Persoalannya adalah: debt management. Bagaimana perusahaan atau negara mengatur
hutangnya.
---In [email protected], <nesare1@...> wrote :
Mari kita mulai dengan pendapatnya irving fisher dulu sebelum kita beranjak ke
hutang yg bung katakana sebagai fisher effect itu. Fisher effect itu
menghubungkan inflasi dan real interest rate serta nominal interest rate. Kalau
real interest rate = nominal interest rate minus expected inflation rate, real
interest ratenya turun/jatuh krn inflasi naik, kecuali nominal interest rate
nya naik secepat inflation rate. Kira2 begini gambaran kasarnya: bung deposit
$50 dengan bunga deposito 4%. Hipotesanya: apakah bung akan kaya setahun yad
setelah dapat $52? Disinilah studynya irving fisher yg memberikan tekanan bahwa
inflasi itu penting. Kalau inflasi setahun yad 4% kan artinya breakeven/tidak
untung tidak rugi. Ini juga tanpa menghitung opportunity cost yg lain dan
alternative investasi yg lain.
Selanjutnya fisher itu hidup dijaman susah great depression (stock market cras
1929), salah satu kajiannya yg terkenal adalah debt deflation 1933 setelah
great depression itu. Irving fisher bilang ada 2 hal yg penting yg mempengaruhi
bisnis ekonomi: deflasi dan debt. Selama ini dunia ekonomi dikuasai oleh
Keynesian. Neo classical seperti fisher kurang diperhatikan. Skrg setelah debt
menggunung diseluruh dunia, debt diperhitungkan lagi. Makanya fisher effect ini
diangkat. Saya tidak akan bilang Indonesia termasuk berbahaya atau tidak. ini
memerlukan kajian dan comparative study yg luar biasa luasnya. 1, 2 atau 3
kajian Phd saja belum tentu saya terima krn permasalahan dunia ekonomi sudah
lebih complex dibandingkan jamannya fisher hidup. Bayangkan dengan Bretton
woods system itu printing money itu sudah tidak dijamin dengan emas lagi. Jadi
setiap negara bisa mencetak duit seenaknya. Yg ditakuti hanyalah efek inflasi
dan devaluasinya saja. jadi ini moneternya.Tetapi persoalan utamanya adalah
politik dan power. USA yg punya power politik sbg polisi dunia kalau cetak duit
ya aman2 saja. ini yg dilakukan oleh Obama ketika financial crisis 2007
terjadi. Kalau tidak cetak duit ya bukan USA saja yg bisa roboh ttp juga dunia
bisa kolops. Kalau bung membawa masalah debt ini utk diterapkan di Indonesia ya
tidak fair. Persoalannya kalau Indonesia tidak cari hutang, bung harus
mempertanyakan bagaimana Indonesia bisa melanjutkan penyelenggaraan negara dan
bangsa Indonesia? Ini pertama. Kedua bagaimana membayar hutang yg sudah ada.
Ketiga kalau Indonesia berani printing money, bagaimana akibat ekonominya:
devaluasi dan inflasi kalau ada. Juga bagaimana political power dunia akan
melihat Indonesia dalam bentuk kepercayaan dunia. Keempat dst…..dlsbg….. Bagi
mereka yang hanya melihat naiknya sisi hutang tanpa melihat sisi lainnya:
equity, growth dll itu artinya tidak objektif.Hutang naik bukan berarti suatu
entity itu gagal.Dalam bisnis jelas sekali hutang itu adalah komponen asset.
Asset = liability + networth.Hutang itu masuk di liability dan macem2 stock itu
masuk networth/harta.Tidak ada orang kaya, perusahaan yg profitable seperti
Apple, Amazon, Microsoft yg gede2 itu yg gak ada hutang. semuanya ada. Begitu
juga negara diseluruh dunia ini ada hutangnya. Persoalannya adalah: debt
management. Bagaimana perusahaan atau negara mengatur hutangnya. Apa yg ingin
bung katakan dengan fisher effect ini?Bung prihatin Indonesia akan kolaps atau
Indonesia dalam situasi berbahaya atau apa?Saya kurang jelas apa yg ingin bung
kemukakan krn memang bung tidak bilang apa? bung hanya mengemukakan datanya
saja tanpa opini. Tetapi selama ini saya lihat tulisan2 bung, saya merasakan
adanya keprihatinan karena hutang indonesianya naik. Sudah pernah saya tulis
dulu ada seorang yg cukup mengerti ttg hutang Indonesia ini: cyrillus harinowo
seorang katholik calon gubernur BI yg dulu representative Indonesia buat IMF.
Setelah pulang ke Indonesia dia dicalonkan sbg gubernur BI ttp kalah krn gak
ada duit utk menyuap. Burhanuddin Islam yg menang. Goeltom Kristen juga kalah.
Harinowo nulis ttg government debt 2001. Saya baca bukunya. Sangat kompleks
hutang ini. kesimpulan saya: siapapun presiden Indonesia tidak akan bisa tidak
berhutang. Indonesia harus beres2in urusan dalam negerinya. Kalau jalannya
sudah bener barulah berharap Indonesia bisa keluar dari debt hole ini. saya
lihat sekarang ini Jokowi sudah mulai2. Disini saya lihat ada harapan utk
mulai2 beres2 ini. Ini saja dulu Nesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Sunday, June 25, 2017 4:39 AM
To: [email protected]; jonathangoeij@...
Subject: AW: [GELORA45] Kapan RI tak Perlu Terbitkan Utang untuk Bayar Bunga
Utang? Situasai Fisher Paradox dapat ditunjukan misalnya dengan membandingkan
nilai kumulatif pembayaran cicilan pokok utang luarnegeri sektor Pemerintah
dengan nilai kumulatif pertambahan utang luar negeri sektor Pemerintah (jangka
menengah dan panjang). Sebagai contoh misalnya, selama periode 1981-1991,
sektor pemerintah di Indonesia telah melakukan pembayaran cicilan utang luar
negeri sebesar US$ 30,7 milyar. Sementara itu, selama periode yang sama,
sektor Pemerintah telah menambah utang luar negerinya sebesar US$ 42,2 Milyar (
data dari World Bank 1992). Nilai net transfer keluar negeri yang telah
dilakukan sektor Pemerintah selama periode 1985-1991 adalah sebesar US$ 5,3
milyar, dan selama periode 1992-1996 diperkirakan sebesar US$ 18,7 milyar (Word
Bank 1992). Meskipun ini data-data lama tapi bisa digunakan untuk menganalisa
dampak budaya utang yang berkelanjutan di NKRI. Kalau Bung nesare punya data
baru dari Waord Bank). Meskipun ini data-data lama, tapi bisa digunakan unuk
menganalisa dampak-dampak utang luarnegeri, Mungkin bung neaser memiliki
data-data baru, tentang budya utang dari rezim Jokowi-JK, sebaiknya di
utarakan dalam diskusi ini, agar diskusinya tidak bertele-tele, menjurus ke
debat kusir, yang saling maki-makian, seperi yang saya cermati sekarang ini.
Roeslan. Von: [email protected] [mailto:[email protected]]
Gesendet: Sonntag, 25. Juni 2017 06:04
An: [email protected]
Betreff: RE: [GELORA45] Kapan RI tak Perlu Terbitkan Utang untuk Bayar Bunga
Utang? lho memangnya kenapa, memangnya disuruh gak boleh salah nulis nama
orang.
---In [email protected], <nesare1@...> wrote :Ini typo: “Fischer Paradox
atau Fischer Effect ini kelihatannya tepat sekali utk menggambarkan situasi
Indonesia.Terima kasih bung Roeslan.”? Hehehehehe dua kali ditulis sama!Pake’
hurup gede lagi F dan P sert F dan E nya!Typo?! Hati2! Gak usah sembunyi!
Belajar jadi gentleman atau gentlelady! Nesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Friday, June 23, 2017 9:09 PM
To: [email protected]
Subject: RE: [GELORA45] Kapan RI tak Perlu Terbitkan Utang untuk Bayar Bunga
Utang? ha ha ha ha ha ha ha.......... begitulah yg namanya siauwjin atawa
orang rendahan, tahu ada yg typo langsung saja ha ha ha ha..... kutipan:Lebih
dari itu gak usah diteruskanlah! Mau gaya2 ngomongin fisher effect (nulis saja
salah: fischer hehehehehe). Gak nyampe otak ente. Hanya modal ngerpek di
internet lalu mau jadi jagoan. Kaya orang baca2 ttg obat2an dan prosedur di
internet, terus mau belagak jadi dokter. Hehehehe. Kelihatan atuh jalan
pikirannya. Sudah berapa tahu ndak ane telanjangi ente ini??!!!!
---In [email protected], <nesare1@...> wrote :Ente itu gak ngerti bisnis
dan ekonomi.Makanya bikin2 opini: cetak uang bayar hutang. Kelihatan sekali
pengetahuan ente ini cetek sekali.Ente baca2 sini sedikit situ sedikit, lalu
dipake’ buat bashing. Persoalannya ente bashing Jokowi krn hutang Indonesia
naik. Ente pancing kalau printing money gimana, ente langsung dgn gagah perkasa
bikin teori seakan2 printing money gak masalah. Ente defensif. Gara2 defensif
ente langsung nulis printing money gampang sekali. Murah lagi Cetak saja. ini
yg diperkarakan oleh bung Djie. Setelah ane kasih tahu bahayanya printing
money, ente lalu mengelak lari ke cetak duit USD dengan segala alasan yg
dibuat2. Gak usahlah berkelit. Ane tahu isi perut ente. Pointnya ente itu culas
dan cetek pengetahuannya. Gobloknya terus dipelihara! Moso’ negara kalau bisa
printing money koq mau ambil hutang?!!! Minta ampun gobloknya! Nanya ane lagi
Obama cetak duit ndak dan ada devaluasi ndak?Hehehehehe jawab saja belum, eh
bikin kesimpulan: ane suruh printing money?!! Mboten2 wae!! Lebih dari itu gak
usah diteruskanlah! Mau gaya2 ngomongin fisher effect (nulis saja salah:
fischer hehehehehe). Gak nyampe otak ente. Hanya modal ngerpek di internet lalu
mau jadi jagoan. Kaya orang baca2 ttg obat2an dan prosedur di internet, terus
mau belagak jadi dokter. Hehehehe. Kelihatan atuh jalan pikirannya. Sudah
berapa tahu ndak ane telanjangi ente ini??!!!! Nesare From:
[email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Wednesday, June 21, 2017 2:52 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: RE: [GELORA45] Kapan RI tak Perlu Terbitkan Utang untuk Bayar Bunga
Utang? Apakah kata2 anda dibawah ini apakah bermaksud mengatakan Obama cetak
dollar banyak2 tetapi tidak terjadi devaluasi?---kutipan:Koq bisa2nya printing
money dibilang akan devaluasi?Teori siapa yg memastikan ini?Ente tahu ndak kurs
USD terhadap mata uang asing ketika Obama printing money ini?Ada devaluasi
tidak?--- Kalau itu maksud anda, tidak tahu anda sadar atau tidak tetapi yg
anda nyatakan dgn nada kesombongan arogant nan menggurui ini justru menunjang
hipotesa sederhana yang anda goblok2an "cetak dollar buat bayar utang" yg saya
kemukakan ber-kali2: "US disini mempunyai posisi istimewa yg tidak bisa
dibandingkan dgn negara lain, pertama seperti berulangkali saya utarakan utang
itu dalam mata uang sendiri yg pemerintah kalau mau bisa dgn gampang cetak
duit. Kedua, USD memegang lebih dari 2/3 cadangan devisa diseluruh dunia
sementara kurang dari 1/3 dibagi antara Euro, Yen etc shg penurunan nilai USD
juga ditanggung bersama dgn negara2 lain." ---In [email protected],
<nesare1@...> wrote :Buset gobloknya minta ampun! Bener2 sudah
keterlaluan!Pake’ logika sendiri, kasih asumsi sendiri dan bikin kesimpulan
sendiri! Kalau asumsi nya begini, gimana?Ketika cetak duit, pemerintahnya diam2
saja shg tidak terjadi devaluasi artinya kurs USD tetap Rp 15 ribu? Setelah
cetak langsung dipakai buat bayar hutang. Rupiah yg dicetak dibeliin USD
dipasar Indonesia yg kursnya Rp. 10 ribu. Koq bisa2nya printing money dibilang
akan devaluasi?Teori siapa yg memastikan ini?Ente tahu ndak kurs USD terhadap
mata uang asing ketika Obama printing money ini?Ada devaluasi tidak? Cari sana!
Orang bilang printing money bisa mengakibatkan devaluasi. Tetapi ente sok2an
bilang printing money pasti devaluasi!Ini sekarang loh. Dulunya tidak. awalnya
ente sok2an bilang printing money buat bayar hutang. sudah dikejar sama ane dan
bung Djie, ente kabur kemana2. Hehehehehehehe Sekarang sampai printing money
pasti menciptakan devaluasi.Pasti komentar selanjutnya: tidak pasti.
Teruuussssss ditelanjangi terusssss…. Nesare From: [email protected]
[mailto:[email protected]]
Sent: Tuesday, June 20, 2017 2:18 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Kapan RI tak Perlu Terbitkan Utang untuk Bayar Bunga
Utang? Bung Djie, kelihatannya anda masih penasaran/bingung apa bedanya
pengaruh cetak duit thd utang dalam mata uangnya sendiri dan bukan mata uangnya
sendiri. Saya beri contoh sederhana secara tehnis: Misal:Nilai sebelum cetak
duit rupiah = 10 ribu / USDUtang dollar 1000 USD atau Rp 10 juta cetak duit,
rupiah terdevaluasi Nilai setelah cetak duit rupiah = 15 ribu / USDUtang 1000
USD jadi Rp 15 juta dus setelah cetak duit utk bayar utang 1000 USD itu bukan
lagi Rp 10 juta tetapi Rp 15 juta. terlihat cetak duit tidak bermanfaat. sedang
kalau utang dlm rupiah katakanlah 10 juta, sebelum atau sesudah cetak duit ya
tetap sama 10 juta. disini manfaat cetak duit buat bayar utang jadi optimal
---In [email protected], <djiekh@...> wrote :
What is the 'Fisher Effect'
The Fisher effect is an economic theory proposed by economist Irving Fisher
that describes the relationship between inflation and both real and nominal
interest rates. The Fisher effect states that the real interest rate equals to
the nominal interest rate minus the expected inflation rate. Therefore, real
interest rates fall as inflation increases, unless nominal rates increase at
the same rate as inflation.
Read more: Fisher Effect
http://www.investopedia.com/terms/f/fishereffectasp#ixzz4kYXRpvxK
Follow us: Investopedia on Facebook 2017-06-20 17:16 GMT+02:00 Jonathan Goeij
<jonathangoeij@...>:
Yang anda kemukakan benar, dan itulah kesalahan besar banyak negara seperti
Indonesia, Uni Soviet, dll. Terutama terjadi karena utang luar negeri yg bukan
dalam mata uangnya sendiri sehingga pencetakan uang itu tidak ada manfaatnya.
On Tuesday, June 20, 2017 8:04 AM, kh djie <djiekh@...> wrote: Nyetak uang
sebanyak-banyaknya untuk bayar uang, karena kertas, tinta, ongkos cetak itu
murah, orang Belanda dalam teknik bilang, ya itu technisch uitvoerbaar, secara
teknik dapat dilaksanakan.Tetapi ekonomisch niet haalbaar, tidak dapat memberi
keuntungan, karena akan merusak kurs keuangannya sendiri (devaluasi), yang
bikin ekonomie dalam negeri akan rusak. 2017-06-20 16:24 GMT+02:00 Jonathan
Goeij jonathangoeij@... [GELORA45] <[email protected]>:
sekedar berkilah, foul language, profanity, nggak ada nilainya buat
ditanggapin. ---In [email protected], <nesare1@...> wrote :Komentar ane
goblok?Komentar yang mana yang goblok itu?Kapan ane bilang Yunani utangnya
dalam mata uangnya sendiri?Ane tambahin: kapan ane bilang Yunani utangnya tidak
dalam mata uangnya sendiri? Ente kan mau bilang hutang Yunani itu hanya dalam
mata uang asing. Ini baru goblok!
#yiv7344779500 #yiv7344779500 -- #yiv7344779500ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-mkp #yiv7344779500hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-mkp #yiv7344779500ads
{margin-bottom:10px;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-mkp .yiv7344779500ad
{padding:0 0;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-mkp .yiv7344779500ad p
{margin:0;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-mkp .yiv7344779500ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-sponsor
#yiv7344779500ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-sponsor #yiv7344779500ygrp-lc #yiv7344779500hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-sponsor #yiv7344779500ygrp-lc .yiv7344779500ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv7344779500 #yiv7344779500actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv7344779500
#yiv7344779500activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv7344779500
#yiv7344779500activity span {font-weight:700;}#yiv7344779500
#yiv7344779500activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv7344779500 #yiv7344779500activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv7344779500 #yiv7344779500activity span
span {color:#ff7900;}#yiv7344779500 #yiv7344779500activity span
.yiv7344779500underline {text-decoration:underline;}#yiv7344779500
.yiv7344779500attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv7344779500 .yiv7344779500attach div a
{text-decoration:none;}#yiv7344779500 .yiv7344779500attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv7344779500 .yiv7344779500attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv7344779500 .yiv7344779500attach label a
{text-decoration:none;}#yiv7344779500 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv7344779500 .yiv7344779500bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv7344779500
.yiv7344779500bold a {text-decoration:none;}#yiv7344779500 dd.yiv7344779500last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7344779500 dd.yiv7344779500last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv7344779500
dd.yiv7344779500last p span.yiv7344779500yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv7344779500 div.yiv7344779500attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv7344779500 div.yiv7344779500attach-table
{width:400px;}#yiv7344779500 div.yiv7344779500file-title a, #yiv7344779500
div.yiv7344779500file-title a:active, #yiv7344779500
div.yiv7344779500file-title a:hover, #yiv7344779500 div.yiv7344779500file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv7344779500 div.yiv7344779500photo-title a,
#yiv7344779500 div.yiv7344779500photo-title a:active, #yiv7344779500
div.yiv7344779500photo-title a:hover, #yiv7344779500
div.yiv7344779500photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv7344779500
div#yiv7344779500ygrp-mlmsg #yiv7344779500ygrp-msg p a
span.yiv7344779500yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv7344779500
.yiv7344779500green {color:#628c2a;}#yiv7344779500 .yiv7344779500MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv7344779500 o {font-size:0;}#yiv7344779500
#yiv7344779500photos div {float:left;width:72px;}#yiv7344779500
#yiv7344779500photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv7344779500
#yiv7344779500photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv7344779500
#yiv7344779500reco-category {font-size:77%;}#yiv7344779500
#yiv7344779500reco-desc {font-size:77%;}#yiv7344779500 .yiv7344779500replbq
{margin:4px;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-mlmsg select, #yiv7344779500 input, #yiv7344779500 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-mlmsg pre, #yiv7344779500 code {font:115%
monospace;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-mlmsg #yiv7344779500logo
{padding-bottom:10px;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-msg
p#yiv7344779500attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-reco #yiv7344779500reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-sponsor
#yiv7344779500ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-sponsor #yiv7344779500ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-sponsor #yiv7344779500ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv7344779500 #yiv7344779500ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv7344779500
#yiv7344779500ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv7344779500