PKS dan kadernya sendiri sebenarnya belum menerima Pancasila sebagai asas tunggal partai. Ini dapat kita lihat dari "riwayat hidup" Gubernur Sumatra Barat Irwan Prayitno, kader PKS, dari catetan Wikipedia bahasa Indonesia sbb.: . "Pada 1984, ia naik sebagai
Ketua HMI Komisariat Fakultas Psikologi UI. Namun, seiring intervensi
pemerintah yang memaksakan penerapan Pancasila sebagai asas tunggal, HMI
mengganti asasnya dengan Pancasila pada tahun 1986 dan bersamaan dengan itu Irwan keluar dari keanggotaan HMI". Ini suatu bukti bahwa Irwan Prayitno dan PKS tidak menerima Pancasila sebagai asas tunggal Partai. (Untuk lebih jelasnya silahkan buka Wikipedia bahasa Indonesia, dan klik: Irawan Prayitno Gubernur Sumatra Barat.)




------ Original Message ------
From: "'Chan CT' sa...@netvigator.com [GELORA45]" <GELORA45@yahoogroups.com>
To: "GELORA_In" <GELORA45@yahoogroups.com>
Sent: Sunday, 6 Aug, 2017 At 2:11 PM
Subject: [GELORA45] Melawan Lupa, Bukan Pertama Kali Kader PKS Melecehkan NKRI
    
  
      
                    
  

 Melawan Lupa, Bukan Pertama Kali Kader PKS Melecehkan  NKRI
9 <https://seword.com/umum/melawan-lupa-bukan-pertama-kali-kader-pks-melecehkan-nkri/#comments> BY SIGIT BUDI <https://seword.com/author/sigitbc/>  ON  AUGUST  6, 2017UMUM <https://seword.com/category/umum/>

image
Permintaan maaf DPW  PKS Jawa Timur boleh – boleh saja diutarakan, tapi ada keganjilan bila alasan  pemasangan bendera terbalik dan setengah tiang sebuah “kelalaian”. Bendera Merah  Putih adalah simbol negara RI, bahkan anak – anak SD pun mengetahuinya. Tiba –  tiba kok PKS ber-apologi  sebagai sebuah ketidaksengajaan ? “Kami berterima  kasih kepada masyarakat sekitar sekretariat PKS Situbondo yang telah  mengingatkan, dan memohon maaf atas kelalaian tersebut,” ujar Ketua Umum DPW PKS  Jatim Arif Hari Setiawan ketika dikonfirmasi di Surabaya, Sabtu (5/8). Sumber :  Republik <http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/08/05/ou6zgi382-pks-jawa-timur-minta-maaf-atas-insiden-bendera-terbalik> Pertanyaannya,  apakah pemasang bendara di kantor PKS di Situbondo tersebut tidak pernah sekolah  sama sekali sehingga format pemasangan bendara yang benar pun tidak  tahu? Tentu publik belum  lupa bagaimana kader – kader PKS menginjak – injak Bendara Merah Putih pada  sebuah acara di Tasikmalaya beberapa tahun 2011. Saat itu pihak Kepolisian  langsung mengamankan pelakunya ke Kantor Polisi setempat. Ada yang berbeda  dalam acara ulang tahun ke-13 Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Gedung Olah  Olahraga (GOR) Sukapura, Kota Tasikmalaya, Minggu (24/4) siang. Ya, acara yang  dihadiri kader dan simpatisan PKS se-Priangan Timur ini menuai masalah karena  adanya aksi teaterikal menginjak-nginjak bendera merah putih dalam pembukaan  Milad tersebut. Sumber :rmol <http://www.rmol.co/read/2011/04/24/25127/Di-Tasikmalaya,-Milad-PKS-Diisi-Aksi-Injak-injak-Bendera-Merah-Putih-> Faktanya insiden  pelecehan terhadap Sang Saka Merah Putih oleh kader – kader PKS bukanlah pertama  kali terjadi. Sebenarnya tidaklah heran terhadap kelakuannya mereka, pepatah  mengatakan “ada asap ada api”. Lalu dari mana “api” tersebut berasal ? Tentu  tidak usah jauh – jauh mencari, PKS sendiri sebenarnya belum menerima Pancasila  sebagai asas tunggal partai. Mereka bersikukuh mengajukan asas sendiri dengan  pembenaran asas tersebut tidak bertentangan dengan asas Pancasila. Padahal sudah  diketahui dan disepakati dari dulu bahwa dasar negera kita adalah Pancasila dan  UUD 1945, bila PKS ingin asas berbeda apakah partai ini masih sah hidup di  negara Indonesia, Dengan mudah pertanyaan ini terjawab dari mana api  berasal. “Kita masih dalam  posisi yang sama, menolak, karena secara prinsip tentang asas kita sudah punya  rujukan yakni UU tentang parpol, bukan asas tunggal Pancasila,” kata Ketua FPKS  DPR Hidayat Nurwahid saat berbincang, Kamis (4\/4\/2013). Sumber : Detik <http://news.detik.com/berita/2211477/pks-bersikukuh-tolak-asas-tunggal-pancasila-di-ruu-ormas> Kok  …semaunya sendiri saja, karakter partai satu ini memang “nyleneh”, mau hidup di  Indonesia tapi maunya dengan aturan mainnya sendiri.  Lha…. gimana jadinya bila ada ormas dan partai lain seperti PKS yang  kukuh dengan aturan mainnnya sendiri , apa tidak bubar negeri ini ? Pantas saja selama  ini pentolan – pentolan PKS di Senayan rajin menyoroti kinerja  Kepolisian  terutama aksi Densus 88 dalam menanggulangi terorisme dari kelompok radikalis.  Tapi tidak pernah terdengar kader PKS mengecam keras aksi – aksi bom di berbagai  wilayah Indonesia dan Jakarta beberapa waktu lalu. Kecaman terhadap pelaku  penganiayaan  anggota kepolisian oleh   lone  wolf  kelompok radikal pun hampir tak terdengar reaksi  mereka. Ternyata ada “udang  di balik batu” dari keberpihakan PKS tersebut, perlahan mulai terbuka kedoknya  ketika Densus  88 mengamankan kader PKS yang diduga terlibat jaringan  ISIS. Sebelumnya  diberitakan, MNU diamankan saat turun dari pesawat AirAsia XT 327 dari Kuala  Lumpur di Terminal 2 Bandara Juanda. MNU dijemput Densus 88 karena diduga  terlibat jaringan ISIS. Saat ini ia sedang menjalani pemeriksaan di Polda  Jatim. “Iya betul, yang  ditangkap Tim Densus anggota DPRD Kabupaten Pasuruan, MNU. Sekarang masih  menjalani pemeriksaan di Polda,” kata Kapolres Pasuruan AKBP Muhammad Aldian,  dikonfirmasi detikcom, Sabtu (8/4/2017) malam. Sumber : Detik.com <https://news.detik.com/berita/d-3469367/pks-bentuk-tim-terkait-kadernya-yang-diamankan-densus-88> Mudah diduga setelah  penangkapan tersebut seolah kader PKS di Senayan dan di daerah pura – pura tidak  tahu, padahal media massa saat itu cukup banyak beritanya. Ketua Dewan  Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Pasuruan, Sudiono Fauzan membenarkan  informasi ditangkapnya salah satu anggota DPRD Kabupaten Pasuruan oleh Tim  Densus 88 bersama anggota Polda Jatim. “Memang iya, ada.  Dia anggota dewan. Tapi, saya tidak tahu apa pokok permasalahannya, dan apa  penyebabnya (kader PKS <http://regional.liputan6.com/read/2914756/ketua-dprd-pasuruan-akui-anggotanya-ditangkap-densus-88> ditangkap),” tutur Sudiono kepada  Liputan6.com  melalui sambungan telepon seluler, Minggu (9/4/2017). Liputan 6 <http://news.liputan6.com/read/2914833/respons-pks-terkait-kadernya-diciduk-densus-88> Saya tidak mau  berandai – andai soal PKS, nanti dituduh menfitnah lagi, tapi lembaga survei  SMRC mengungkapkan data  tentang kader PKS. Meski petinggi PKS berusaha  membantah, faktanya tidak bisa   dipungkiri. Entahlah,  kok mereka begitu percaya diri meski fakta  berkata lain,  paling – paling pentolan PKS merespon balik sebagai fitnah.  Hhihhiihii… basi ahh Survei Saiful  Munjani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan 34,3 persen simpatisan PKS  setuju dengan perjuangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). PKS mempertanyakan  sampel yang dipakai di survei tersebut. “Kita tidak tahu  sampelnya, dan siapa yang disebut simpatisan PKS. PKS sendiri sudah tegas, kita  bagian dari NKRI, Bhineka Tunggal Ika, dan Pancasila. Kita beda dengan HTI,”  kata Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid saat dihubungi, Minggu  (4/6/2017). Sumber : Detik.com <https://news.detik.com/berita/3519896/soal-survei-smrc-pks-ideologi-kami-tidak-sama-dengan-hti> Lagi – lagi bantahan  berasal dari mulut HIdayat Nur Wahid, sebagai  Wakil Ketua MPR lebih rajin  komentar membela partai dan kepentingan kelompoknya dibandingkan urusan negara.  Sebaliknya kader – kader PKS yang tertangkap tangan korupsi tidak dikomentari.  Jangan – jangan misi pencarian dana operasional partai untuk mencapai tujuan  harus begitu ? Detik.com pernah  menurunkan laporan wawancara dengan Yudi Setiawan, pengusaha yang dekat dengan  elit – elit PKS  soal penggalangan dana trilyunan rupiah. Tentunya bukan  penggalangan dana resmi tapi lewat jalur tak resmi. Pengusaha Yudi  Setiawan siap membongkar dugaan korupsi para elite PKS. Dia tak takut dengan  risiko konspirasi, bahkan kematian sekalipun. Tak ada lagi jalan lain selain  melawan. Yudi membeberkan  sejumlah transaksi yang diduga berhubungan proyek di kementerian yang dipimpin  elite PKS tersebut. Tak hanya kesaksian, Yudi juga punya bukti transfer, catatan  keuangan, hingga risalah rapat yang bisa membuat kasus jadi terang. Sumber : Detik.com <https://news.detik.com/berita/d-2290219/-4-peluru-maut-yudi-setiawan-untuk-elite-pks> Hehehe…. meski  terang – terangan terbongkar di media massa perilaku petinggi – petinggi PKS,  tetap saja mereka mati – matian membantah. “Partai punya  mekanisme sendiri, prinsipnya sakuku-uangku. Selama 15 tahun ini, kami tidak ada  korupsi. Fund  raising pun berasal dari kemampuan kader,” ujar Fahri di Kompleks  Parlemen, Senin (20/5/2013). Sumber : Kompas.com <http://travel.kompas.com/read/2013/05/20/12471256/~Nasional> Begitulah adanya,  tak habis pikir dengan kelakuan partai satu ini, susahnya masih ada saja yang  memilih kader – kader mereka. Jadi siapa yang salah ? Tanyakan  pada rumput yang bergoyang !
 

      
                

                

Kirim email ke