Pada Jumat, 14 Juli 2017 13:20, "'Tsasando' [email protected] 
[wahana-news]" <[email protected]> menulis:
 

     
http://jurnal.news/garpenas-dukung-perpu-no-2-tahun-2017-yusril-lebih-kejam-penjajah-belanda-orla-dan-orba/
    Juli 14, 2017 
Garpenas Dukung Perpu No 2Tahun 2017, Yusril : Lebih Kejam Dari Penjajah 
Belanda, Orla Dan Orba
 Posted By: Editor Jurnal.News    Jakarta, JN –Silang pendapat, pro dan kontra, 
dengan terbitnya PERPU Nomor 2 tahun 2017,sedang menghangat dan menjadi 
tranding topic diantara aktivis dan masyarakatakademis. Kali ini 
www.jurnal.news berhasil menghimpun dua pendapatberbeda terkait Perpu tersebut. 
   Salah satu pihak yang mendukung adalah GARPENAS (Garda PemudaNasional), hal 
itu disampaikan oleh Ketua GARPENAS, Denny Karel T,SH,MH kepada 
www.jurnal.news,belum lama ini. Dilain pihak, Ahli Hukum Tata Negara, Prof. Dr. 
Yusril IhzaMahendra, S.H., M.Sc Datuk Maharajo Palinduang, menentang keras 
terbitnya Perputersebut.    MenurutDenny Karel, peran organisasi kemasyarakatan 
sebagai perhimpunan anggota masyarakatadalah untuk mencapai suatu tujuan 
bersama, yaitu berkontribusi besar dalampembentukan bangsa. Iamenjelaskan, 
bahwa fungsi ormas yakni sebagai wadah penyalur kegiatan, wadahpembinaan dan 
pengembangan anggotanya dalam usaha mewujudkan tujuan organisasi,dan sebagai 
sarana komunikasi sosial timbal balik antara ormas itu sendiri danpemerintah. 
“Kehadiranormas merupakan perwujudan kebebasan berserikat dan berkumpul 
sebagaimanadinyatakan dalam pasal 28 UUD 1945,” ujar Denny. Lebihlanjut, 
menurut Denny, pada kenyataannya fungsi sebagaimana yang tertulis dalamUU itu 
ternoda. Banyak berita tentang tindakan anarkis ormas, tindakan mainhakim 
sendiri yang dilakukan ormas, tudingan terhadap ketidaktegasan tindakanaparat 
kepolisian telah menjadi pembicaraan hangat, maka tidak heran 
jikaketidakseriusan penegak hukum dalam menindak ormas dinilai bermasalah 
dantuntutan agar membubarkan ormas kembali dilontarkan. Sementaraitu, Yusril 
Ihza Mahendra berpendapat lain, ia melihat banyak kejanggalandengan terbitnya 
Perpu tersebut dan berpendapat Perpu No.2 tahun 2017 tersebutmalah lebih kejam 
dari penjajah Belanda, Orde Lama (Orla) termasuk Orde Baru(Orba). “Masihbanyak 
warga masyarakat dan bahkan pimpinan Ormas Islam yang gembira denganterbitnya 
Perpu No 2 Tahun 2017. Mereka mengira Perpu ini adalah Perpu tentangPembubaran 
Hizbut Tahrir Indonesia,” papar Yusril. “PadahalPerpu No. 2 Tahun 2017 ini 
adalah Perpu tentang Perubahan atas Undang-UndangNo. 17 Tahun 2013 tentang 
Organisasi Kemasyarakatan yang isinya norma atauaturan tentang berbagai hal 
tentang organisasi kemasyarakatan. Perpu iniberlaku umum terhadap ormas apun 
juga di negara kita ini,” jelasnya. Lebihlanjut Yusril menjelaskan, bahwa Perpu 
No. 2 Tahun 2017 ini memberikan peluangseluas-luasnya kepada Pemerintah, 
khususnya Mendagri dan Menkumham untukmenilai apakah suatu ormas itu antara 
lain; menganut, mengembangkan, sertamenyebarkan ajaran atau paham yang 
bertentangan dengan Pancasila, sebagaimanadiatur dalam Pasal 59 ayat (4) huruf 
c Perpu ini. “Terhadapormas yang melanggar pasal di atas dijatuhi sanksi 
administratif dan/atausanksi pidana. Jadi bisa dikenakan salah satu atau 
kedua-duanya. Sanksiadministratif bagi ormas berbadan hukum yang terdaftar di 
Kemenhumkamsebagaimana diatur dalam Pasal 61 ayat (1) Perpu ini adalah 
pencabutan status badan hukum olehMenkumham. Pencabutan status badan hukum 
tersebut, menurut Pasal 80A Perpu inisekaligus disertai dengan pernyataan 
pembubaran ormas tersebut,” kataYusril lagi, menerangkan.    “Semuaproses di 
atas berlangsung cukup dilakukan oleh Menkumham, baik sendiri ataupunmeninta 
pendapat pihak lain. Tetapi proses pembubaran ormas tersebut dilakukanMenkumham 
tanpa proses pengadilan. Inilah esensi perbedaan isi Perpu ini denganUU No. 17 
Tahun 2013, yang mewajibkan Menkumham untuk lebih dulu memintapersetujuan 
pengadilan jika ingin membubarkan ormas. Ormas yang akan dibubarkanitu berhak 
untuk membela diri di pengadilan,” pungkasnya, lebih detaillagi. “DenganPerpu 
yang baru ini, Menhumkam dapat membubarkan ormas semaunya sendiri. Iniadalah 
ciri pemerintahan otoriter. Dalam praktiknya nanti, Presiden bisa 
secaradiam-diam memerintahkan Menkumham untuk membubarkan ormas, tanpa 
Menkumham bisamenolak kemauan Presiden,” tandasnya. MenurtYusril, Selain sanksi 
administratif seperti di atas,  diberi sanksi pidanadapat dikenakan kepada ; 
setiap orang yang menjadi anggota dan/atau pengurusOrmas yang dengan sengaja 
dan secara langsung atau tidak langsung menganutfaham yang bertentangan dengan 
Pancasila dan melanggar ketentuan Pasal 59 ayat(4) tadi dapat “dipidana seumur 
hidup atau pidana penjara penjara palingsingkat 5 (lima tahun) dan paling lama 
20 (dua puluh) tahun”. Kemudian,dapat pula dikenai dengan pidana tambahan 
sebagaimana diatur dalam peraturanperundang-undangan yang berlaku. Ini diatur 
dalam Pasal 82A ayat (2) dan ayat(3). Ketentuan seperti ini sebelumnya tidak 
ada dalam UU No. 17 Tahun 2014tentang Ormas. “Jadikalau ormas itu punya anggota 
1 juta orang, maka karena organisasinya dianggapbertentangan dengan Pancasila 
dan melanggar ketentuan Pasal 59 ayat (4) Perpuini, maka 1 juta orang itu 
semuanya bisa dipenjara seumur hidup atau palingminimal penjara 5 tahun dan 
maksimal 20 tahun. Ketentuan seperti ini sepanjangsejarah hukum di negeri kita 
sejak zaman penjajahan Belanda sampai zaman Orla,Orba dan Reformasi belum 
pernah ada, kecuali di zaman Presiden Jokowiini,” ujarnya. Iajuga 
membandingkan, terhadap parpol yang dibubarkan di zaman Orla sepertiMasyumi dan 
PSI, atau PKI yang dibubarkan di awal zaman Orba, ketentuan untukmemenjarakan 
semua anggota parpol yang bertentangan dengan dasar negaraPancasila itu, tidak 
pernah ada. Kalau kepada partai yang dibubarkan saja,anggota-anggotanya tidak 
otomatis dipidana, apalagi terhadap anggota ormas yangdibubarkan di zaman Orla 
dan Orba. “Karenaitulah saya mengingatkan ormas-ormas Islam yang sangat 
antusias dengan lahirnyaPerpu ini, karena mengira Perpu ini adalah Perpu 
pembubaran HTI atauormas-ormas Islam “radikal” agar hati-hati dalam mengambil 
sikap.Sebab, dengan Perpu ini, ormas manapun yang dibidik, bisa saja diciptakan 
opininegatif, lantas kemudian diberi stigma sebagai ormas anti Pancasila, 
untukkemudian secara sepihak dibubarkan oleh Pemerintah,” katanya lagi.    
“Ormas-ormasIslam dan juga ormas-ormas lain, termasuk yayasan dan LSM, justru 
harus bersatumelawan kehadiran Perpu yang bersifat otoriter ini, tentu dengan 
tetapmenggunakan cara-cara yang sah dan konstitusional. Kepada partai-partai 
politikyang punya wakil di DPR, saya berharap mereka akan bersikap kritis 
terhadapPerpu ini. Telaah dengan mendalam isi beserta implikasi-implikasinya 
jika Perpuini disahkan DPR menjadi undang-undang,” tandas Yusril. Namunberbeda 
dengan Yusril, Denny Karel, ternyata lebih getol mendukung terbitnyaPerpu itu, 
ia mendukung diterbitnya Peraturan Pemerintah PenggantiUndang-Undang (PERPPU) 
No. 2 Tahun 2017 Tentang perubahan Undang-Undang No. 17Tahun 2013 Tentang 
Organisasi Kemasyakatan, karena sudah tepat. “Sangatlahwajar bila terjadi pro – 
kontra mengenai Perpu Nomor 2 Tahun 2017, namundalam hal ini pemerintah bukan 
bermaksud untuk membatasi kebebasan ormas juga bukan tindakan 
kesewenang-wenangan pemerintah namun bertujuan untukmerawat persatuan, kesatuan 
dan menjaga eksistensi bangsa. Agar tidak terjadilagi keresahan dan ke 
khawatiran terhadap tindakan-tindakan kekerasan yangkerap dipertontonkan ormas 
kepada masyarakat,” ujar Denny Karel, selainKetua Garpenas, ia adalah praktisi 
hukum, pengamat dan juga pengacara. (Zandre Badak/ RAU/ YIM)      
#yiv1287375753 #yiv1287375753 -- #yiv1287375753ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-mkp #yiv1287375753hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-mkp #yiv1287375753ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-mkp .yiv1287375753ad 
{padding:0 0;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-mkp .yiv1287375753ad p 
{margin:0;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-mkp .yiv1287375753ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-sponsor 
#yiv1287375753ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-sponsor #yiv1287375753ygrp-lc #yiv1287375753hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-sponsor #yiv1287375753ygrp-lc .yiv1287375753ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv1287375753 #yiv1287375753actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv1287375753
 #yiv1287375753activity span {font-weight:700;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv1287375753 #yiv1287375753activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv1287375753 #yiv1287375753activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv1287375753 #yiv1287375753activity span 
.yiv1287375753underline {text-decoration:underline;}#yiv1287375753 
.yiv1287375753attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv1287375753 .yiv1287375753attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv1287375753 .yiv1287375753attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv1287375753 .yiv1287375753attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv1287375753 .yiv1287375753attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv1287375753 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv1287375753 .yiv1287375753bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv1287375753 
.yiv1287375753bold a {text-decoration:none;}#yiv1287375753 dd.yiv1287375753last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1287375753 dd.yiv1287375753last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv1287375753 
dd.yiv1287375753last p span.yiv1287375753yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv1287375753 div.yiv1287375753attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv1287375753 div.yiv1287375753attach-table 
{width:400px;}#yiv1287375753 div.yiv1287375753file-title a, #yiv1287375753 
div.yiv1287375753file-title a:active, #yiv1287375753 
div.yiv1287375753file-title a:hover, #yiv1287375753 div.yiv1287375753file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv1287375753 div.yiv1287375753photo-title a, 
#yiv1287375753 div.yiv1287375753photo-title a:active, #yiv1287375753 
div.yiv1287375753photo-title a:hover, #yiv1287375753 
div.yiv1287375753photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv1287375753 
div#yiv1287375753ygrp-mlmsg #yiv1287375753ygrp-msg p a 
span.yiv1287375753yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv1287375753 
.yiv1287375753green {color:#628c2a;}#yiv1287375753 .yiv1287375753MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv1287375753 o {font-size:0;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753photos div {float:left;width:72px;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv1287375753
 #yiv1287375753reco-category {font-size:77%;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753reco-desc {font-size:77%;}#yiv1287375753 .yiv1287375753replbq 
{margin:4px;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-mlmsg select, #yiv1287375753 input, #yiv1287375753 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-mlmsg pre, #yiv1287375753 code {font:115% 
monospace;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-mlmsg #yiv1287375753logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-msg 
p#yiv1287375753attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-reco #yiv1287375753reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-sponsor 
#yiv1287375753ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-sponsor #yiv1287375753ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-sponsor #yiv1287375753ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv1287375753 #yiv1287375753ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv1287375753 
#yiv1287375753ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv1287375753 

   
 
|  | Virusvrij. www.avg.com  |

Kirim email ke