http://acehsatu.com/geliat-aceh-merdeka-di-eropa/


*GELIAT ACEH MERDEKA DI EUROPA*


Sambil memberikan semangat, pria Aceh berpaspor Swedia ini mengutip ucapan
terkenal penulis Amerika, Dr. Denis Waitley.

Foto | UNPO



*Laporan Asnawi Ali dari Eropa*

‘Puluhan tahun mereka hidup eksis di luar negeri hingga berganti generasi.
Seiring dengan perkembangan politik di dalam negeri, cita-cita
perjuangannya tak pernah pudar.

Kini, di luar negeri mereka mengorganisir kembali ASNLF/AM gerakan yang
lebih dikenal dengan nama ”Aceh Merdeka”.

BRUSSEL mempunyai memori khusus dalam lawatan Ariffadhillah. Awal Juli 2013
lalu, Presidium ASNLF itu diundang oleh UNPO (Unrepresented Nations and
Peoples Organization) untuk bertemu di kantor advokasi organisasi rakyat
dan bangsa yang tidak terwakili di ibukota Belgia.

”Rapat Presidensi yang diadakan pada 6–7 Juli 2013 itu berlangsung di
kantor UNPO di Brussels,” tulis Jeroen Zandberg dari UNPO kepada
Ariffadhillah.

”Salah satu agendanya adalah permohonan dari ASNLF untuk menjadi anggota
dan penjelasan lebih lanjut alasan untuk bergabung dengan UNPO,” tambah
staf UNPO itu dalam emailnya.

Seperti biasanya, setiap ada kabar terbaru Arif memanggil perwakilan ASNLF
di setiap negara untuk mengadakan rapat. Namun, bukan pertemuan tatap mata,
tapi telekonferensi melalui Skype.

Usahanya membuahkan hasil. Lalu disepakati dalam “rapat” alam maya itu
untuk datang ke Belgia.

Selain Ariffadhillah, sebagai ketua delegasi dari Jerman, juga tercatat 5
orang anggota delegasi ASNLF, yang terdiri dari dua orang dari Swedia,
seorang dari Belanda dan seorang dari Denmark.

Mereka yang terakhir ini datang dengan mobil sedangkan Swedia tiba dengan
kapal udara. Tujuannya sama, menuju kantor advokasi UNPO di Avenue Louise
52, pusat kota Brussel.

Di Belgia, hari pertama pertemuan Presidensi UNPO ternyata rapat internal
membahas masalah masa depan organisasi tersebut dan cara kerja dalam bidang
ekonomi, prinsip dan strategi dalam menghadapi tantangan global politik
dunia yang selalu berubah-ubah.

Meskipun rapat internal, delegasi dari Aceh dipersilakan mengambil bahagian
secara pasif karena masih berstatuskan observer.

Sedangkan keesokan harinya giliran pemeriksaan kepada calon bangsa yang
memohon menjadi anggota. Wawancara pertama oleh delegasi wakil bangsa
Barotseland dari Zambia.

Selanjutnya delegasi dari Aceh diwawancarai tertutup selama 30 menit yang
diselingi dengan debat. Dari situ akhirnya terbongkar bila GAM pernah
meminta keanggotaan Aceh di UNPO dihentikan atas permintaan pimpinannya.
Pertanyaan kritis itu diajukan oleh Sekjen UNPO sendiri, Marino Bushdachin.

Bukan hanya Arif yang dicecar dengan berbagai pertanyaan, delegasi dari
Swedia yang juga wakil ketua Presidium ASNLF, Yusuf Daud, ikut menjelaskan
konflik internal GAM hingga peta politik Aceh dulu, sekarang dan masa depan
ASNLF nanti bila diterima menjadi anggota UNPO.

Dalam kesempatan itu juga dibeberkan sejarah dan hak bangsa Aceh. Dalam hal
ini, mengutip dokumen dari Hasan Tiro, Yusuf Daud menjelaskan bila ASNLF
selalu berpedoman pada status Acheh-Sumatra di bawah hukum internasional
dengan merujuk pada resolusi PBB nomor 1514 – XV, 2621 – XXV, 2625 – XXV,
3314 – XXIX yang intinya semua bangsa memiliki hak untuk menentukan nasib
sendiri menurut prosedurnya di semua bekas kolonial–dekolonisasi–namun hal
tersebut tidak terjadi di Hindia Belanda/Indonesia.

”Dengan bergabung ke UNPO, jelas Yusuf ketika ditanya alasan mengapa ASNLF
merapat dengan UNPO, maka akan lebih mudah mengakses forum-forum
internasional seperti markas PBB di Jenewa dan New York, Parlemen Uni Eropa
di Brussel, Komisi Tinggi HAM di Palais Wilson dan badan-badan dunia
lainnya yang diperlukan untuk kampanye dalam perkara HAM dan hak penentuan
nasib politik, ekonomi, dan budaya bangsa Aceh”, papar Yusuf Daud ketika
itu di Brussel.

Selanjutnya menurut Yusuf, pembicaraan tentang permohonan keanggotaan ASNLF
di Afrika Selatan akhir 2013 tidak akan diproses menurut undang-undang UNPO
dengan cara voting, tetapi melalui sebuah konsensus. Ini mungkin karena
banyak anggota baru presidensi UNPO yang minim pengetahuannya tentang Aceh.

Terakhir, diketahui bila Aceh masih bertahan dalam waiting list dan hanya
perwakilan Barotseland di Zambia dan Papua Barat yang berhasil menjadi
anggota UNPO.

Sambil memberikan semangat, pria Aceh berpaspor Swedia ini mengutip ucapan
terkenal penulis Amerika, Dr. Denis Waitley.

“Ada dua pilihan dalam hidup ini; yaitu menerima status quo dijajah dan
tetap menjadi budak atau mengambil tanggung jawab dan berusaha untuk
merubah semuanya itu,” terang Yusuf saat tiba kembali di Swedia medio akhir
tahun lalu.

*TERSIARNYA *kabar terbaru dari Jerman pada bulan Ramadhan ini tentang
diterimanya keanggotaan bangsa Aceh melalui Acheh-Sumatra National
Liberation Front di UNPO menarik disimak.

Menurut ASNLF, ini adalah salah satu target mereka yang dicapai ketika dua
tahun lalu organisasi mereka diaktifkan kembali di Denmark. Dari sisi
kepentingan Aceh, maka ada dua pihak yang pro dan kontra.

Salah satu diantaranya penguasa lokal di Aceh. Usaha memasukkan kembali
Aceh ke dalam UNPO

Kirim email ke