https://nasional.tempo.co/read/news/2017/07/14/078891334/maruf-amin-indonesia-bukan-negara-
islam-dan-negara-kafir?BeritaUtama&campaign=BeritaUtama_Click_2
Ma'ruf Amin: Indonesia Bukan Negara
Islam dan Negara Kafir
Jum'at, 14 Juli 2017 | 07:32 WIB
* share facebook <javascript:void(0)>
* share twitter <javascript:void(0)>
* share google+ <javascript:void(0)>
* share pinterest <javascript:void(0)>
Ma'ruf Amin: Indonesia Bukan Negara Islam dan Negara Kafir
Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin saat menyampaikan
keterangan terkait penetapan hasil Sidang Isbat Hari Raya Idul Fitri
1438 H di Gedung Kementerian Agama, Jakarta, 24 Juni 2017. TEMPO/Dhemas
Reviyanto
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Ma'ruf Amin
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/05/31/078880146/ketua-mui-ma-ruf-amin-uraikan-kenapa-sistem-khilafah-tak-diminati>
mengatakan Indonesia adalah negara perjanjian. Karena itu, hubungan
antarumat beragama harus bersifat mu'ahadah atau saling berjanji untuk
hidup berdampingan secara damai.
"Bagi perspektif Islam, negara ini bukanlah negara Islam (Darul Islam),
negara kafir (Darul Kufri), atau negara perang (Darul Harbi), tapi
negara perjanjian (Darul Ahdi)," katanya saat mendeklarasikan Majelis
Dzikir Hubbul Wathon dalam acara Halaqah Nasional Alim Ulama di Hotel
Borobudur, Jakarta, Kamis, 13 Juli 2017.
*Baca juga: Ma'ruf Amin Dikukuhkan sebagai Guru Besar, Jokowi Beri
Selamat
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/05/24/173878441/maruf-amin-dikukuhkan-sebagai-guru-besar-jokowi-beri-selamat>
*
Menurut Ma'ruf Amin
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/03/31/078861444/maruf-amin-bertemu-jokowi-saat-aksi-313-apa-yang-dibahas>,
umat Islam dan nonmuslim di Indonesia harus saling mencintai,
menyayangi, dan tolong-menolong. "Kata Imam Ghazali, negara terbentuk
karena adanya saling bergantung dan membutuhkan (Ta'awun dan Tanashur),"
ucapnya.
Kehidupan masyarakat Indonesia, kata Ma'ruf, harus seperti sebuah
bangunan yang satu sama lain saling menopang. "Dengan demikian
terjadilah Indonesia yang kondusif dan utuh yang saling menyayangi,"
ujarnya.
Namun, keutuhan ini terganggu saat muncul kelompok yang tidak atau
kurang memiliki komitmen kebangsaan. Kelompok ini ingin memisahkan diri
(separatisme), memaksakan mengubah negara (radikalisme), dan intoleran.
Menurut Ma'ruf, dalam Islam mereka termasuk fanatisme dan ego kelompok.
"Yang benar kelompoknya saja, yang masuk surga kelompoknya saja,
sedangkan yang lain kafir. Makanya disebut kelompok takfiri," kata dia.
*Simak pula:* *MUI Keluarkan Fatwa Beraktivitas di Media Sosial, Begini
Isinya
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/06/06/078881802/mui-keluarkan-fatwa-beraktivitas-di-media-sosial-begini-isinya>*
Ia mengajak ulama dan pemerintah (umara) untuk mengambil inisiatif
merekatkan kembali masyarakat saat persatuan dan kesatuan bangsa tengah
diuji. Sebab hal ini menjadi tanggung jawab bersama. Persatuan dapat
dieratkan kembali lewat pranata kenegaraan, kemasyarakatan, dan
keagamaan. "Bagi ulama NKRI harga mati, Pancasila adalah final. Oleh
karena itu harus dijaga," ucapnya.
Lewat Majelis Dzikir Hubbul Wathon ini, Ma'ruf Amin
<https://nasional.tempo.co/read/news/2017/06/19/173885797/ketua-mui-pemerintah-membatalkan-peraturan-full-day-school>
berharap dapat menjadi tempat kolaborasi ulama dan umara untuk menjaga
keutuhan bangsa. "Upayanya itu lewat dua hal, yaitu dialog kebangsaan
dan zikir, doa dan istigosah," kata Rais Aam PBNU ini.
*AHMAD FAIZ*