Pada Rabu, 26 Juli 2017 7:24, May Swan <[email protected]> menulis:
 

 Hari itu saya mengikuti documentary mengenai Afghanistan. Rupanya negeri ini 
terbagi dua kehidupan masyarakat yang berlainan, sekali pun sama sama negeri 
Islam. 
Yang kesatu,  masyarakatnya cukup modern, anak anak dikirim ke sekolah negeri, 
dan seterusnya ke universitas. Perempuan bisa jadi guru, pengacara, pegawai 
negeri, pejabat pemerintah,  dokter dsb. Ada yang berjilbab tutup kepala, ada 
yang tidak. Yang pakai tudung hanya kepalanya, not the face. Bisa berbicara 
bahasa Inggeris dengan leluasa.
Yang kedua, anak anak perempuan tidak di kirim  ke sekolah negeri, tapi ke 
madrasah belajar seharian dari pagi hingga sore hari baru pulang. Pelajarannya 
hanya mengenai Islam dan menghafal Quran. Seluruh anak2 pelajar pakai baju 
hitam dari kepala hingga kaki ditutup rapat. Dicuci otaknya dari kecil. 
Meyeramkan!
Juga diperlihatkan komunitas yang disebut "Dancer". Mereka ini seluruhnya 
terdiri dari young boys, early teens. Mereka di recruit oleh agent yang bekerja 
pada seorang "God Father" yang umumnya adalah retired Afghanistan freedom 
fighter commander dulunya. Nah, anak2 laki ini dilatih oleh guru tari menjadi 
"Dancer". Mereka diajar menari mengenakan pakaian perempuan, pakai make up yang 
berlebihan dan move like a girl. Setelah itu mereka digunakan untuk melayani 
"God Father". "Dancer" dan agent seluruh network dikontrol oleh "God Father" 
dan hidup mereka bergantung padanya.
Katanya,  "Dancer" berupa bagian Afghanistan ancient culture. Pada kenyataannya 
mereka adalah prostitute laki laki. Setelah pertunjukan mereka dipakai sebagai 
sex object, boleh diperlakukan sesukanya. Alasan yang dipakai: dalam ajaran 
Islam perempuan tidak boleh jadi prostitute, sedangkan tidak ada larangan bagi 
laki laki. Maka apa yang mereka lakukan tidak menentang ajaran Islam. Tentunya 
"Dancer" diambil dari sekumpulan anak2 laki masyarakat miskin yang hidupnya 
terlantar di jalanan. 
"God Father" memperlakukan mereka sangat cruel, bukan saja terhadap "Dancer" 
tapi juga terhadap para agent. Dalam satu adegan, "God Father" memerintah 
seorang agent ketawa, lalu ketawa lah agent itu terbahak bahak. Setelah itu 
"Nangis" perintahnya, dan ia pun menangis terseduh seduh. Melihat perlakuan 
manusia terhadap sesama manusia demikian kejam, hati terasa perih, hancur. 
Kita hidup dalam balon kebahagiaan. Di luar balon itu terdapat kenyataan hidup 
yang sebenarnya. Tanpa economic security, tanpa tersedianya lowongan kerja, 
tanpa education yang membuat orang berkebolehan berpikir independently, 
critically,  education yang memperkenalkan ilmu pengetahuan dunia dan bersedia 
mendengar pandangan yang berlainan dari diri sendiri , tanpa adanya semua ini, 
perbudakan akan selalu tumbuh. Dimana  martabat manusia tidak beda dengan lalat 
yang berkerumunan disekitar bangkai tikus.

   

Kirim email ke