Bung Lusi,

Tks, saya baru baca kiriman Bung. Rupanya kiriman Bung ditelan hantu.

Salam dan hormat,
Sunny

2017-07-18 10:39 GMT+02:00 'Lusi D.' [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>:

>
>
> Halo Bung Sunny yb.
>
> Apa sudah terima artikel saya seperti di bawah ini?
> Seandainya sudah terima tolong saya diberitahu. Kayaknya banyak artikel
> yang saya kirimkan via Gel.45 maupun nasional-list ditahan oleh para
> "admin"-nya terutama yang berbeda dng pandangan kaum tertentu.
> Terimakasih sebelumnya dan ahoi.
> Lusi.-
>
> From: "Lusi D." <[email protected]>
> To: "Sunny ambon [email protected] [GELORA45]"
> <[email protected]> Cc: [email protected],
> "[email protected]" <[email protected]>
> Subject: Re: [GELORA45] Politik Sudah Mulai Makan Korban Konglomerat
> Date: Mon, 17 Jul 2017 13:45:29 +0200 X-Mailer: Claws Mail 3.13.2 (GTK+
> 2.24.30; x86_64-pc-linux-gnu) Organization: National List
>
> Kutipan dr artikel Dahlan Iskan: "Dia sendiri, di umurnya yang 62 tahun
> sekarang ini, termasuk jajaran pimpinan pusat Partai Komunis Tiongkok.
> Sebagai Deputi Politbiro."
>
> Lalu di Politbiro CC PKT itu dia (Wang Jianlin) sebagai taipan,
> oligopol, pengendali kediktaturan klas apa atau sebagai kader terbaik
> elemen klas proletariat suatu partai komunis?
>
> Lah bagaimana dengan si Ma Alibaba, itu orang terkaya nomor satu yang
> sekarang ini apakah juga salah seorang deputi di Politbiro CC PKT? Dan
> aturan atau konstitusi apa yang digunakan sebagai prinsip organisasi
> partai PKT sekarang untuk menentukan kriteria benar atau tidak benar
> dan apa yang tidak sesuai dan sesuai dengan ideologi kekomunisan
> kapitalistis atau revisionistis yang sedang dianut?
>
> Kalau begitu bagaimana orang menamakan PKT yang sekarang ini; apakah
> sebagai suatu partai komunis tipe revisionis sekaligus kapitalistis?
> Wah, kok panjang sekali sebutan dan persoalan jalan ke kapitalismenya
> RRT sekarang ini.
>
> Am Mon, 17 Jul 2017 10:06:00 +0200
> schrieb "Sunny ambon [email protected] [GELORA45]"
> <[email protected]>:
>
> > http://www.jawapos.com/read/2017/07/17/144743/politik-
> sudah-mulai-makan-korban-konglomerat
> >
> >
> >
> > Politik Sudah Mulai Makan Korban Konglomerat
> >
> > Senin, 17 Jul 2017 10:00 | editor : Miftakhul F.S
> >
> > [image: Dahlan Iskan]
> > <http://www.jawapos.com/uploads/kolom/2017/07/17/
> politik-sudah-mulai-makan-korban-konglomerat_m_144743.jpeg>
> > <http://www.jawapos.com/uploads/kolom/2017/07/17/
> politik-sudah-mulai-makan-korban-konglomerat_m_144743.jpeg>
> >
> > Dahlan Iskan *(Jawa Pos Photo)*
> >
> > Berita Terkait
> >
> > -
> >
> > Pesan Dahlan Iskan Di Depan Mahasiswa: Ingin Maju, Harus Rukun
> > <http://www.jawapos.com/read/2017/07/07/142663/pesan-
> dahlan-iskan-di-depan-mahasiswa-ingin-maju-harus-rukun>
> > -
> >
> > Keluarga Lee Antara Sabtu Pahing dan Senin Wage
> > <http://www.jawapos.com/read/2017/07/03/141625/keluarga-
> lee-antara-sabtu-pahing-dan-senin-wage>
> >
> > *ORANG* terkaya satu ini terpaksa menjual 76 hotelnya. Juga 13 theme
> > park-nya. Dan entah apalagi. Padahal, dia ingin terus mengembangkan
> > bisnis theme park tersebut. Sampai bisa mengalahkan Disney-nya
> > Amerika. Sampai-sampai dia sudah menjadi pemegang saham di Disneyland
> > Shanghai.
> >
> > Ekspansi bisnisnya juga lagi dihadang blokade. Bahkan dari dua arah.
> > Sekaligus. Di waktu yang hampir bersamaan. Kini dia lagi pusing luar
> > biasa. Tapi, Anda tidak perlu ikut memikirkannya. Itu pusingnya orang
> > kaya.
> >
> > Semula Wang Jianlin adalah orang terkaya nomor 1 di Tiongkok. Selama
> > bertahun-tahun. Melejit terus. Baru tahun lalu posisinya merosot
> > dikit. Ke No 2. Dikalahkan pengusaha IT, Jack Ma. Dengan grup Ali
> > Baba-nya.
> >
> > Bisnis awal Wang Jianlin adalah real estate. Dari situlah dia jadi
> > kaya. Grup bisnis real estate-nya adalah ini: Wanda Group. Kantor
> > pusatnya di Kota Dalian. Salah satu kota besar di Provinsi Liaoning.
> > Berbatasan dengan Korea. Itulah kota pertama di Tiongkok yang dibuat
> > cantik. Untuk percontohan kota lain yang masih kumuh. Wali kota
> > Dalian saat itu dikenal hebat. Lalu, ditunjuk jadi gubernur dua
> > periode. Dia pula yang memelopori bangun jalan tol pertama di
> > Tiongkok. Dari Dalian ke ibu kota provinsi, Shenyang. Yang kemudian
> > dikembangkan sebagai jaringan jalan tol ke seluruh negeri. Itulah
> > awal mengapa kini Tiongkok memiliki jalan tol terpanjang di dunia.
> > Setelah jadi gubernur yang hebat selama 10 tahun, dia naik lagi jadi
> > wakil perdana menteri. Dan sekarang, dialah perdana menteri Tiongkok
> > saat ini: Li Keqiang.
> >
> > Wang Jianlin mulai terjun ke bisnis real estate di Dalian tersebut.
> > Saat kota itu lagi getol-getolnya diremajakan. Lalu berkembanglah real
> > estate-nya ke berbagai kota lain. Saat kota-kota lain itu meremajakan
> > diri. Mengikuti jejak Dalian. Grup Wanda tidak terkalahkan. Dialah si
> > raja tanah Tiongkok. Raja perumahan. Raja apartemen. Raja gedung.
> > Raja mal. Raja hotel.
> >
> > Kalau di Surabaya orang seperti itu disebut pengusaha lemah: lemahe
> > uakeh (lemah dalam bahasa Jawa adalah tanah).
> >
> > Sepuluh tahun belakangan Wang Jianlin ekspansi ke luar negeri:
> > Amerika, Inggris, Spanyol, India, dan ke mana saja. Indonesia juga.
> > Lewat Grup Lippo.
> >
> > Di AS Wang Jianlin tidak tanggung-tanggung: masuk ke jantung pusat
> > perfilman dunia. Membeli Hollywood. Dia beli perusahaan perfilman.
> > Dia beli perusahaan rumah produksi film. Dia beli perusahaan jaringan
> > bioskop. Akhirnya Wang Jianlin menjadi pemilik jaringan gedung
> > bioskop terbesar di dunia.
> >
> > Dia akhirnya tahu lika-liku bisnis perfilman. Ambisi berikutnya adalah
> > membangun Hollywood sendiri. Versi Tiongkok. Lokasinya di Kota
> > Qingdao. Kota pantai yang terkenal dengan industri bir dan
> > elektronik. Yang posisi kotanya persis berhadapan dengan Korea. Di
> > kota ini pula dibangun jembatan di atas laut sepanjang hampir 50 km.
> >
> > Begitu high profile Wang Jianlin ini. Saat peletakan batu pertama
> > pembangunan Hollywood versi Tiongkok ini geger. Yang hadir
> > bintang-bintang film top Hollywood. Seperti John Travolta, Leonardo
> > DiCaprio, dan Kate Beckinsale.
> >
> > Lalu...terjadilah pemilu di Amerika. Donald Trump menang. Antiasing.
> > Termasuk anti-China.
> >
> > Ekspansi Wang Jianlin ke Hollywood dianggap berbahaya. Bagi Amerika,
> > Tiongkok dianggap sudah mulai menyerang jantungnya Amerika. Industri
> > pop culture. Amerika merasa dapat serangan yang membahayakan. Dengan
> > senjata yang disebut soft power. Inilah bentuk perang modern. Tidak
> > menggunakan kekuatan bom dan kekerasan.
> >
> > Sejumlah anggota DPR Amerika menulis petisi. Mengingatkan berbahayanya
> > senjata soft power Tiongkok itu. Petisi tersebut sinkron dengan
> > ideologi Donald Trump. Yang sering menyerang Tiongkok. Sebagai negara
> > manipulator ekonomi, keuangan, dan perdagangan.
> >
> > Investasi Tiongkok di AS memang mencapai rekor tahun lalu: 51 miliar
> > dolar. Hampir Rp 600 triliun. Dalam satu tahun. Bandingkan dengan
> > tahun sebelumnya yang ”hanya” 11 miliar dolar. Naik lima kali lipat.
> >
> > ”Ketakutan DPR Amerika itu berlebihan,” ujar Wang Jianlin kepada media
> > dunia. ”Kami ini menghidupi 20.000 karyawan di AS. Investasi kami
> > saja 10 miliar dolar,” tambahnya.
> >
> > Rupanya AS sudah harus ambil tindakan. Senjata soft power yang dulu
> > digunakan AS untuk menyerang dunia (McDonald, internet, dll) tidak
> > boleh ditiru Tiongkok. Maka, transaksi terbaru Wang Jianlin untuk
> > membeli Dick&Clark Production diblokade. Padahal, harga sudah
> > disepakati. Wang akan membelanjakan 1 miliar dolar untuk membeli
> > perusahaan yang berada di belakang Golden Globe dan American Music
> > Award itu.
> >
> > Dan.... Datang juga pukulan lain.
> >
> > Di tengah pertempurannya dengan penguasa Amerika itu, tiba-tiba datang
> > bencana dari dalam negeri. Dari negerinya sendiri. Tiongkok tidak suka
> > pengusahanya terlalu ekspansif di luar negeri. Belum jelas. Apakah
> > untuk menjaga hubungan dengan AS atau karena di dalam negeri sendiri
> > lagi butuh investasi.
> >
> > Memang bukan hanya Wang Jianlin yang jadi sasaran tembak. Tapi juga
> > lima pemain agresif lainnya. Termasuk pemilik baru klub sepak bola AC
> > Milan. Wang sendiri sudah membeli klub Atletico Madrid. Dua tahun
> > lalu.
> >
> > Intinya: kini Wanda Group tidak mudah lagi untuk mencari sumber dana
> > di dalam negeri. Terutama dari perbankan. Padahal, penjualan rumah di
> > real estate-nya tidak selaris dulu.
> >
> > Akhir tahun lalu Wang sendiri mengatakan ekonomi Tiongkok masih sulit.
> > Belum mendapatkan jalan keluar. Penurunan ekonomi ini, katanya, masih
> > belum mencapai titik terendahnya. Berarti masih akan berlanjut.
> > Kelebihan pasok rumah luar biasa besar. Untuk menjual rumah yang
> > sudah dibangun tapi belum laku saat ini saja, kata Wang, diperlukan
> > waktu lima tahun.
> >
> > Tidak ada jalan lain. Kini Wang Jianlin harus menjual aset-asetnya.
> > Yang sudah saya sebutkan di atas.
> >
> > Tiga tahun lalu tidak ada yang membayangkan kesulitan ini bisa
> > menimpanya. Tapi, Anda tidak perlu ikut memikirkannya. Itu
> > kesulitannya orang kaya. Orang hanya heran mengapa itu terjadi.
> > Hubungannya dengan pemerintah luar biasa baik. Ayahnya adalah
> > pengikut long march-nya mendiang Mao Zedong. Wang sendiri umur 15
> > tahun sudah masuk tentara. Sampai umur 32 tahun. Selama 17 tahun di
> > kemiliteran dia belajar disiplin. Yang kemudian, katanya, jadi modal
> > sukses bisnisnya.
> >
> > Dia sendiri, di umurnya yang 62 tahun sekarang ini, termasuk jajaran
> > pimpinan pusat Partai Komunis Tiongkok. Sebagai Deputi Politbiro.
> >
> > Wang Jianlin tidak seharusnya sulit. Prinsip bisnisnya dia pegang
> > teguh. Katanya: kita harus dekat dengan pemerintah, tapi kalau bisa
> > tidak usah dekat-dekat politik.
> >
> > Apakah politik itu yang kini menjadi sandungan pesaing Disney dari
> > Tiongkok ini?
>
> 
>

Kirim email ke