From: Sunny ambon [email protected] [GELORA45] 
Sent: Monday, July 17, 2017 6:36 AM

  

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/07/14/ot2cx6382-kemenperin-indonesia-jadi-negara-tujuan-investasi-cina



Jumat , 14 July 2017, 11:39 WIB

Kemenperin: Indonesia Jadi Negara Tujuan Investasi Cina
Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Nur Aini

Xinhua 

 

Industri Cina





REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Dirjen Ketahanan dan Pengembangan Akses Industri 
Internasional (KPAII) Kementerian Perindustrian Harjanto menyampaikan, 
Indonesia merupakan salah satu negara tujuan investasi bagi Cina. Apalagi, 
Indonesia termasuk 10 negara manufaktur terbesar dunia.

“Investasi merupakan salah satu instrumen yang berkontribusi sangat besar pada 
perekonomian nasional. Diharapkan, dengan terus meningkatnya investasi Tiongkok 
di Indonesia, akan pula membawa efek positif bagi peningkatan daya saing 
industri dalam negeri,” ujar Harjanto dalam siaran pers yang diterima 
Republika.co.id, Jumat (14/7).

Beberapa investasi Cina di Indonesia yang sudah berjalan antara lain PT 
Sulawesi Mining Investment yang bergerak pada bidang pertambangan nikel dengan 
kapasitas 300 ribu ton per tahun dengan nilai invetasi sebesar 636 juta dolar 
AS di Morowali Industrial Park, Sulawesi Tengah. Kemudian PT Sulawesi Mining 
Investment merupakan smelter nikel pertama di Indonesia yang menggunakan 
teknologi Arc Furnace Rotary Kiln.

Selanjutnya, PT Virtue dragon Nickel Industry yang bergerak di bidang 
pengolahan ferronikel di Konawe, Sulawesi Tenggara dengan nilai investasi 
sebesar 5 miliar dolar AS dengan kapasitas 600 ribu ton per tahun. Kemudian, 
Anhui Conch Cement Company yang bergerak di bidang industri semen dengan total 
investasi sebesar 5,7 miliar dolar AS dan kapasitas produksi sebesar 20 juta 
ton per tahun.

Di Indonesia, Anhui Conch Group akan membangun lima integrated plant dan satu 
grinding plant di Kalimantan Selatan, Banten, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, 
dan Papua Barat. China Communications Constructions Company Ltd. (CCCC) akan 
turut pula berpartisipasi dalam kerja sama pengembangan kawasan industri di 
luar Pulau Jawa serta mampu menarik unit-unit usahanya untuk berinvestasi pada 
sektor manufaktur di Indonesia.

“Pihak CCCC mengakui, Indonesia merupakan mitra potensi yang strategis bagi 
mereka terutama dalam pengembangan proyek infrastruktur, seperti pembangkit 
tenaga listrik, jembatan, dan jalur kereta api,” kata Harjanto.

Salah satu unit usaha CCCC, yakni China Harbour telah menyatakan tertarik pada 
pengembangan kawasan industri di Kuala Tanjung dan kerja sama di sektor 
pelabuhan. Selain itu, terjadi komitmen investasi melalui penandatangan MoU 
antara Tsingshan Group dan Delong Group dengan PT Indonesia Morowali Industrial 
Park tentang kerja sama pembangunan pabrik carbon steel di kawasan industri 
Morowali, Sulawesi Tengah dengan kapasitas mencapai 3,5 juta ton per tahun dan 
total nilai investasi sebesar 980 juta dolar AS.

Kesepakatan lainnya, ditandatangani pula MoU antara Tsingshan Group dengan 
Bintang Delapan Group dan PT Indonesia Morowali Industrial Park tentang kerja 
sama pembangunan pembangkit tenaga listrik di kawasan industri Morowali, 
Sulawesi Tengah dengan kapasitas 700 MW dan total nilai investasi sebesar 650 
juta dolar AS. Kemudian, sejumlah investor Cina yang tengah menjajaki peluang 
investasi di Indonesia, antara lain Zhengzhou Demeter New Energy Technology Co 
Ltd, Shandong Water Development Group Co Ltd, China Meheo, CEFC Beijing 
International Energy Company Limited, Jiangsu Boda Enviromental Protection Co 
Ltd, Beijing Huayou International Logistics & Engineering Service Co Ltd, dan 
Risen Energy Co Ltd.

Selanjutnya, investor Cina lainnya yang sedang melakukan penjajakan yakni 
Beijing East Environment Energy Technology Co Ltd, China Power International 
Development Ltd, Guangdong Guanyeu Highway & Bridge Company Ltd, Louyang Yixin 
Enviromental Protection Technology Co Ltd, dan HenanRuyangTiancai Textile Co 
Ltd. N. Rizky Jaramaya

Kirim email ke