From: 'j.gedearka' [email protected] [GELORA45] Sent: Monday, August 7, 2017 1:40 PM
http://www.antaranews.com/berita/645081/komunike-bersama-asean-simbol-kemenangan-china Komunike bersama ASEAN simbol kemenangan China Senin, 7 Agustus 2017 09:40 WIB | 840 Views Menterli Luar Negeri China Wang Yi. (REUTERS/Tyrone Siu) Vietnam bersikeras, dan China efektif memanfaatkan Kamboja untuk memperjuangkan kepentingannya Jakarta (ANTARA News) - Kantor berita AFP hari ini melaporkan bahwa China kemarin sukses melancarkan kudeta diplomatik dalam upayanya melemahkan perlawanan negara-negara Asia Tenggara terhadap klaimnya di Laut China Selatan ketika ASEAN mengeluarkan pernyataan lebih lunak menyangkut sengketa itu dan sepakat memasukkan syarat-syarat China bagi pembicaraan masalah sengketa itu. Setelah pertemuan dua hari yang panas menyangkut sengketa Laut China Selatan di Manila, Filipina, para menteri luar negeri 10 negara ASEAN mengeluarkan komunike bersama yang oleh para diplomat yang terlibat dalam pertemuan itu sebagai kalimat yang hati-hati guna menghindari kemarahan China, tulis AFP. Rilis pernyataan bersama itu dikeluarkan beberapa saat setelah para menteri luar negeri ASEAN bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi yang lalu mengeluarkan kesepakatan mengenai satu kerangka untuk menggelar perundingan mengenai sengketa yang sudah berdekade-dekade itu dengan memasukkan klausa-klausa penting yang diamini China. "Ini adalah hasil penting untuk upaya bersama kami," kata Wang kepada wartawan saat menyambut komunike bersama itu. China mengklaim hampir seluruh perairan yang secara strategis vital di mana pelayaran internasional senilai 5 triliun dolar AS melalui laut ini setiap tahun, selain menyimpan cadangan besar minyak dan gas. Klaim China itu tumpang tindih dengan klaim serupa dari negara-negara ASEAN; Vietnam, Filipinda, Malaysia dan Brunei, selain juga dengan Taiwan. Dalam beberapa tahun belakangan China telah memperluas kehadirannya di wilayah yang disengketakan itu dengan cara membangun pulau buatan yang bisa dipakai sebagai pangkalan militer. Ulah China ini memicu keperihatinan bahwa negara ini berusaha menegaskan bahwa secara de facto mereka adalah penguasai kawasan yang tengah disengketakan itu. Dua diplomat ASEAN yang menyebut komunike bersama ASEAN itu sebagai kemenangan politik China itu menyatakan bahwa dalam komunike bersama itu ASEAN enggan memasukkan pernyataan bahwa pedoman berprilaku (code of conduct) dengan China di Laut China Selatan adalah "mengikat secara hukum". Vietnam, yang paling keras mengkritik China menyangkut masalah ini, bersikap tegas dalam dua hari pertemuan itu bahwa ASEAN harus menegaskan bahwa pedoman berprilaku itu "mengikat secara hukum", karena kalau tidak maka akan tidak bermakna apa-apa. Dua hari sebelumnya para menteri luar negeri ASEAN gagal mengeluarkan komunike bersama karena kerasnya perbedaan sikap menyangkut sengketa di Laut China Selatan itu. Vietnam berusaha memasukkan kalimat yang lebih keras, sedangkan Kamboja dengan keras melobi demi kepentingan China. "Vietnam bersikeras, dan China efektif memanfaatkan Kamboja untuk memperjuangkan kepentingannya," kata seorang diplomat ASEAN kepada AFP, kemarin, begitu negosiasi diperpanjang karena perbedaan pendapat. Editor: Jafar M Sidik COPYRIGHT © ANTARA 2017 ===================== http://www.antaranews.com/berita/645084/china-berhasil-pecah-belah-asean-di-laut-china- selatan?utm_source=fly&utm_medium=related&utm_campaign=news China berhasil pecah belah ASEAN di Laut China Selatan? Senin, 7 Agustus 2017 09:54 WIB | 905 Views Peta konflik klaim wilayah antar-negara di Laut China Selatan. (inquirer.net) China tidak pernah kalah, jika melihat bahasa yang dikeluarkan dari pernyataan-pernyataan forum ASEAN yang terus melunak Jakarta (ANTARA News) - Dua diplomat ASEAN yang terlibat dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Manila kemarin, menyebut komunike bersama ASEAN menyangkut Laut China Selatan sebagai kemenangan politik China karena ASEAN gagal memasukkan pernyataan bahwa pedoman berprilaku (code of conduct) dengan China di Laut China Selatan adalah "mengikat secara hukum". Ketegangan menyangkut Laut China Selatan sudah lama menjengkelkan ASEAN yang selalu bertindak dalam kerangka konsensus namun hal itu harus diseimbangkan dengan kepentingan pihak-pihak bersengketa di ASEAN sendiri dan dengan negara-negara ASEAN yang condong ke China. Muncul kritik bahwa China berusaha memecah belah ASEAN dengan taktik tangan besi dan diplomasi buku cek (menekan dengan memakai kartu ekonomi) yang telah berhasil memikat negara-negara kecil ASEAN seperti Kamboja dan Laos untuk memenangkan China. Filipina, di bawah pemerintahan sebelumnya Benigno Aquino, pernah menjadi salah satu pihak yang paling vokal terhadap China sampai-sampai mengajukan kasus sengketa ini ke mahkamah internasional. Dan mahkamah di bawah PBB itu tahun lalu mengeluarkan putusan bahwa klaim China di Laut China Selatan tidak punya dasar hukum. Tetapi China, kendati menandatangani Konvensi Hukum Laut PBB, menganggap sepi putusan mahkamah internasional itu. Kini Filipina di bawah Presiden Rodrigo Duterte, memutuskan untuk melupakan tuntutan itu demi hubungan yang lebih hangat dengan Beijing. Sebagai imbalan dari sikap Duterte ini, miliaran dolar AS investasi dan bantuan China terpompa ke Filipina. "Sudah jelas bahwa tekanan China kepada masing-masing pemerintahan ASEAN terbayar lunas," kata Bill Hayton, pakar Laut China Selatan dan peneliti pada Program Asia, Chatham House di London, kepada AFP. Hayton dan analis-analis lainnya menyebut komunike bersama ASEAN itu dikeluarkan 15 tahun setelah dokumen yang sama ditandatangani yang berisi keharusan pihak-pihak bersengketa untuk memulai negosiasi. Dokumen 2002 lima belas tahun itu memuat kalimat yang lebih keras kepada China. China menggunakan waktu 15 tahun itu untuk menguatkan klaimnya, sambil terus mengondisikan ASEAN untuk mengeluarkan pernyataan yang tidak lagi terlalu menentang China, kata para analis. "Tegasnya China tidak pernah kalah, jika melihat bahasa yang dikeluarkan dari pernyataan-pernyataan forum ASEAN yang terus melunak," kata Ei Sun Oh, peneliti pada S. Rajaratnam School of International Studies di Singapura, kepada AFP. Akademisi dan analis keamanan Filipina Richard Heydarian malah mengeluarkan kalimat yang lebih keras saat menyimpulkan komunike bersama ASEAN itu, dengan mengambil salah satu istilah dalam bola basket, "Ini sepenuhnya kemenangan slum dunk politik China". Editor: Jafar M Sidik COPYRIGHT © ANTARA 2017
